LOGIN"Apa? Astaga, bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh itu bersamanya?" Bastian menatapnya tak percaya, malam itu saat mereka bertemu lagi untuk membahas beberapa proyek.
Aluna menghela napas, dia mengambil wine untuk melegakan lehernya karena rasanya sangat kering setelah dia menceritakan perjanjian yang dia buat dengan Devano tentang siapa yang akan hamil dan memberikan keturunan untuk keluarga pria itu. "Hanya itu yang bisa kulakukan, sejauh ini aku tidak mungkin langsung bercerai hanya karena permasalahan kecil tentang dia yang tak menerimaku. Dia yang bodoh dengan salah menyukai orang lain, tapi menyalahkanku karena bukan Amanda. Harusnya hari itu dia bisa langsung menikah dengan Amanda saja, Kenapa pura-pura menerima di hadapan keluargaku dan membuatku kesulitan sendiri?" Aluna berkata sambil menarik nafasnya. Devano adalah seorang yang cukup menyebalkan, tapi Aluna tidak bisa melakukan apa pun saat ini karena dia tahu pria itu juga tidak akan mau disalahkan atau dipermalukan. Devano memiliki harga diri yang tinggi, statusnya sebagai seorang penggaris keluarga tentu saja membuat sikapnya menjadi seperti itu. "Aluna, kau adalah seorang wanita yang cantik bahkan lebih cantik daripada Amanda. Aku mengenalmu selama ini, walaupun mulutmu kasar saat bicara tapi kau memiliki sifat yang baik dan netral. Kau tidak pernah bermuka dua, kau adalah orang yang apa adanya. Kenapa kau harus menderita dengan pernikahan yang kau lakukan dengan bajingan itu? Kenapa dia justru memilih sampah, sementara kau adalah tuan putri yang lebih layak untuknya?" ujar Bastian dengan kesal membuat Aluna menghela napas. "Beberapa orang mengatakan kalau dia tidak memandang derajat, siapa yang membuatnya nyaman maka wanita itu yang akan menjadi pasangan dan juga menjadi cintanya. Mungkin hal itu juga benar, tidak peduli kalau kita tahu jika Amanda adalah orang yang manipulatif, tapi bagi Devano wanita itu adalah segalanya, Amanda adalah yang terbaik. Aku tidak bisa menyalahkan pikirannya, karena dia mencurahkan isi hatinya pada gadis itu sejak dulu," ujar Aluna, membuat Leny yang ada di sana hanya bisa terdiam. Sementara itu, Bastian sudah menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap gadis cantik dan elegan di hadapannya. "Dia memang seorang pria yang bodoh, matanya dan mata hatinya sudah tertutup karena kebodohan. Ke depannya Aku yakin dia akan memiliki hidup yang berantakan." Menggoyangkan gelas wine ditangannya, Bastian menyesapnya sedikit. "Kau berharap suatu saat dia akan berubah dan mencintaimu?" Aluna tertawa kecil, sebelum membuang nafas. "Itu hal yang sulit, mungkin kalau aku akan menjadi seorang istri penurut dan mungkin melayaninya walaupun dia tidak menerima, dia bisa saja luluh dan menjadi orang yang lebih peduli padaku. Namun, aku sudah memutuskan untuk menjadi diriku sendiri di hadapannya. Aku sudah setuju kalau kami akan melakukan pernikahan sandiwara. Untuk jangka waktunya, mau itu sampai mati ataupun sampai kami bercerai aku juga belum bisa memastikan. Hanya saja akan sangat mustahil suatu saat dia berubah dan mencintaiku. Dengan harga dirinya yang tinggi itu, aku yakin dia lebih rela menikahi Amanda daripada sungguhan menerimaku," ujarnya membuat Bastian bisa melihat tatapan sedih dari wajah Aluna. Dia diam, memperhatikan gadis itu dan merasa prihatin. Andaikan saja dia lebih cepat sedikit, mungkin dia yang akan menjadi suami gadis ini tapi dia juga tak bisa lakukan itu karena akan melibatkan dua keluarga. Walaupun keluarganya dan keluarga Aluna juga merupakan rekan bisnis, tapi mereka tidak bisa sembarangan untuk memutuskan hubungan dengan keluarga yang lain. "Kau bersedih karena dia tidak menerimamu?" Aluna menghela napas panjang. "Sedih yang kurasakan hanya sebatas, kenapa hidupku seperti ini? Kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan seorang suami yang tidak mencintaiku? Aku juga berharap dicintai, aku berharap memiliki kehidupan dan keluarga yang bahagia saat sudah menikah. Namun, kau tahu sendiri, pernikahan yang diatur oleh keluargaku dengan keluarga orang lain, itu demi bisnis. Tidak peduli apakah aku bahagia atau tidak, yang paling penting adalah bisnis tetap berjalan dan menguntungkan. Hidupku sudah seperti ini, aku hanya bisa menjalaninya," ujar Aluna membuat Leny dan Bastian sama-sama merasa simpati padanya. Malam itu setelah mengulas beberapa proyek dan bicara dengan Bastian, Aluna pulang ke kediamannya bersama Devano. Dia berjalan dengan dituntun oleh Leny, kepalanya terasa sedikit berat setelah meminum beberapa gelas wine. "Menantu baruku ini bisa pulang sesuka hatinya." Tuan Besar Herdian, alias Ayah Devano berkata menyambutnya di ruang depan. Aluna menatap pria itu, hingga dia bisa menemukan keberadaan Devano dan juga ibu mertuanya. "Dari mana saja sampai kau baru pulang pukul 23.00 malam?" tanya Devano sambil menatapnya serius dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana. "Aku tidak tahu kalau Daddy dan Mommy datang, aku ada urusan pekerjaan tadi makanya pergi keluar dan baru kembali." Aluna menatap kedua mertuanya dengan sopan, sementara Nyonya Besar Herdian sudah menatap wajah putranya. "Kalian baru menikah, apakah harus bekerja sampai larut malam begini?" tanya wanita itu sebelum berjalan mendekat dan menyentuh kedua sisi wajah Aluna. "Kau tidak harus bekerja keras, walaupun kau juga seorang CEO. Minta bantuan dari Devano, harusnya dia bisa membantumu karena perusahaan kita juga saling bekerja sama. Kenapa harus menyusahkan dirimu sendiri seperti kamu tidak punya orang lain?" Aluna menatap Devano, dia tak tahu harus bicara apa dan itu membuat Devano berdehem pelan. "Urusan tadi memang tidak bisa diwakilkan olehku, Mom. Lagi pula aku juga baru kembali, ada banyak pekerjaan yang harus kami harus dan tidak bisa main-main. Setelah pernikahan juga tidak bisa istirahat karena tiba-tiba saja ada banyak proyek mendadak." Devano berjalan mendekat dan merangkul pinggang Aluna. "Tadi mommy dan Daddy sudah mau pulang, kami akan antarkan setelah itu baru kami akan istirahat. Besok kalau ada waktu, kami akan datang berkunjung gantian." Nyonya dan Tuan Besar Herdian akhirnya mengangguk, berjalan dengan Devano dan Aluna mengantarkan sampai pintu depan. "Kami akan pulang, segeralah istirahat. Besok makan malam dengan keluarga di rumah kita ya? Mommy dan Daddy tidak akan banyak mengganggu lagi." "Ya, Mom." Setelah mobil yang dikendarai oleh sopir membawa kedua orang tuanya pulang, Aluna melepaskan tangan Devano dari bahunya lalu mengulurkan tangan pada Leny yang sudah memapahnya lagi untuk masuk ke dalam. Devano memperhatikan, lalu berjalan masuk dan mengunci pintu rumah. Dia menyusul ke lantai atas dan masuk ke kamar sementara Leny sudah menunduk dan keluar dari sana. "Bertemu dengan siapa sampai mabuk-mabukan seperti itu?" tanya Devano tiba-tiba membuat Aluna yang sedang duduk di meja rias menaikkan alisnya. "Rekan kerjaku, kenapa?" Devano menyipitkan matanya. "Laki-laki?" "Ya dan itu bukan urusanmu, Devano. Ingat, pernikahan kita hanya pernikahan sandiwara."Devano berhenti mengetuk pintu saat sudah terbuka dan menampilkan Aluna di sana. Mereka bersitatap sejenak, Devano menatap Aluna yang menatapnya tanpa ekspresi dengan gaun malam merah maroon yang terlihat seksi di tubuhnya yang terawat dan menarik. "Kenapa sampai mengunci pintu?" tanya Devano ketus, sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh itu. Memang tubuh Aluna lebih seksi dan menarik daripada Amanda, wanita ini juga lebih cantik daripada Amanda. Tetapi Devano sudah lama menyukai Amanda, dia tidak peduli cantik atau tidak Yang penting dia suka. Dan dia tidak suka dengan Aluna, makanya tidak pernah mempedulikannya. "Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" tanya Aluna gantian, wajahnya terlihat tenang walau menahan kesal. "Sudah hampir jam 2 malam, sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang bangun. Pelayan-pelayanku juga sudah tidur, aku sengaja menutup pintu dan menguncinya supaya tidak ada orang jahat masuk." Devano tak langsung menjawab, dia melangkah masuk ke dalam. "Ini rum
"Sudah selesai, kita langsung saja temui Bastian. Aku akan makan malam dengannya dulu, baru pulang dan langsung istirahat." Aluna berkata sambil memberikan berkas terakhir pada Leny. "Nona, tapi ada jadwal malam ini Anda dan Tuan akan makan malam di rumah keluarga Herdian. Apakah Anda tidak akan datang?" tanya Leny sambil mengikutinya yang sudah memakai tas dan berjalan keluar dari ruangan. Aluna menarik napas mendengarnya. Benar juga, ada janji makan malam yang akan dilakukan dengan keluarga pria itu. Aluna lupa karena memang tidak diberitahu Devano lagi tadi, tapi sepertinya ini sudah menjadi jadwal penting sampai Leny juga tahu. "Kutunggu di bawah, coba datangi ruangan Devano dan tanya padanya apakah jadi pergi atau tidak." Leny mengangguk paham, langsung melakukan pekerjaan yang diminta oleh Aluna. Sementara Aluna sendiri sedang menarik napas dan mengumpulkan kesabaran, datang ke kediaman keluarga Herdian hanya akan membuatnya bersandiwara sebagai istri pria itu. Ini bukanlah
Amanda terlihat menahan kesal mendengar ucapan Aluna, tapi tak ada yang dia katakan lagi melainkan langsung pergi meninggalkan mereka. "Menyebalkan sekali," ucap Bastian sambil mendengus. Aluna tersenyum pelan, lalu menyesap kopinya dah menarik napas dalam-dalam. "Entah kenapa melihatnya saja sudah membuatku muak," ujarnya sampai Bastian menatapnya. "Tapi aku tidak bisa membencinya juga, dia sepupuku walaupun jauh." "Kau bisa membencinya, bagiku dia bukan siapa-siapamu. Hanya wanita biasa yang karena dia hubunganmu dengan Devano juga tidak sebaik orang-orang pikir." Bastian berkata tanpa menyembunyikan rasa kesalnya pada Amanda. Aluna tersenyum dan menggeleng pelan. "Kenapa aku yang diperlakukan seperti ini tapi kau terlihat sangat keberatan? Devano itu laki-laki, kau tidak sepemikiran dengannya? Kalau misalnya suatu saat kau harus menikah dengan orang yang terpaksa kau nikahi sementara kau memiliki wanita lain yang kau cintai, apakah kau akan memperlakukan wanita yang kau ni
"Tidak," tolak Amanda lalu bergerak menyamping, menjauhi Devan dengan cepat. "Devan, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Kau tetap suami Aluna dan tidak akan bisa menjadi suamiku walaupun aku hamil anakmu. Itu hanya akan jadi aib, aku hanya akan malu sendiri kalau sempat melakukannya." "Amanda masih rasional juga pemikirannya," gumam Aluna mendengarnya. "Tapi, aku tidak mencintai Aluna! Kalau kamu hamil anakku, setidaknya aku bisa membuat posisi ini berganti. Aku akan mudah mencampakkan Aluna dari dalam hidupku, lalu membawamu dalam pernikahan yang baru." Devano terus memaksa, cara soal sesuatu yang pasti masuk akal dalam pikirannya sendiri. Amanda terlihat kesal, tapi dia menahannya baik-baik dan kembali menatap wajah Devano dengan tatapan seolah-olah dia adalah gadis tersakiti. "Devan... kalau kau memang mencintaiku, caranya bukan begini. Cari cara untuk menceraikan Aluna, cara lain yang tidak perlu melakukan sesuatu untuk mempermalukanku. Aku tidak mau kalau harus ham
Aluna bangun dengan tubuh yang terasa cukup pegal karena dia tadi malam mabuk. Saat bangkit dari ranjang dan duduk, Gadis itu melihat Devano yang baru keluar kamar mandi hingga dia bergerak menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang."Aku mau memasukkan satu pelayan," ucap Aluna tiba-tiba membuat Devano yang akan berjalan ke walk in closet berhenti dan menoleh ke arahnya."Untuk apa?"Aluna menatapnya, lalu menaikkan alis. "Kau bertanya untuk apa? Tentu saja untuk melayaniku, aku terbiasa dilayani dari kecil dan saat sampai di rumahmu ini aku bahkan tidak menemukan satupun pelayan. Meskipun aku bisa memasak, tapi aku juga bekerja dan sangat sibuk. Aku butuh seseorang untuk mengurus ku selain Leny, karena kau sama sekali tidak ada niatan untuk memberikan pelayan di rumah ini jadi aku akan membayar pelayanku sendiri," ucapnya membuat Devano terdiam.Tak juga mendapatkan respon dari pria itu, Aluna menarik napasnya. "Tidak perlu khawatir, dia hanya akan melayaniku dan tidak akan mengganggum
"Apa? Astaga, bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh itu bersamanya?" Bastian menatapnya tak percaya, malam itu saat mereka bertemu lagi untuk membahas beberapa proyek. Aluna menghela napas, dia mengambil wine untuk melegakan lehernya karena rasanya sangat kering setelah dia menceritakan perjanjian yang dia buat dengan Devano tentang siapa yang akan hamil dan memberikan keturunan untuk keluarga pria itu. "Hanya itu yang bisa kulakukan, sejauh ini aku tidak mungkin langsung bercerai hanya karena permasalahan kecil tentang dia yang tak menerimaku. Dia yang bodoh dengan salah menyukai orang lain, tapi menyalahkanku karena bukan Amanda. Harusnya hari itu dia bisa langsung menikah dengan Amanda saja, Kenapa pura-pura menerima di hadapan keluargaku dan membuatku kesulitan sendiri?" Aluna berkata sambil menarik nafasnya. Devano adalah seorang yang cukup menyebalkan, tapi Aluna tidak bisa melakukan apa pun saat ini karena dia tahu pria itu juga tidak akan mau disalahkan atau dipermalukan.







