ログインDimensi kecil itu kembali sunyi. Tidak ada suara. Tidak ada kehadiran lain. Hanya Nathan… seorang diri. Ia berdiri di tengah ruang pelatihan, menatap kehampaan di sekelilingnya. Untuk beberapa saat, tubuhnya tidak bergerak, seolah semua yang baru saja terjadi masih tertinggal di dalam pikirannya. Tatapan kosong Rania… kata-kata itu… masih terngiang dengan jelas, seolah terus mengulang tanpa henti di benaknya. Nathan menutup matanya perlahan, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan tenang. Sekali. Dua kali. Hingga emosinya benar-benar mereda, meninggalkan hanya ketenangan yang dingin. Saat matanya terbuka kembali, tidak ada lagi keraguan. Yang tersisa hanyalah tekad yang semakin menguat. “Aku tidak punya waktu untuk larut dalam hal seperti ini…” gumamnya pelan. “Aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat.” Langkahnya maju. Aura di tubuhnya perlahan berubah, menjadi lebih padat dan lebih fokus dari sebelumnya. Tak jauh darinya, pria tua itu m
Hari itu, Nathan berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan mengulang setiap momen yang ia lalui bersama Rania sekali lagi, kembali membuatnya jatuh cinta, sampai seolah tidak pernah satu pun dari memori Rania terhapus. Janji itu tidak diucapkan dengan lantang, namun tertanam dalam-dalam di hatinya. Sebuah tekad yang tidak akan goyah oleh apa pun. Kemudian pria tua itu menyela pembicaraan mereka. “Sekarang sudah waktunya kalian berempat kembali ke Bumi Tengah.” Suaranya tenang, namun tegas, seolah tidak memberi ruang untuk penolakan. “Berempat?” tanya Ravina, sedikit terkejut. “Ya, kalian berempat akan kembali, tapi tidak dengan Nathan.” Pria tua itu melanjutkan dengan nada datar. “Dia akan tetap di sini untuk berlatih, sesuai aturan yang aku jelaskan pertama kali. Jika dia berhasil menyelesaikan latihannya sampai tahap ketiga, maka secara otomatis dimensi ini akan terhapus dan dia akan kembali ke dunia kalian di Bumi Tengah.” Dia berhenti sejenak, lalu menatap mere
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Di dalam ruang pelatihan, Nathan berdiri diam, menatap bayangan yang diproyeksikan di hadapannya. Sosok itu... Rania. Dia sudah bangun. Namun sesuatu terasa berbeda. Tatapan itu... kosong. Tidak ada kehangatan yang biasa ia lihat. Tidak ada senyum kecil yang selalu muncul tanpa sadar. Hanya kehampaan yang terasa asing dan menusuk. Seolah seseorang telah menghapus bagian terpenting dari dirinya. Bukan hanya ingatan… tetapi juga semua jejak perasaan yang pernah ada di dalamnya. Nathan mengepalkan tangannya perlahan. Jari-jarinya bergetar, menahan gejolak emosi yang mencoba keluar tanpa izin. Dadanya terasa sesak, namun dia tidak bergerak. Tidak langsung. Dia terus menatap bayangan itu, berharap... berharap ada perubahan sekecil apa pun. Namun tidak ada. Hanya tatapan kosong itu yang terus menatap ke depan tanpa arti. Akhirnya, langkah kakinya bergerak. Tanpa berkata apa-apa, dia keluar dari r
Setelah menyelesaikan semua urusan itu, Ravina segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Aolong yang sudah dipenuhi darah di mana-mana. Jejak kehancuran dan aroma besi yang pekat masih menggantung di udara, seolah menjadi saksi bisu atas pembantaian yang baru saja terjadi. Dendam keluarganya akhirnya terbalaskan. Ravina bukanlah orang jahat tanpa belas kasih, namun semua pembalasan yang didapatkan oleh keluarga Aolong memanglah hal yang pantas atas segala kejahatan yang telah mereka lakukan. Terlebih lagi, Nara tidak melakukan kejahatan itu sendirian. Seluruh garis keturunan keluarga Aolong juga turut terlibat dan mendukungnya. Tak satu pun dari mereka benar-benar tidak bersalah. Setelah Ravina sampai, pria tua itu sudah berdiri menunggunya, menyambutnya dengan senyum tipis yang mengandung kepuasan dan pujian yang tersirat. “Kau memang layak menjadi ratu klan naga kuno berikutnya. Ketegasan dan setiap perhitungan cermat dalam tindakanmu akan menjadi penunjang yang sang
Nara merasa marah dan bingung. Dia tidak bisa membayangkan siapa orang yang berani menyusup ke dalam kediaman keluarganya dan membuat kekacauan sebesar ini. Amarahnya bercampur dengan kegelisahan yang perlahan mulai merayapi hatinya. Saat dia masih sibuk menoleh ke sekeliling dan mencoba mencari keberadaan penyusup itu, tiba-tiba suara teriakan kesakitan Raka terdengar di belakangnya. Suara itu begitu tajam, seolah merobek udara. Nara dengan cepat berlari keluar, dan mendapati seseorang sedang menginjak dada putranya. Tekanan kaki itu begitu kuat hingga tanah di bawah tubuh Raka retak. Sedangkan Raka sudah terbaring di antara puing-puing bangunan itu, dan darah mengucur deras dari mulutnya. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal. “S-siapa kau? Beraninya kau menyusup ke kediaman keluarga Aolong, mengganggu ritual penting, dan melukai putraku.” Nara menatap sosok itu dengan mata tajam penuh kemarahan. Namun di balik tatapan itu... terselip rasa takut yang mulai muncul.
Anehnya, di mata orang lain mereka hanya melihat tiga gadis yang sedang terbang bersama. Namun nyatanya, sang pria tua juga sebenarnya tak pernah meninggalkan sisi mereka. Seolah pria itu sengaja menampakkan dirinya pada beberapa orang saja, dan bersembunyi dari beberapa yang lainnya. Bahkan keberadaannya terasa seperti bayangan yang tidak bisa disentuh, namun selalu ada di dekat mereka. Perjalanan mereka berlangsung cepat. Dalam waktu yang relatif singkat, mereka sudah tiba di halaman luar kediaman keluarga Aolong. Aura tekanan dari kediaman itu sudah terasa bahkan sebelum mereka benar-benar mendekat. Pria tua itu berhenti beberapa puluh meter dari gerbang utama kediaman keluarga Aolong. Dia berkata dengan santai. “Mulai dari sini, aku tidak bisa ikut campur urusan ini. Aku hanya boleh jadi penonton.” Nada suaranya ringan, seolah apa yang akan terjadi setelah ini bukan sesuatu yang berbahaya. Pria tua itu mendarat perlahan dan mengambil sesuatu dari lengan bajunya. Para ga
Nathan memimpin semua orang kembali ke Cold Lake Manor, dan kali ini perjalanan mereka lebih singkat, karena mereka tidak perlu berhenti dimana pun, dalam waktu kurang dari satu jam, mereka sudah mendekati area Danau Dingin, yang artinya setelah menyebrangi jembatan di atas danau itu, mereka akan t
Nathan berdiri tersenyum di antara para kekasihnya, menatap ke kejauhan di mana kembang api sedang bermekaran di langit-langit kota. Nathan menarik napas penuh ketenangan, menghirup udara yang nyaman di malam tahun baru dengan tenang dan damai, sesuatu yang sudah selama lima tahun hanya bisa dia i
“Tentu saja, Bibi. Aku akan menjaga Rania dengan baik, aku janji bi,” jawab Nathan meyakinkan. “Coba ceritakan, bagaimana bisa seseorang memusuhi pria sopan sepertimu?” lanjut Naina bertanya. “Tunggu dulu! Apa tadi aku tidak salah dengar? Kau adalah tuan muda keluarga Middleton?” tanya Paul pen
Saat mereka berdua keluar dari akar pohon tempat mereka tinggal, mereka melihat seorang pria sedang tergeletak di tanah, dengan darah yang mengucur deras dari luka di dadanya. Tanpa banyak bicara, mereka langsung bergegas mencoba menyelamatkan pria itu. ... Kembali ke masa sekarang... Natha







