Beranda / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 161. Orang-orang Dengan Sikap Mencurigakan

Share

Bab 161. Orang-orang Dengan Sikap Mencurigakan

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 17:25:03

“Tampaknya kau yakin sekali ada sesuatu yang salah. Cobalah untuk sedikit lebih tenang.”

Nasha memeluk Nathan dari belakang, menempelkan pipinya di punggung pria itu.

“Aku hanya berjaga-jaga,” jawab Nathan pelan sambil membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Nasha.

“Jika sesuatu terjadi padamu atau pada orang-orang yang kupedulikan karena kelalaianku, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”

Nasha tersenyum kecil.

“Aku pikir kau melakukannya hanya demi aku,” godanya manja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 176. Pencarian Sang Presiden Mahasiswa yang Menghilang Tiba-tiba

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kompleks penyelenggara olimpiade masih ramai sejak subuh. Beberapa panitia terlihat mondar-mandir dengan wajah letih, sementara aparat keamanan kampus berdiri lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pengumuman resmi, namun satu nama terus beredar pelan di antara bisikan. Virellia Astor. Presiden mahasiswa UNS. Masih belum ditemukan. Nathan berdiri di balkon penginapan atlet, menatap area lapangan latihan dari kejauhan. Tangannya bertumpu di pagar besi, wajahnya tenang, namun matanya dingin dan terfokus. Malam sebelumnya tidak menghasilkan apa pun selain satu kesimpulan... Virellia tidak dibawa secara paksa. Dan itu jauh lebih berbahaya. “Belum ada kabar?” tanya Roger dari belakang. Nathan menggeleng pelan. “Belum.” Billy datang menyusul, membawa tablet. “Semua titik yang kita periksa bersih. Tidak ada jejak perlawanan. Tidak ada rekaman baru.” Nathan mengangguk tipis. Itu berarti waktu sudah terbuang cukup banyak.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 175. Tanda Terima Kasih yang Salah

    Langkah-langkah tergesa memenuhi lorong penginapan atlet. Roger, Billy, Richard, Reno, dan Seno sudah lebih dulu bergerak keluar kamar Rania. Para gadis berpencar cepat, membawa peralatan dan pesan ke titik-titik yang sudah ditentukan. Suasana berubah tegang, bukan lagi kepanikan, melainkan kesiagaan terlatih. Nathan baru saja hendak melangkah keluar ketika sebuah tangan menarik lengannya. Pelan, namun penuh urgensi. Nathan menoleh. ‘Elvira.’ Wajah gadis itu masih pucat. Handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih sedikit lembap. Namun sorot matanya tajam, seolah ia baru saja mengambil sebuah keputusan besar. “Hati-hati,” ucapnya pelan. Nathan berhenti sepenuhnya. “Ada apa, Elvira?” Elvira menelan ludah. Jemarinya mencengkeram lengan Nathan sedikit lebih kuat. “Hati-hati dengan kapten tim MIU A,” katanya cepat. “Dia itu Stuart, sepupuku. Dia yang merancang rencana balas dendam ini, dan target utamanya adalah kau. Sepertinya… dendamnya padamu jauh lebih besar dari yang

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 174. Musuh yang Memberi Rasa Aman

    Pertarungan di jembatan itu belum sepenuhnya berakhir. Roger dan Richard bergerak tanpa suara berlebihan. Setiap pukulan tepat sasaran, setiap tendangan bersih dan efisien. Reno dan Seno menutup sisi jembatan, memastikan tak ada satu pun yang bisa kabur atau menyerang dari belakang. Billy berjaga di dekat Elvira, tubuhnya setengah menghalangi. Sementara itu, Nathan tetap berdiri dengan Elvira yang tidak sadarkan diri berada di pelukannya. Ia tidak bergerak banyak, tidak bicara, namun justru menjadi titik paling aman di tengah kekacauan. Satu per satu, lima sosok bertopeng tumbang. Ada yang terkapar tanpa bergerak. Ada yang masih mengerang pelan sebelum akhirnya benar-benar lumpuh. Hening kembali turun di atas jembatan. Roger menghela napas pendek. “Selesai.” Nathan mengangguk singkat. Tatapannya turun ke wajah Elvira. Tubuh gadis itu sudah tidak lagi sanggup menopang dirinya. Kepalanya terkulai, napasnya tipis dan tidak teratur. Tanpa ragu, Nathan meraih tubuhnya dan

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 173. Prasangka Buruk yang Keliru

    Dalam kesunyian... malam pun perlahan tiba. Di kawasan penginapan atlet. Lampu-lampu lorong menyala redup, cukup untuk menuntun langkah, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman. Elvira Colin baru saja keluar dari kamar mandi ketika nalurinya menegang. Ada yang salah. Udara terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah penjaga. Tidak ada suara pintu kamar lain. Bahkan dengung AC terdengar terlalu jelas. Tangannya bergerak refleks, meraih ponsel di atas meja. Saat itulah pintu kamarnya terbuka paksa. Dua sosok berpakaian hitam menerobos masuk. Tanpa kata. Tanpa peringatan. Elvira mundur selangkah, jantungnya berdentum keras. “Siapa kalian?” Serangan pertama datang cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa. Namun Elvira bukanlah orang biasa. Ia memutar tubuhnya, menangkis pergelangan tangan lawan pertama, lalu menghantam siku ke arah rahang. Bunyi benturan terdengar tumpul. Tubuh itu terlempar ke samping. Sosok kedua menyusul, mencoba mengunci dari belakang.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 172. Rencana Jahat yang Mulai Berjalan

    Pagi datang dengan ritme yang berbeda. Arena yang semalam bergemuruh kini sunyi, hanya menyisakan bau lantai kayu yang masih lembap oleh keringat dan cairan pembersih. Petugas kebersihan bergerak perlahan, seolah sisa-sisa energi pertandingan belum sepenuhnya menghilang dari udara. Di ruang latihan UNS, Nathan sudah datang lebih dulu. Ia berdiri di tengah lapangan kecil, memantulkan bola pelan. Satu pantulan. Dua. Irama teratur yang membantu pikirannya tetap fokus. Semalam mereka menang. Namun kemenangan itu tidak memberinya rasa puas yang berlebihan. Justru sebaliknya. “Ada yang mengganggu?” suara Maggie terdengar dari sisi lapangan. Nathan menoleh. Maggie dan Chelyna baru masuk, membawa botol minum dan tas latihan. “Ada yang terasa… tidak beres,” jawab Nathan jujur. Chelyna mengangkat alis. “MIU?” “Bukan cuma mereka,” balas Nathan. “Ada sesuatu yang bergerak di balik layar.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Dan semalam, aku yakin, ada seseorang yang sengaja memperh

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 171. Riak Setelah Tepuk Tangan

    Sorak sorai perlahan mereda, berganti dengan dengung suara langkah kaki dan gesekan sepatu di lantai arena. Lampu-lampu masih menyala terang, tapi atmosfernya telah berubah. Ketegangan pertandingan telah ditinggalkan di lapangan, menyisakan kelelahan yang jujur di tubuh para pemain. UNS A berjalan menuju bench dengan ritme tenang. Tidak ada lompatan kegirangan. Tidak ada teriakan kemenangan. Hanya napas berat, botol air yang diteguk dalam-dalam, dan tepukan singkat di bahu satu sama lain. Nathan duduk, menunduk sejenak. Ia mengusap wajahnya, lalu menyandarkan punggung. Matanya terpejam beberapa detik, bukan untuk menikmati kemenangan, melainkan memastikan pikirannya tetap jernih. “Kerja bagus,” ujar Billy pelan sambil duduk di sampingnya. Nathan mengangguk. “Kalian juga.” Richard berdiri, menepuk tangannya sekali. “Kita pulang tanpa cedera. Itu yang terpenting.” Tidak ada yang membantah. Di sisi lain lapangan, CHU A juga tidak langsung meninggalkan arena. Kael Morvane duduk den

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status