เข้าสู่ระบบTerlihat berjalan santai, tapi pikiran yang penuh dengan peristiwa-peristiwa aneh bersama seseorang.
Serena menghela napas pelan. Bersama flatshoes usang yang menemani hari-harinya berjalan menuju kantor.
Tidak ada kendaraan pribadi yang akan mengantarkannya.
Yang ada hanyalah terik matahari yang tidak menentu dan terkadang menyengat kepalanya sampai terasa gosong.
Mengingat kembali bagaimana kejadian di hotel.
“Menikah?” tanya Serena. “Jangan gila, Martin.”
“Aku tidak gila.”
Serena memutar bola matanya malas. “Kenapa harus menikah?”
“Karena kau memaksaku tidur denganmu.” Dengan posenya yang santai. Berdiri tegap menatap Serena yang hanya sebatas bahunya.
“Sebagai pewaris benson, aku tidak mau nanti ada skandal kalau aku melakukan one night stand dengan perempuan dan ditinggalkan begitu saja. Reputasiku dan perusahaan bisa hancur. Aku tidak bisa membiarkannya.”
“Siapa juga yang akan mempermasalahkan hal itu.” Serena menggeleng tidak percaya.
Memangnya siapa yang akan menulis pernyataan seperti itu? Serena mencebikkan bibirnya karena Martin terlalu percaya diri.
“Manusia sekarang tidak bisa ditebak.” Martin menunduk. Menyamakan tingginya dengan Serena. “Siapa tahu pulang dari sini, kau menyadari pesonaku.”
“Lalu kau membuka pers bersama wartawan dan mengungkapkan kejadian ini pada mereka.”
Serena menyipitkan mata. “Kau terlalu percaya diri.”
Martin tersenyum, kemudian mengedikkan bahu. “Tidak ada yang tahu.”
“Akh!” Martin berdiri tegap dengan mengusap tengkuknya.
“Leherku pegal karena menunduk.”
“Terang-terangan menghinaku ya?”
Martin menggeleng. “Tidak. Kau lucu karena pendek.”
Plak!
“Awh!” Martin mengusap lengannya yang dipukul Serena. Tidak lupa dengan kerlingan mata jahilnya.
“Dih!” Serena mundur. “Aku akan menganggap ucapanmu tidak serius. Aku harus berganti pakaian dulu.”
“Tunggu!” Martin mencegah Serena yang akan masuk ke dalam toilet. “Ini.” memberikan sesuatu di dalam paper bag.
“A-apa?”
Serena belum jaga bertanya tapi Martin mendorongnya pelan masuk ke dalam kamar mandi.
Memberinya ruang agar bisa mengganti pakaian dengan tenang.
Di dalam kamar mandi. Serena lebih terkejut lagi karena tubuhnya terdapat banyak jejak berwarna merah yang disebut kissmark.
Tidak mau berlama-lama lagi. Serena dengan cepat menggunakan piyama itu dan keluar.
Mendapat tatapan dari Martin membuatnya gugup.
Serena menunduk. Sampai menemukan topik agar Martin mengalihkan pandangan darinya. “Kau menyuruhku menggunakan piyama pink dengan motif sapi seperti ini?” menunjuk kepala sapi yang menjadi motif utama piyama.
“Lucu.” Martin menatap gambar motif sapinya.
Serena mengusap rambutnya pelan. Pakaiannya sekarang kontras sekali dengan Martin yang menggunakan setelan jas rapi.
“Semuanya pas?” tanya Martin. Kemudian menatap Serena dengan tangan yang seolah menerawang ukuran tubuh Serena.
Pas? Serena berpikir sebentar sebelum berdehem. “Hm, pas!”
“Aku akan pulang!” Serena mengambil tasnya.
“Tunggu! Aku sudah bilang kau harus bertangung jawab padaku!” Martin menarik pergelangan tangan Serena.
Serena menatap pergelangan tangannya yang digenggam tangan Martin yang besar itu.
“Ah maaf! Sakit?” tatapan Martin khawatir. Tapi tidak berani menyentuh pergelangan tangan Serena kembali.
Serena menggeleng.
“Semuanya tidak masuk akal. Aku berjanji padamu aku tidak akan menyebarkan kejadian ini pada siapa-siapa.” Mendongak, menatap Martin yang terasa tinggi sekali seperti tiang listrik.
“Kau bisa memegang ucapanku sebagai pengacara yang berdedikasi tinggi!” menepuk pelan dadanya dengan bangga.
“Tidak.” Martin menggeleng. “Kita harus tetap menikah.”
Bahu Serena langsung merosot.
“Beritahu aku alasannya.” Serena mendongak. Tatapan mereka bertemu. “Coba. Aku akan mendengarkanmu. Beri aku alasan yang lebih masuk akal kenapa kita harus menikah.”
Martin berdehem sebentar sebelum mengalihkan pandangannya.
Serena tahu Martin tidak mau menunduk lebih lama menatapnya karena lehernya pasti sakit.
“Kau tidak perlu tahu. Yang terpenting ketika kita menikah, aku akan melunasi semua hutangmu. Aku akan memastikan kau tidak akan kesusahan lagi. Aku juga akan menjadi donaturmu.”
Seperti itulah.
Serena kembali pada dunia nyata.
Mendongak menatap langit yang entah kenapa cerah sekali.
Sampai di kantor hukumnya yang kecil. Serena membuka pintu.
Tapi, ia membeku di tempat.
Semuanya hancur. Semuanya berantakan.
Vas kesayangannya pun ikut hancur berserakan di lantai.
Barang-barangnya…
Dokumen penting yang saat ini tinggal lembaran kertas yang berantakan. Seolah tidak ada harganya sama sekali.
Pandangannya tertuju pada papan tulis yang berada di belakang kursi. ‘BAYAR HUTANGMU!’
Serena merogoh tasnya dengan cepat. Mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang yang pasti menjadi dalang dibalik semua kekacauan ini.
“Halo, pak. Anda datang dan membuat kekacauan?” tanya Serena langsung to the point.
“Hahaha… bukan aku, bu pengacara. Tapi anak buahku yang tidak sabar bertemu denganmu.” Suara pak Budi yang terdengar santai.
“Saya sudah bilang, saya akan tetap mencicilnya. Saya tetap membayar kan selama ini? Anda tidak perlu melakukan semua ini!” Serena berkacak pinggang. Memijat keningnya yang mulai pusing.
“Terlalu lama, bu pengacara. Meski mencicilnya sampai seumur hidup pun, kau tidak akan bisa melunasinya.” Pak Budi terdiam sejenak. “Jadi lebih baik cepat membayar semuanya atau mencicil dalam jumlah banyak.”
Serena memejamkan mata sebentar. “Saya sudah bilang—”
“Perlu bu pengacara ingat, itu hanya sebuah peringatan dari anak buahku. Kalau masih berani memberiku uang receh seperti itu, anak buahku bisa memberi peringatan yang lebih bagus untukmu.”
Karena kesal Serena mematikan sambungan telepon itu sepihak.
Tidak ada orang terdekatnya yang bisa meminjami uang sebanyak itu.
Tapi, satu orang yang bersedia membantunya.
Martin.
Serena menekan tombol panggil pada nomor Martin yang tiba-tiba saja sudah berada di ponselnya?
Meski aneh, Serena tetap menelepon Martin.
“Kenapa? kau berubah pikiran, Serena Jane?” tanya Martin di seberang sana. Senang sekali memanggil Serena dengan nama lengkap.
“Iya. Aku mau menikah denganmu!”
Beberapa menit yang lalu. Ava datang bersama Arjuna yang merupakan seorang polisi. Mereka bertemu di universitas karena ternyata Arjuna juga sedang kuliah jurusan hukum.Tidak sengaja bertemu saat mengurus administrasi dan akhirnya mengobrol dan Ava tidak menolak saat Arjuna menawarkan tumpangan.Karena ia pikir harus cepat sampai di kantor barunya.Lalu ia tidak menyangka kalau Isaac sudah berada di sana.Hubungannya dengan Isaac serasa biasa saja, karena ia lumayan menghindar.Semenjak kejadian di mana Isaac menjemputnya, Ava menjadi semakin menjaga jarak.“Terima kasih,” ucap Ava mengembalikan helm pada Arjuna.Sayang sekali mereka sering bertemu, ia kira hanya sekali saja dan tidak akan pernah bertemu.Tapi tidak buruk karena Arjuna lumayan baik.“Kau bekerja di sini?” tanya Arjuna menatap bangunan tinggi di hadapannya.“Iya, kami baru saja pindah.” Ava tersenyum. “Sampai jumpa karena aku harus segera ke dalam. Sepertinya sudah banyak orang yang datang karena hari ini adalah pembu
“Oh Shit,” lirih Bela menggandeng suaminya, Jason. “Sepertinya akan ada pertengkaran.”Jason mengusap tangan istrinya pelan. “Baru kali ini aku melihat mata Isaac seperti mata singa yang lapar.”Bela menyipitkan mata. “Bahkan saat dia melepaskanku untukmu tidak seseram itu ya? Aku jadi iri.”“Apa kamu bilang?” tanya Jason mencium pipi istrinya langsung tanpa basa-basi.“Iya-iya.” Bela terkekeh pelan. Ternyata begitu seru menggoda suaminya. “Aku sudah punya suami yang begitu tampan.” Mengusap lengan Jason pelan.Serena menggeleng pelan melihat Jason dan Bela. Ia sendiri juga tidak mau kalah dengan memeluk lengan Martin.“Kita di sini hanya untuk menonton mereka?” tanya Martin dengan mata yang hanya fokus menatap tiga orang yang ada di sana, Isaac, Ava dan satu lagi seorang pria dengan seragam aparat.“Kalau begitu kamu kembalilah ke kantor,” ucap Serena. “Kalian juga!” menatap Bela dan Jason.“Kalian harus bekerja, kenapa masih di sini dan menonton mereka?”Bela berdecak pelan. “Terlal
Serena menggunting tali pita yang terbentang ke sisi kanan dan kiri. Tujuannya sebagai perayaan pembukaan gedung baru yang akan digunakan sebagai kantor barunya.Dan sekarang bukan kantor, tapi firma hukumnya yang ia dirikan bersama Liana.Tentu saja ada bapak Martin yang terhormat sebagai investor utama firma hukum ini.“Terima kasih semua,” ucap Serena tersenyum, tangannya meraih lengan suaminya yang berada di sampingnya. memeluknya dengan bangga.Serena tidak pernah bermimpi di titik saat ini.Dua tahun lalu ia masih sibuk berlari dari kejaran rentenir, menghindari teman-teman sekolahnya dan meratapi nasibnya yang ditinggali banyak hutang.Tapi sekarang, ia berdiri dengan percaya diri di depan firma hukumnya dan memiliki banyak pegawai.Serena tahu semua yang ia raih saat ini tidak terlepas dari kerja keras suaminya.Martin, suaminya yang telah melindungi dan membelanya mati-matian dari orang-orang yang berusaha mencelakainya.“Terima kasih,” ucap Serena suaminya.Martin menunduk d
“Ada apa?” Serena mendongak, di atas tubuh suaminya yang telanjang, ia bertopang dagu.“Cassie tidak jelas, tiba-tiba menelepon dan ingin membatalkan kerja sama dengan perusahaan kekasihnya. Padahal aku sudah meninjau proposalnya,” jelas Martin. lalu tangannya mengusap dagu istrinya pelan.Setelah percintaan hebat mereka, teleponnya berbunyi dan ternyata dari kakaknya.Sebenarnya Martin ingin menolak panggilan dari kakaknya itu. karena sekarang adalah waktunya bermesraan dengan istrinya, tapi kakaknya itu mengganggunya.Namun karena ia mengingat jasa kakaknya yang menyatukannya dengan Serena, akhirnya ia mengangkat panggilan telepon di waktu hampir tengah malam ini.“Ada masalah?” tanya Serena. “Apa mereka bertengkar dan putus sampai kak Cassie memutuskan untuk membatalkan kerja sama saja?”Serena berguling ke samping, kemudian memeluk lengan suaminya.“Mungkin.” Martin mengernyit pelan. “Tadi saat aku tanya apa dia baik-baik saja? Dia bilang dia baik-baik saja dan,”“Dan?” ulang Sere
Ciiit! Mobil langsung berdecit karena Alvin menginjak pedal rem dengan keras. Tidak ada mobil atau kucing yang harus dihindari, karena kejadian itu murni karena perbuatan Alvin yang terkejut. “Alvin!” Cassie setengah berteriak. “Kau gila?” Alvin mengerjap pelan, kemudian menghadap Cassie. “Maaf, kak. Aku terkejut jadi..” “Kau terkejut hanya karena aku tanya kau sudah memiliki kekasih?” tanya Cassie tidak percaya. Alvin mengangguk pelan. “Aku hanya terkejut jadi aku sangat bodoh dan—” “Karena kau menyukaiku?” tanya Cassie langsung to the point. Cassie bukan orang yang memendam dan lebih suka berterus terang daripada bingung sendiri. “Kau menyukaiku ‘kan?” Alvin menghela napas kemudian meremas stir mobilnya. “Ya, tapi seharusnya bukan seperti ini.” “Sebenarnya,” lirih Alvin. Kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan menghadap Cassie. “Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di acara perusahaan. Aku tidak berani mendekat karena kak Cassie adalah kakak sahabatk
Seorang pria tengah minum sendiri di sebuah bar. Tidak ada yang bersamanya karena teman-temannya kini sudah sibuk dengan dunia masing-masing.Alvin memandang gelasnya yang sudah kosong. “Isaac, bocah kecil itu sudah memikirkan perempuan sampai diajak minum tidak mau.”“Alvin,” panggil seseorang.Alvin menoleh kemudian mengernyit dan setelah tahu langsung memasang senyumnya.“Halo, kak.” Alvin tersenyum pada Cassie yang berada di hadapannya.“Kenapa kau di sini sendiri?” tanya Cassie menatap sekitar. “Kau patah hati?” guraunya.Alvin berdiri kemudian menggeleng. “Tidak, aku hanya bosan dan tidak memiliki teman untuk aku ajak minum.”“Kak Cassie sendiri?” tanya Alvin.“Aku habis bertemu dengan temanku,” ucap Cassie, kemudian menatap Alvin karena menurutnya menyedihkan.“Kau sudah makan? Mau makan bersamaku?” tanya Cassie.Alvin mengangguk. “Hm, aku juga lapar. Mau ke bawah? Di sana ada restoran.”Cassie mengeleng. “Tidak, aku punya tempat rekomendasi untuk makan. Ayo ikut denganku.”Alv
Biasanya setelah melakukan aktivitas panjang, Serena akan memenuhi mobil Martin dengan dengkuran halusnya. Tetapi hari ini berbeda, Serena memiliki banyak suatu hal yang harus dipikirkan.“Kau memikirkan permintaanku tadi?” tanya Martin menoleh ke samping sebentar. “Tenang saja aku akan memberimu w
“Ta-tapi ini urusanku, Martin.” Serena segera menarik kerah leher kemeja Martin, kemudian masuk ke dalam tangga darurat. Meski Martin memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibanding Serena, tetapi pergerakan Serena yang cepat itu seakan melumpuhkan perlawanan Martin. Martin pasrah dan tidak sempat
“Apa katamu?” Serena melebarkan matanya dan mengira telinganya mungkin salah mendengar.“Tidak.” Jason terkekeh lalu semakin memeluk lengan Martin dan menyandarkan kepalanya di sana.“Yang terakhir coba katakan lagi.” Serena mendesak Jason.Tapi Jason memejamkan mata dan memilih untuk membaringkan
Ketika mendapatkan panggilan dari Martin, Serena langsung mengangkatnya. Meski bukan suara Martin yang pertama kali ia dengar, tetapi Serena mendengarkan suara Jason sampai selesai.Jason bilang Martin terjatuh di pacuan kuda dan kakinya sakit. Tanpa babibu lagi, Serena pergi meninggalkan Bela yang







