MasukSingapura di tengah malam adalah labirin baja dengan cahaya yang tidak memberikan ampun bagi mereka yang tidak memiliki tempat di dunia. Di pinggiran dermaga Jurong yang pengap oleh bau solar dan karat, Park Jae-hyun bergerak seperti hantu yang terluka. Setiap kali lampu sorot dari menara penjaga pelabuhan menyapu permukaan beton, ia menahan napas, menekan tubuhnya ke bayang-bayang kontainer raksasa.Dunia mengenalnya sekarang sebagai buronan Lee Sooyoung yang sudah mati. Di layar televisi yang ia lihat sekilas di sebuah kedai kopi di perbatasan, wajahnya terpampang dengan label "Buronan Berbahaya". Lee Sooyoung tidak hanya ingin menghentikannya; wanita itu telah merampas identitasnya, martabatnya, dan kini berusaha merampas nyawanya dengan tangan hukum internasional. Fitnah atas pembunuhan staf keamanan di Jakarta itu dirancang begitu rapi, membuatnya tidak memiliki jalan untuk meminta pertolongan pada otoritas mana pun.Jae-hyun memegang bahu kirinya yang terasa berdenyut-denyut m
Dinginnya lantai kayu di rumah tua Gangwon terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit . Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan guncangan mental yang baru saja ia terima. Beberapa jam lalu, Yoo Hyejin, wanita yang diperkenalkan sebagai "calon ratu" HanGroupdatang mengunjunginya. Kedatangan Hyejin bukan untuk membawa obat, melainkan untuk menanamkan racun di pikiran Winda bahwa Seonwoo telah benar-benar menghapus namanya dari hatinya."Dia bahkan tidak sudi melihat fotomu lagi, Winda. Baginya, kau hanyalah selingan yang kotor sebelum dia kembali ke pelukanku," kata-kata Hyejin terus terngiang, menghancurkan sisa-sisa harapan Winda.Malam itu, pintu kamar terbuka. Han Seonwoo melangkah masuk. Aura pria itu masih gelap, matanya yang dingin menatap Winda yang terbaring lemah. Tidak ada pelukan hangat. Seonwoo berdiri di sana, menatap Winda seolah sedang melihat barang rongsokan yang gagal ia buang."Ibu bilang kau menolak makan," suara Seonwoo bergema, rendah dan penuh intimi
Salju mulai kembali turun di Seoul, namun bagi Han Seonwoo, setiap butiran putih yang jatuh terasa seperti abu yang mendinginkan jiwanya. Ia berdiri di balkon kantornya, menatap lurus ke arah utara, ke arah pegunungan Gangwon yang kini tertutup kabut tebal. Di dalam sakunya, ia meremas ponsel yang berisi berita kematian Jae-hyun. Hatinya kosong, namun amarahnya tetap membara sebuah paradoks yang membuatnya tampak seperti mayat hidup yang mengenakan setelan jas mahal."Seonwoo-ya," sebuah suara lembut, namun penuh dengan nada manipulatif, memecah keheningan ruangan itu.Seonwoo tidak menoleh. Ia mengenali suara itu. Itu adalah suara dari masa lalu yang sengaja ditarik kembali oleh ibunya untuk menambal lubang di HanGroup. Yoo Hyejin,putri tunggal dari pemilik S Group yang melupakan mantan tunanganSeonwoo yang hubungannya berakhir tiga tahun lalu karena Hyejin lebih mencintai saham daripada dirinya."Ibumu bilang kau sedang tidak stabil," Hyejin melangkah mendekat, aroma parfum high-
Langit di atas Seoul tampak seperti kanvas kelabu yang menindas, seolah alam pun sedang berduka atas kebenaran yang terkubur. Di ruang kerjanya yang kini terasa asing, Han Seonwoo duduk terpaku menatap layar televisi yang menyiarkan berita darurat. Sebuah kapal nelayan di perairan Selat Malaka dilaporkan meledak setelah terlibat baku tembak dengan patroli laut."Pihak berwenang menemukan beberapa mayat yang tidak dapat dikenali, namun identitas salah satu buronan internasional asal Korea Selatan, Park Jae-hyun, diduga kuat termasuk dalam korban tewas..."Gelas wiski di tangan Seonwoo terlepas, menghantam lantai marmer dan pecah berkeping-keping. Cairan itu merembes, persis seperti rasa dingin yang kini menjalar di nadinya. Jae-hyun mati? Pria yang paling ia benci sekaligus satu-satunya orang yang memegang kunci masa lalunya, lenyap begitu saja?"Tuan Muda," suara Chief Kim terdengar dari ambang pintu. Pria itu masuk dengan langkah tenang, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun saat
Hawa dingin di pegunungan Gangwon tidak seperti dinginnya AC di kantor utama penthouse. Di sini, dingin itu terasa hidup, merayap masuk melalui celah-celah kayu rumah tua keluarga Han dan menusuk kulit Winda hingga ke tulang. Sejak dipindahkan dua hari lalu, Winda merasa jiwanya perlahan terkikis. Tanpa suara, tanpa teman, dan tanpa penjelasan, ia hanyalah sebuah benda mati yang disimpan di gudang berdebu.Pagi itu, Winda mencoba bangkit dari ranjangnya yang keras. Kepalanya terasa berat, dan setiap kali ia mencoba menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disayat duri tajam. Demam mulai menyerang tubuhnya yang rapuh. Ia berjalan tertatih menuju jendela, berharap melihat sosok yang ia kenal, mungkin Dokter Oh, pria paruh baya yang selalu menatapnya dengan rasa iba di penthouse.Namun, yang ia lihat di gerbang luar hanyalah dua penjaga berwajah dingin yang mengenakan seragam keamanan HanGroup. Tidak ada tanda-tanda Dokter Oh. Winda tidak tahu bahwa saat ini, satu-satunya orang yan
Malam itu, Seoul seolah kehilangan warnanya. Di bawah rintik hujan yang dingin, sebuah mobil SUV hitam bergerak meninggalkan area penthouse dengan kawanan pengawal yang tak bersahabat. Di kursi belakang, Winda duduk meringkuk dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat. Ia tidak diikat, namun tatapan tajam Chief Kim yang duduk di kursi depan lebih dari cukup untuk membuat nyalinya ciut. Winda hanya bisa menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan menjauh dan digantikan oleh gelapnya hutan pinus yang membentang menuju pegunungan Gangwon.Ia dipindahkan. Bukan ke tempat yang lebih baik, melainkan ke rumah lama keluarga Han yang sudah bertahun-tahun tak berpenghuni. Sebuah bangunan kayu bergaya arsitektur lama yang berdiri di pinggir tebing, jauh dari pemukiman. Di sinilah Seonwoo memutuskan untuk membuang "ular" yang ia anggap telah mengkhianatinya.Sesampainya di sana, Chief Kim menarik lengan Winda dengan kasar untuk turun dari mobil. Udara pegunungan yang t







