Masuk
Hari ini, Jum'at tanggal 27 Desember 2024. Pukul 17.39 Waktu kota Metropolis.
Sebuah kapal nelayan besar berwarna biru-putih melaju pelan di lautan, tulisan Smith Family Corp. terukir besar dan indah di pinggir kapal. Sekitar lima belas orang nelayan ikut berlayar di kapal itu. Empat orang dengan penampilan rapi berdiri di dek, menatap ke arah pulau yang dikenal penuh misteri. Pulau itu selalu menyimpan banyak cerita mistis, dari kapal hilang hingga suara-suara aneh di tengah malam. Seorang pria paruh baya menunjuk ke atas bukit pulau. “Lihatlah, ada asap mengepul di sana… mungkinkah itu manusia?” ucapnya sambil menyipitkan mata. Semua orang menatap, tapi seorang lain, dengan nada meremehkan, berkata, “Tidak mungkin itu manusia, Franky. Pulau ini misterius, bahkan pasukan elit Metropolis enggan menjejakkan kaki di sini. Bagaimana mungkin ada seseorang di sana? Ayo kita kembali, matahari hampir tenggelam dan kabut biasanya menutupi perairan ini.” “Paul benar, ayo segera putar balik,” sambung seorang lain. Mereka saling berpandangan, namun pandangan mereka terus tertuju ke kepulan asap yang perlahan bergerak di atas bukit. ... Di puncak bukit, sesosok pemuda lusuh muncul tiba-tiba. Rambutnya panjang dan acak-acakan, janggutnya lebat, pakaiannya compang-camping dan kakinya telanjang. Tubuhnya kurus namun berotot, otot-ototnya tampak jelas saat ia menegakkan badan. Mata tajamnya menatap ke arah pantai, ke arah kapal besar yang kini semakin mendekat. Matanya seperti elang, menilai setiap gerakan di bawahnya. Dengan kecepatan luar biasa, ia mulai berlari, melompat di antara pohon-pohon, menuruni bukit hampir seperti harimau yang sedang memburu mangsanya. Debu dan dedaunan beterbangan di belakangnya, namun pemuda itu tetap gesit dan seimbang. Sesampainya di tebing, ia berhenti sejenak, menatap tumpukan kayu bakar di pinggir pantai. Ia menghirup tarikan napas panjang, lalu ia memasang anak panah api ke busur sederhana di tangannya. Dengan sekali gerakan, panah itu dilepaskan. Panah itu melesat menembus angin, mendarat tepat di tengah tumpukan kayu, dan seketika api unggun besar menyala. Api itu menari-nari, mengepul tinggi ke udara, mengejutkan para awak kapal yang menatap dari dek. ... Di kapal, seorang pemuda berseru dengan cepat, “Paman Smith! Paman Oskar! Ayah! Lihat! Ada yang menyalakan api unggun di pinggir pantai!” Ketiga pria itu menoleh dan langsung menyadari keberadaan api unggun itu. Franky Hudson segera memberikan perintah, “Billy, cepat perintahkan kru kapal mengarahkan kapal ke sana! Mungkin saja ada orang!” Paul Oskar dan Brian Smith mengangguk setuju, dan kapal mulai mendekat ke pantai dengan hati-hati, arus laut yang gelombangnya mulai menenangkan sedikit namun tetap berbahaya. Saat kapal mendarat, hanya empat orang yang turun: Franky, Paul, Brian, dan Billy. Mereka menatap pemuda lusuh yang kini berdiri di hadapan mereka, tubuhnya tegap dan matanya yang tajam menembus mereka. Pemuda itu menatap balik, tidak bergerak, seolah menilai manusia yang baru muncul di hadapannya. Wajahnya tampak keras dan liar, penuh dengan pengalaman yang sulit dibayangkan. Empat orang itu terdiam, ragu dan waspada. Penampilan pemuda itu menunjukkan ia bukan orang biasa. Namun di matanya, ada juga kilatan sesuatu yang sulit dijelaskan: keberanian, keteguhan, dan rahasia yang tak seorang pun bisa menebak. Mereka saling bertukar pandang, dan dalam hati masing-masing muncul pertanyaan yang sama: siapa pemuda ini? Dan bagaimana ia bisa bertahan hidup di pulau misterius itu sendirian? Pemuda lusuh itu tidak segera bicara. Ia menatap tumpukan kayu yang masih berasap, lalu menoleh sekali ke arah laut, seolah menandai wilayahnya. Angin malam bertiup kencang, ombak menghantam pantai, dan di tengah semua itu, satu hal jelas: pertemuan ini hanyalah awal dari sesuatu yang besar. Keberadaan pemuda ini, mungkin adalah jawaban dari beberapa misteri besar yang akan segera terungkap. ... Hampir setengah jam berlalu. Pemuda lusuh itu sama sekali tidak bicara. Ia hanya melangkah perlahan ke arah empat nelayan yang turun dari kapal, kemudian menyerahkan sesuatu. Franky yang berada paling dekat segera mengambil benda itu dan menatapnya. Sebuah kartu identitas tua berada di tangannya, lusuh dan basah, namun masih terbaca jelas. Franky membuka kartu itu perlahan dan membaca nama yang tertulis di dalamnya dengan suara nyaris bergetar, “Norman Ferdian… aku sedikit familiar dengan nama ini… bukankah… bukankah ini pria yang hilang bersama putranya lima tahun lalu?” Semua orang menoleh, pandangan mereka beralih dari Franky ke pemuda lusuh itu. Sosoknya tetap diam, mata tajam menatap balik, penuh kewaspadaan dan keteguhan. Mereka berempat saling berpandangan dan serempak berteriak, “Jangan-jangan…” Paul, yang paling tua dan paling cepat merespon, menunduk sedikit, menatap pemuda itu dengan hati-hati. “Nak… apakah kau ini putra Norman?” tanyanya cepat, penuh rasa ingin tahu dan haru. Pemuda lusuh itu hanya mengangguk pelan. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, namun anggukan itu membuat semua orang menyadari kebenaran perlahan. Paul, yang semakin gembira dan tak sabar, mencoba melangkah mendekat dan merangkul pemuda itu. Namun respons Nathan membuatnya berhenti seketika. Pemuda itu memasang tatapan tajam, menegakkan tubuhnya, seolah memasang pertahanan. Hawa liarnya yang selama lima tahun di pulau itu membuatnya tidak mudah didekati. Paul mengurungkan niatnya, menghormati batas yang dipasang Nathan. Brian, mencoba menenangkan suasana, melangkah lebih dekat dengan gestur ramah. “Tenang nak, kami tidak berniat buruk. Jika kau ingin kembali, kami bahkan bersedia membawamu pulang bersama kami. Tapi… di mana ayahmu?” Nathan menoleh sebentar, kemudian menunjuk ke arah gundukan tanah di pinggir pantai. Di atasnya terdapat sebuah batu sederhana bertuliskan Norman Ferdian. Hati para nelayan mencelos. Senyap sejenak, hanya terdengar hembusan angin dan debur ombak. Billy, yang merasa harus memberi bantuan, melepas jaketnya dan menaruhnya di bahu Nathan. “Teman, apa kau bisa bicara? Bolehkah aku tahu siapa namamu?” Pemuda lusuh itu menatap mereka dengan mata yang masih waspada, lalu mengangguk pelan. “Namaku… Nathan Ferdian,” jawabnya singkat, suaranya terdengar berat namun tegas, menandai keteguhan seorang anak yang telah bertahan hidup dalam kerasnya alam liar. Paul tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan. “Baik… mari kita kembali ke kota. Keluargamu pasti senang saat tahu kau kembali,” ucapnya dengan suara penuh haru. Nathan hanya menatap kapal dan kemudian sekelilingnya sekali lagi, memastikan semuanya aman sebelum perlahan-lahan melangkah mendekati mereka. Tubuhnya kurus namun terlihat kuat, gerakannya tetap lincah, mencerminkan kekokohannya yang mampu bertahan selama lima tahun hidup di pulau liar. Keempat nelayan itu menatapnya dengan campuran takjub, heran, dan hati yang mulai merasa lega. Mereka baru saja menyadari bahwa apa yang mereka temukan bukan sekadar seorang pemuda hilang. Nathan Ferdian telah kembali dari sebuah pulau yang bahkan keberadaannya saja misterius. Dan Nathan, tanpa sepatah kata lagi, hanya berjalan ke arah kapal, membawa rahasianya yang telah membentuk dirinya selama lima tahun di pulau itu, rahasia yang siap mengubah hidupnya, dan mungkin, kehidupan semua orang yang menatapnya malam itu.Ledakan ketiga jauh lebih besar dari dua sebelumnya. Nathan muncul tepat di atas kepala Ranggan, lalu menghantamkan tekanan angin yang terkonsentrasi seperti palu raksasa. Ranggan sempat mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini… Ia terdorong mundur. Kaki raksasanya menciptakan parit panjang di arena saat tubuhnya bergeser mundur beberapa meter. Penonton yang masih tersisa di tribun terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berubah ke wujud raksasa… Ranggan mundur. Namun bukan hanya dua pemimpin itu yang bergerak. Di sisi arena, Stuart menyipitkan mata. “Jangan biarkan mereka fokus satu lawan satu,” ujarnya singkat. Hansen dan Roni langsung menyebar. Mereka tidak menuju Nathan. Mereka menuju barier. Hansen menghantam sisi utara dengan teknik kompresi energi bertubi-tubi. Retakan tipis muncul. Billy langsung bereaksi. “Utara terancam!” Richard memperkuat lapisan dalam barier, menahan gelombang tekanan yang berusaha menembus. Di sisi barat, Roni mencoba menerobos dengan
Tekanan belum sepenuhnya stabil ketika Gandra bergerak lebih dulu. Dia langsung berubah bentuk, tubuhnya membesar dengan cepat.Tubuh raksasa itu langsung melesat. Tanpa memberi aba-aba. Tanah arena retak di titik pijakannya. Tubuh besarnya meluncur seperti proyektil menuju Nathan, tangan kanannya terangkat, siap menghantam sebelum siapa pun sempat bereaksi. Namun seseorang sudah menunggu. Rabik. Ia melompat dari sisi kiri dengan timing yang presisi. Tubuhnya berputar di udara, menghantam lengan Gandra tepat sebelum serangan itu mencapai Nathan. DUUMM! Benturan pertama mengguncang barier. Gandra terdorong setengah langkah. Rabik mendarat dengan satu lutut menekan tanah, retakan menyebar dari bawah kakinya. “Akulah Lawanmu,” ucap Rabik pendek. Gandra menyeringai dalam wujud raksasanya. “Manusia lemah.” Ia mengayunkan tangan kiri kali ini, lebih cepat, lebih berat. Rabik menahan dengan kedua lengan, namun terdorong mundur beberapa meter, meninggalkan jejak gesekan panjang
Rombongan MIU A hampir mencapai pintu keluar arena.Ranggan dan Gandra masih dalam wujud mahasiswa muda, dengan wajah bersih, tubuh atletis, dan aura yang tampak stabil serta terkendali. Tidak ada yang mencurigakan.Setidaknya… sampai Nathan berbicara.“Satu jam sudah lewat.”Kalimat itu membuat langkah Ranggan berhenti.Penonton belum mengerti.Namun beberapa dosen langsung saling pandang.Efek Pil Peniru dan Pil Siluman hanya bertahan satu jam.Dan pertandingan… sudah melewati batas itu.Perubahan dimulai dari hal kecil.Kulit halus di wajah Ranggan mulai mengendur. Garis rahang yang tadinya tegas berubah lebih berat. Rambutnya memucat di beberapa sisi. Posturnya tidak lagi seperti mahasiswa dua puluhan tahun.Dalam hitungan detik…Mahasiswa MIU A itu menghilang.Yang berdiri sekarang adalah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan aura yang jauh lebih tua dari yang selama ini mereka lihat.Gandra mengalami hal yang sama.Wajah mudanya memudar, digantikan garis usia dan eksp
Tubuh Lubert masih terbaring di tengah arena.Tidak hancur.Tidak terbelah.Namun kosong.Aura raksasa yang tadi memenuhi udara kini lenyap sepenuhnya, seolah tidak pernah ada. Yang tersisa hanya bekas hangus tipis di lantai kayu dan keheningan yang terlalu berat untuk disebut sunyi.Tidak ada sorakan.Tidak ada teriakan.Penonton hanya menatap.Karena semua orang tahu...Itu bukan kekalahan biasa.Gandra berdiri paling dekat dengan tubuh itu.Wajahnya keras. Rahangnya mengencang. Namun ia tidak berlutut. Tidak menyentuh. Tidak memanggil.Raksasa tidak meratap di depan umum.Namun tatapannya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari amarah.Stuart menunduk pelan. Roni dan Hansen berdiri di belakang, napas mereka masih berat akibat tekanan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki arena, tidak ada satu pun dari mereka yang memancarkan dominasi.Ranggan melangkah mendekat.Langkahnya stabil.Terlalu stabil.Ia berdiri di samping tubuh Lubert dan memandangnya beberapa detik t
Debu belum sepenuhnya turun ketika Lubert menyadari sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Ragu. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Ranggan. Di hadapannya, arena yang tadi dipenuhi dominasi kini dipenuhi retakan. Ranggan terdorong mundur. Gandra berlutut sesaat sebelum kembali bangkit. Stuart terhenti. Roni dan Hansen kehilangan tekanan yang biasa mereka banggakan. Tidak ada yang benar-benar tumbang. Namun tidak ada pula yang tampak mutlak. Dan itu cukup. Darah raksasa di tubuh Lubert berdenyut lebih cepat. Selama ini ia percaya pada satu hal: darah raksasa tidak pernah salah. Jika kuat, maka benar. Jika dominan, maka layak memimpin. Itulah fondasi yang ia yakini tanpa celah. Namun sekarang, melihat pemimpin tertinggi klan raksasa tidak lagi tak tergoyahkan… Sesuatu dalam keyakinannya retak. Bukan karena Nathan menyerangnya. Bukan karena ia terluka. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari... Mungkin darah ini tidak absolut. Denyut di dadan
Retakan itu tidak berhenti. Ia tidak melambat. Ia menyebar. Garis cahaya yang muncul dari dada Lubert kini menjalar ke lehernya. Kulit batu yang tadi tampak kokoh berubah seperti dinding tua yang tak lagi mampu menahan tekanan dari dalam. Napasnya berat. Tidak teratur. Siluet raksasa di belakangnya terdistorsi, membesar lalu menyusut, seolah ada dua kehendak yang saling bertabrakan di dalam satu tubuh. Nathan masih berdiri sepuluh meter di depannya. Tenang. Tatapannya lurus. Bukan menekan. Bukan menyerang. Namun justru ketenangan itu yang membuat darah raksasa di tubuh Lubert semakin liar. Ravina mangepalkan kadua tangannya. “Suamiku, hati-hati dia segera akan kehilangan kendali…” bisiknya pelan. Di sisi lapangan, Ranggan melangkah turun. Satu langkah. Lantai kayu berderak pelan di bawah pijakannya. Aura di sekitarnya tidak meledak, tetapi terasa berat. Padat. Terkontrol. Ia tidak menatap Nathan. Ia menatap Lubert. Tatapan seorang pemimpin kepada bawahan yang gaga







