Mag-log inPerlahan hari mulai gelap, dan kapal besar milik perusahaan keluarga Smith itu mulai mendekat ke pelabuhan pribadi milik Keluarga Smith di bagian timur Kota Metropolis. Empat orang yang siap menurunkan Nathan dari kapal tampak antusias, sementara Nathan hanya duduk diam, menundukkan kepala, perlahan mengunyah roti yang diberikan Billy. Di sampingnya berdiri sebotol air mineral, air mineral pertamanya setelah lima tahun kesendirian di pulau itu.
… Lima tahun yang lalu… Malam tanggal 28 Desember 2019, pukul 21.00 Waktu Kota Metropolis. Di sebuah desa kecil bernama Desa Amaris di pinggiran kota, sepasang ayah dan anak sedang berbincang. “Ayah, apakah ayah jadi akan berlayar besok malam?” tanya Nathan kecil pada Norman. “Iya, nak. Ayah akan berlayar selama dua hari, dan sebelum malam tahun baru, ayah sudah kembali.” “Kau menginaplah di rumah Bibi Sarah. Besok pagi, sebelum ayah mempersiapkan kapal, kita akan mengunjungi makam ibumu.” “Baik, ayah.” Malam itu berlalu dengan cepat. Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, Nathan dan Norman datang ke rumah tetangga di sebelah rumah mereka. Norman mengetuk pintu, dan seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu. Ia adalah Sarah Middleton, adik ipar Norman sekaligus saudara mendiang istrinya, Kate Middleton. Di belakang Sarah, sepasang gadis kembar keluar menyapa, “Selamat pagi, Paman. Selamat pagi, Kak Nathan,” sapa mereka berdua, menatap malu-malu ke arah Nathan. “Wah, selamat pagi, cantik. Alana dan Alena, akan berangkat ke sekolah?” tanya Norman sambil berlutut di depan mereka. “Benar, Paman. Apakah Paman akan pergi melaut? Bisakah aku meminta seekor bintang laut?” tanya Alena polos. “Lena, kau ini… kita kan sudah besar, kenapa permintaanmu seperti anak kecil?” tegur Alana. “Lana, kau saja yang merasa sudah besar. Aku masih anak-anak, jadi apa salahnya jika minta Paman Norman menangkapkan bintang laut untukku?” balas Alena. “Hei, sudah… kenapa kalian jadi bertengkar?” ujar Sarah sambil tersenyum menahan tawa. “Kak Norman, ada apa kau datang pagi-pagi? Ada hal penting?” tanya Sarah. “Begini, Sar. Aku berencana pergi berlayar malam ini dan ingin menitipkan Nathan padamu. Pagi ini aku akan ke makam Kate, lalu mengantarkan Nathan ke sekolah. Setelah itu aku akan mempersiapkan kapal. Nanti sore mungkin aku masih bisa jemput Nathan. Bisakah kau menjaga Nathan setelah itu?” “Tentu saja, Kak. Kebetulan aku dan anak-anak juga akan ke makam George, jadi kita bisa berangkat bersama,” jawab Sarah. “Baiklah, kalau begitu kita berangkat dengan mobilku,” tambah Norman. Dua belas tahun lalu, Sarah dan suaminya, George Muller, pindah ke Desa Amaris ini dan tinggal di sebelah rumah Norman dan Kate. Namun lima tahun lalu, suaminya yang merupakan seorang tentara meninggal dalam tugas. Sejak saat itu, Kate dan Norman adalah satu-satunya keluarga terdekat yang Sarah miliki. Tentu saja jika ia mau, ia bisa kembali ke rumah ayahnya, namun ia memilih menetap dan merawat kakaknya yang sedang menderita sakit parah. Sampai akhirnya, dua tahun kemudian, Kate juga berpulang karena penyakitnya. Dan hanya tersisa mereka berlima sekarang. … Selama perjalanan, Sarah dan Norman mengobrol tentang rencana tahun baru, sementara Nathan bermain dengan Alana dan Alena di kursi belakang. “Kak Norman, apa tidak apa-apa berlayar sekarang? Cuaca akhir tahun sering tiba-tiba memburuk,” kata Sarah, sedikit cemas. “Kau tenang saja, aku hanya berlayar dekat pantai. Aku juga akan kembali dalam dua hari. Lagipula aku pergi bersama Kevin. Dia juga tidak akan mau berlayar terlalu jauh, istrinya kan akan melahirkan sebentar lagi,” jawab Norman yakin. Sementara di kursi belakang, Nathan diapit oleh kedua gadis kecil itu, seolah dua putri cantik berebut seorang pangeran tampan. “Kak Nathan, bukankah kau berjanji hanya bermain dengan Lana? Katakan itu pada Lena,” ujar Alana sambil menarik lengan Nathan. “Kak Nathan, apa benar Kakak mengatakan itu? Apa Kakak tidak suka bermain dengan Lena?” tanya Alena, wajahnya muram dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tidak kok. Aku memang mengatakan akan bermain dengan Lana, tapi Lena juga ikut,” jawab Nathan menengahi. “Kak Nathan hanya kasihan padamu, jadi dia mengajakmu bermain juga,” ejek Alana. “Kenapa begitu, Kak? Apa benar Kak Nathan berpikir begitu?” tanya Lena tak terima. “Tidak kok. Aku ingin bermain dengan kalian berdua. Aku suka bermain bersama kalian, baik itu Lana ataupun Lena,” jawab Nathan menenangkan. “Tidak mau. Lena itu masih kekanak-kanakan. Nanti dia merepotkan kita,” kata Alana. “Lana, kau tidak boleh berkata begitu. Lena juga kan saudara kembarmu. Seharusnya kau menjaganya, bukan malah tidak mengajaknya bermain,” ujar Nathan polos. “Tapi Kak…” “Kak Nathan, kalau Lana tidak mau, Kakak main dengan Lena saja. Kita akan bermain Raja dan Ratu. Kakak akan jadi rajanya, dan Lena akan jadi istri Kakak sekaligus ratunya.” “Dasar anak kecil. Main saja sendiri. Aku dan Kak Nathan akan jalan-jalan ke taman bunga seperti orang dewasa yang berpacaran. Kamu bermain saja mainan anak-anak itu sendiri. Kak Nathan tidak akan ikut, kan Nathan itu punyaku.” “Mama, coba lihat Lana, Ma… dia ingin merebut Kakak Nathan untuk dirinya sendiri,” ujar Lena mengadu. Sarah tersenyum sambil menepuk kepala Lena. “Iya, iya nak… tenang saja. Semua akan bergiliran main dengan Kak Nathan.” Norman menoleh pada Nathan, “Bagaimana, nak? Kau pilih yang mana?” “Kalau kau suka dua-duanya, Bibi tidak keberatan,” tambah Sarah. “Apa yang Ayah dan Bibi Sarah maksud?” tanya Nathan polos. “Sudahlah, sayang. Kau cepatlah besar. Nanti kau akan mengerti maksud Bibi dan Ayahmu,” jawab Sarah lembut. Nathan hanya tersenyum polos, tak bisa mencerna maksud mereka sepenuhnya. … Kembali ke masa kini… Rombongan kapal nelayan yang membawa Nathan telah kembali dari pelayaran. “Kawan, mari kita turun. Aku akan membantumu. Kita akan rapikan rambut dan janggutmu, lalu mencari pakaian. Ayah dan Pamanku akan menghubungi keluargamu,” ajak Billy. Nathan mengangguk dan mengikuti Billy perlahan. Semua mata menatap ke arahnya, membuatnya merasa terancam dan waspada. Franky yang menyadari ketegangan itu berkata cepat, “Brian, anak ini pasti ketakutan dan merasa terancam. Mungkin akibat traumanya di pulau itu. Sebaiknya kita bawa dia ke rumahmu dulu, itu tempat terdekat dari sini.” “Ayo, kita juga harus segera menghubungi keluarganya. Mereka pasti bahagia mendengar kabar ini,” tambah Paul. “Baik, aku rasa Laila dan Mila juga tidak keberatan jika aku membantu orang ini,” jawab Brian. Laila adalah istrinya, dan Mila adalah putri tunggalnya. Beberapa saat kemudian, mobil Brian tiba untuk menjemput Nathan. Para nelayan dan Nathan menatap sejenak, menyadari bahwa perjalanan Nathan dari pulau ke kota baru saja dimulai. Sesampainya di kediaman keluarga Smith, Nathan turun perlahan dari mobil. Matanya menatap sekeliling dengan hati-hati. Rumah itu besar, megah, dengan taman rapi di depan. Billy segera membuka pintu dan membimbing Nathan masuk. “Tenang… semua baik-baik saja di sini,” kata Billy sambil menepuk bahu Nathan perlahan. Nathan menatap ke arah Franky, Paul, dan Brian, lalu menoleh sekali lagi ke luar jendela, mengamati jalan dan taman sekeliling. Hatinya masih waspada, tapi sedikit demi sedikit ia mulai merasa aman. Ini baru permulaan perjalanan Nathan kembali ke dunia lama yang ia tinggalkan lima tahun lalu. Sebuah dunia yang penuh kenangan, keluarga, dan pertanyaan tentang masa depannya yang baru.Ledakan ketiga jauh lebih besar dari dua sebelumnya. Nathan muncul tepat di atas kepala Ranggan, lalu menghantamkan tekanan angin yang terkonsentrasi seperti palu raksasa. Ranggan sempat mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini… Ia terdorong mundur. Kaki raksasanya menciptakan parit panjang di arena saat tubuhnya bergeser mundur beberapa meter. Penonton yang masih tersisa di tribun terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berubah ke wujud raksasa… Ranggan mundur. Namun bukan hanya dua pemimpin itu yang bergerak. Di sisi arena, Stuart menyipitkan mata. “Jangan biarkan mereka fokus satu lawan satu,” ujarnya singkat. Hansen dan Roni langsung menyebar. Mereka tidak menuju Nathan. Mereka menuju barier. Hansen menghantam sisi utara dengan teknik kompresi energi bertubi-tubi. Retakan tipis muncul. Billy langsung bereaksi. “Utara terancam!” Richard memperkuat lapisan dalam barier, menahan gelombang tekanan yang berusaha menembus. Di sisi barat, Roni mencoba menerobos dengan
Tekanan belum sepenuhnya stabil ketika Gandra bergerak lebih dulu. Dia langsung berubah bentuk, tubuhnya membesar dengan cepat.Tubuh raksasa itu langsung melesat. Tanpa memberi aba-aba. Tanah arena retak di titik pijakannya. Tubuh besarnya meluncur seperti proyektil menuju Nathan, tangan kanannya terangkat, siap menghantam sebelum siapa pun sempat bereaksi. Namun seseorang sudah menunggu. Rabik. Ia melompat dari sisi kiri dengan timing yang presisi. Tubuhnya berputar di udara, menghantam lengan Gandra tepat sebelum serangan itu mencapai Nathan. DUUMM! Benturan pertama mengguncang barier. Gandra terdorong setengah langkah. Rabik mendarat dengan satu lutut menekan tanah, retakan menyebar dari bawah kakinya. “Akulah Lawanmu,” ucap Rabik pendek. Gandra menyeringai dalam wujud raksasanya. “Manusia lemah.” Ia mengayunkan tangan kiri kali ini, lebih cepat, lebih berat. Rabik menahan dengan kedua lengan, namun terdorong mundur beberapa meter, meninggalkan jejak gesekan panjang
Rombongan MIU A hampir mencapai pintu keluar arena.Ranggan dan Gandra masih dalam wujud mahasiswa muda, dengan wajah bersih, tubuh atletis, dan aura yang tampak stabil serta terkendali. Tidak ada yang mencurigakan.Setidaknya… sampai Nathan berbicara.“Satu jam sudah lewat.”Kalimat itu membuat langkah Ranggan berhenti.Penonton belum mengerti.Namun beberapa dosen langsung saling pandang.Efek Pil Peniru dan Pil Siluman hanya bertahan satu jam.Dan pertandingan… sudah melewati batas itu.Perubahan dimulai dari hal kecil.Kulit halus di wajah Ranggan mulai mengendur. Garis rahang yang tadinya tegas berubah lebih berat. Rambutnya memucat di beberapa sisi. Posturnya tidak lagi seperti mahasiswa dua puluhan tahun.Dalam hitungan detik…Mahasiswa MIU A itu menghilang.Yang berdiri sekarang adalah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan aura yang jauh lebih tua dari yang selama ini mereka lihat.Gandra mengalami hal yang sama.Wajah mudanya memudar, digantikan garis usia dan eksp
Tubuh Lubert masih terbaring di tengah arena.Tidak hancur.Tidak terbelah.Namun kosong.Aura raksasa yang tadi memenuhi udara kini lenyap sepenuhnya, seolah tidak pernah ada. Yang tersisa hanya bekas hangus tipis di lantai kayu dan keheningan yang terlalu berat untuk disebut sunyi.Tidak ada sorakan.Tidak ada teriakan.Penonton hanya menatap.Karena semua orang tahu...Itu bukan kekalahan biasa.Gandra berdiri paling dekat dengan tubuh itu.Wajahnya keras. Rahangnya mengencang. Namun ia tidak berlutut. Tidak menyentuh. Tidak memanggil.Raksasa tidak meratap di depan umum.Namun tatapannya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari amarah.Stuart menunduk pelan. Roni dan Hansen berdiri di belakang, napas mereka masih berat akibat tekanan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki arena, tidak ada satu pun dari mereka yang memancarkan dominasi.Ranggan melangkah mendekat.Langkahnya stabil.Terlalu stabil.Ia berdiri di samping tubuh Lubert dan memandangnya beberapa detik t
Debu belum sepenuhnya turun ketika Lubert menyadari sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Ragu. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Ranggan. Di hadapannya, arena yang tadi dipenuhi dominasi kini dipenuhi retakan. Ranggan terdorong mundur. Gandra berlutut sesaat sebelum kembali bangkit. Stuart terhenti. Roni dan Hansen kehilangan tekanan yang biasa mereka banggakan. Tidak ada yang benar-benar tumbang. Namun tidak ada pula yang tampak mutlak. Dan itu cukup. Darah raksasa di tubuh Lubert berdenyut lebih cepat. Selama ini ia percaya pada satu hal: darah raksasa tidak pernah salah. Jika kuat, maka benar. Jika dominan, maka layak memimpin. Itulah fondasi yang ia yakini tanpa celah. Namun sekarang, melihat pemimpin tertinggi klan raksasa tidak lagi tak tergoyahkan… Sesuatu dalam keyakinannya retak. Bukan karena Nathan menyerangnya. Bukan karena ia terluka. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari... Mungkin darah ini tidak absolut. Denyut di dadan
Retakan itu tidak berhenti. Ia tidak melambat. Ia menyebar. Garis cahaya yang muncul dari dada Lubert kini menjalar ke lehernya. Kulit batu yang tadi tampak kokoh berubah seperti dinding tua yang tak lagi mampu menahan tekanan dari dalam. Napasnya berat. Tidak teratur. Siluet raksasa di belakangnya terdistorsi, membesar lalu menyusut, seolah ada dua kehendak yang saling bertabrakan di dalam satu tubuh. Nathan masih berdiri sepuluh meter di depannya. Tenang. Tatapannya lurus. Bukan menekan. Bukan menyerang. Namun justru ketenangan itu yang membuat darah raksasa di tubuh Lubert semakin liar. Ravina mangepalkan kadua tangannya. “Suamiku, hati-hati dia segera akan kehilangan kendali…” bisiknya pelan. Di sisi lapangan, Ranggan melangkah turun. Satu langkah. Lantai kayu berderak pelan di bawah pijakannya. Aura di sekitarnya tidak meledak, tetapi terasa berat. Padat. Terkontrol. Ia tidak menatap Nathan. Ia menatap Lubert. Tatapan seorang pemimpin kepada bawahan yang gaga







