LOGINTanah di sekitar markas sementara Organisasi Ular Putih sudah hancur total. Debu berterbangan dan retakan besar memenuhi permukaan bumi, sementara sisa-sisa bangunan runtuh akibat benturan energi yang terus terjadi sejak pertarungan dimulai. Udara dipenuhi debu dan tekanan spiritual yang membuat para anggota Ular Putih bahkan kesulitan bernapas. Di tengah kawah raksasa, Raja Raksasa Ilusi perlahan bangkit. Tubuh besarnya dipenuhi luka. Jubahnya robek di beberapa bagian, sementara darah hitam terus mengalir dari sudut bibirnya. Napasnya terdengar berat, jelas berbeda dengan kesombongan yang ia tunjukkan sebelumnya. Sebaliknya, Nathan masih berdiri tenang di udara. Aura Kaisar Suci tahap puncaknya terus menekan seluruh area tanpa ampun. Bahkan tanpa bergerak, tekanan yang ia pancarkan sudah cukup membuat sebagian besar musuh kehilangan keberanian untuk mendekat. Raja Raksasa Ilusi mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan. "Bagaimana mungkin..
Dalam sekejap, bentrokan terjadi... Ledakan demi ledakan mengguncang langit Negara Lunar. Nathan dan Raja Raksasa Ilusi telah berpindah ke udara sejak bentrokan pertama mereka dimulai. Energi yang bertabrakan menciptakan gelombang kejut besar yang membuat awan tercerai-berai dan tanah di bawah mereka terus bergetar. Boom! Sebuah tinju raksasa menghantam ruang kosong. Langit retak. Namun Nathan sudah menghilang dari tempatnya. Kecepatan geraknya terlalu cepat untuk ditangkap mata biasa. Bahkan para kultivator tingkat tinggi di bawah hanya mampu melihat bayangan samar yang terus berpindah di antara kilatan cahaya dan ledakan energi. Raja Raksasa Ilusi menggeram marah. Puluhan ilusi dirinya muncul bersamaan, memenuhi langit dari segala arah. Setiap sosok memancarkan aura yang sama kuatnya, membuat sulit membedakan mana tubuh asli dan mana tipuan. Namun Nathan tetap tenang. Matanya bersinar samar. Kemudian... Satu langkah. Tubuhnya melesat lurus menembus seluruh
Udara yang semula dipenuhi tekanan kini berubah menjadi sunyi yang sangat menekan. Nathan melangkah maju satu langkah, cukup untuk membuat perhatian seluruh medan tertuju padanya. Tatapannya lurus mengarah pada Shen Ryu, tanpa sedikit pun keraguan. "Kalau dendam yang kau bawa sebesar itu," ucapnya tenang, "maka hadapi aku sendiri." Nada suaranya tidak tinggi, namun cukup untuk terdengar jelas oleh semua orang. Shen Ryu menyipitkan mata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Namun alih-alih maju, ia justru tersenyum tipis dan mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu langsung ditangkap oleh semua orang. Irish mengangkat alis. Ravina memiringkan kepala. Laqisha bahkan langsung tersenyum mengejek. "Jadi itu jawabannya?" ujarnya ringan. "Banyak bicara tentang dendam, tapi saat ditantang langsung, malah mundur?" Wajah Shen Ryu menegang. "Diam kau," balasnya dingin. "Aku tidak perlu membuktikan apa pun pada kalian." Ia mengangkat tangannya sedikit, lalu melir
Udara malam terasa berat, bukan hanya karena tekanan kultivasi yang saling berbenturan, tetapi juga karena kebencian yang terkumpul dari masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai. Setiap tatapan membawa luka, setiap napas menyimpan dendam yang menunggu untuk diluapkan. Nasha berdiri di sisi Nathan dengan mata dingin yang tidak pernah lepas dari Shen Ryu. Di dalam benaknya, nama itu kembali terngiang dengan jelas, Jangga. Wanita yang telah menghancurkan hidupnya dari akar. Dengan licik, Jangga memanipulasi Gan Ryu hingga mengkhianati keluarga Ryoho. Malam itu menjadi akhir dari segalanya bagi Nasha. Ayahnya, ibunya, bahkan kakeknya, semuanya hilang dalam satu malam yang sama. Sejak saat itu, ia hidup sendiri, tanpa keluarga, tanpa tempat kembali. Luka itu tidak pernah sembuh. "Sudah lama aku menunggu hari ini," ucap Nasha pelan, suaranya rendah namun penuh tekanan. Di sisi lain, Maggie melangkah maju dengan tangan mengepal erat. Tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena taku
Ancaman Rabik menggantung di udara. Nama Nathan yang baru saja disebut menciptakan jeda singkat, cukup untuk membuat sebagian orang menahan napas. Namun... Shen Ryu tidak peduli. Tatapannya tetap dingin, penuh kebencian yang tidak tergoyahkan sedikit pun. "Ancaman kosong," ujarnya pelan. Tombak hitam di tangannya kembali bergetar, energi mengalir semakin ganas. Di hadapannya, Laqisha berdiri tegak, napasnya mulai berat, namun sorot matanya tetap tajam. Shen Ryu melangkah maju. Perlahan. Setiap langkahnya menekan tanah di bawah kakinya. "Kalau begitu… mari kita lihat…" Ia mengangkat tombaknya. "Seberapa besar harga yang harus dibayar Nathan… untuk melindungi orang-orang yang ia cintai." Laqisha bersiap. Aura di tubuhnya kembali naik. Namun sebelum serangan itu dilepaskan... Sebuah tekanan muncul. Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Udara membeku. Langit seolah runtuh dalam satu detik. Semua orang berhenti. Gerakan Shen Ryu terhenti di tengah ayunan.
Rabik tetap berdiri tenang. Sangat kokoh. Tidak bergeser satu langkah pun meski tekanan dari sosok raksasa di hadapannya terasa seperti gunung yang menindih dari segala arah. Tatapannya dingin, stabil, tanpa sedikit pun tanda ketakutan. Raja Raksasa Ilusi menatapnya dari atas, sorot matanya datar, namun penuh penghinaan. "Kau… manusia." Suaranya menggema pelan, tetapi cukup untuk membuat tanah bergetar. "Berani berdiri di hadapanku tanpa berlutut?" Rabik tidak menjawab. Sikap diamnya justru menjadi jawaban paling jelas. Raksasa itu mengangkat tangannya. Gerakannya tampak lambat. Namun dalam sekejap... Boom! Sebuah tekanan tak kasat mata menghantam tubuh Rabik. Tanah di bawah kakinya hancur. Tubuhnya terdorong mundur beberapa meter, jejak kakinya meninggalkan retakan panjang di tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tetap berdiri tegak. Shen Ryu tertawa puas. "Itu baru permulaan." Namun sebelum serangan berikutnya datang... Ravina berg
Gudang itu bergetar. Bukan karena ledakan. Bukan pula karena helikopter yang masih meraung di langit. Melainkan karena dua aura yang saling menekan, saling menguji, seperti dua bencana alam yang dipaksa berada dalam satu ruang sempit. Pria itu berdiri santai di hadapan Nathan, tangan dimasukkan
"Baiklah, kau siapkan segalanya dengan cepat dan rapi. Setelah satelit itu mengorbit, kita akan menerima sinyal komunikasi khusus yang hanya bisa di akses oleh anggota organisasi pengawal bayangan hantu. Untuk sementara hanya kita lah anggota organisasi itu, untuk anggota yang masuk selanjutnya, ki
"Eh, dari mana kau tahu kalau kami ada lima?" tanya Mila bingung. "Maaf kak Mila, aku sudah menyelidiki semua tentang kalian, dan aku memiliki data lengkap kalian. Karena itulah aku tahu jika kalian semua layak untuk menjadi para istri Kak Nathan, sekaligus menjadi kakak-kakakku," jawab Chelyna ta
Setelah semua hal yang terjadi, satu-satunya orang yang tetap diam dan hanya memperhatikan dari kejauhan adalah Nasha. Dia hanya melihat semua yang terjadi, tanpa mengambil tindakan, bahkan tanpa berkomentar. Setelah semua beres, Nathan mengantar Roger dan Chelyna hingga ke tepi kawasan hutan t







