LOGINPagi itu, atmosfer di gedung utama HanGroup terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Udara seolah membeku, meninggalkan rasa pahit di setiap helaan napas para karyawan. Park Jae-hyun melangkah masuk ke lobi dengan setelan abu-abu gelap yang disetrika sempurna, wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun ia segera menyadari bahwa dunia yang ia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini telah runtuh dalam semalam.Tidak ada sapaan hormat dari staf administrasi. Tidak ada bungkukan badan dari para juniornya. Yang ada hanyalah tatapan mata yang cepat-cepat dialihkan, bisik-bisik yang tertahan di balik telapak tangan, dan aura pengucilan yang sangat nyata.Begitu ia sampai di depan meja kerjanya, dua pria dari Divisi Kepatuhan dan Keamanan Internal sudah berdiri menunggu dengan tangan bersedekap. Di atas meja Jae-hyun, sebuah kotak karton kosong telah disiapkan, sebuah simbol kematian karier yang paling hina bagi seorang eksekutif."Manajer Park Jae-hyun." ucap salah satu pria it
Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti kamar utama penthouse mewah itu. Seonwoo masih berada di atas tubuh Winda, namun seluruh ototnya menegang kaku seperti patung granit. Kata-kata Winda tentang tangan yang membimbingnya pulang bukan sekadar ucapan, melainkan bagaikan sebuah anak panah perak yang melesat menembus perisai kebencian yang telah ia bangun dengan susah payah selama dua puluh dua tahun.Seonwoo perlahan melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Winda. Jemarinya yang tadi kasar kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah temaram lampu kamar, seolah-olah ia bisa melihat bayangan tangan kecil seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang pernah berkeringat dingin karena takut, namun tetap berusaha menggenggam erat jemari mungil seorang gadis kecil yang lebih ketakutan darinya."Jangan membual, Winda." suara Seonwoo terdengar serak, hampir pecah di ujung kalimatnya.Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang cukup gontai, berusaha
Lampu lift pribadi yang bergerak menuju penthouse mewah milik Seonwoo berkedip dalam kesunyian yang mencekam. Di dalamnya, Seonwoo berdiri membelakangi Winda, namun aura kemarahannya terasa penuh hingga memenuhi ruang sempit itu seperti gas beracun yang siap meledak. Winda bisa melihat pantulan wajah Seonwoo di dinding lift yang mengilap, rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang, tanda bahwa pria itu sedang menahan ledakan amarah yang luar biasa.Begitu pintu lift terbuka, Seonwoo tidak menunggu. Ia langsung merenggut pergelangan tangan Winda dengan cengkeraman yang membuat tulang wanita itu terasa ngilu, Seonwoo menyeretnya masuk ke dalam ruang pribadi luas yang hanya diterangi lampu kota dari balik jendela kaca raksasa."Sakit, Seonwoo! Lepaskan!" rintih Winda saat tubuhnya dihempaskan ke atas sofa kulit.Seonwoo tidak berhenti. Ia menanggalkan jas tuksedonya, melemparnya ke lantai, lalu merangkak naik ke atas sofa, mengunci tubuh Winda di bawah kungkungannya. Matanya
Puncak hotel Grand Hyatt Seoul malam itu tampak seperti mahkota bercahaya di tengah kegelapan kota. Namun, di dalam restoran privat yang telah dipesan khusus oleh HanGroup, suasananya jauh dari kata hangat. Cahaya lampu gantung kristal yang memantul di permukaan meja mahoni justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tajam, serupa dengan niat orang-orang yang duduk di sekelilingnya.Winda berdiri di samping Seonwoo, mengenakan gaun velvet biru tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna namun terasa seperti baju zirah yang berat.Seonwoo tidak membiarkan tangannya lepas dari pinggang Winda sedikit pun, cengkeramannya yang posesif adalah pengingat bahwa di sini, Winda bukanlah tamu, melainkan jarahan yang akan dipamerkan."Lihatlah wajah mereka, Winda." bisik Seonwoo tepat di telinganya sebelum mereka duduk. "Mereka adalah orang-orang yang meludahi nama ayahmu dua puluh dua tahun lalu. Dan malam ini, mereka harus melihatmu berdiri di sampingku. Bukankah itu sebuah ironi yang indah
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang kerja CEO setelah Andre melangkah keluar dari ruangan ity. Ruangan luas itu kini terasa seperti ruang hampa udara, oksigen seolah ikut terbawa pergi bersama langkah kaki Andre yang terus menjauh. Winda masih berdiri mematung di tengah ruangan, punggungnya tegak namun kaku, hingga akhirnya seluruh kekuatannya luruh seketika. Ia jatuh berlutut di atas karpet beludru yang mahal, napasnya terengah-engah menahan ledakan isak tangis yang sedari tadi ia bendung mati-matian di depan pria yang menghormatinya.Seonwoo berdiri di belakangnya, menatap bahu Winda yang berguncang dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kepuasan sosiopat yang berkilau di matanya karena ia berhasil menghapus "Winnie" dari dunia ini namun juga ada percikan kemarahan yang belum padam sejak ia melihat betapa hancurnya Winda demi pria lain."Kau melakukannya dengan sangat baik, Winda." suara Seonwoo terdengar seperti gesekan pisau di atas kristal. Ia berjalan perlahan me
Pagi itu, kota Seoul diselimuti kabut kelabu yang tebal. Di dalam ruang istirahat pribadi gedung HanGroup, Winda berdiri mematung di depan cermin besar yang memperlihatkan tubuhnya dengan jelas. Seonwoo telah menyiapkan segalanya; sebuah dress sutra berwarna hitam yang elegan namun terlihat sangat terbuka, melekat sempurna di tubuh Winda, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik seragam kantor yang kaku."Gunakan ini." perintah Seonwoo dingin sambil meletakkan sebuah kotak berisi kalung berlian di atas meja rias. "Tamu istimewamu sudah tiba di lobi. Jangan membuatku harus melakukan hal kasar pada pria itu hanya karena kau tidak bisa mengontrol ekspresi wajahmu."Winda mengenakan perhiasan itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti domba yang sedang dihias sebelum disembelih. Seonwoo mendekat dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Winda yang hampir remyk matanya beralih menatap pantulan mereka di cermin besar itu."Ingat, Winda. Satu kata







