MasukGerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?
Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas senyuman wanita itu dengan perasaan bersalah yang tipis.
"Soal itu..." Emily meletakkan pisaunya perlahan. "Ibu tenang saja, suatu saat rumah itu pasti akan diisi suara anak kecil."
Walau itu bukan anakku.
=
Aroma makanan yang menggugah selera memenuhi ruang makan utama kediaman keluarga Spencer.
Lampu gantung kristal di atas meja makan panjang itu memancarkan cahaya keemasan yang mewah, memantul pada deretan piring porselen dan peralatan makan berbahan perak yang tertata rapi.
Seluruh anggota keluarga telah mengambil tempat duduk mereka masing-masing. Tuan Spencer duduk di kursi utama dengan wajah datar, sementara Nyonya Spencer duduk di sisi kanannya.
Di seberang meja, Bibi Sarah dan Clara sudah bersiap dengan serbet di pangkuan mereka. Hanya satu kursi yang masih kosong, milik Nicholas yang kembali keluar menuju lorong belakang karena sebuah panggilan telepon mendesak dari asistennya.
Emily menarik kursi di sebelah tempat duduk suaminya dengan gerakan tenang. Begitu ia duduk, suasana di meja makan itu mendadak hening.
Ada sebuah rutinitas tak tertulis di rumah ini. Dulu, setiap kali waktu makan malam tiba, Emily yang asli tidak akan langsung duduk manis.
Ia akan berdiri dengan postur menunduk, nyaris seperti seorang asisten rumah tangga yang patuh, lalu dengan sigap mengambilkan makanan dan mengisikannya ke piring Tuan Spencer, Bibi Sarah, Clara, dan tentu saja, Nicholas.
Ia akan melayani mereka semua terlebih dahulu dengan harapan mendapat seulas senyum persetujuan, sebelum akhirnya melayani dirinya sendiri dengan sisa makanan yang ada.
Namun malam ini, Emily tidak melakukan hal itu.
Wanita itu hanya meraih piring Nyonya Spencer, memilih makanan kesukaan mertuanya itu, lalu dengan senyum tulus meletakkannya di hadapan Nyonya Spencer.
"Silahkan, Ibu. Coba dagingnya, ini sangat lembut," ucap Emily pelan.
Senyum bahagia segera merekah di wajah keibuan Nyonya Spencer. "Terima kasih, Sayang."
Setelah itu, Emily kembali menarik makanan untuk dirinya sendiri, mengambil makanan secukupnya, meletakkan serbet di pangkuannya, dan mulai menyantap hidangan.
Gerakannya begitu santai, seolah-olah ia sama sekali tidak menyadari tatapan-tatapan tajam yang kini terarah padanya.
"Ehem," Clara berdehem keras, menyilangkan lengan di depan dada. Gadis muda itu menatap piringnya yang masih bersih mengkilap, lalu menatap Emily dengan raut wajah tidak percaya. "Apa kau lupa sesuatu, Kakak Ipar?"
Emily mengunyah makanannya perlahan, menelannya, lalu menoleh menatap Clara dengan wajah polos. "Lupa? Apa ada sesuatu yang kurang?"
Wajah Clara memerah karena kesal. "Piringku masih kosong! Kau tidak lihat?! Tugasmu melayani dan mengambilkan kami makanan!"
Emily meletakkan garpunya dengan tenang. Matanya menatap datar pada adik iparnya yang terbiasa dimanjakan itu. Tanpa ada nada tinggi atau rasa bersalah sedikit pun, Emily menjawab.
"Clara, usiamu sudah dua puluh dua tahun, bukan? Tanganmu juga masih berfungsi dengan sangat baik. Suatu hari nanti kau juga akan menjadi seorang istri dan nyonya di rumahmu sendiri," jawab Emily tenang.
Itu adalah pertama kalinya Emily menjawab Clara tanpa merendahkan dirinya. Bahkan, Clara yang manja pun nyaris kehabisan kata-kata.
"Apa katamu?"
"Sebaiknya kau mulai belajar untuk mandiri, setidaknya dimulai dari hal kecil seperti mengambil makananmu sendiri. Lagipula, di sini banyak pelayan jika kau memang tidak mampu mengangkat sendokmu. Aku ini kakak iparmu, bukan pelayan keluarga Spencer," lanjut Emily.
Prang!
Bibi Sarah meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas piring, menciptakan suara benturan nyaring yang membuat Nyonya Spencer terlonjak kaget.
Tuan Spencer hanya melirik sekilas dari balik kacamata bacanya, tidak berniat ikut campur, seperti biasa.
"Jaga bicaramu, Emily!" tegur Bibi Sarah dengan mata menyalang, merasa harga diri keponakan kesayangannya baru saja diinjak-injak.
"Berani sekali kau menggurui Clara?! Asal kau tahu, Clara adalah putri kandung keluarga ini! Statusnya jauh lebih tinggi darimu. Dia lulusan terbaik dari universitas bergengsi!"
Bibi Sarah mendengus sinis, menatap Emily dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Sedangkan kau? Apa yang bisa kau banggakan? Kau pikir kami tidak tahu bagaimana kau bisa mendapatkan posisimu di kantor?
“Kau bisa duduk manis di sana hanya karena embel-embelmu sebagai istri seorang Nicholas Spencer! Tanpa nama keluarga kami, kau bukan siapa-siapa di industri itu!"
Mendengar cercaan itu, Nyonya Spencer mencoba menengahi. "Sarah, sudah cukup. Emily tidak bermaksud…"
"Tidak apa-apa, Ibu," sela Emily lembut, menahan tangan ibu mertuanya dengan senyum menenangkan.
Emily kemudian memutar tubuhnya menghadap Bibi Sarah. Alih-alih menciut atau menangis seperti yang diharapkan wanita paruh baya itu, Emily justru tersenyum tenang.
"Bibi Sarah," panggil Emily dengan nada yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihina habis-habisan.
"Jika pendidikan tinggi yang Bibi banggakan itu hanya menghasilkan seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara mengambil makanannya sendiri dari atas meja... jujur saja, aku sangat meragukan kredibilitas universitas tersebut."
Wajah Clara seketika memucat karena malu dan marah, sementara Bibi Sarah terbelalak tak percaya.
"Lalu, soal posisiku di firma hukum," lanjut Emily. Matanya kini menajam, menatap langsung ke dalam mata Bibi Sarah.
“Aku memang istri Nicholas, tapi aku mengerjakan pekerjaanku dengan profesional. Aku bekerja keras. Bukankah jauh lebih memalukan bagi seseorang yang hanya bisa menumpang hidup dan ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain sambil duduk di pinggir meja makan?"
Kalimat terakhir itu tepat sasaran. Bibi Sarah memang selama ini menumpang di kediaman utama keluarga Spencer setelah suaminya bangkrut dan meninggal dunia.
Wajah Bibi Sarah berubah merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Urat di lehernya menonjol saat ia menunjuk tepat ke wajah Emily dengan jari telunjuk yang gemetar.
"K-Kau... berani sekali kau berbicara seperti itu padaku?!" teriak Bibi Sarah.
Clara mendengus kasar, ikut menimpali. "Kau melakukan ini semua hanya karena kau tidak mau menghidangkan makanan kami?! Dasar putri keluarga penjilat yang tidak tahu diri!"
Tepat pada detik ketika kata-kata kasar itu menggema memenuhi ruang makan yang tegang, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar memasuki ruangan.
Suhu di ruang makan itu seolah turun belasan derajat dalam sekejap mata.
Sosok jangkung Nicholas berdiri di ambang pintu, menatap dingin ke arah meja makan dengan aura mengintimidasi yang sangat pekat.
Matanya yang tajam menatap lurus ke arah bibinya yang masih mengacungkan jari. "Siapa yang menjilat siapa?"
Suasana di dalam ruang kerja CEO itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk pusat kota di balik jendela kaca.Daniel duduk bersandar di kursi kebesarannya. Sebelah tangannya memegang sebuah dokumen, sementara tangannya yang lain melingkar protektif menahan tubuh mungil seorang anak laki-laki berusia dua tahun yang tengah duduk di pangkuannya.Anak laki-laki itu tampak sangat mengantuk. Mata bulatnya sesekali mengerjap lambat, sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya yang berambut ikal ke dada bidang Daniel, mencari kehangatan."Kau mengantuk, hm, Jagoan?" bisik Daniel dengan suara yang sangat pelan dan lembut, meletakkan dokumennya ke atas meja.Ia menepuk-nepuk pelan punggung putranya. Anak laki-laki itu hanya menggumam pelan, merespons dengan mengeratkan pegangan tangan mungilnya pada kemeja Daniel.Cklek.Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mark melangkah masuk dengan santai, menenteng sebuah map hitam tebal. Melihat sahabatnya sedang menidurkan anak, Mark langsung menurunkan v
Pesta pernikahan Diana dan Chris akhirnya perlahan mulai memasuki penghujung acara. Setelah memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, Emily memutuskan untuk kembali ke presidential suite hotel yang telah mereka sewa.Satu jam yang lalu, Nicholas memang terpaksa pamit lebih dulu dan membawa Selena kembali ke kamar. Putri kecil mereka yang kini sudah menginjak usia dua tahun itu mulai merasa bosan dan rewel. Melihat itu, Nicholas langsung menggendong Selena keluar dari ballroom.Cklek.Emily membuka pintu kamar hotel dengan pelan, berniat tidak menimbulkan suara bising jika putrinya sudah tertidur. Namun, begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah suite tersebut, rentetan protes langsung menyambutnya."Selena, itu mata Daddy. Daddy tidak bisa melihat kalau kau menutupnya dengan dinosaurus hijau itu.""Nda! Cini! Di mata Dadi! Aummm!""Tapi kau menempelkannya di alisku, Sayang. Bukannya kau bilang mau menempelkannya di pipi?""Diem, Dadi!"Emily menutup mulutnya dengan kedua tangan, menah
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tulus itu, dada Nicholas bergemuruh hebat. Rasa cinta yang membuncah membuatnya nyaris tak bisa berkata-kata. Ia menundukkan wajahnya, mengecup dahi Emily dengan sangat dalam dan lama."Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Emily," bisiknya parau. "Aku berjanji, aku akan selalu memastikan kau dan Selena tidak akan pernah merasa sendirian atau terbebani."Namun, momen romantis yang tenang itu mendadak terhenti.Selena yang masih berada dalam dekapan Emily tiba-tiba menangis kecil. Tangannya yang mungil mengepal dan menggeliat protes, melepaskan isapannya seolah menyadari bahwa kedua orang tuanya tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri.Nicholas sontak tertawa pelan, ia mengulurkan tangannya yang besar, mengelus lembut kepala mungil putrinya."Hei, hei, jangan marah. Mommy dan Daddy tidak melupakanmu, Tuan Putri," goda Nicholas pada Selena yang masih menatap mereka dengan mata berair. "Tentu saja kau juga yang terbaik. Kau t
Emily berdiri dalam diam di ambang pintu, menahan napasnya agar tidak merusak momen berharga di hadapannya. Ia hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sebagian, membiarkan matanya merekam setiap detail dari pemandangan yang menghangatkan hatinya itu.Nicholas, pria yang selalu terlihat kaku dan tak tersentuh oleh siapa pun di luar sana, kini mengayunkan tubuhnya dengan ritme yang sangat lambat dan lembut. Tangannya yang besar menopang tubuh mungil Selena, putri mereka, dengan penuh kasih sayang."Ssst... putri Daddy sudah bangun, hm?" bisik Nicholas. "Kenapa matamu terbuka lebar sekali di jam segini, Selena? Kau tidak mengantuk?"Selena kecil hanya menggeliat di dalam gendongannya, mengeluarkan suara gumaman pelan, "Nghhh...""Iya, Daddy tahu. Kau pasti bosan, kan?" Nicholas terkekeh pelan, menunduk untuk mengecup ujung hidung putrinya. "Tapi sekarang masih terlalu malam untuk bermain. Kau harus memejamkan mata lagi."Bibir mungil Selena mulai melengkung ke bawah. Wajahnya mem
Cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, berganti dengan bayangan buram langit-langit ruangan yang putih bersih. Bau khas obat-obatan dan antiseptik kembali memenuhi indera penciuman Emily. Suara mesin pemantau detak jantung terdengar berbunyi dengan ritme yang teratur di samping telinganya."Emily... Emily, kumohon, buka matamu."Sebuah suara bariton yang serak dan bergetar hebat memanggil namanya berulang kali.Kelopak mata Emily terasa sangat berat, namun ia memaksa dirinya untuk merespons suara itu. Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai fokus. Hal pertama yang langsung menyita seluruh pandangannya adalah wajah Nicholas yang berada begitu dekat dengannya.Pria itu terlihat sangat kacau dan berantakan. Wajahnya yang biasanya selalu memancarkan ketegasan, arogansi, dan aura sedingin es, kini terlihat sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, rambutnya berantakan, dan jejak air mata terlihat sangat jelas membasahi pipi pria itu. Tangan besarnya menggenggam erat t
"Apa... apa yang kau mau?!" seru Emily dengan suara bergetar. Emily yang asli menatapnya dengan senyuman yang begitu teduh. "Kau tidak perlu takut padaku, Emily.""Bagaimana aku tidak takut?!" teriak Emily, air mata seketika menggenang di pelupuk matanya. Kepanikan yang luar biasa mencekik lehernya. "Kau adalah pemilik asli tubuh ini! Apa kau datang untuk menyingkirkanku sekarang?!"Emily yang asli hanya terdiam, menatap dengan sorot mata yang penuh pengertian."Aku mohon padamu..." tangis Emily akhirnya pecah. Ia meremas gaunnya sendiri dengan putus asa, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris bersimpuh di lantai. "Apakah setelah aku akhirnya benar-benar mencintai Nicholas... setelah aku berjuang melahirkan anak kami, sekarang aku akan disingkirkan dari sini?"Emily terisak hebat, ketakutan terbesarnya selama ini akhirnya menjadi kenyataan."Kau akan membuang jiwaku kembali ke duniaku dan mengambil alih hidup bahagia ini saat semuanya sudah membaik, kan?" lanjut Emily dengan suara se
Emily panik saat melihat halte bus tempat persinggahannya itu menjauh dari pandangan."Pak, aku bilang turunkan aku di sini!" Emily mulai menaikkan nada bicaranya pada supir yang kini terlihat kebingungan menatap dari kaca spion, ragu harus mematuhi perintah siapa."Turunkan kami di lobby," potong
Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan."Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak bebe
Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat keda
Untuk beberapa detik, Nicholas hanya menatapnya. Lalu, perlahan sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang nyaris mengejek."Sejak kapan kamu mulai memakai cara murahan seperti ini untuk mencari perhatian?" Tatapannya menelusuri wajah Emily dengan penuh tekanan, seolah seda







