مشاركة

BAB 2

مؤلف: Rainina
last update تاريخ النشر: 2026-05-18 19:30:39

Untuk beberapa detik, Nicholas hanya menatapnya. Lalu, perlahan sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang nyaris mengejek.

"Sejak kapan kamu mulai memakai cara murahan seperti ini untuk mencari perhatian?" Tatapannya menelusuri wajah Emily dengan penuh tekanan, seolah sedang menguliti kebohongan yang ia yakini ada di sana. 

"Kupikir selama ini kamu tahu posisimu. Istri yang patuh, tidak banyak menuntut, dan tidak membuat masalah. Jadi sekarang apa? Kamu bosan? Atau ini caramu supaya aku menoleh padamu?"

Emily tidak langsung menjawab. Ia tidak mampu, terlalu salut pada kepercayaan diri pria di hadapannya ini. Bahkan walau Nicholas adalah tokoh utamanya, bukankah ini berlebihan?

Jika ia adalah Emily yang asli, wanita itu pasti akan panik, buru-buru menjelaskan diri, atau bahkan merasa bersalah karena membuatnya tidak nyaman. Sebab satu nada dingin dari Nicholas saja sudah cukup membuatnya goyah.

Namun, Emily yang berdiri di sini sekarang tidak memiliki minat untuk mengelus ego pria di hadapannya.

"Aku hanya berpikir bahwa ini masuk akal," jawab Emily. "Kamu tahu sendiri, ayahku saat ini sedang kritis di rumah sakit. Dokter bilang waktunya tidak lama lagi. Ketika dia meninggal nanti, semua kesepakatan bisnis di atas kertas itu tidak akan ada artinya. Jadi, untuk apa kita terus memaksakan pernikahan ini?"

Wajah Nicholas kini mengeras sempurna, dengan rahangnya mengatup rapat. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, Emily. Kau pikir kau berhak memutuskan hal seperti ini?"

Seperti biasa, begitulah cara Nicholas memperlakukannya dalam hubungan ini, sebagai orang yang pendapatnya tak penting.

Meski mulai kesal, Emily berusaha untuk tetap tenang. "Kita sama-sama menginginkan hal ini, Nicholas. Kamu juga tidak bahagia karena terjebak dalam pernikahan ini, bukan?"

Di detik itu, ekspresi Nicholas berubah, seolah menyadari sesuatu. "Apa ini karena kejadian tadi?" tanyanya, merujuk pada Olivia.

Emily terdiam. Ia tentu memilih untuk tidak menjawab. 

Lagipula, apa yang harus Emily katakan? Bahwa ia tahu ini semua hanya dunia novel fiksi tempat Nicholas dan Olivia adalah tokoh utamanya? Bahwa nasib tragis telah menantinya jika ia tetap berada di sisi pria ini?

Nicholas hanya akan berakhir berpikir bahwa ia sudah gila. Atau seperti biasa, berpikir ia mencari perhatian pria itu dengan mengatakan hal-hal gila.

Sayangnya, Nicholas mengartikan kebungkaman Emily sebagai sebuah pembenaran yang keras kepala, emosi Nicholas mulai tersulut. 

"Aku sudah mengatakan padamu bahwa dia hanya membersihkan noda di kemejaku," desis Nicholas. "Meminta cerai hanya karena kesalahpahaman sepele seperti ini? Berhenti bertingkah kekanak-kanakan, Emily."

Emily menarik napas pelan. Kesalahpahaman? Padahal Emily sudah membaca adegan ini, bahkan menyaksikannya di depan matanya sendiri.

"Ini bukan tentang Olivia…"

"Cukup!" potong Nicholas tajam. "Aku tidak mau mendengarkan omong kosong ini lagi."

Nicholas membalikkan badan, berjalan menuju meja kerjanya dan merapikan beberapa berkas dengan gerakan kasar. Ia berusaha mengendalikan emosinya yang tampak mendidih.

"Kembali ke mejamu," perintah Nicholas mutlak, tak sudi menoleh lagi ke arah Emily. "Malam ini kita makan bersama di rumah keluargaku. Kau akan datang seperti biasa. Dan jangan sampai membicarakan hal bodoh seperti perceraian ini di depan orang tuaku. Mengerti?"

Melihat kemarahan di wajah Nicholas, Emily menyadari satu hal. Ego Nicholas sebagai seorang pria, baru saja tersentil.

Bagi pria arogan sekelas Nicholas Spencer yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya, diceraikan secara sepihak oleh wanita yang selama ini mengekorinya bagaikan anak anjing penurut, jelas merupakan sebuah penghinaan telak. 

Di matanya, Emily tak lebih dari sekadar benalu yang tak akan bisa hidup tanpa embel-embel Nyonya Spencer.

Itulah sebabnya Nicholas menganggap permintaan cerainya barusan hanyalah taktik manipulatif murahan.

Emily akhirnya sadar, berdebat dengan Nicholas yang menganggap dunia berputar pada dirinya tidak akan menghasilkan apapun.

Jika Nicholas menolak menyediakan pengacara dan menganggapnya main-main, maka Emily yang akan bergerak. Rencana sudah tersusun rapi di kepalanya. Besok, ia akan mendatangi pengadilan dan mengurus semua dokumen gugatan cerainya sendiri. 

Emily akan memastikan surat itu mendarat mulus di atas meja kerja pria ini secepatnya.

"Aku mengerti," jawab Emily pada akhirnya, suaranya memecah keheningan yang sempat menegang di antara mereka.

Emily berbalik badan dan meninggalkan ruangan itu.

Baiklah, jika ia memang harus menghadiri acara makan malam keluarga Nicholas malam ini.

Anggap saja ini sebagai bentuk penghormatan terakhirnya untuk kedua orang tua Nicholas, sebelum ia benar-benar angkat kaki dari kehidupan keluarga ini untuk selamanya.

=

Suasana ruang keluarga besar Spencer malam itu persis seperti yang selalu digambarkan dalam novel, megah, elegan, dan penuh dengan aura permusuhan.

Begitu Emily dan Nicholas melangkah masuk, tatapan sinis langsung menyambut mereka. Tepatnya, menyambut Emily. Terutama saat Nicholas beranjak dari ruangan karena telponnya yang berdering, aura permusuhan itu tidak lagi disembunyikan.

"Oh, Kakak Ipar datang rupanya. Kukira kau akan sibuk menghabiskan uang suamimu untuk berbelanja tas baru lagi.” sindir Clara, adik perempuan Nicholas.

Di sofa seberang, Bibi Sarah tertawa pelan sambil menyesap tehnya. "Wanita muda zaman sekarang memang hanya tahu cara menghamburkan kekayaan keluarga suaminya. Ya kan, Clara?"

Di ujung ruangan, Tuan Spencer, ayah Nicholas, hanya duduk diam sambil membaca di tabletnya. Pria paruh baya itu bersikap seolah menantunya adalah pajangan vas bunga yang tidak menarik. Dingin dan tak tersentuh, persis seperti putranya.

Dulu, komentar-komentar tajam Bibi Sarah dan Clara akan membuat Emily yang asli langsung menunduk atau mencoba mencari perlindungan dari suaminya. 

Namun malam ini, Emily hanya membalasnya dengan seulas senyum tipis.

"Selamat malam juga, Clara, Bibi Sarah," balas Emily tenang, sama sekali tidak terpancing.

Tanpa membuang waktu lebih lama di ruang tamu yang terasa mencekik itu, Emily mengundurkan diri dan melangkah menuju dapur. Di rumah sebesar ini, hanya ada satu orang yang benar-benar menyambut kehadirannya dengan tulus.

"Emily, Sayang! Kenapa kau ke sini? Biarkan para pelayan yang menyiapkan semuanya," sapa Nyonya Spencer dengan senyum hangat, segera meletakkan mangkuk salad yang sedang dihiasnya.

"Tidak apa-apa, Ibu. Aku ingin membantu," jawab Emily lembut. Dari semua karakter di novel ini, Nyonya Spencer adalah satu-satunya orang yang memperlakukan Emily dengan layak. 

Itulah mengapa Emily merasa perlu hadir malam ini, setidaknya untuk berpamitan secara tidak langsung.

Emily mengambil alih pisau dan mulai memotong buah-buahan dengan cekatan. Nyonya Spencer memperhatikannya dengan hangat, menepuk pelan bahu menantunya.

"Kau terlihat sedikit pucat, Nak. Apa Nicholas terlalu sibuk bekerja sampai mengabaikanmu lagi?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada cemas.

"Tidak, Ibu. Bukan karena Nicholas. Aku hanya... sedang banyak pikiran," jawab Emily sekedarnya.

Nyonya Spencer tersenyum penuh arti. Ia mencondongkan tubuhnya, merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia besar. 

"Kenapa tidak pikirkan tentang keluarga kecil kalian? Ibu sudah tidak sabar, Emily. Kapan kira-kira Ibu bisa mendengar kabar kehamilan darimu? Rumah kalian pasti terasa sepi tanpa suara anak kecil."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 317

    Di dalam ruangannya yang kedap suara, Nicholas menghempaskan punggungnya ke kursi. Suasana hatinya benar-benar memburuk. Ia memijat pangkal hidungnya, merasakan kepalanya berdenyut karena tingkah adiknya yang tidak pernah bisa bersikap dewasa.Berada dalam suasana hati yang buruk, pikiran Nicholas seketika tertuju pada satu-satunya sumber ketenangannya. Emily.Ia berpikir untuk melakukan panggilan video dengan istrinya. Senyum dan suara lembut Emily pasti bisa menetralisir rasa frustasi yang sedang menguasai kepalanya saat ini. Nicholas meraih ponselnya, mencari kontak Emily, dan menekan tombol video call.Tidak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung.Nicholas baru saja mencondongkan tubuhnya ke depan, mengira ia akan langsung disambut oleh wajah cerah dan suara manja Emily seperti biasanya pagi ini.Namun, dugaannya salah total.Di layar ponselnya, wajah Emily terlihat seperti kebingungan. Tidak ada senyum sama sekali di bibir istrinya. "Nicholas," sapa Emily cepat dengan napas

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 316

    Pagi itu, Clara datang ke Firma Hukum Spencer dengan suasana hati yang sangat buruk. Wajahnya ditekuk masam sejak ia melangkah keluar dari lift. Sepatu hak tingginya berderap kasar menghantam lantai, menciptakan gema yang membuat beberapa karyawan langsung menundukkan kepala."Sialan," umpat Clara pelan saat ia melempar tas mahalnya ke atas meja kerjanya yang berada tidak jauh dari ruangan Nicholas.Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuknya. Ia sudah merencanakan untuk datang ke acara peluncuran barang bermerek edisi terbatas yang sudah lama ia incar. Clara bahkan sudah bersusah payah merengek dan membuat Eric berjanji untuk menemaninya ke acara tersebut. Namun, semua rencananya hancur berantakan karena Nicholas memaksanya kembali bekerja sebagai karyawan sungguhan.Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan divisi. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan rekan-rekan kerjanya.Para karyawan jelas sekali menghindari kontak mata dengannya. Jika s

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 315

    Pagi itu, Emily sengaja membiarkan kakinya berpijak, berdiri di atas punggung kaki Nicholas yang terbalut sepatu pantofel mengkilap. Wanita itu sedikit berjinjit di sana agar wajahnya dan wajah suaminya bisa saling bertemu.Emily memeluk leher Nicholas dengan erat, sementara, kedua tangan Nicholas melingkar sempurna memegang pinggang ramping istrinya, menahan tubuh itu dengan posesif.Keduanya saling menempel begitu rapat di tengah ruangan, berpelukan dalam keheningan pagi yang hangat, seolah sama-sama enggan untuk saling melepaskan."Kau yakin aku tidak perlu ikut ke firma hari ini?" tanya Emily memecah keheningan, menatap mata kelam suaminya dengan tatapan memohon."Iya, aku sangat yakin," jawab Nicholas dengan suara baritonnya yang berat dan menenangkan."Benarkah?" rajuk Emily lagi, mengeratkan pelukannya di leher Nicholas. Keduanya masih berpelukan erat, Emily berayun kecil ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan pelan sang suami. "Kau tidak akan merindukanku di sana?""Tentu saja

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 314

    Dengan tangan sedikit gemetar, Diana memutar kenop dan membuka pintu apartemennya."Chris?" panggil Diana pelan, hampir tak terdengar.Namun, alih-alih menemukan sosok pria jangkung itu di hadapannya, Diana justru mendapati seorang pria paruh baya berkacamata yang menatapnya dengan senyum canggung."Selamat malam, Diana," sapa pria itu.Bahu Diana seketika merosot turun. Kekecewaan yang luar biasa langsung menghantam dadanya. "Ah... selamat malam, Pak Miller. Ada apa Bapak kemari malam-malam begini?""Maaf mengganggumu selarut ini," ucap Pak Miller, sang pemilik gedung apartemen. "Aku hanya sedang berkeliling lantai ini untuk mengingatkan soal iuran bulanan kebersihan dan keamanan yang jatuh tempo hari ini. Kau belum mentransfernya, kan?""Oh, astaga! Saya benar-benar lupa," Diana menepuk dahinya pelan, merasa bodoh karena saking paniknya memikirkan Chris, ia sampai melupakan tagihannya. "Sebentar, Pak. Saya ambilkan uang tunainya ke dalam."Setelah menyelesaikan semua pembayarannya d

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 313

    "Apa?" Emily sedikit mendongakkan kepalanya dari dada bidang sang suami, menatap wajah Nicholas dengan dahi berkerut bingung. "Kenapa tiba-tiba sekali?""Kau kan tahu sendiri, Emily, satu kasus di pengadilan akan butuh waktu yang sangat lama untuk diselesaikan," jelas Nicholas. Jemarinya terus membelai punggung istrinya dengan gerakan yang menenangkan. "Bisa berbulan-bulan untuk tahap investigasi dan persidangan, bahkan bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun untuk mencapai putusan akhir dari hakim.""Tapi selama ini kau selalu menikmatinya, kan?"“Ya, tapi selain mengurus firma, kau tahu sendiri aku juga harus ikut dalam urusan bisnis keluargaku. Jadwalku sudah terlalu padat."Nicholas terdiam sejenak, seolah tengah memperhitungkan berapa banyak waktu yang harus ia luangkan untuk Emily dan anak mereka kelak.“Kalau aku mulai mengurangi kasus yang kutangani dari sekarang..." Nicholas menunduk, mencium kening Emily dalam-dalam. "...aku bisa punya lebih banyak waktu untukmu dan anak k

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 312

    Nicholas menatap Emily dan lembar hasil USG di tangannya secara bergantian dengan gerakan lambat. Matanya mengerjap beberapa kali, seolah pikirannya masih tak mampu memproses apa yang baru saja ia lihat dan dengar."Emily, kau... kau tidak sedang bercanda denganku, kan?" tanya Nicholas, suaranya terdengar bergetar pelan.Emily dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang begitu rapuh dari reaksi suaminya saat ini. Mata kelam Nicholas memancarkan ketidakpercayaan yang diwarnai oleh harapan yang teramat besar."Apa aku terlihat seperti sedang bercanda saat ini?" jawab Emily dengan tawa kecil."Aku hanya... aku tidak tahu harus berkata apa. Ini… Ya tuhan, Emily..."Emily menatap suaminya, seolah menunggu suaminya itu melanjutkan perkataannya sebelum akhirnya bertanya pelan."Apa kau tidak merasa senang dengan berita ini, Nicholas?" tanya Emily ragu."Senang? Kata 'senang' bahkan tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan sekarang, Emily."Senyum Emily kembali mereka di w

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 4

    Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat keda

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 3

    Gerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 1

    Saat Emily masuk ke dalam ruang kerja suaminya sore itu, ia menemukan pria itu sedang bercumbu dengan wanita lain.Nicholas tengah mendekap Olivia di pelukannya, napas mereka beradu, kemejanya tampak kusut.Melihat Emily masuk secara tiba-tiba, mereka menegang. Keduanya memundurkan tubuhnya selangk

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 68

    "Tidak, Ibu. Aku kan sudah bilang aku tidak berbohong."Emily baru terbangun ketika ia mendengar suara Nicholas setengah berbisik, jelas berusaha keras agar tidak membangunkannya.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status