LOGIN“Sayang flashdisknya mana? Aku akan menyerahkannya pada detektif.” Martin menatap pantulan dirinya di depan cermin.Serena mengernyit pelan. “Tunggu.”Kemudian pergi ke ruang ganti, lalu memungut pakaiannya semalam.Lalu merogoh kantongnya dan mencari flashdisk semalam. “Sayang tidak ada!”“Benarkah?” Martin mendekat kemudian menyentuh bahu istrinya. “Mungkin kamu terjatuh saat kamu ke kantor.”Serena mengangguk. “Aku akan mencarinya.”“Aku tidak bisa ikut mencari karena ada rapat,” balas Martin. “Kamu bisa melakukannya?”“Aku akan langsung mengirimkannya nanti,” balas Serena.Dan akhirnya Serena pergi ke kantor dengan bergegas. Ia sungguh khawatir kalau flashdisk tersebut hilang.Ada banyak file yang belum dipindahkan, sebagian kecil sudah dipindahkan Martin ke ponsel namun tidak masih ada banyak yang belum.Serena menunduk dan melihat ke bawah kemudian mengambil flashdisk itu dengan lega.Tadi malam ia kembali ke kantor karena mengambil berkas. Berkas yang harus ia pelajari.Itulah
“Aku ingin balas dendam pada mereka,” ucap Roni.Seorang pria yang menggunakan hoddie hitam dengan bawahan jeans berwarna biru.Serena mengenalnya karena mereka pernah sama-sama bekerja di firma hukum itu.Hanya berteman ala kadarnya, tidak dekat dan jarang bertegur sapa.Tapi yang Serena dengar, setelah ia dipecat, Roni masuk ke devisinya dan menggantikannya.“Kau masih menjadi pengacara?” tanya Serena memandang penampilan Roni yang jauh dari kata rapi.Karena rapi adalah identik dengan profesi pengacara. “Sepertinya tidak.”“Aku juga dipecat sepertimu,” ucap Roni. “Hidupku hancur setelah keluar dari sana, dan seperti yang kau lihat. Aku tidak bekerja di bidang hukum lagi.”Serena mengernyit pelan. “Berarti mereka juga memblacklistmu?”Roni mengangguk tenang. “Seperti itu. Tapi tidak keluar dengan tangan kosong sepertimu. Aku mengumpulkan bukti kecurangan mereka. Selama ini aku menunggu waktu, aku tidak ingin bertindak gegabah.”“Sampai akhirnya aku mendengarmu, Serena Jane, istri Ma
“Aku sudah berpikir, aku tidak bisa diam saja. Aku harus mengajukan laporan pada mereka,” ucap Serena sembari memasangkan dasi di leher Martin.“Tidak perlu, kamu tidak perlu muncul di publik,” jawab Martin menolak ide Serena.“Aku tidak bisa, aku harus muncul. Mereka yang merundungku seharusnya malu,” ucap Serena. “Bukan aku yang bersembunyi. Bagaimanapun aku sudah berpikir,” lanjutnya.Martin kemudian menghela napas dan mengangguk. “Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.”Serena berjinjit dan mengecup bibir suaminya pelan. “I love you,” ucapnya.“Aku mencaintaimu juga!” balas Martin setengah berteriak.Serena menepuk pelan dada suaminya itu, kemudian berjalan lebih dulu dan meninggalkannya.“Tunggu aku istriku!” Martin mengejar langkah Serena.Pagi yang menyenangkan, karena setelahnya mereka harus bekerja di kantor masing-masing.Lalu akan bertemu saat makan siang, karena Martin tidak sanggup makan tanpa istrinya.Ia selalu datang ke kantor Serena sembari membawa banyak makanan,
“Apa ini?” tanya ayah Bela dengan tatapan yang begitu tajam pada Jason.Lalu pandangannya mengintai dari atas hingga bawah dan berhenti pada wajah Jason yang merah padam.“Apa kalian—” menunjuk putrinya dan Jason bergantian. “Kalian sudah sering melakukan hal seperti ini?” tanyanya.“Se-seperti ini apa maksud kalian?” tanya Bela benar-benar kepayahan. Kemudian menggeleng pelan. “Kenapa kalian ke sini malam-malam. Bepergian malam hari tidak bagus untuk kesehatan lansia seperti kalian!”Ibu Bela tersenyum, kemudian berdecih pelan. “Dasar tukang mengalihkan pembicaraan.”Kemudian menyodorkan tas belanjaan yang berisi entah apa tapi sangat berat dan membuat Bela kesusahan.“Akh!”Tapi Jason buru-buru membantu Bela untuk mengangkatnya.“Kami yang seharusnya bertanya pada kalian, kenapa Jason tidak pulang?” tanya ibu Bela yang langsung masuk ke dalam Apartemen.Diikuti oleh ayah Bela yang langsung masuk saja ke rumah anaknya.Bela menyenggol Jason diam-diam. “Cepat pergi,” ucapnya.Jason me
Kecanggungan terjadi sebuah apartemen. Bela terpaksa membawa Jason masuk ke Apartemennya karena ia tidak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja putih kekasihnya itu. “Aku akan mencucinya,” ucap Bela. “Jangan khawatir, pokoknya besok sudah bersih.” “Se-sekarang lepas!” ucapnya sedikit canggung sembari menunjuk Jason yang berada di hadapannya. “Aku akan pulang saja. Sepertinya juga susah membersihkan noda ini,” balas Jason sembari menunduk dan meneliti noda di dadanya. “Jangan seperti itu, aku akan merasa bersalah. Biarkan aku memperbaiki dulu,” balas Bela tidak ingin Jason pulang dengan pakaian yang kotor. “Aku akan mengambil pakaian untukmu.” Bela kemudian pergi ke kamarnya sendiri dan mencari kaos atau apapun agar bisa digunakan oleh Jason. Kemudian kembali dan menyerahkan satu hoddie yang cukup besar. “Ganti dengan ini.” kemudian mendorong Jason masuk ke dalam kamarnya. Jason mencium hoddie yang diberikan oleh Bela. Kemudian tersenyum karena baunya persis bau Bela. Serasa memelu
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Serena mendekat kemudian memeluk Martin dari belakang.“Aku,” lirih Martin. “Aku hanya memeriksa pekerjaan saja.”“Kita kembali tidur ya,” ucap Martin menangkup wajah Serena kemudian memeluknya.“Kamu tidak memberitahuku apa yang terjadi?” tanya Serena menyandarkan kepalanya di dada Martin.“Tidak ada yang terjadi, ayo kita tidur lagi.”Serena kemudian melepaskan pelukannya terpaksa, dengan wajah yang lesu.Kemudian mendongak. “Kita selalu tidur setelah bercinta, tapi kamu malah tidak bisa tidur. Apa yang terjadi? pasti ada yang terjadi ‘kan?” tanya Serena.Martin kemudian menghela napas dan mengambil kedua tangan istrinya.Mengecupnya sebentar sebelum menjelaskannya.“Aku hanya sedikit cemas karena aku ingin segera menyelesaikannya. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengganggu kamu.”Kecemasannya terjadi karena ia ingin segera menyelesaikan masalah ini dan cepat-cepat memberi mereka pelajaran.“Pelan-pelan saja, kalau kamu—”“Tidak-tidak.” Martin menggel
Serena langsung mendorong Martin menjauh saat bunyi seseorang terjatuh terdengar. Martin hanya bisa mempertahankan posisinya tapi apa daya karena kekuatan Serena menjadi lebih besar dan membuat tubuhnya sedikit menjauh. Kemudian ketika mereka sama-sama menoleh, seseorang yang mereka tunggu berada
“Kau!” Serena meneguk ludahnya kasar. Dan seperti biasa, Lia memang sering asbun. Dan keasbunan tetangga Serena itu sungguh menyebalkan.“Ja-jangan asal bicara,” lanjut Serena.Sedangkan Martin segera mengusap punggung tangan Serena lembut. “Kami menerima doa tulusmu.” Anggukan kecil dengan kedua ma
“Akh!” Martin mengeluh. Seperti biasa, tindakannya yang sembrono itu dibalas Serena dengan tampolan. Martin mengangkat tangannya dengan bibir yang cemberut. “Tidak sesakit itu,” lirih Serena menatap tangan Martin. Karena jelas sekali rintihan kesakitan pria itu berlebihan. Akhirnya Serena meng
“Sayang kenapa kamu tidak menghubungiku?” tanya Lia pada Andrian. “Sayang aku hanya mencoba meredam mama. Tapi sebenarnya aku masih memperhatikan kamu, setiap pulang bekerja aku mampir ke tempat kamu bekerja.” “Benarkah?” “Iya sayang.” Kemudian berpelukan lagi dan percakapan manis itu terden







