LOGINWajah Orion masih satu jengkal dariku. Tubuhnya tak bergeser. Aku menelan ludah dengan susah payah, tanganku menggenggam ujung rok erat-erat.
Aku bisa merasa sangat malu mendengar Orion mengatakannya terang-terangan. Suara jantungku yang berdegup tidak karuan itu pasti terdengar begitu keras di dalam kabin mobil sport yang sunyi ini. "Ma-Maaf, Tuan Muda..." bisikku terbata, suaraku hampir hilang. Aku menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata birunya yang sedalam samudra itu. "Saya... saya tidak terbiasa..." Orion tidak langsung menjawab. Ia masih menatapku. Tatapan birunya turun sekilas, bukan ke mataku, tapi ke rambutku. Tatapannya berhenti pada jepit rambut kecil dengan desain cantik yang tadi kupasang di kamar mandinya. Jepit itu menjepit sebagian rambut hitam bergelombangku ke belakang, membuat penampilanku terlihat lebih rapi. Ia menunduk lebih rendah lagi, begitu dekat hingga aku pikir bibirnya akan menyentuh bibirku. Aku menahan napas, seluruh tubuhku kaku, dan aku memejamkan mata karena panik. Tapi detik berikutnya, sentuhannya meleset ke atas. Ia tidak menciumku, ia hanya meraih jepit di rambutku. Satu tangan kanannya terulur. Jari-jarinya yang panjang dan hangat menyentuh rambutku. Aku membeku, tidak berani bergerak. Sentuhannya begitu ringan. Ujung jarinya menyentuh kepalaku dengan lembut saat ia melepaskan satu jepitan itu dari rambutku. Begitu jepitan lepas, sehelai rambutku terlepas dan jatuh ke depan pipi. "Jangan cari perhatian di kampus. Tugasmu adalah melayaniku. Bukan hal lain. Mengerti?" ucapnya. Suaranya kembali datar, tanpa emosi. Seolah kehangatan sepersekian detik tadi tidak pernah ada. Aku menelan ludah, lalu mengangguk patuh. Padahal aku hanya mengenakan apa yanh disediakan di dalam bungkusan itu. Tidak mungkin kan, Orion pikir aku memakai jepit ini untuk mencari perhatian? "Mengerti, Tuan Muda," jawabku pelan. Orion menatapku sekilas, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia memasukkan jepit rambut kecil itu ke dalam saku celananya. Ia menyimpannya. Lalu ia mundur sepenuhnya ke kursi pengemudi, memasang sabuk pengamannya sendiri dengan satu gerakan elegan, dan menginjak pedal gas. Mobil sport hitam itu menggeram halus dan melesat keluar dari halaman mansion Thorne. Perjalanan menuju Havenwood University terasa begitu panjang dan sunyi. Aku hanya melihat keluar jendela sepanjang perjalanan. Sampai di kampus, suasana Havenwood University menyambut kami dengan kemegahan yang membuatku merasa semakin kecil. Gerbang besi tinggi berukir lambang H terbuka lebar, mempersilakan masuk deretan mobil-mobil mewah. Di baliknya, gedung-gedung bergaya Eropa klasik dengan pilar marmer putih berdiri megah di atas hamparan rumput hijau yang terawat sempurna. Air mancur besar di tengah alun-alun kampus memercikkan air yang berkilau terkena sinar matahari pagi. Mahasiswa berlalu-lalang dengan pakaian desainer, tas bermerek, sepatu yang mengkilap. Meski aku tidak tahu banyak soal produk high-end, aku mengenal sedikit merek-merek yang aku tahu tidak akan bisa dibeli dengan gajiku sebulan. Benar-benar dunia yang sama sekali bukan duniaku. Mobil sport Orion berhenti di area parkir paling depan. Begitu pintu mobil terbuka, aku bisa merasakan puluhan pasang mata langsung tertuju pada kami. Aku merasa sedikit terintimidasi, tapi Orion tidak terlalu memperdulikannya. Saat turun dari mobil, aku berjalan di belakang Orion, menjaga jarak dua langkah seperti kebiasaanku sebagai pelayan di mansion. Itu sudah menjadi kebiasaan, menjadi posisi yang aman untukku. Namun bisik-bisik segera terdengar di sekitar kami, mata-mata menatap penasaran. "Siapa perempuan itu? Yang blus krem itu?" "Tadi, dia turun dari mobil itu juga, kan? Kenapa dia berangkat bersama Orion Thorne?" "Dia bukan mahasiswa di sini, kan? Belum pernah lihat." Langkahku semakin kaku. Aku meremas ujung blusku erat-erat. Diperhatikan seperti ini membuatku agak tertekan. Karena aku terus berjalan di belakangnya, Orion berhenti mendadak. Begitu mendadak hingga aku hampir menabrak punggungnya yang bidang. Aku terlonjak kaget dan langsung berhenti. Ia menoleh. Tatapan mata birunya dingin dan tajam. "Kenapa jalanmu lelet seperti itu? Jalan di sampingku." Aku mengangguk panik. "Ba-Baik, Tuan Muda." Dengan langkah yang masih canggung, aku bergegas menyejajarkan langkahku di sampingnya. Belum sempat aku menyesuaikan diri dengan posisi baru itu, sebuah bayangan hitam meluncur cepat dari arah lapangan basket di sisi kiri kami. Sebuah bola basket meluncur cepat ke arahku. Mataku membelalak. Tubuhku membeku. Aku tidak sempat menghindar. Refleks, sebuah lengan panjang terulur di depan wajahku. BUK. Orion mengulurkan tangan dan menangkap bola itu tepat di depan wajahku. Hanya beberapa inci dari hidungku. Tangannya yang besar menggenggam bola itu dengan begitu mudah. Di kejauhan, seorang pemuda berjalan santai ke arah kami dengan senyum lebar. Ia memakai kaus basket putih dan celana training hitam, rambut coklatnya sedikit basah oleh keringat. Berbeda dengan Orion yang dingin dan tertutup, pemuda ini memancarkan kehangatan dan keramahan yang mudah dirasakan lewat manik mata keabu-abuannya yang menatapku sekilas. "Wah, hebat tangkapanmu, Orion. Terima kasih, Kawan," seru pemuda itu sambil tertawa ringan. Ia berhenti tepat di depan kami, menatap Orion sekilas lalu tatapannya kembali padaku, lalu bersiul pelan. "Dan siapa perempuan cantik yang belum pernah kulihat di sini ini?" Aku tersentak sedikit, kebingungan saat pemuda itu tersenyum padaku. "Hai, aku Julian Voss. Panggil saja Julian. Kau anak baru?" Entah kenapa, kesan pertamaku padanya agak aneh. Walaupun ia tersenyum, tapi senyumnya itu terlihat terlalu ramah, terlalu manis, hingga membuatku justru sedikit tidak nyaman. Ia hendak menyentuh bahuku. Namun sebelum ujung jarinya sempat menyentuh blusku, Orion sudah melemparkan bola basket ke sembarang arah, lalu menahan tangan Julian. Gerakannya singkat dan tegas. Tatapan mata biru Orion yang sedingin es itu berubah semakin dingin dan tajam, menusuk. Julian, seolah langsung paham, menarik tangannya kembali perlahan sambil tetap tersenyum, meski ada kilatan penasaran yang begitu jelas di matanya. "Wow, santai, kawan. Aku hanya ingin berkenalan," kata Julian santai sambil terkekeh pelan, tapi menjaga jarak. "Di mana kau menemukannya?" tanya Julian lagi, kali ini tatapannya kembali padaku. "Mahasiswi baru?" Orion masih berdiri di sampingku, menggeser tubuhnya sedikit di depanku. Ia menatap Julian datar. "Anak miskin yang tinggal di rumahku. Dia bersamaku," jawab Orion datar, tanpa ragu. Mendengar kata-kata itu jatuh begitu ringan dari bibirnya, dadaku seperti tertohok dengan keras. Aku hampir saja batuk. Sejak dulu, aku tahu Orion adalah anak yang blak-blakan. Ia tidak mengucapkan itu untuk merendahkanku. Tapi memang begitulah adanya perbedaan kelas di antara kita. Aku menunduk dalam-dalam dengan pipi merah, sedikit malu karena dikenalkan seperti itu di hadapan orang lain. Julian tampak terkejut mendengar jawaban Orion. Senyumnya menghilang. Ia menatapku dengan tatapan yang kini berubah menjadi iba. Aku semakin malu. Pasti dia merasa kasihan! Orion tidak berkata lebih dan dengan gerakan tidak sabar meraih pergelangan tanganku. "Ayo." Aku tidak berani membantah. Aku membiarkan diriku ditarik olehnya, meninggalkan Julian yang masih berdiri mematung. Seharian itu, hari baruku di kampus untuk pertama kalinya pun berjalan. Aku berada di satu tingkat di bawah Orion, sehingga kelas kami terpisah. Dia pergi ke Gedung 1 dan aku pergi ke Gedung 2. Sepanjang hari itu, aku merasakan orang-orang melirik dan membicarakanku. Aku merasa sangat canggung, tapi di situ aku juga menyadari. Betapa besar pengaruhnya keluarga Thorne. Orang-orang mengenal Orion dan membicarakannya. Di sela-sela jam istirahat mata kuliah Pengantar Sosiologi, seorang perempuan yang duduk di sebelahku mulai mengajakku berbicara. Sama seperti yang lain, ia penasaran denganku. "Kau kenal Orion Thorne ya?" tanya Elara penasaran, suaranya berbisik pelan. "Semua orang lihat kau datang bersamanya hari pertama. Beritanya cukup heboh di grup angkatan." Aku mengangguk. "Iya. Saya bekerja di kediaman keluarganya. Tuan dan Nyonya Thorne yang memberi kesempatan saya untuk kuliah di sini." Elara terkesan. "Wah, keluargamu baik sekali ya. Maksudku, keluarga Thorne. Aku tidak pernah sekalipun mendengar ada keluarga yang begitu dermawan sampai menyekolahkan pelayannya." Lalu Elara mendekatkan wajahnya, berbisik lebih pelan lagi. "Tapi kau tahu kan? Kau pasti akan jadi mengundang perhatian Caitlin!" Aku mengerjap pelan. “Siapa?” "Maksudku, pacar Justin,” terang Elara, “Orion dan Caitlin Vance itu pasangan paling terkenal di kampus ini. Mereka sudah lama dekat. Caitlin itu anak Ketua Yayasan Havenwood. Kamu tahu, mereka itu seperti … raja dan ratu kampus ini.” Elara berbisik lagi melanjutkan. “Tapi belakangan ini sering bertengkar. Katanya sekarang sedang tarik-ulur. Aku yakin, Caitlin cemburu berat kalau Orion dekat sama perempuan lain!” Aku terdiam. Caitlin Vance. Nama itu tertanam di benakku. "Oh... begitu," bisikku pelan. Dan dalam hati kecilku, aku tahu aku harus menjaga jarak. Aku takut jika hal ini makin membuatku jadi perhatian. Dilihat saat turun dari mobil Orion pagi ini saja, aku sudah merasa tak nyaman. Aku mengucapkan terima kasih pada Elara lalu berpamitan pergi untuk mencari toilet yang paling dekat dengan Gedung 1. Belum jauh berjalan, Julian tiba-tiba muncul di hadapanku, menutup jalanku dengan senyum ramah yang terlihat begitu tenang. "Oh… Aurora, bukan? Kau mau ke mana?" tanyanya santai, mendekat ke arahku dengan senyum ramahnya itu. Sejak datang ke sini, aku selalu merasa waspada. Bagaimanapun, statusku sangat rendah dibandingkan mereka. Aku kenal perangai orang-orang kaya. Bahkan Orion Thorne pun sering berbuat seenaknya. Aku hanya beruntung di kediaman Thorne keluarganya sangat memperlakukanku dengan baik. Tapi di sini, di tempat yang isinya orang kaya ini, jika berbuat kesalahan, bisa saja aku masuk ke masalah besar. “Ke toilet, Tuan, permisi,” ucapku sambil pamit dan melewatinya. Tapi, tidak kusangka Julian malah menarik pergelangan tanganku. “Toilet? Aku bisa menunjukkan jalannya. Biar kuantar kau ke sana,” ucapnya dengan nada ringan itu. “Kau anak baru, aku tidak mau kau tersesat.” Aku menggeleng, berusaha melepaskan tanganku darinya. “Tidak usah, Tuan, saya tahu tempatnya. Tolong lepaskan …” "Tidak apa-apa," potong Julian, tetap tersenyum ramah, tidak melepaskan genggamannya. "Kau tidak usah sungkan-sungkan denganku. Setelah ini, aku bisa memberimu tur kampus gratis, bagaimana?" Aku menolak. Tapi pria ini memegang tanganku erat sekali. Padahal ia terlihat ramah dan tersenyum manis. Aku pun sedikit panik. Saat Julian mulai menarikku, sebuah suara dingin terdengar dari ujung koridor yang lain. “Lepaskan dia.”Darah di jariku sudah berhenti, tapi genggaman Orion masih belum lepas.Bibi Marie sudah pergi dari dapur sejak tadi, seolah menyadari sesuatu, ia berpura-pura sibuk dan menyerahkan urusanku pada Orion. Dapur yang biasanya ramai dengan suara panci dan kompor, kini hanya menyisakan suara napas kami berdua. Dan detak jantungku yang berisik.Orion masih memegang tanganku. Matanya menatap luka sayatan di telunjukku dengan tatapan yang begitu dalam, begitu tajam, seolah luka kecil itu adalah sebuah kesalahan besar yang tidak termaafkan."Kau ceroboh sekali, Aurora," katanya datar. Tidak marah, tapi nadanya memberi tahu bahwa ia tidak menyukai apa yang ia lihat.Aku menunduk. "Maaf, Tuan Muda. Saya hanya melamun.""Melamunkan apa?" tanyanya cepat.Aku terdiam. Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sejujurnya.Orion seolah tahu tanpa perlu aku bicara. Ia mengambil plester dari kotak P3K kecil yang ada di atas lemari es, lalu menempelkannya di jariku dengan hati-hati. Gerakannya terkontrol, p
Jemarinya menyentuh bibirku.Bukan ciuman kali ini. Orion hanya menempelkan ibu jarinya di bibir bawahku, mengusapnya dengan lembut namun tegas. Gerakannya pelan, seolah ia sedang memastikan bahwa bibir ini masih ada di tempatnya. Masih miliknya."Bibirmu hanya boleh tersenyum padaku, Aurora. Hanya padaku. Mengerti?"Kalimat itu masih menggantung di udara taman kampus. Aku tidak bisa menjawab. Napasku tercekat.Sentuhan di bibirku itu membuat seluruh wajahku panas seketika. Pipiku memerah tanpa bisa kutahan. Dan sialnya, otakku langsung berkhianat. Ingatanku kembali menyeretku ke malam kemarin. Ke dinding marmer yang dingin di punggungku. Ke ciuman posesifnya yang dalam dan menuntut. Ke tangannya yang mengunci pergelanganku dan meremas pinggangku. Ke aroma parfum kayunya yang memenuhi hidungku sampai membuat lututku lemas.Aku pasti terlihat seperti kepiting rebus sekarang. Aku langsung menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata birunya yang tajam itu.Orion tersenyum miring. Sen
Bibir itu masih menempel di bibirku.Orion menciumku dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Bukan ciuman manis seperti di drama, tapi ciuman yang posesif, dalam, menuntut, seolah ia ingin memastikan bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan rasa ini. Tangannya yang satu masih mengunci pergelangan tanganku di atas kepala, yang satu lagi meremas pinggangku dengan kuat, menarikku semakin rapat ke tubuhnya.Aroma parfumnya yang mahal, wangi kayu yang lembut dan maskulin, memenuhi seluruh rongga hidungku. Dinding marmer di belakang punggungku terasa begitu dingin, kontras dengan panas yang menjalari seluruh tubuhku.Aku seharusnya mendorongnya.Otakku berteriak untuk mendorongnya. Untuk mengatakan bahwa dia tidak seharusnya terus-menerus melakukan ini padaku. Karena setiap sentuhannya, setiap ciumannya, hanya akan membuatku semakin salah paham. Membuatku semakin lupa siapa aku dan siapa dia."Tuan Muda... jangan..." suaraku lolos di sela ciumannya, hampir seperti bi
"Makan malamnya belum dimulai. Jangan buat tamuku tidak nyaman."Kalimat itu meluncur dari bibir Orion dengan nada yang sangat dingin, sangat singkat, sangat padat, dan tanpa celah untuk dibantah.Ruangan di L'AMOUR yang sejak tadi dipenuhi denting sendok dan tawa pelan dari meja-meja lain mendadak terasa jauh lebih senyap di meja kami, seolah semua udara tertahan hanya untuk mendengar kalimat itu.Nyonya Vans mengerjapkan matanya perlahan, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tuan Vans yang sejak tadi berusaha menjaga wibawanya sebagai kepala keluarga terpandang hanya menarik napas panjang dan menyesap wine merahnya dengan gerakan yang terlihat dibuat tenang. Sedangkan Caitlin, wajahnya yang tadi sudah merah karena marah kini pucat pasi dengan bibir yang bergetar menahan amarah dan rasa malu yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.Aku tetap menunduk. Tanganku yang berada di atas pangkuan meremas ujung gaun dusty blue pinjaman ini begitu erat sampai buku-buku jariku
Cahaya dari jendela kecil di sayap Timur terasa berbeda dengan cahaya di kamar Tuan Muda.Tidak sehangat tadi. Tidak selembut tadi.Aku sudah kembali di kamarku. Kamar pelayan dengan ranjang single yang sempit, lemari kayu yang catnya sudah mengelupas di sudut, lantai yang dingin dan tidak ada karpet beludru, dan selimutku tipis serta agak kasar.Aku melepas kemeja putih selutut milik Orion dengan hati-hati, seolah takut merusaknya. Aku melipatnya dengan sangat rapi, bahkan lebih rapi dari biasanya. Ujung-ujungnya kusamakan. Wangi kayu cendana dan parfum mahalnya masih tertinggal kuat di kain itu. Wangi yang membuat kepalaku pusing. Aku meletakkannya di atas bantal, tidak berani memasukkannya ke dalam lemari kecil milikku.Lalu aku memakai kembali seragam pelayanku, kemeja dan rok selutut yang sudah aku seterika sampai tidak ada satu lipatan pun. Ini pakaianku. Ini tempatku.Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah. Papan tulis kecil di dekat dapur yang biasanya ditempel jadwal kuliahku
Cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca besar itu menyilaukan mataku.Kepalaku sakit sekali. Seperti dipukul dengan palu dari dalam. Mulutku kering dan pahit. Bau alkohol masih samar di tubuhku.Aku mengerjap beberapa kali. Pandanganku yang tadinya kabur perlahan menjadi terang dan jelas. Langit-langit tinggi. Lampu gantung kristal. Dinding berwarna elegan.Ini bukan kamarku.Kamar pelayan di sayap timur tidak pernah memiliki langit-langit setinggi ini. Tidak pernah memiliki selimut sehalus ini. Tidak pernah memiliki wangi kayu cendana dan parfum mahal seperti ini.Jantungku berdegup kencang.Aku menoleh dengan panik dan melihat sosok yang sedang duduk di sofa beludru tidak jauh dari ranjang. Orion Thorne.Ia tampak santai dengan kaos polos berwarna hitam pekat, berbahan katun premium yang pas di badan, dan rambutnya masih sedikit basah. Di tangannya ada laptop yang terbuka, tetapi tatapannya tidak di laptop itu. Tatapannya ada padaku.Dingin. Dalam. Menilai.Aku langsung duduk,







