Beranda / Romansa / Tuan CEO, Lepaskan Aku! / Di Bawah Kuasa Han Seonwoo

Share

Di Bawah Kuasa Han Seonwoo

Penulis: V.W. Anara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 04:28:35

Pagi itu, atmosfer di kantor HanGroup terasa jauh lebih dingin daripada salju yang mulai menumpuk di jalanan Seoul. Winda berjalan dengan langkah yang lebih berani, ia mencoba mengabaikan tatapan-tatapan tajam yang menghujam punggungnya. 

Sejak hilangnya Junseob dari daftar karyawan secara mendadak, Winda secara otomatis menjadi musuh nomor satu bagi para staf. Mereka bukan melihatnya sebagai seorang asisten melainkan mereka melihatnya sebagai ancaman yang mampu menggulingkan posisi siapapun, sekalipun itu manajer senior hanya dengan satu kedipan mata kepada Sang CEO.

Winda melangkah menuju pantry di lantai eksekutif. Tugasnya pagi ini tetap menyiapkan kopi hitam pekat tanpa gula kesukaan Seonwoo. Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam cangkir porselen putih itu. Ia butuh ketenangan, setidaknya beberapa menit saja, jauh dari bisik-bisik jahat di area meja kerja.

Namun, ketenangan itu hanyalah harapan yang sama sekali tidak bisa terwujud.

Pintu pantry terbuka dengan kasar. Tiga orang staf wanita masuk dengan langkah angkuh yang sengaja dibuat berisik. Salah satunya adalah Min-hee, asisten senior yang merupakan tangan kanan l Junseob. Wajahnya merah padam, penuh amarah yang tertahan.

"Wah, lihat siapa yang sedang bersantai di sini." suara Min-hee melengking, memantul di dinding pantry yang sunyi. "Si parasit kecil yang baru saja menghancurkan karier orang lain."

Winda tidak menoleh. Ia terus menuangkan air panas ke dalam cangkir, berusaha tetap fokus. "Aku hanya melakukan pekerjaanku, Min-hee-ssi."

"Pekerjaanmu? Pekerjaanmu itu merangkak di tempat tidur Tuan Han, kan?" sahut staf yang lain sambil tertawa menghina. "Kami semua tahu wanita sepertimu dari negara miskin itu hanya punya satu cara untuk naik jabatan. Menjual diri. Kau pikir kau spesial?"

Winda memejamkan mata, mencoba menulikan telinga. Hinaan itu mengalir deras, merendahkan asal-usulnya, menyebutnya sebagai parasit asing yang hanya menjual tubuh demi kontrak. "Jaga bicaramu. Aku di sini karena kontrak resmi."

"Kontrak resmi atau kontrak pemuas nafsu?" Min-hee melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Ia meraih bahu Winda dan memaksanya berbalik. "Gara-gara kau, Tuan Choi kehilangan segalanya. Seharusnya kau tetap tinggal di tempat kumuh asalmu, bukannya mengotori kantor ini!"

Hinaan itu semakin menjadi, hingga akhirnya Min-hee kehilangan kendali. Ia merampas gelas di tangan Winda dan menyiramkan air dingin ke kemeja putih Winda. Cairan itu meresap, membuat pakaiannya menempel transparan dan memperlihatkan kulitnya yang gemetar kedinginan.

"Lepaskan aku!" seru Winda, suaranya mulai serak karena emosi.

"Kenapa? Kau mau mengadu lagi? Dasar jalang!"

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Winda, membuatnya terhuyung. Belum sempat Winda pulih dari rasa terkejutnya, Min-hee mendorongnya dengan tenaga penuh. Winda kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke belakang, menghantam pinggiran meja dapur yang tajam sebelum akhirnya terjatuh ke lantai yang dingin.

Rasa sakit yang tajam menjalar di punggung dan sikunya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Para staf itu tertawa melihat Winda bersimpuh di lantai, sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan pantry seolah-olah baru saja membuang sampah.

Winda tidak sanggup berdiri. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak menuju kamar mandi yang berada di dalam area pantry. Ia mengunci pintu, duduk di lantai kamar mandi yang lembap, dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. 

Isakannya pecah. Ia menangis tersedu-sedu, merutapi nasibnya yang terjepit di antara dendam Seonwoo dan kebencian orang-orang di sekitarnya. Ia merasa benar-benar hancur, sendirian di negeri orang tanpa ada satu pun tangan yang mengulur untuk menolongnya.

Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi utama terbuka dengan debuman keras. Winda tersentak, mencoba menghentikan tangisnya. Ia mendengar langkah kaki yang berat mendekat ke arah biliknya.

"Keluar." suara itu rendah, dingin, dan tidak bisa dibantah. Itu suara Seonwoo.

Dengan tangan gemetar, Winda membuka kunci pintu. Saat pintu terbuka, ia melihat Seonwoo berdiri di sana dengan mata yang berkilat marah. Pria itu menatap kemeja Winda yang basah dan pipinya yang memerah akibat tamparan. Seonwoo tidak mengucapkan kata-kata penghiburan. Ia justru mencengkeram pergelangan tangan Winda dengan kasar.

Seonwoo menyeret Winda keluar dari kamar mandi, melewati koridor di mana para staf mulai berkumpul. Ia tidak berhenti untuk menegur mereka, tapi tatapan tajamnya cukup untuk membuat mereka bungkam ketakutan. Ia terus menyeret Winda menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke area parkir VIP di bawah gedung.

Sopir pribadi Seonwoo sudah menunggu dengan mesin mobil yang menyala. Seonwoo memaksa Winda masuk ke dalam mobil hitam mewahnya. Selama perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa mencekam. Winda terus terisak kecil, memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan, bertanya-tanya hukuman apa lagi yang akan ia terima setelah ini.

Mobil itu membelah jalanan Seoul dengan cepat menuju kawasan elit Gangnam. Mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen mewah yang kini menjadi penjara bagi Winda. Tanpa banyak bicara, Seonwoo menarik Winda masuk ke dalam lift pribadi yang membawanya langsung ke unit penthouse.

Begitu pintu penthouse terbuka, Seonwoo tidak membiarkan Winda bernapas lega. Ia langsung membawa wanita itu masuk ke dalam kemewahan yang terasa hampa itu. Winda berdiri gemetar di tengah ruangan, sementara Seonwoo berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Di kepala Winda, sebuah pemikiran naif kembali muncul apakah Seonwoo membawanya pulang lebih cepat karena dia merasa kasihan? Apakah ini cara tersembunyi pria itu untuk melindunginya dari perundungan di kantor tadi?

Winda menatap Seonwoo dengan mata yang masih basah. "Kenapa... kenapa kau membawaku pulang sekarang? Apa kau mengkhawatirkanku?"

Seonwoo perlahan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Winda terdesak ke belakang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang membuat bulu kuduk Winda merinding.

"Mengkhawatirkanmu?" Seonwoo tertawa rendah, suara yang lebih menyerupai ancaman daripada tawa. "Kau memang percaya diri, Winda. Aku membawamu ke sini bukan karena aku peduli pada air matamu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Jebakan Sistem

    Pagi itu, atmosfer di gedung utama HanGroup terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Udara seolah membeku, meninggalkan rasa pahit di setiap helaan napas para karyawan. Park Jae-hyun melangkah masuk ke lobi dengan setelan abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun ia segera menyadari bahwa dunia yang ia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini telah runtuh dalam semalam.Tidak ada sapaan hormat dari staf administrasi. Tidak ada bungkukan badan dari para juniornya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang cepat-cepat dialihkan, bisik-bisik yang tertahan di balik telapak tangan, dan aura pengucilan yang sangat nyata.Begitu ia sampai di depan meja kerjanya, dua pria dari Divisi Kepatuhan dan Keamanan Internal sudah berdiri menunggu dengan tangan bersedekap. Di atas meja Jae-hyun, sebuah kotak karton kosong telah disiapkan, sebuah simbol kematian karier yang paling hina bagi seorang eksekutif."Manajer Park Jae-hyun." ucap salah satu pria it

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Bayang-Bayang Jakarta

    Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti kamar utama penthouse mewah itu. Seonwoo masih berada di atas tubuh Winda, namun seluruh ototnya menegang kaku seperti patung granit. Kata-kata Winda tentang tangan yang membimbingnya pulang bukan sekadar ucapan, melainkan bagaikan sebuah anak panah perak yang melesat menembus perisai kebencian yang telah ia bangun dengan susah payah selama dua puluh dua tahun.Seonwoo perlahan melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Winda. Jemarinya yang tadi kasar kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah temaram lampu kamar, seolah-olah ia bisa melihat bayangan tangan kecil seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang pernah berkeringat dingin karena takut, namun tetap berusaha menggenggam erat jemari mungil seorang gadis kecil yang lebih ketakutan darinya."Jangan membual, Winda." suara Seonwoo terdengar serak, hampir pecah di ujung kalimatnya.Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang cukup gontai, berusaha

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Amarah Han Seonwoo

    Lampu lift pribadi yang bergerak menuju penthouse mewah milik Seonwoo berkedip dalam kesunyian yang mencekam. Di dalamnya, Seonwoo berdiri membelakangi Winda, namun aura kemarahannya terasa penuh hingga memenuhi ruang sempit itu seperti gas beracun yang siap meledak. Winda bisa melihat pantulan wajah Seonwoo di dinding lift yang mengilap, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang, tanda bahwa pria itu sedang menahan ledakan amarah yang luar biasa.Begitu pintu lift terbuka, Seonwoo tidak menunggu. Ia langsung merenggut pergelangan tangan Winda dengan cengkeraman yang membuat tulang wanita itu terasa ngilu, Seonwoo menyeretnya masuk ke dalam ruang pribadi luas yang hanya diterangi lampu kota dari balik jendela kaca raksasa."Sakit, Seonwoo! Lepaskan!" rintih Winda saat tubuhnya dihempaskan ke atas sofa kulit.Seonwoo tidak berhenti. Ia menanggalkan jas tuksedonya, melemparnya ke lantai, lalu merangkak naik ke atas sofa, mengunci tubuh Winda di bawah kungkungannya. Matanya

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Perjamuan Berbisa

    Puncak hotel Grand Hyatt Seoul malam itu tampak seperti mahkota bercahaya di tengah kegelapan kota. Namun, di dalam restoran privat yang telah dipesan khusus oleh HanGroup, suasananya jauh dari kata hangat. Cahaya lampu gantung kristal yang memantul di permukaan meja mahoni justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tajam, serupa dengan niat orang-orang yang duduk di sekelilingnya.Winda berdiri di samping Seonwoo, mengenakan gaun velvet biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna namun terasa seperti baju zirah yang berat.Seonwoo tidak membiarkan tangannya lepas dari pinggang Winda sedikit pun, cengkeramannya yang posesif adalah pengingat bahwa di sini, Winda bukanlah tamu, melainkan jarahan yang akan dipamerkan."Lihatlah wajah mereka, Winda." bisik Seonwoo tepat di telinganya sebelum mereka duduk. "Mereka adalah orang-orang yang meludahi nama ayahmu dua puluh dua tahun lalu. Dan malam ini, mereka harus melihatmu berdiri di sampingku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Sangkar Emas Yang Mencekik

    Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang kerja CEO setelah Andre melangkah keluar dari ruangan ity. Ruangan luas itu kini terasa seperti ruang hampa udara, oksigen seolah ikut terbawa pergi bersama langkah kaki Andre yang terus menjauh. Winda masih berdiri mematung di tengah ruangan, punggungnya tegak namun kaku, hingga akhirnya seluruh kekuatannya luruh seketika. Ia jatuh berlutut di atas karpet beludru yang mahal, napasnya terengah-engah menahan ledakan isak tangis yang sedari tadi ia bendung mati-matian di depan pria yang menghormatinya.Seonwoo berdiri di belakangnya, menatap bahu Winda yang berguncang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kepuasan sosiopat yang berkilau di matanya karena ia berhasil menghapus "Winnie" dari dunia ini namun juga ada percikan kemarahan yang belum padam sejak ia melihat betapa hancurnya Winda demi pria lain."Kau melakukannya dengan sangat baik, Winda." suara Seonwoo terdengar seperti gesekan pisau di atas kristal. Ia berjalan perlahan me

  • Tuan CEO, Lepaskan Aku!   Kematian Sang Winnie

    Pagi itu, kota Seoul diselimuti kabut kelabu yang tebal. Di dalam ruang istirahat pribadi gedung HanGroup, Winda berdiri mematung di depan cermin besar yang memperlihatkan tubuhnya dengan jelas. Seonwoo telah menyiapkan segalanya; sebuah dress sutra berwarna hitam yang elegan namun terlihat sangat terbuka, melekat sempurna di tubuh Winda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik seragam kantor yang kaku."Gunakan ini." perintah Seonwoo dingin sambil meletakkan sebuah kotak berisi kalung berlian di atas meja rias. "Tamu istimewamu sudah tiba di lobi. Jangan membuatku harus melakukan hal kasar pada pria itu hanya karena kau tidak bisa mengontrol ekspresi wajahmu."Winda mengenakan perhiasan itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti domba yang sedang dihias sebelum disembelih. Seonwoo mendekat dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Winda yang hampir remyk matanya beralih menatap pantulan mereka di cermin besar itu."Ingat, Winda. Satu kata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status