LOGINEmily panik saat melihat halte bus tempat persinggahannya itu menjauh dari pandangan.
"Pak, aku bilang turunkan aku di sini!" Emily mulai menaikkan nada bicaranya pada supir yang kini terlihat kebingungan menatap dari kaca spion, ragu harus mematuhi perintah siapa.
"Turunkan kami di lobby," potong Nicholas, suaranya tak menyisakan sedikit pun ruang untuk bantahan.
"Apa? Apa kau gila?!" Emily menoleh cepat, menatap Nicholas dengan mata membelalak tak percaya.
"Gila?" Nicholas mengangkat sebelah alisnya. "Kau yang sejak semalam terus merengek dan bertingkah seolah aku menganiayamu dengan menyembunyikan pernikahan kita. Sekarang aku mengabulkan keinginanmu untuk mempublikasikan pernikahan ini, dan kau menyebutku gila?"
"Aku tidak pernah mengeluh apalagi meminta mempublikasikannya!" desis Emily tertahan, berusaha menjaga suaranya. "Ini kesepakatanmu, Nicholas! Kau sendiri yang bilang tidak ingin kehidupan pribadimu mengganggu profesionalitas di tempat kerja!"
"Kesepakatan bisa diubah kapan saja." Nicholas sepenuhnya mengabaikan kepanikan Emily, memerintah dingin. "Tetap jalan."
Emily meremas tali tasnya dengan kuat, pikirannya berpacu tak karuan. Jika mereka turun bersama di lobi utama dari mobil yang sama, gosip di kantor akan langsung meledak dalam hitungan detik.
Semua rencananya untuk bercerai secara damai, menghindari nasib tragis, dan menghilang dari kehidupan pria ini akan hancur berantakan!
Terlebih lagi, kehadiran mereka pasti akan memicu kecemburuan Olivia. Emily sama sekali tidak ingin berurusan dengan takdir sang tokoh utama wanita.
"Nicholas, dengarkan aku," Emily menurunkan egonya sedikit, mencoba bernegosiasi dengan nada yang lebih pelan. "Apa yang akan orang-orang katakan nanti? Apa yang akan Olivia pikirkan jika melihat kita datang bersama dari mobilmu?"
Mendengar nama Olivia kembali disebut, rahang Nicholas menegang.
"Kau memang sangat peduli pada rumor dan apa yang dipikirkan orang lain, ya? Apa pendapat Olivia begitu penting bagimu?" Nicholas dengan nada rendah, satu alisnya terangkat. "Bagaimana kalau kita sekalian melihat reaksi wanita itu?"
Emily menegang di tempat.
Mobil mewah itu berbelok mulus memasuki area pelataran gedung firma hukum raksasa tempat mereka bekerja, dan perlahan berhenti tepat di depan pintu masuk utama.
Suasana pagi ini sedang sibuk-sibuknya. Puluhan karyawan berlalu lalang, dan beberapa dari mereka langsung menghentikan langkah, mencuri pandang ke arah mobil CEO mereka yang baru saja tiba.
Seorang petugas keamanan bergegas mendekat, berdiri dengan sikap sempurna bersiap untuk membukakan pintu.
Nicholas menoleh perlahan, menatap istrinya yang kini mematung kaku dengan wajah memucat. Pria itu merapikan kerah jasnya dengan gerakan santai, menikmati ketakutan yang terpancar dari mata Emily.
"Turun," ucap Nicholas dingin.
Melihat lobby yang begitu ramai oleh tatapan mata penasaran yang menembus kaca mobil, Emily merasa bulu kuduknya meremang.
"Nicholas... kumohon..." Suara Emily terdengar bergetar, nyaris seperti sebuah cicitan putus asa. Matanya memancarkan kepanikan membayangkan puluhan pasang mata karyawan melihat mereka keluar dari mobil yang sama.
Tak sanggup menatap wajah suaminya, Emily hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Tangannya meremas tali tas kerjanya dengan kuat, bersiap menghadapi skenario terburuk.
Hening.
Untuk beberapa detik yang terasa menyiksa, tidak ada jawaban yang terdengar. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, ketegangan seolah bisa diiris dengan pisau.
Emily sudah memejamkan mata, bersiap jika Nicholas membentaknya atau bahkan memaksanya keluar saat itu juga.
Namun, yang memecah kesunyian justru sebuah perintah singkat pada supir yang masih terlihat salah tingkah.
"Ke basement."
Sang supir yang sejak tadi ikut menahan napas langsung merespons dengan sigap. Perlahan, mobil mewah itu kembali melaju, meninggalkan antrean di area lobi utama yang ramai dan berbelok menuruni jalur curam menuju area parkir bawah tanah yang tertutup.
Tepat saat mobil memasuki area basement yang remang dan sepi, Emily menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.
Rasa lega yang luar biasa langsung membanjiri dadanya yang semula sesak. Seluruh otot tubuhnya yang menegang perlahan mengendur seiring dengan berhentinya laju mobil.
Ia berhasil menghindarinya. Setidaknya, untuk hari ini, rencananya untuk tetap menjadi sosok bayangan yang tidak terlihat di kantor masih aman.
Begitu mobil berhenti dengan sempurna di slot parkir VIP, Emily bahkan tidak repot-repot menoleh atau berbasa-basi.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, wanita itu buru-buru membuka pintu mobil dan setengah berlari keluar. Suara ketukan hak sepatunya menggema di area parkir beton yang sepi, melangkah tergesa-gesa menuju deretan lift karyawan.
Ia hanya ingin segera pergi dari sana. Menjauh dari aura Nicholas yang mencekik dan dari segala potensi masalah yang bisa menghancurkan rencana hidup tenangnya.
Namun, belum jauh ia berjalan meninggalkan area parkir VIP itu, sebuah suara memanggilnya dari arah belakang.
"Emily?"
Langkah Emily terhenti mendadak. Darahnya seakan berdesir dingin saat mendengar nada suara lembut yang sangat familiar itu.
Ia memutar tubuhnya perlahan. Di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok cantik itu menatapnya dengan raut wajah sedikit terkejut, namun tetap mempertahankan senyum ramahnya yang khas.
Itu adalah Olivia.
Suasana di dalam ruang kerja CEO itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota di balik jendela kaca.Daniel duduk bersandar di kursi kebesarannya. Sebelah tangannya memegang sebuah dokumen, sementara tangannya yang lain melingkar protektif menahan tubuh mungil seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang tengah duduk di pangkuannya.Anak laki-laki itu tampak sangat mengantuk. Mata bulatnya sesekali mengerjap lambat, sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya yang berambut ikal ke dada bidang Daniel, mencari kehangatan."Kau mengantuk, hm, Jagoan?" bisik Daniel dengan suara yang sangat pelan dan lembut, meletakkan dokumennya ke atas meja.Ia menepuk-nepuk pelan punggung putranya. Anak laki-laki itu hanya menggumam pelan, merespons dengan mengeratkan pegangan tangan mungilnya pada kemeja Daniel.Cklek.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mark melangkah masuk dengan santai, menenteng sebuah map hitam tebal. Melihat sahabatnya sedang menidurkan anak, Mark langsung menurunkan v
Pesta pernikahan Diana dan Chris akhirnya perlahan mulai memasuki penghujung acara. Setelah memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, Emily memutuskan untuk kembali ke presidential suite hotel yang telah mereka sewa.Satu jam yang lalu, Nicholas memang terpaksa pamit lebih dulu dan membawa Selena kembali ke kamar. Putri kecil mereka yang kini sudah menginjak usia dua tahun itu mulai merasa bosan dan rewel. Melihat itu, Nicholas langsung menggendong Selena keluar dari ballroom.Cklek.Emily membuka pintu kamar hotel dengan pelan, berniat tidak menimbulkan suara bising jika putrinya sudah tertidur. Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah suite tersebut, rentetan protes langsung menyambutnya."Selena, itu mata Daddy. Daddy tidak bisa melihat kalau kau menutupnya dengan dinosaurus hijau itu.""Nda! Cini! Di mata Dadi! Aummm!""Tapi kau menempelkannya di alisku, Sayang. Bukannya kau bilang mau menempelkannya di pipi?""Diem, Dadi!"Emily menutup mulutnya dengan kedua tangan, menah
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tulus itu, dada Nicholas bergemuruh hebat. Rasa cinta yang membuncah membuatnya nyaris tak bisa berkata-kata. Ia menundukkan wajahnya, mengecup dahi Emily dengan sangat dalam dan lama."Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Emily," bisiknya parau. "Aku berjanji, aku akan selalu memastikan kau dan Selena tidak akan pernah merasa sendirian atau terbebani."Namun, momen romantis yang tenang itu mendadak terhenti.Selena yang masih berada dalam dekapan Emily tiba-tiba menangis kecil. Tangannya yang mungil mengepal dan menggeliat protes, melepaskan isapannya seolah menyadari bahwa kedua orang tuanya tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri.Nicholas sontak tertawa pelan, ia mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut kepala mungil putrinya."Hei, hei, jangan marah. Mommy dan Daddy tidak melupakanmu, Tuan Putri," goda Nicholas pada Selena yang masih menatap mereka dengan mata berair. "Tentu saja kau juga yang terbaik. Kau t
Emily berdiri dalam diam di ambang pintu, menahan napasnya agar tidak merusak momen berharga di hadapannya. Ia hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sebagian, membiarkan matanya merekam setiap detail dari pemandangan yang menghangatkan hatinya itu.Nicholas, pria yang selalu terlihat kaku dan tak tersentuh oleh siapa pun di luar sana, kini mengayunkan tubuhnya dengan ritme yang sangat lambat dan lembut. Tangannya yang besar menopang tubuh mungil Selena, putri mereka, dengan penuh kasih sayang."Ssst... putri Daddy sudah bangun, hm?" bisik Nicholas. "Kenapa matamu terbuka lebar sekali di jam segini, Selena? Kau tidak mengantuk?"Selena kecil hanya menggeliat di dalam gendongannya, mengeluarkan suara gumaman pelan, "Nghhh...""Iya, Daddy tahu. Kau pasti bosan, kan?" Nicholas terkekeh pelan, menunduk untuk mengecup ujung hidung putrinya. "Tapi sekarang masih terlalu malam untuk bermain. Kau harus memejamkan mata lagi."Bibir mungil Selena mulai melengkung ke bawah. Wajahnya mem
Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, berganti dengan bayangan buram langit-langit ruangan yang putih bersih. Bau khas obat-obatan dan antiseptik kembali memenuhi indera penciuman Emily. Suara mesin pemantau detak jantung terdengar berbunyi dengan ritme yang teratur di samping telinganya."Emily... Emily, kumohon, buka matamu."Sebuah suara bariton yang serak dan bergetar hebat memanggil namanya berulang kali.Kelopak mata Emily terasa sangat berat, namun ia memaksa dirinya untuk merespons suara itu. Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai fokus. Hal pertama yang langsung menyita seluruh pandangannya adalah wajah Nicholas yang berada begitu dekat dengannya.Pria itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan ketegasan, arogansi, dan aura sedingin es, kini terlihat sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, rambutnya berantakan, dan jejak air mata terlihat sangat jelas membasahi pipi pria itu. Tangan besarnya menggenggam erat t
"Apa... apa yang kau mau?!" seru Emily dengan suara bergetar. Emily yang asli menatapnya dengan senyuman yang begitu teduh. "Kau tidak perlu takut padaku, Emily.""Bagaimana aku tidak takut?!" teriak Emily, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Kepanikan yang luar biasa mencekik lehernya. "Kau adalah pemilik asli tubuh ini! Apa kau datang untuk menyingkirkanku sekarang?!"Emily yang asli hanya terdiam, menatap dengan sorot mata yang penuh pengertian."Aku mohon padamu..." tangis Emily akhirnya pecah. Ia meremas gaunnya sendiri dengan putus asa, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris bersimpuh di lantai. "Apakah setelah aku akhirnya benar-benar mencintai Nicholas... setelah aku berjuang melahirkan anak kami, sekarang aku akan disingkirkan dari sini?"Emily terisak hebat, ketakutan terbesarnya selama ini akhirnya menjadi kenyataan."Kau akan membuang jiwaku kembali ke duniaku dan mengambil alih hidup bahagia ini saat semuanya sudah membaik, kan?" lanjut Emily dengan suara se
Gerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas
Untuk beberapa detik, Nicholas hanya menatapnya. Lalu, perlahan sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang nyaris mengejek."Sejak kapan kamu mulai memakai cara murahan seperti ini untuk mencari perhatian?" Tatapannya menelusuri wajah Emily dengan penuh tekanan, seolah seda
Saat Emily masuk ke dalam ruang kerja suaminya sore itu, ia menemukan pria itu sedang bercumbu dengan wanita lain.Nicholas tengah mendekap Olivia di pelukannya, napas mereka beradu, kemejanya tampak kusut.Melihat Emily masuk secara tiba-tiba, mereka menegang. Keduanya memundurkan tubuhnya selangk
Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan."Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak bebe







