تسجيل الدخولLily terus berlari hingga langkahnya terhenti di sebuah bangku taman kampus yang sepi. Ia menyandarkan tubuhnya, mencoba menenangkan dada yang bergemuruh. Lily hanya tidak ingin Natasya menjadi korban kelakuan jahat Justin selanjutnya. Bagaimanapun juga, Natasya adalah teman masa kecilnya."Kamu kenapa, Li?"Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pelan pundaknya. Lily terkejut, bergegas mengusap air matanya sebelum menoleh dan memasang senyum tipis. "Eh, Mia..." sapanya pelan.Mia mendudukkan diri di samping Lily dengan raut cemas. "Kamu kenapa menangis?""Aku hanya sedih... Natasya malah berhubungan dengan Justin," jawab Lily menunduk.Mia menghela napas panjang, melipat kedua tangannya. "Pria seperti Justin itu memang tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia mendekati Natasya setelah apa yang terjadi di antara kalian.""Bukan sekadar masalah itu, Mia. Ada hal yang jauh lebih buruk dari sekadar urusan asmara," kata Lily lirih."Memangnya kenapa, Li? Coba cerita padaku," desak Mia penasaran.
Erangan dan desahan Lily maupun Gray menggema di kamar mandi, untung saja kamar mandi Gray kedap suara, jadi hanya mereka berdua yang mendengar suara-suara merdu mereka. Setelah mandi, Lily langsung bersiap-siap, dia memasukkan buku serta laptopnya ke dalam tas. Wajahnya panik saat melirik jam dinding. "Tuan, saya sudah terlambat!" seru Lily gusar.Gray yang sedang mengancingkan kemejanya bersikap sangat tenang. "Tenang saja. Kamu tidak akan terlambat.""Tapi ini sudah terlambat, Tuan! Kelas pertama saya mulai jam delapan tepat," protes Lily panik.Gray tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambil ponselnya lalu mengetik pesan singkat untuk asisten pribadinya. "Undurkan kelas pertama Lily menjadi jam sepuluh pagi."Hanya dalam hitungan detik, Gray memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Sudah kuundur jadi jam sepuluh."Mata Lily memelotot sempurna. Ia terpaku menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Sampai jam kuliah pun bisa dia atur seenaknya, gumam
Napas Lili masih terengah-engah. Pelepasan tadi malam benar-benar menguras seluruh tenaganya. Di sampingnya, Gray terkapar terlentang dengan satu lengan menutupi dahi, berusaha mengatur napasnya sendiri."Apa yang terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba kamu merindukanku?" tanya Gray tanpa menatap Lili.Wajah Lili memanas. Ia menolak berterus terang tentang alasan di balik sikap agresifnya malam ini. "Tidak kenapa-kenapa Tuan, memangnya tidak boleh ya merindukan anda?" tanyanya."Boleh." Jawab Gray. Wajah Lili memerah lalu dia beranjak untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, waktunya dia tidur karena besok harus bangun pagi untuk kuliah."Kamu tidur dulu, aku ingin merokok sebentar." Sementara Lili berbaring di tempat tidur, Gray duduk di sofa kamar, menyesap minumannya sambil menyalakan sebatang rokok.Tatapan pria itu terus menatap sang gadis, melihat gadis kecilnya telah tertidur Gray pun menyunggingkan senyuman. Kini pan
Kamar tidur itu diliputi suasana hangat dan hening. Gray menuntun langkah Lily perlahan menuju tepi tempat tidur, menatap manik matanya dengan dalam sebelum merebahkan tubuh wanita itu secara perlahan. Dengan lembut, pria itu memiringkan wajah dan mendaratkan ciuman mesra di bibir Lily.Suara decakan lembut terdengar dari pautan bibir mereka yang kian intens dan penuh kehangatan."Engh... Tuan..." bisik Lily lirih di antara sela-sela ciuman mereka, mengikis jarak yang tersisa di antara tubuh mereka.Tangan Gray bergerak perlahan turun ke bawah, melepaskan satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Lily dengan ketelitian yang sabar. Begitu pakaian atas itu terbuka dan terlepas dari bahu Lily, tangan kekarnya yang hangat langsung menangkup dada Lily, meremasnya dengan lembut dan penuh kehati-hatian.Sentuhan itu membuat Lily semakin berani. Ia membalas ciuman itu dengan memagut bibir Gray lebih dalam, menyerahkan seluruh rasanya pada momen tersebut."Tuan... ayo," bisik Lily penuh
"Pikirkan cara untuk melayaniku dengan baik dan benar," jawab Gray tenang, menyandarkan punggungnya dengan santai.Lily mengerutkan alisnya, merasa ambigu dan samar dengan jawaban pria di sampingnya. "Apa maksudnya, Tuan? Melayani dengan baik dan benar yang seperti apa?" tanya Lily dengan nada penuh kepenasaran.Gray terkekeh rendah, mengusap rahang Lily dengan telapak tangannya yang hangat. "Kamu cari tahu sendiri. Kalau kamu bisa melayaniku dengan baik dan benar nanti malam, aku akan memberikan semua bukti keterlibatan Justin di dunia gelap."Lily terdiam menatap Gray. Di satu sisi, hatinya bersorak senang karena sebentar lagi ia bisa mendapatkan bukti kuat untuk menyelamatkan Natasya dari jeratan Justin. Namun di sisi lain, kepalanya mendadak pusing membayangkan apa arti sebenarnya dari frasa 'melayani dengan baik dan benar' yang dimaksud oleh bos mafia itu."Setelah mengantarkanmu ke mansion, aku harus pergi lagi karena masih ada urusan yang belum selesai," lanjut Gray dingin.
Siang itu, suasana kantin kampus tampak ramai oleh lalu lalang mahasiswa. Natasya dan Justin duduk berdampingan di salah satu meja, menikmati makan siang mereka. Tak jauh dari sana, Lily dan Mia baru saja mendapatkan tempat duduk yang kebetulan berada tepat di belakang meja Justin dan Natasya.Awalnya, Lily dan Mia memilih diam dan menyantap makanan mereka karena tidak ingin mencari keributan. Namun, percakapan yang terdengar dari meja belakang perlahan membuat telinga Lily panas dan dadanya bergemuruh geram."Sayang... kamu yang bayarin makan siang kita dulu, ya?" suara Justin terdengar memelas.Natasya menghentikan suapannya, menatap Justin dengan raut bingung. "Tapi, Justin... uang di dompetku ini kan untuk bayar buku sore nanti. Katanya tadi kamu yang mau traktir aku?""Iya, maaf banget, Sayang. Aku benar-benar lupa kalau dompetku ketinggalan di mobil teman," alibi Justin dengan nada memelas yang dipaksakan. "Aku ganti nanti malam, ya? Plis... kamu kan baik.""Tapi uangku pas







