Share

BAB 4

Penulis: Rainina
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 19:31:11

Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.

Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat kedatangan putranya.

"Nicholas, kau sudah selesai dengan telponmu? Ayo, duduklah, makanannya mulai mendingin." sapa sang ibu, mencoba mencairkan ketegangan yang menggantung di udara.

Namun, Nicholas mengabaikan ucapan ibunya. Pria itu menatap lurus ke arah adiknya dengan sorot mata menghukum. "Sejak kapan kau diajarkan untuk merengek seperti anak kecil yang tidak tahu sopan santun di meja makan, Clara?" tegurnya tajam. 

"Jika kau memang tidak bisa melayani dirimu sendiri, sebutkan saja. Aku akan menyuruh asistenku untuk mempekerjakan pengasuh khusus untuk menyuapimu."

Wajah Clara memerah padam, terbagi antara rasa malu dan takut. Gadis itu menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan kakaknya.

Melihat keponakan kesayangannya disudutkan, Bibi Sarah tidak terima. 

"Nicholas, kenapa kau malah memarahi adikmu dan membela istrimu? Kau tidak lihat kalau istrimu duluan yang bersikap tidak sopan pada kami? Lagipula, apa yang kami katakan itu sama sekali tidak salah. Dia memang…"

"Jika kalian merasa apa yang kalian katakan itu memang sebuah kebenaran," potong Emily tiba-tiba. "Apa itu artinya, jika aku berpisah dari Nicholas, kalian akan berhenti berpikir kalau aku hanyalah seorang penjilat di keluarga ini?"

Deg.

Tatapan Nicholas langsung terhunus tajam pada Emily, seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup. Rahang pria itu mengeras hingga urat-urat di lehernya tercetak jelas. 

Ia baru saja memperingatkan Emily beberapa jam yang lalu di kantor, dan wanita ini dengan sengaja mengujinya di sini.

"Emily…" geram Nicholas pelan, sebuah peringatan mematikan.

"Astaga, kalkunnya benar-benar sudah dingin!" Nyonya Spencer tiba-tiba bertepuk tangan pelan, memotong kalimat Nicholas dengan suara ceria yang sedikit dipaksakan. 

"Ayo semuanya, kita mulai makan lagi. Nicholas, duduklah, Sayang. Jangan membuang waktu membahas hal yang tidak penting."

Berkat intervensi Nyonya Spencer, sisa makan malam itu berjalan dalam keheningan yang kaku. 

Nicholas duduk di sebelah Emily dengan aura gelap yang tak kunjung mereda, sementara Emily menikmati hidangannya dengan santai seolah kalimat provokatifnya tadi tidak pernah terjadi.

Begitu makan malam selesai, Emily berinisiatif membantu ibu mertuanya membereskan piring-piring kotor ke dapur.

"Sudah, Sayang, biarkan ini menjadi urusan para pelayan," ucap Nyonya Spencer lembut, mengambil alih tumpukan piring dari tangan Emily.

Wanita paruh baya itu tersenyum penuh arti, lalu mengusap punggung tangan menantunya. 

"Lebih baik kau segera naik ke atas dan istirahat. Ingat pembicaraan kita tadi? Ibu sangat menantikan suara tangisan bayi. Pergilah temani suamimu, berikan Ibu seorang cucu yang manis."

Emily hanya bisa memaksakan sebuah senyum tipis, mengangguk sopan sebelum mengundurkan diri dan menaiki tangga menuju kamar yang disediakan untuknya dan Nicholas.

Cucu? Permintaan yang terdengar sangat mustahil.

Ketika Emily membuka pintu kamar, aroma tembakau yang samar langsung menyapa indra penciumannya. 

Matanya menangkap sosok tinggi Nicholas yang sedang berdiri di balkon kamar yang sedikit terbuka. Pria itu menyandarkan satu tangannya di pagar besi, sementara tangan lainnya mengapit sebatang rokok yang menyala. Asap kelabu mengepul pelan tertiup angin malam.

Emily menghentikan langkahnya sejenak. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, Nicholas bukanlah seorang perokok aktif. Pria itu sangat menjaga kesehatannya dan hanya akan menyentuh rokok saat pikirannya benar-benar kacau atau dilanda stres berat.

Apa pria itu sedang dalam masalah? Emily berpikir sejenak sebelum akhirnya mendengus pelan.

Tapi apa pedulinya? Emily mengabaikan pemandangan itu, melangkah acuh tak acuh menuju lemari, mengambil piyama, dan langsung masuk ke kamar mandi.

Tiga puluh menit kemudian, Emily keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar. Ia naik ke atas ranjang berukuran king size itu, menarik selimut, dan bersiap memejamkan mata.

Tidak lama setelahnya, pintu balkon ditutup. Emily bisa merasakan pergerakan di sisi lain ranjang ketika kasur sedikit merosot karena beban tubuh Nicholas yang ikut berbaring di sampingnya.

Secara refleks, tubuh Emily merespons. Ia beringsut perlahan, menggeser tubuhnya menjauh ke arah tepi ranjang untuk menciptakan jarak yang lebar di antara mereka.

Gerakan kecil itu rupanya tidak luput dari perhatian Nicholas.

Seketika, atmosfer di atas ranjang itu berubah tegang. Nicholas berdecak kasar, egonya kembali tergores oleh penolakan tanpa kata dari wanita yang biasanya selalu berusaha menempel padanya itu.

"Berhenti berulah terus, Emily," tegur Nicholas dengan suara rendah yang penuh kekesalan.

"Aku sudah memperingatkanmu di ruang kerjaku tadi sore. Jangan pernah membawa-bawa omong kosong soal perceraian di depan keluargaku. Apa kau tuli?"

Emily menghela napas panjang. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap wajah suaminya dengan ekspresi datar yang kelewat tenang.

"Aku tidak sedang berulah, Nicholas. Dan aku juga sudah mengatakannya padamu, aku sangat serius dengan perceraian ini," balas Emily mantap. "Lagipula, bukankah perpisahan ini akan jauh lebih menguntungkan?"

Kening Nicholas berkerut dalam, jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.

"Asal kamu tahu, ibumu sangat menginginkan seorang cucu," lanjut Emily. 

"Terus terang, aku sama sekali tidak bisa membayangkan diriku bisa memenuhi harapan itu bersamamu. Tapi, jika kita bercerai dan kamu menikah dengan wanita lain, keinginan ibumu pasti bisa segera diwujudkan dengan mudah."

Mendengar penuturan itu, rahang Nicholas kembali mengeras. Harga dirinya sebagai seorang pria seolah diinjak-injak oleh ketidakpedulian wanita di hadapannya ini.

"Wanita lain?" desis Nicholas, matanya menyipit berbahaya. Amarah jelas tersirat dari nada suaranya. "Di dalam kepalamu yang sempit itu, apa kau pikir aku sedang mencari wanita lain di belakangmu?!"

Menghadapi kemarahan itu, Emily tidak bereaksi berlebihan. Ia bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap Nicholas dengan ekspresi datar, seolah kemarahan pria itu sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Bukannya itu benar?" jawab Emily, menusuk tepat pada sasaran. "Bahkan gosip tentangmu dan wanita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   EXTRA

    Suasana di dalam ruang kerja CEO itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota di balik jendela kaca.Daniel duduk bersandar di kursi kebesarannya. Sebelah tangannya memegang sebuah dokumen, sementara tangannya yang lain melingkar protektif menahan tubuh mungil seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang tengah duduk di pangkuannya.Anak laki-laki itu tampak sangat mengantuk. Mata bulatnya sesekali mengerjap lambat, sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya yang berambut ikal ke dada bidang Daniel, mencari kehangatan."Kau mengantuk, hm, Jagoan?" bisik Daniel dengan suara yang sangat pelan dan lembut, meletakkan dokumennya ke atas meja.Ia menepuk-nepuk pelan punggung putranya. Anak laki-laki itu hanya menggumam pelan, merespons dengan mengeratkan pegangan tangan mungilnya pada kemeja Daniel.Cklek.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mark melangkah masuk dengan santai, menenteng sebuah map hitam tebal. Melihat sahabatnya sedang menidurkan anak, Mark langsung menurunkan v

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 326 (TAMAT)

    Pesta pernikahan Diana dan Chris akhirnya perlahan mulai memasuki penghujung acara. Setelah memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, Emily memutuskan untuk kembali ke presidential suite hotel yang telah mereka sewa.Satu jam yang lalu, Nicholas memang terpaksa pamit lebih dulu dan membawa Selena kembali ke kamar. Putri kecil mereka yang kini sudah menginjak usia dua tahun itu mulai merasa bosan dan rewel. Melihat itu, Nicholas langsung menggendong Selena keluar dari ballroom.Cklek.Emily membuka pintu kamar hotel dengan pelan, berniat tidak menimbulkan suara bising jika putrinya sudah tertidur. Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah suite tersebut, rentetan protes langsung menyambutnya."Selena, itu mata Daddy. Daddy tidak bisa melihat kalau kau menutupnya dengan dinosaurus hijau itu.""Nda! Cini! Di mata Dadi! Aummm!""Tapi kau menempelkannya di alisku, Sayang. Bukannya kau bilang mau menempelkannya di pipi?""Diem, Dadi!"Emily menutup mulutnya dengan kedua tangan, menah

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 325

    Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tulus itu, dada Nicholas bergemuruh hebat. Rasa cinta yang membuncah membuatnya nyaris tak bisa berkata-kata. Ia menundukkan wajahnya, mengecup dahi Emily dengan sangat dalam dan lama."Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Emily," bisiknya parau. "Aku berjanji, aku akan selalu memastikan kau dan Selena tidak akan pernah merasa sendirian atau terbebani."Namun, momen romantis yang tenang itu mendadak terhenti.Selena yang masih berada dalam dekapan Emily tiba-tiba menangis kecil. Tangannya yang mungil mengepal dan menggeliat protes, melepaskan isapannya seolah menyadari bahwa kedua orang tuanya tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri.Nicholas sontak tertawa pelan, ia mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut kepala mungil putrinya."Hei, hei, jangan marah. Mommy dan Daddy tidak melupakanmu, Tuan Putri," goda Nicholas pada Selena yang masih menatap mereka dengan mata berair. "Tentu saja kau juga yang terbaik. Kau t

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 324

    Emily berdiri dalam diam di ambang pintu, menahan napasnya agar tidak merusak momen berharga di hadapannya. Ia hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sebagian, membiarkan matanya merekam setiap detail dari pemandangan yang menghangatkan hatinya itu.Nicholas, pria yang selalu terlihat kaku dan tak tersentuh oleh siapa pun di luar sana, kini mengayunkan tubuhnya dengan ritme yang sangat lambat dan lembut. Tangannya yang besar menopang tubuh mungil Selena, putri mereka, dengan penuh kasih sayang."Ssst... putri Daddy sudah bangun, hm?" bisik Nicholas. "Kenapa matamu terbuka lebar sekali di jam segini, Selena? Kau tidak mengantuk?"Selena kecil hanya menggeliat di dalam gendongannya, mengeluarkan suara gumaman pelan, "Nghhh...""Iya, Daddy tahu. Kau pasti bosan, kan?" Nicholas terkekeh pelan, menunduk untuk mengecup ujung hidung putrinya. "Tapi sekarang masih terlalu malam untuk bermain. Kau harus memejamkan mata lagi."Bibir mungil Selena mulai melengkung ke bawah. Wajahnya mem

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 323

    Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, berganti dengan bayangan buram langit-langit ruangan yang putih bersih. Bau khas obat-obatan dan antiseptik kembali memenuhi indera penciuman Emily. Suara mesin pemantau detak jantung terdengar berbunyi dengan ritme yang teratur di samping telinganya."Emily... Emily, kumohon, buka matamu."Sebuah suara bariton yang serak dan bergetar hebat memanggil namanya berulang kali.Kelopak mata Emily terasa sangat berat, namun ia memaksa dirinya untuk merespons suara itu. Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai fokus. Hal pertama yang langsung menyita seluruh pandangannya adalah wajah Nicholas yang berada begitu dekat dengannya.Pria itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan ketegasan, arogansi, dan aura sedingin es, kini terlihat sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, rambutnya berantakan, dan jejak air mata terlihat sangat jelas membasahi pipi pria itu. Tangan besarnya menggenggam erat t

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 322

    "Apa... apa yang kau mau?!" seru Emily dengan suara bergetar. Emily yang asli menatapnya dengan senyuman yang begitu teduh. "Kau tidak perlu takut padaku, Emily.""Bagaimana aku tidak takut?!" teriak Emily, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Kepanikan yang luar biasa mencekik lehernya. "Kau adalah pemilik asli tubuh ini! Apa kau datang untuk menyingkirkanku sekarang?!"Emily yang asli hanya terdiam, menatap dengan sorot mata yang penuh pengertian."Aku mohon padamu..." tangis Emily akhirnya pecah. Ia meremas gaunnya sendiri dengan putus asa, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris bersimpuh di lantai. "Apakah setelah aku akhirnya benar-benar mencintai Nicholas... setelah aku berjuang melahirkan anak kami, sekarang aku akan disingkirkan dari sini?"Emily terisak hebat, ketakutan terbesarnya selama ini akhirnya menjadi kenyataan."Kau akan membuang jiwaku kembali ke duniaku dan mengambil alih hidup bahagia ini saat semuanya sudah membaik, kan?" lanjut Emily dengan suara se

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 5

    Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan."Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak bebe

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 3

    Gerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 2

    Untuk beberapa detik, Nicholas hanya menatapnya. Lalu, perlahan sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang nyaris mengejek."Sejak kapan kamu mulai memakai cara murahan seperti ini untuk mencari perhatian?" Tatapannya menelusuri wajah Emily dengan penuh tekanan, seolah seda

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 1

    Saat Emily masuk ke dalam ruang kerja suaminya sore itu, ia menemukan pria itu sedang bercumbu dengan wanita lain.Nicholas tengah mendekap Olivia di pelukannya, napas mereka beradu, kemejanya tampak kusut.Melihat Emily masuk secara tiba-tiba, mereka menegang. Keduanya memundurkan tubuhnya selangk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status