تسجيل الدخولLedakan ketiga jauh lebih besar dari dua sebelumnya. Nathan muncul tepat di atas kepala Ranggan, lalu menghantamkan tekanan angin yang terkonsentrasi seperti palu raksasa. Ranggan sempat mengangkat kedua tangannya. Namun kali ini… Ia terdorong mundur. Kaki raksasanya menciptakan parit panjang di arena saat tubuhnya bergeser mundur beberapa meter. Penonton yang masih tersisa di tribun terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berubah ke wujud raksasa… Ranggan mundur. Namun bukan hanya dua pemimpin itu yang bergerak. Di sisi arena, Stuart menyipitkan mata. “Jangan biarkan mereka fokus satu lawan satu,” ujarnya singkat. Hansen dan Roni langsung menyebar. Mereka tidak menuju Nathan. Mereka menuju barier. Hansen menghantam sisi utara dengan teknik kompresi energi bertubi-tubi. Retakan tipis muncul. Billy langsung bereaksi. “Utara terancam!” Richard memperkuat lapisan dalam barier, menahan gelombang tekanan yang berusaha menembus. Di sisi barat, Roni mencoba menerobos dengan
Tekanan belum sepenuhnya stabil ketika Gandra bergerak lebih dulu. Dia langsung berubah bentuk, tubuhnya membesar dengan cepat.Tubuh raksasa itu langsung melesat. Tanpa memberi aba-aba. Tanah arena retak di titik pijakannya. Tubuh besarnya meluncur seperti proyektil menuju Nathan, tangan kanannya terangkat, siap menghantam sebelum siapa pun sempat bereaksi. Namun seseorang sudah menunggu. Rabik. Ia melompat dari sisi kiri dengan timing yang presisi. Tubuhnya berputar di udara, menghantam lengan Gandra tepat sebelum serangan itu mencapai Nathan. DUUMM! Benturan pertama mengguncang barier. Gandra terdorong setengah langkah. Rabik mendarat dengan satu lutut menekan tanah, retakan menyebar dari bawah kakinya. “Akulah Lawanmu,” ucap Rabik pendek. Gandra menyeringai dalam wujud raksasanya. “Manusia lemah.” Ia mengayunkan tangan kiri kali ini, lebih cepat, lebih berat. Rabik menahan dengan kedua lengan, namun terdorong mundur beberapa meter, meninggalkan jejak gesekan panjang
Rombongan MIU A hampir mencapai pintu keluar arena.Ranggan dan Gandra masih dalam wujud mahasiswa muda, dengan wajah bersih, tubuh atletis, dan aura yang tampak stabil serta terkendali. Tidak ada yang mencurigakan.Setidaknya… sampai Nathan berbicara.“Satu jam sudah lewat.”Kalimat itu membuat langkah Ranggan berhenti.Penonton belum mengerti.Namun beberapa dosen langsung saling pandang.Efek Pil Peniru dan Pil Siluman hanya bertahan satu jam.Dan pertandingan… sudah melewati batas itu.Perubahan dimulai dari hal kecil.Kulit halus di wajah Ranggan mulai mengendur. Garis rahang yang tadinya tegas berubah lebih berat. Rambutnya memucat di beberapa sisi. Posturnya tidak lagi seperti mahasiswa dua puluhan tahun.Dalam hitungan detik…Mahasiswa MIU A itu menghilang.Yang berdiri sekarang adalah seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan aura yang jauh lebih tua dari yang selama ini mereka lihat.Gandra mengalami hal yang sama.Wajah mudanya memudar, digantikan garis usia dan eksp
Tubuh Lubert masih terbaring di tengah arena.Tidak hancur.Tidak terbelah.Namun kosong.Aura raksasa yang tadi memenuhi udara kini lenyap sepenuhnya, seolah tidak pernah ada. Yang tersisa hanya bekas hangus tipis di lantai kayu dan keheningan yang terlalu berat untuk disebut sunyi.Tidak ada sorakan.Tidak ada teriakan.Penonton hanya menatap.Karena semua orang tahu...Itu bukan kekalahan biasa.Gandra berdiri paling dekat dengan tubuh itu.Wajahnya keras. Rahangnya mengencang. Namun ia tidak berlutut. Tidak menyentuh. Tidak memanggil.Raksasa tidak meratap di depan umum.Namun tatapannya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari amarah.Stuart menunduk pelan. Roni dan Hansen berdiri di belakang, napas mereka masih berat akibat tekanan sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki arena, tidak ada satu pun dari mereka yang memancarkan dominasi.Ranggan melangkah mendekat.Langkahnya stabil.Terlalu stabil.Ia berdiri di samping tubuh Lubert dan memandangnya beberapa detik t
Debu belum sepenuhnya turun ketika Lubert menyadari sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Ragu. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Ranggan. Di hadapannya, arena yang tadi dipenuhi dominasi kini dipenuhi retakan. Ranggan terdorong mundur. Gandra berlutut sesaat sebelum kembali bangkit. Stuart terhenti. Roni dan Hansen kehilangan tekanan yang biasa mereka banggakan. Tidak ada yang benar-benar tumbang. Namun tidak ada pula yang tampak mutlak. Dan itu cukup. Darah raksasa di tubuh Lubert berdenyut lebih cepat. Selama ini ia percaya pada satu hal: darah raksasa tidak pernah salah. Jika kuat, maka benar. Jika dominan, maka layak memimpin. Itulah fondasi yang ia yakini tanpa celah. Namun sekarang, melihat pemimpin tertinggi klan raksasa tidak lagi tak tergoyahkan… Sesuatu dalam keyakinannya retak. Bukan karena Nathan menyerangnya. Bukan karena ia terluka. Tetapi karena untuk pertama kalinya ia menyadari... Mungkin darah ini tidak absolut. Denyut di dadan
Retakan itu tidak berhenti. Ia tidak melambat. Ia menyebar. Garis cahaya yang muncul dari dada Lubert kini menjalar ke lehernya. Kulit batu yang tadi tampak kokoh berubah seperti dinding tua yang tak lagi mampu menahan tekanan dari dalam. Napasnya berat. Tidak teratur. Siluet raksasa di belakangnya terdistorsi, membesar lalu menyusut, seolah ada dua kehendak yang saling bertabrakan di dalam satu tubuh. Nathan masih berdiri sepuluh meter di depannya. Tenang. Tatapannya lurus. Bukan menekan. Bukan menyerang. Namun justru ketenangan itu yang membuat darah raksasa di tubuh Lubert semakin liar. Ravina mangepalkan kadua tangannya. “Suamiku, hati-hati dia segera akan kehilangan kendali…” bisiknya pelan. Di sisi lapangan, Ranggan melangkah turun. Satu langkah. Lantai kayu berderak pelan di bawah pijakannya. Aura di sekitarnya tidak meledak, tetapi terasa berat. Padat. Terkontrol. Ia tidak menatap Nathan. Ia menatap Lubert. Tatapan seorang pemimpin kepada bawahan yang gaga







