Share

Gangguan Amanda

Penulis: Ainin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-14 15:45:51

"Tidak," tolak Amanda lalu bergerak menyamping, menjauhi Devan dengan cepat. "Devan, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Kau tetap suami Aluna dan tidak akan bisa menjadi suamiku walaupun aku hamil anakmu. Itu hanya akan jadi aib, aku hanya akan malu sendiri kalau sempat melakukannya."

"Amanda masih rasional juga pemikirannya," gumam Aluna mendengarnya.

"Tapi, aku tidak mencintai Aluna! Kalau kamu hamil anakku, setidaknya aku bisa membuat posisi ini berganti. Aku akan mudah mencampakkan Aluna dari dalam hidupku, lalu membawamu dalam pernikahan yang baru." Devano terus memaksa, cara soal sesuatu yang pasti masuk akal dalam pikirannya sendiri.

Amanda terlihat kesal, tapi dia menahannya baik-baik dan kembali menatap wajah Devano dengan tatapan seolah-olah dia adalah gadis tersakiti.

"Devan... kalau kau memang mencintaiku, caranya bukan begini. Cari cara untuk menceraikan Aluna, cara lain yang tidak perlu melakukan sesuatu untuk mempermalukanku. Aku tidak mau kalau harus hamil anakmu, belum tentu keluargamu akan mengakui kami," ujar Amanda lembut, lalu tanpa sengaja dia melihat bayangan Aluna yang sedang mengintip.

Senyum di bibirnya timbul seketika, lalu mendekati Devano yang menatapnya. Amanda peluk pria itu, dengan gayanya yang rapuh seolah penuh rasa sakit.

"Aluna itu kuat dan hebat, dia anak kandung keluarganya yang kaya raya. Berbeda denganku yang hanya sepupu, aku lahir dan besar di keluarga miskin. Jadi, hidup kami benar-benar berbeda. Aku bisa hancur kalau Aluna tidak terima aku mengandung anakmu," ucap Amanda dengan nada lemah dan sendu.

Aluna memutar bola matanya mendengar ucapan itu, dia sudah tahu kalau Amanda adalah wanita playing victim yang menyebalkan.

"Tidak akan kubiarkan dia melakukan itu, kau harus percaya padaku," balas Devano. "Sudah kubilang kalau Aluna juga setuju dengan rencana ini. Dia juga tidak mencintaiku, Amanda. Sekarang hanya menunggu persetujuanmu. Aku mohon, jangan menikah dengan pria lain, kau tidak akan bahagia kalau menikah dengan orang yang tidak kau cintai."

Amanda terdiam, tapi masih memeluk Devano seolah sengaja menunjukkan pada Aluna, kalau dia bisa melakukan ini. Devano Herdian mencintainya, sementara Aluna hanya akan jadi sampah dalam kehidupan pria ini.

"Aku beri waktu untukmu berpikir, jangan buru-buru kalau memang kamu belum yakin sekarang. Pernikahanmu jangan dilakukan sebelum kamu mendapatkan kepastian dari keputusanmu, hmm?" ujar Devano membuat Amanda menarik napas dan mengangguk kemudian.

Aluna bisa melihat wajah Devano berubah jadi cerah saat melihat anggukan Amanda. Dia berjalan pergi ketika tak ada lagi pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Wajah Aluna kelihatan tenang, walau ada harga diri yang tercoreng di dadanya.

"Tidak apa-apa, pernikahan ini hanya sandiwara. Devan justru bagus mencari cara sendiri untuk melepaskanku, kalau aku tetap bertahan juga tidak akan ada kebahagiaan." Aluna berkata dalam hatinya sambil meracik kopi di pantry.

Dia melamun beberapa saat, sampai akhirnya mendengar suara langkah kaki.

"Nanti bisa tua kalau kebanyakan melamun," ucap seorang di belakangnya membuat Aluna menoleh.

"Bastian?"

Pria itu tersenyum lebar, menunjukkan ketampanannya sekaligus gayanya yang memang tengil.

"Kenapa kau seperti tidak ada pekerjaan?" tanya Aluna dengan wajah heran.

"Aku ada pekerjaan, tapi sudah selesai. Rasanya bosan kalau di ruanganku terus, jadi aku cari saja Nona untuk berbincang." Bastian berkata santai membuat Aluna terkekeh kecil.

"Memang berbeda kalau kepala divisi, kebanyakan yang mengerjakan adalah bawahan. Aku juga sebenarnya tidak begitu banyak pekerjaan tapi gara-gara pernikahan kemarin aku meninggalkan cukup banyak tugas. Setelah ini, sepertinya nanti aku akan ke salon untuk spa. Mau makan malam bersama?" tawar Aluna membuat Bastian tersenyum lebar.

"Tentu saja, nanti aku temani ke salon. Aku juga akan spa," ujar Bastian hingga Aluna tersenyum.

Memang, dari dulu hanya Bastian yang bisa membuatnya nyaman dan tenang. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, kadang Aluna menganggap Bastian adalah kakaknya karena dia lahir sebagai anak tunggal. Pria ini menyenangkan, selalu menghiburnya kalau tahu dia dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Nona Aluna ada di sini ternyata," ujar suara lain lagi, yang tiba-tiba saja datang.

Aluna dan Bastian sama-sama melihat kearah suara, dan Bastian duluan yang melengos melihat kedatangan Amanda.

"Tuan Bastian juga di sini? Astaga, kebetulan sekali. Kenapa setiap kali saya lihat ada Nona Aluna, pasti juga ada Anda, Tuan?" tanya Amanda, pandangan yang terlihat heran sekaligus menunjukkan rasa curiga.

"Kau cemburu aku mendekati Aluna? Kuliat-kuliat, kau juga bukan lesbi, jangan bilang kau cinta pada Aluna jadi tidak suka aku bersamanya?" tanya Bastian malas membuat Aluna seketika menahan tawa.

Amanda menatap Aluna, sorot matanya begitu kesal tapi juga dia tahan karena dia tahu siapa yang ada di hadapannya. Walaupun ada darah keluarga, tapi Aluna dan statusnya tetap bukan sesuatu yang bisa Amanda jangkau begitu saja.

"Tuan Bastian terlalu berlebihan, saya tidak bermaksud begitu. Hanya heran saja, kenapa anda tetap tidak berjaga jarak pada Nona Aluna? Tuan Bastian jangan lupa, Nona Aluna sudah jadi menantu keluarga Herdian sekarang. Jaga jarak itu perlu, untuk menjaga nama baiknya," ujar Amanda sok mengajari.

"Kau saja tidak bisa menjaga nama baik dan harga dirimu sendiri," gumam Bastian lalu menatapnya sinis. "Atas dasar apa kau bisa menceramahiku? Aku tahu apa yang kulakukan, bahkan sebelum Aluna menikah dengan pria itu, aku duluan yang menemaninya. Jaga sikapmu, kau tidak selevel denganku untuk memberikan petuah."

Amanda merapatkan bibirnya, dia tahu kalau Bastian tidak seramah itu. Hanya pada Aluna saja pria ini bisa bersikap hangat dan menyenangkan, pada wanita atau orang lain dia tidak pernah lakukan hal serupa. Menatap Aluna yang tampak santai mengaduk kopinya, Amanda akhirnya bersuara lagi.

"Nona Aluna, Anda harusnya tidak menyia-nyiakan Tuan Devano yang baik. Sudah menikah harusnya tidak dekat dengan sembarangan laki-laki," ujar Amanda pada Aluna, membuat Aluna menaikkan alisnya seketika.

Darimana datangnya keberanian wanita ini sampai bukannya berhenti tapi malam menyenggolnya? Apakah karena ditawari mengandung anak Devano tadi, makanya dia bersikap seolah-olah punya posisi lebih tinggi dari Aluna?

"Pergilah ke kursimu, atau ke kursi Devano juga boleh, terserahmu. Miskin boleh, tapi lupa etika itu tidak dibenarkan," ujar Aluna datar menatapnya yang sudah membulatkan mata. "Aku tahu mana batasanku, kalau kau ingin mengajariku soal batasan kau juga harus tahu mana batasanmu."

"Apa maksud Nona?" tanya Amanda dengan wajah tak percaya dan gestur seolah dia tersudut. "Saya tidak pernah melanggar batasan apa-apa."

"Ikut campur dalam pembicaraan kami, itu sudah melanggar batasanmu sebagai seorang bawahan. Kau bukan siapa-siapa dalam perusahaan ini, memangnya pantas bicara saya enaknya pada pemilik saham?" tukas Aluna datar membuat Bastian tersenyum melihatnya. "Pergilah ke kursimu, selesaikan pekerjaanmu. Bukan malah mengajari kami disini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Sendirian

    Devano berhenti mengetuk pintu saat sudah terbuka dan menampilkan Aluna di sana. Mereka bersitatap sejenak, Devano menatap Aluna yang menatapnya tanpa ekspresi dengan gaun malam merah maroon yang terlihat seksi di tubuhnya yang terawat dan menarik. "Kenapa sampai mengunci pintu?" tanya Devano ketus, sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh itu. Memang tubuh Aluna lebih seksi dan menarik daripada Amanda, wanita ini juga lebih cantik daripada Amanda. Tetapi Devano sudah lama menyukai Amanda, dia tidak peduli cantik atau tidak Yang penting dia suka. Dan dia tidak suka dengan Aluna, makanya tidak pernah mempedulikannya. "Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" tanya Aluna gantian, wajahnya terlihat tenang walau menahan kesal. "Sudah hampir jam 2 malam, sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang bangun. Pelayan-pelayanku juga sudah tidur, aku sengaja menutup pintu dan menguncinya supaya tidak ada orang jahat masuk." Devano tak langsung menjawab, dia melangkah masuk ke dalam. "Ini rum

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Percayalah

    "Sudah selesai, kita langsung saja temui Bastian. Aku akan makan malam dengannya dulu, baru pulang dan langsung istirahat." Aluna berkata sambil memberikan berkas terakhir pada Leny. "Nona, tapi ada jadwal malam ini Anda dan Tuan akan makan malam di rumah keluarga Herdian. Apakah Anda tidak akan datang?" tanya Leny sambil mengikutinya yang sudah memakai tas dan berjalan keluar dari ruangan. Aluna menarik napas mendengarnya. Benar juga, ada janji makan malam yang akan dilakukan dengan keluarga pria itu. Aluna lupa karena memang tidak diberitahu Devano lagi tadi, tapi sepertinya ini sudah menjadi jadwal penting sampai Leny juga tahu. "Kutunggu di bawah, coba datangi ruangan Devano dan tanya padanya apakah jadi pergi atau tidak." Leny mengangguk paham, langsung melakukan pekerjaan yang diminta oleh Aluna. Sementara Aluna sendiri sedang menarik napas dan mengumpulkan kesabaran, datang ke kediaman keluarga Herdian hanya akan membuatnya bersandiwara sebagai istri pria itu. Ini bukanlah

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Menjaga Pernikahan

    Amanda terlihat menahan kesal mendengar ucapan Aluna, tapi tak ada yang dia katakan lagi melainkan langsung pergi meninggalkan mereka. "Menyebalkan sekali," ucap Bastian sambil mendengus. Aluna tersenyum pelan, lalu menyesap kopinya dah menarik napas dalam-dalam. "Entah kenapa melihatnya saja sudah membuatku muak," ujarnya sampai Bastian menatapnya. "Tapi aku tidak bisa membencinya juga, dia sepupuku walaupun jauh." "Kau bisa membencinya, bagiku dia bukan siapa-siapamu. Hanya wanita biasa yang karena dia hubunganmu dengan Devano juga tidak sebaik orang-orang pikir." Bastian berkata tanpa menyembunyikan rasa kesalnya pada Amanda. Aluna tersenyum dan menggeleng pelan. "Kenapa aku yang diperlakukan seperti ini tapi kau terlihat sangat keberatan? Devano itu laki-laki, kau tidak sepemikiran dengannya? Kalau misalnya suatu saat kau harus menikah dengan orang yang terpaksa kau nikahi sementara kau memiliki wanita lain yang kau cintai, apakah kau akan memperlakukan wanita yang kau ni

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Gangguan Amanda

    "Tidak," tolak Amanda lalu bergerak menyamping, menjauhi Devan dengan cepat. "Devan, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Kau tetap suami Aluna dan tidak akan bisa menjadi suamiku walaupun aku hamil anakmu. Itu hanya akan jadi aib, aku hanya akan malu sendiri kalau sempat melakukannya." "Amanda masih rasional juga pemikirannya," gumam Aluna mendengarnya. "Tapi, aku tidak mencintai Aluna! Kalau kamu hamil anakku, setidaknya aku bisa membuat posisi ini berganti. Aku akan mudah mencampakkan Aluna dari dalam hidupku, lalu membawamu dalam pernikahan yang baru." Devano terus memaksa, cara soal sesuatu yang pasti masuk akal dalam pikirannya sendiri. Amanda terlihat kesal, tapi dia menahannya baik-baik dan kembali menatap wajah Devano dengan tatapan seolah-olah dia adalah gadis tersakiti. "Devan... kalau kau memang mencintaiku, caranya bukan begini. Cari cara untuk menceraikan Aluna, cara lain yang tidak perlu melakukan sesuatu untuk mempermalukanku. Aku tidak mau kalau harus ham

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Hamil Anak Devan

    Aluna bangun dengan tubuh yang terasa cukup pegal karena dia tadi malam mabuk. Saat bangkit dari ranjang dan duduk, Gadis itu melihat Devano yang baru keluar kamar mandi hingga dia bergerak menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang."Aku mau memasukkan satu pelayan," ucap Aluna tiba-tiba membuat Devano yang akan berjalan ke walk in closet berhenti dan menoleh ke arahnya."Untuk apa?"Aluna menatapnya, lalu menaikkan alis. "Kau bertanya untuk apa? Tentu saja untuk melayaniku, aku terbiasa dilayani dari kecil dan saat sampai di rumahmu ini aku bahkan tidak menemukan satupun pelayan. Meskipun aku bisa memasak, tapi aku juga bekerja dan sangat sibuk. Aku butuh seseorang untuk mengurus ku selain Leny, karena kau sama sekali tidak ada niatan untuk memberikan pelayan di rumah ini jadi aku akan membayar pelayanku sendiri," ucapnya membuat Devano terdiam.Tak juga mendapatkan respon dari pria itu, Aluna menarik napasnya. "Tidak perlu khawatir, dia hanya akan melayaniku dan tidak akan mengganggum

  • Tuan CEO, Pernikahan Kita Hanya Sandiwara!   Pernikahan Sandiwara

    "Apa? Astaga, bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh itu bersamanya?" Bastian menatapnya tak percaya, malam itu saat mereka bertemu lagi untuk membahas beberapa proyek. Aluna menghela napas, dia mengambil wine untuk melegakan lehernya karena rasanya sangat kering setelah dia menceritakan perjanjian yang dia buat dengan Devano tentang siapa yang akan hamil dan memberikan keturunan untuk keluarga pria itu. "Hanya itu yang bisa kulakukan, sejauh ini aku tidak mungkin langsung bercerai hanya karena permasalahan kecil tentang dia yang tak menerimaku. Dia yang bodoh dengan salah menyukai orang lain, tapi menyalahkanku karena bukan Amanda. Harusnya hari itu dia bisa langsung menikah dengan Amanda saja, Kenapa pura-pura menerima di hadapan keluargaku dan membuatku kesulitan sendiri?" Aluna berkata sambil menarik nafasnya. Devano adalah seorang yang cukup menyebalkan, tapi Aluna tidak bisa melakukan apa pun saat ini karena dia tahu pria itu juga tidak akan mau disalahkan atau dipermalukan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status