Share

BAB 5

Penulis: Rainina
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 19:31:26

Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan.

"Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Emily.

Emily tidak menjawab. Ia hanya membuang mukanya ke arah gorden yang tertutup rapat. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Nicholas harus semarah ini. 

Bukankah ia sudah melihat Emily memergokinya di ruangannya dengan Olivia? Di dalam novel pun, pria ini jelas-jelas menaruh hati pada Olivia. Kenapa dia bertingkah seolah Emily baru saja menjatuhkan harga dirinya?

Melihat Emily yang memalingkan wajah, Nicholas melepaskan tawa sinis.

"Lalu rumor yang kau katakan itu, apa rumor itu secara gamblang menyebutkan aku memiliki hubungan khusus dengan Olivia?" Nicholas tersenyum miring, menatap istrinya dengan tatapan meremehkan. 

"Kau bahkan memilih untuk mendengar perkataan orang lain? Padahal kau bisa bertanya langsung padaku, tapi kau justru memilih untuk langsung menuduhku sebagai orang yang seperti itu."

Mendengar rentetan kalimat menyudutkan itu, Emily perlahan menoleh. Ia menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan sorot yang tak kalah tajam.

"Lalu, apa bedanya aku denganmu?"

Nicholas mengernyit. "...Apa?"

"Apa bedanya aku denganmu, Nicholas?" ulang Emily. "Saat aku bilang aku butuh pengacara tadi sore, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak bertanya apa masalahku. 

“Kamu langsung menuduhku melakukan sesuatu yang buruk di luar sana sampai-sampai aku harus diseret ke meja hijau. Kamu menuduhku terlebih dahulu tanpa repot-repot mendengarkan penjelasanku."

Raut wajah Nicholas seketika menegang. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun kata yang keluar. Telak, pria itu baru saja dijebak oleh argumennya sendiri.

Suasana di atas ranjang itu berubah menjadi medan perang dingin. Mereka saling bertatapan dalam keheningan yang mencekik selama beberapa saat, sebelum akhirnya Nicholas melepaskan cengkeramannya dari lengan Emily dengan kasar. 

Alih-alih langsung berbaring dan memejamkan mata, Emily membiarkan keheningan menguasai ruangan itu selama beberapa menit. Ia memijat pelan lengannya yang memerah, lalu menghela napas pelan.

Tinggal di satu ruangan yang sama, terlebih di atas satu ranjang bersama Nicholas hanya akan terus memancing perdebatan yang menguras energi. Menjauh dari pria ini adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Emily perlahan menyingkap selimutnya dan beringsut mundur, bersiap turun dari sisi tempat tidurnya.

"Mau ke mana?"

Emily menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh perlahan, menatap siluet suaminya di dalam keremangan kamar. "Aku akan pindah. Sepertinya kamar tamu di sebelah kosong."

Kalimat datar itu seketika membuat suhu di sekitar Nicholas kembali memanas. Rahang pria itu mengeras sempurna. 

Dihindari dan secara tidak langsung ditolak oleh wanita yang selama ini selalu memohon perhatiannya pasti terasa seperti sebuah penghinaan terang-terangan bagi pria itu.

Sebelum kaki Emily sempat menyentuh lantai, Nicholas sudah lebih dulu menyentak selimutnya dengan kasar. Pria itu bangkit berdiri dari ranjang dan tanpa menatap Emily sedikit pun, Nicholas menyambar bantalnya dari atas kasur.

Emily hanya diam, mematung di sisi ranjang sambil menatap punggung pria itu yang melangkah lebar meninggalkan ruangan.

Brak!

Pintu kayu itu dibanting dengan sangat keras, menggema di lorong lantai dua yang sunyi. Nicholas pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Benar-benar, pikir Emily.

Apa sulitnya mengakui perasaannya pada Olivia? Padahal Emily sudah mengetahui segalanya dari alur novel aslinya. 

Namun, setelah dipikir-pikir lagi, bukankah ego laki-laki memang seperti itu? Terutama laki-laki arogan seperti Nicholas. Ia tidak akan pernah mau mengakui secara terang-terangan kalau dirinya berselingkuh atau terpikat pada wanita lain selama statusnya masih terikat pernikahan.

=

Keesokan paginya, rutinitas seperti biasa kembali berjalan. Biasanya, Emily dan Nicholas akan berangkat kerja menggunakan mobil yang berbeda untuk menghindari kecurigaan di kantor.

Namun pagi ini, Nyonya Spencer tiba-tiba mengintervensi.

"Lagipula kenapa kalian harus berangkat terpisah? Rumah dan kantor kalian kan sama?”

Mendengar perkataan ibunya, Nicholas hanya bisa menghela napas pelan. Meski ekspresinya masih sedingin es, pria itu akhirnya mengiyakan dan berjalan lebih dulu keluar rumah menuju mobilnya yang sudah disiapkan supir.

Melihat putranya sudah menjauh, Nyonya Spencer segera menahan lengan Emily sebelum wanita itu menyusul. Ia menatap menantunya dengan raut wajah khawatir.

"Emily, apa kalian sedang bertengkar?" tanyanya lembut. "Ibu perhatikan sejak semalam suasana di antara kalian sangat canggung."

Emily tersenyum menenangkan. "Tidak, Ibu. Kami tidak bertengkar. Semuanya baik-baik saja, mungkin Nicholas hanya sedang lelah dengan urusan pekerjaannya."

Nyonya Spencer mengusap lengan Emily dengan lembut. "Syukurlah kalau begitu. Oh ya, soal obrolan kita semalam... jangan jadikan ucapanku soal cucu sebagai beban untukmu. 

“Kalau itu memang membebanimu, lupakan saja. Bagi Ibu, yang terpenting adalah melihat pernikahan kalian bahagia. Itu sudah lebih dari cukup."

Senyum di bibir Emily sedikit menegang, namun ia segera mengangguk patuh. Karena di dalam hatinya, Emily tahu bahwa Nicholas akan bahagia dengan wanita yang memang ditakdirkan untuk pria itu.

Setelah berpamitan, Emily bergegas menyusul masuk ke dalam mobil. Walau berat, ia harus melakukan ini untuk menenangkan hati ibu mertuanya.

Perjalanan menuju pusat kota dihiasi oleh keheningan yang pekat. Nicholas sibuk dengan tabletnya, sementara Emily menatap jalanan dari balik kaca jendela.

Ketika gedung firma hukum mereka sudah mulai terlihat dari kejauhan, Emily mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Tolong turunkan aku di persimpangan depan," ucap Emily pada supir mereka. Itu akan menjadi titik rahasianya hari ini, sebuah halte bus yang berjarak satu blok dari kantor mereka.

Mendengar itu, Nicholas menyela tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

"Tidak usah. Cuaca sedang mendung, mobil ini bisa langsung mengantarmu ke basement," ucap Nicholas.

Emily mengernyit, menoleh ke arah Nicholas dengan bingung. "Orang-orang bisa melihat kita, Nicholas."

Nicholas mendengus sinis, melirik Emily seolah ucapannya barusan terdengar bodoh. "Kau bersikeras sekali menutupi hubungan kita di kantor?"

Emily menoleh perlahan, menatap suaminya dengan kening berkerut.

"Aku? Bukannya menyembunyikan pernikahan ini adalah permintaanmu sendiri sejak awal aku mulai bekerja di sana?"

Nicholas tertegun. Ingatan tentang awal pernikahan mereka kembali menghantamnya, saat dimana ia meminta Emily untuk bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal jika berada di lingkungan kerja atas nama profesionalitas.

"Lalu apa maumu sekarang?" Wajah Nicholas menggelap tiba-tiba, suaranya terdengar menantang.

"Apa mempublikasikan pernikahan kita akan membuatmu merasa lebih baik dan berhenti merengek soal perceraian? Kalau begitu, kita bongkar saja semuanya. Biarkan seluruh orang di kantor tahu siapa kau sebenarnya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
Bener2 cwok Egois Nicholas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   EXTRA

    Suasana di dalam ruang kerja CEO itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota di balik jendela kaca.Daniel duduk bersandar di kursi kebesarannya. Sebelah tangannya memegang sebuah dokumen, sementara tangannya yang lain melingkar protektif menahan tubuh mungil seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang tengah duduk di pangkuannya.Anak laki-laki itu tampak sangat mengantuk. Mata bulatnya sesekali mengerjap lambat, sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya yang berambut ikal ke dada bidang Daniel, mencari kehangatan."Kau mengantuk, hm, Jagoan?" bisik Daniel dengan suara yang sangat pelan dan lembut, meletakkan dokumennya ke atas meja.Ia menepuk-nepuk pelan punggung putranya. Anak laki-laki itu hanya menggumam pelan, merespons dengan mengeratkan pegangan tangan mungilnya pada kemeja Daniel.Cklek.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mark melangkah masuk dengan santai, menenteng sebuah map hitam tebal. Melihat sahabatnya sedang menidurkan anak, Mark langsung menurunkan v

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 326 (TAMAT)

    Pesta pernikahan Diana dan Chris akhirnya perlahan mulai memasuki penghujung acara. Setelah memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, Emily memutuskan untuk kembali ke presidential suite hotel yang telah mereka sewa.Satu jam yang lalu, Nicholas memang terpaksa pamit lebih dulu dan membawa Selena kembali ke kamar. Putri kecil mereka yang kini sudah menginjak usia dua tahun itu mulai merasa bosan dan rewel. Melihat itu, Nicholas langsung menggendong Selena keluar dari ballroom.Cklek.Emily membuka pintu kamar hotel dengan pelan, berniat tidak menimbulkan suara bising jika putrinya sudah tertidur. Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah suite tersebut, rentetan protes langsung menyambutnya."Selena, itu mata Daddy. Daddy tidak bisa melihat kalau kau menutupnya dengan dinosaurus hijau itu.""Nda! Cini! Di mata Dadi! Aummm!""Tapi kau menempelkannya di alisku, Sayang. Bukannya kau bilang mau menempelkannya di pipi?""Diem, Dadi!"Emily menutup mulutnya dengan kedua tangan, menah

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 325

    Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tulus itu, dada Nicholas bergemuruh hebat. Rasa cinta yang membuncah membuatnya nyaris tak bisa berkata-kata. Ia menundukkan wajahnya, mengecup dahi Emily dengan sangat dalam dan lama."Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Emily," bisiknya parau. "Aku berjanji, aku akan selalu memastikan kau dan Selena tidak akan pernah merasa sendirian atau terbebani."Namun, momen romantis yang tenang itu mendadak terhenti.Selena yang masih berada dalam dekapan Emily tiba-tiba menangis kecil. Tangannya yang mungil mengepal dan menggeliat protes, melepaskan isapannya seolah menyadari bahwa kedua orang tuanya tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri.Nicholas sontak tertawa pelan, ia mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut kepala mungil putrinya."Hei, hei, jangan marah. Mommy dan Daddy tidak melupakanmu, Tuan Putri," goda Nicholas pada Selena yang masih menatap mereka dengan mata berair. "Tentu saja kau juga yang terbaik. Kau t

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 324

    Emily berdiri dalam diam di ambang pintu, menahan napasnya agar tidak merusak momen berharga di hadapannya. Ia hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sebagian, membiarkan matanya merekam setiap detail dari pemandangan yang menghangatkan hatinya itu.Nicholas, pria yang selalu terlihat kaku dan tak tersentuh oleh siapa pun di luar sana, kini mengayunkan tubuhnya dengan ritme yang sangat lambat dan lembut. Tangannya yang besar menopang tubuh mungil Selena, putri mereka, dengan penuh kasih sayang."Ssst... putri Daddy sudah bangun, hm?" bisik Nicholas. "Kenapa matamu terbuka lebar sekali di jam segini, Selena? Kau tidak mengantuk?"Selena kecil hanya menggeliat di dalam gendongannya, mengeluarkan suara gumaman pelan, "Nghhh...""Iya, Daddy tahu. Kau pasti bosan, kan?" Nicholas terkekeh pelan, menunduk untuk mengecup ujung hidung putrinya. "Tapi sekarang masih terlalu malam untuk bermain. Kau harus memejamkan mata lagi."Bibir mungil Selena mulai melengkung ke bawah. Wajahnya mem

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 323

    Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, berganti dengan bayangan buram langit-langit ruangan yang putih bersih. Bau khas obat-obatan dan antiseptik kembali memenuhi indera penciuman Emily. Suara mesin pemantau detak jantung terdengar berbunyi dengan ritme yang teratur di samping telinganya."Emily... Emily, kumohon, buka matamu."Sebuah suara bariton yang serak dan bergetar hebat memanggil namanya berulang kali.Kelopak mata Emily terasa sangat berat, namun ia memaksa dirinya untuk merespons suara itu. Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai fokus. Hal pertama yang langsung menyita seluruh pandangannya adalah wajah Nicholas yang berada begitu dekat dengannya.Pria itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan ketegasan, arogansi, dan aura sedingin es, kini terlihat sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, rambutnya berantakan, dan jejak air mata terlihat sangat jelas membasahi pipi pria itu. Tangan besarnya menggenggam erat t

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 322

    "Apa... apa yang kau mau?!" seru Emily dengan suara bergetar. Emily yang asli menatapnya dengan senyuman yang begitu teduh. "Kau tidak perlu takut padaku, Emily.""Bagaimana aku tidak takut?!" teriak Emily, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Kepanikan yang luar biasa mencekik lehernya. "Kau adalah pemilik asli tubuh ini! Apa kau datang untuk menyingkirkanku sekarang?!"Emily yang asli hanya terdiam, menatap dengan sorot mata yang penuh pengertian."Aku mohon padamu..." tangis Emily akhirnya pecah. Ia meremas gaunnya sendiri dengan putus asa, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris bersimpuh di lantai. "Apakah setelah aku akhirnya benar-benar mencintai Nicholas... setelah aku berjuang melahirkan anak kami, sekarang aku akan disingkirkan dari sini?"Emily terisak hebat, ketakutan terbesarnya selama ini akhirnya menjadi kenyataan."Kau akan membuang jiwaku kembali ke duniaku dan mengambil alih hidup bahagia ini saat semuanya sudah membaik, kan?" lanjut Emily dengan suara se

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 6

    Emily panik saat melihat halte bus tempat persinggahannya itu menjauh dari pandangan."Pak, aku bilang turunkan aku di sini!" Emily mulai menaikkan nada bicaranya pada supir yang kini terlihat kebingungan menatap dari kaca spion, ragu harus mematuhi perintah siapa."Turunkan kami di lobby," potong

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 2

    Untuk beberapa detik, Nicholas hanya menatapnya. Lalu, perlahan sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang nyaris mengejek."Sejak kapan kamu mulai memakai cara murahan seperti ini untuk mencari perhatian?" Tatapannya menelusuri wajah Emily dengan penuh tekanan, seolah seda

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 4

    Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat keda

  • Tuan Pengacara, Istrimu Menggugat Cerai   BAB 3

    Gerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status