로그인Tatapan Nathan masih tertuju pada Kuali Emas Shandong di tangan Raja Raksasa Ilusi. Namun berbeda dengan yang lain yang memandang artefak itu dengan rasa takut atau keterkejutan, Nathan justru memandangnya dengan ketertarikan mendalam. Karena ia tahu persis... Benda itu bukan sekadar artefak kuasi suci biasa. Ingatan Nathan perlahan kembali pada masa lalu, tepat setelah dirinya sadar dari koma panjang beberapa waktu lalu. Saat itu tubuhnya masih lemah, pikirannya kacau, dan ia bahkan belum memahami sepenuhnya perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya. Namun pada hari itulah... Santo Kesadaran muncul. Tidak banyak yang diucapkan sosok misterius itu. Ia hanya menitipkan sebuah kitab kuno kepada Ravina sebelum menghilang tanpa jejak. Kitab itu tampak biasa. Tidak memancarkan aura mengerikan. Tidak juga terlihat seperti harta langka. Namun ketika Nathan membukanya... Ia menyadari bahwa nilai kitab tersebut mungkin jauh melampaui artefak apa pun di dunia ini. Karena isi kita
Ucapan Ravina membuat seluruh area mendadak sunyi. "Kuali Emas Shandong." Nama itu menggema pelan di tengah reruntuhan medan pertempuran, namun efeknya jauh lebih besar daripada ledakan apa pun sebelumnya. Bahkan Raja Raksasa Ilusi ikut mengernyit sesaat. Nathan menoleh ke arah Ravina, begitu pula Irish, Laqisha, Nasha, Maggie, Rabik, hingga anggota Organisasi Ular Putih yang masih mampu berdiri. Mereka semua menatap gadis naga itu dengan ekspresi berbeda-beda. Terkejut. Tidak percaya. Dan bingung. "Kau mengenali benda itu?" tanya Irish pelan. Ravina mengangguk perlahan, matanya tetap tertuju pada kuali emas di tangan Raja Raksasa Ilusi. "Itu memang Kuali Emas Shandong." Nada suaranya kali ini jauh lebih serius. Nama itu bukan nama sembarangan. Semua orang yang pernah mempelajari dunia kultivasi pasti pernah mendengarnya, setidaknya sebagai legenda. Kuali Shandong. Artefak yang selalu dikaitkan dengan sosok legendaris yang dikenal sebagai Dewa Obat. Konon, sang Dewa O
Tanah di sekitar markas sementara Organisasi Ular Putih sudah hancur total. Debu berterbangan dan retakan besar memenuhi permukaan bumi, sementara sisa-sisa bangunan runtuh akibat benturan energi yang terus terjadi sejak pertarungan dimulai. Udara dipenuhi debu dan tekanan spiritual yang membuat para anggota Ular Putih bahkan kesulitan bernapas. Di tengah kawah raksasa, Raja Raksasa Ilusi perlahan bangkit. Tubuh besarnya dipenuhi luka. Jubahnya robek di beberapa bagian, sementara darah hitam terus mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya terdengar berat, jelas berbeda dengan kesombongan yang ia tunjukkan sebelumnya. Sebaliknya, Nathan masih berdiri tenang di udara. Aura Kaisar Suci tahap puncaknya terus menekan seluruh area tanpa ampun. Bahkan tanpa bergerak, tekanan yang ia pancarkan sudah cukup membuat sebagian besar musuh kehilangan keberanian untuk mendekat. Raja Raksasa Ilusi mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan. "Bagaimana mungkin..
Dalam sekejap, bentrokan terjadi... Ledakan demi ledakan mengguncang langit Negara Lunar. Nathan dan Raja Raksasa Ilusi telah berpindah ke udara sejak bentrokan pertama mereka dimulai. Energi yang bertabrakan menciptakan gelombang kejut besar yang membuat awan tercerai-berai dan tanah di bawah mereka terus bergetar. Boom! Sebuah tinju raksasa menghantam ruang kosong. Langit retak. Namun Nathan sudah menghilang dari tempatnya. Kecepatan geraknya terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa. Bahkan para kultivator tingkat tinggi di bawah hanya mampu melihat bayangan samar yang terus berpindah di antara kilatan cahaya dan ledakan energi. Raja Raksasa Ilusi menggeram marah. Puluhan ilusi dirinya muncul bersamaan, memenuhi langit dari segala arah. Setiap sosok memancarkan aura yang sama kuatnya, membuat sulit membedakan mana tubuh asli dan mana tipuan. Namun Nathan tetap tenang. Matanya bersinar samar. Kemudian... Satu langkah. Tubuhnya melesat lurus menembus seluruh
Udara yang semula dipenuhi tekanan kini berubah menjadi sunyi yang sangat menekan. Nathan melangkah maju satu langkah, cukup untuk membuat perhatian seluruh medan tertuju padanya. Tatapannya lurus mengarah pada Shen Ryu, tanpa sedikit pun keraguan. "Kalau dendam yang kau bawa sebesar itu," ucapnya tenang, "maka hadapi aku sendiri." Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup untuk terdengar jelas oleh semua orang. Shen Ryu menyipitkan mata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Namun alih-alih maju, ia justru tersenyum tipis dan mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu langsung ditangkap oleh semua orang. Irish mengangkat alis. Ravina memiringkan kepala. Laqisha bahkan langsung tersenyum mengejek. "Jadi itu jawabannya?" ujarnya ringan. "Banyak bicara tentang dendam, tapi saat ditantang langsung, malah mundur?" Wajah Shen Ryu menegang. "Diam kau," balasnya dingin. "Aku tidak perlu membuktikan apa pun pada kalian." Ia mengangkat tangannya sedikit, lalu melir
Udara malam terasa berat, bukan hanya karena tekanan kultivasi yang saling berbenturan, tetapi juga karena kebencian yang terkumpul dari masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai. Setiap tatapan membawa luka, setiap napas menyimpan dendam yang menunggu untuk diluapkan. Nasha berdiri di sisi Nathan dengan mata dingin yang tidak pernah lepas dari Shen Ryu. Di dalam benaknya, nama itu kembali terngiang dengan jelas, Jangga. Wanita yang telah menghancurkan hidupnya dari akar. Dengan licik, Jangga memanipulasi Gan Ryu hingga mengkhianati keluarga Ryoho. Malam itu menjadi akhir dari segalanya bagi Nasha. Ayahnya, ibunya, bahkan kakeknya, semuanya hilang dalam satu malam yang sama. Sejak saat itu, ia hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa tempat kembali. Luka itu tidak pernah sembuh. "Sudah lama aku menunggu hari ini," ucap Nasha pelan, suaranya rendah namun penuh tekanan. Di sisi lain, Maggie melangkah maju dengan tangan mengepal erat. Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena taku
Sorotan lampu aula utama menyinari panggung final Olimpiade Akademik dengan cahaya putih yang tajam. Ribuan pasang mata tertuju pada dua nama yang sejak awal sudah menjadi pusat perhatian. Nathan. Nasha. Keduanya berdiri di meja masing-masing, berhadapan dengan soal terakhir yang menentukan s
Langkah Nathan akhirnya berhenti di sebuah lapangan kosong di pinggir kota. Lampu-lampu jalan di sekitarnya redup, angin malam berembus pelan, membawa hawa dingin yang tak biasa. Batu Petir Surgawi di pinggangnya bergetar halus, seolah merespons sesuatu yang tak kasat mata.“Sudah cukup mengikutiku
Olimpiade Akademik akhirnya resmi ditutup. Sorotan lampu dimatikan, spanduk diturunkan, dan para peserta kembali ke kota masing-masing dengan cerita kemenangan dan kebanggaan. Tawa dan perayaan memenuhi perjalanan pulang. Nama Nathan dan Nasha menjadi bahan pembicaraan hangat di berbagai sudut.
Retakan itu tidak berhenti. Ia tidak melambat. Ia menyebar. Garis cahaya yang muncul dari dada Lubert kini menjalar ke lehernya. Kulit batu yang tadi tampak kokoh berubah seperti dinding tua yang tak lagi mampu menahan tekanan dari dalam. Napasnya berat. Tidak teratur. Siluet raksasa di belak







