Share

bab 3. Syok

Akhirnya pun Vania memutuskan pergi ke luar negeri,

Di luar negeri dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk meraih cita-citanya yang tertunda,

Hari-harinya di isi dengan kerja untuk mengembangkan bakatnya.

Meskipun perjuangannya begitu amatlah berat dan sulit.

Kali ini dewi fortuna sedang menghampiri dirinya,

takdirnya sangat begitu mulus itu semua karena yang semangat yang luar biasa dan didukung dengan kemauan yang sangat tinggi membuat dirinya sangat begitu dipercaya oleh beberapa perusahaan yang menaungi dirinya,

Kini wanita yang berusia 23 tahun bisa berdiri sendiri, menghidupi dirinya sendiri dengan kekutaan dan kemauan yang sangat tinggi.

"Sekarang aku bisa berdiri di kaki ku sendiri." ujar Vania si wanita yang pantang menyerah. "Aku sudah sangat tak sabar menjemput kesuksesan ku." lanjutnya sambil tersenyum sinis di bibirnya dengan tangan kanan membawa sebuah gelas.

Tak di pungkiri Vania berjuang sangat keras itu semua di karenakan dendam yang sangat membara di hatinya,

Dendam yang ingin segera di lampiaskan olehnya sesegera mungkin.

Malam-malam yang dingin menusuk tulang Vania yang baru saja sepulang dari kerjanya dia mesuk ke dalam kamar dan melemparkan badannya di atas tempat tidur.

Wanita yang berkulit putih nan mulus itu teringat malam-malam panas saat diri tak sengaja menjalin hubungan panas dengan laki-laki misterius yang tak lain adalah laki-laki kaya raya.

"Emmm dia sangat mempesona, erangannya masih teringat jelas di benak ku." gumam Vania di dalam hati lalu dia tersenyum tipis di bibirnya.

Entah apa yang di pikirkan Vania, perasaan bersalah atau justru perasaan jatuh cinta mengingat momen-momen itu.

Tak terasa akhirnya dia pun terlelap tidur.

Keesokan harinya dia berangkat untuk bekerja,

Dia mengawali hari-harinya dengan penuh semangat untuk melewati batas pencapaiannya. "Yok, yok semangat kamu harus bisa bersaing supaya karya mu bulan ini yang rilis." ujarnya dalam hati.

Dan Vania pun yang menaiki transportasi umum melihat di balik jendela orang-orang yang sukses yang sedang berlalu lalang dengan kendaraan pribadinya yang memiliki harga yang mahal.

"Aku harus bisa seperti mereka."

Saat Vania sedang membayangkan dirinya untuk masa depannya,

Kepalanya terasa sangat begitu berat, dia merasa jika perutnya merasakan mulas yang teramat yang membuat dirinya ingin muntah.

"Ahhh kenapa ini ya? Apa jangan-jangan aku mau sakit? " tanyanya pada dirinya sendiri.

Dan Vania adalah wanita yang memiliki mental yang kuat dia tak pantang menyerah dia pun melanjutkan untuk tetap pergi bekerja.

Dan selama bekerja dia harus berusaha menahan rasa sakitnya...

Namun entah kenapa kekuatannya kini mulai berkurang dan dia pun sudah tak kuat lagi,

Dan akhirnya dia pingsan.

Dan selama dia pingsan dia di bawa ke rumah sakit oleh sahabatnya yang bernama Thalia,

Dia adalah seorang sahabat dan juga atasannya,

"Vania bangun, ini aku Thalia." bisik Thalia di telinga kanan Vania.

Lalu Thalia pun memberikan sebuah obat minyak gosok di hidung Vania,

Dan tak lama Vania pun terbangun.

"Aku di mana ini?" tanya Vania sambil memegang kepalanya, dan dia pun beranjak dari tidurnya untuk duduk setengah berbaring.

"Sebentar.. sebentar aku bantu." sahut Thalia sambil membantu Vania.

Dan Thalia pun menatap Vania dengan tatapan yang sangat mendalam.

Seolah wanita yang berambut panjang itu mengetahui apa yang tengah terjadi, dia pun memeluk Vania. "Sabar sebentar lagi dokter datang nanti dokter akan menjelaskan." jawabnya sambil memeluk Vania.

Tak lama dokter paruh baya itu masuk ke kamar rawat inap Vania.

"Selamat siang nona Vania, ini adalah hasil pemeriksaannya." ujar dokter tersebut sambil memberikan selembar kertas hasil pemeriksaan Vania.

Dan Vania pun meraih kertas yang berada di tangan kanan dokter tersebut.

Dan membukannya.

Betapa terkejutnya, ternyata dalam secarik kertas tersebut menyatakan kalau dirinya sedang hamil.

"Haaahhhh saya hamil dok?" tanya Vania dengan terkejut sekaligus syok.

Dokter yang sedang berdiri di depan Vania pun menganggukkan kepalanya sambill tersenyum.

"Selamat ya sebentar lagi menjadi seorang ibu, untuk obatnya silahkan di tebus di depan." jawabnya dengan senyum yang merekah.

Dan dokter tersebut pun berpamitan untuk pergi dan meninggalkan ruang rawat inap Vania.

Dan Vania yang sedang duduk setengah berbaring itu sudah tak mrnghiraukan dokter yabg memeriksannya,

Dia syok dia pun langsung memeluk Thalia dan menangis meronta-ronta.

Matanya begitu sembap,

Thalia yang membalas pelukan Vania dan berusaha untuk menenangkan Vania dengan pelukan hangatnya.

"Sudah, sudah Vania. Ini sudah jalan takdir mu, kamu harus menerimanya, kasihan dia." jawab Thalia sambil mengelus rambut Vania bak seorang ibu yang sedang memeluk anaknya.

Dan Vania pun melepaskan pelukannya, lalu menatap Thalia dengan tatapan dalamnya.

"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Vania yang merasa putus asa.

Thalia pun mengusap air mata Vania, "Sudah ya Vania, terima anak ini, dia akan menjadi anak yang akan menjaga mu kelak. Aku akan bantu kamu ke depannya. Aku janji." jawab wanita yang bernama Thalia.

Vania pun menganggukan kepalanya, dan mau tak mau harus menerima anak yang berada dalam kandungannya.

Kini dalam hidupnya semakin berat.

Dia harus berjuang lagi ekstra keras untuk menyambut kelahiran bayi yang tak di inginkannya.

Hari demi hari Vania lalui.

Tak terasa bulan berganti bulan, perutnya semakin terlihat membesar,

Nafasnya mulai terengah-engah.

Beban di perutnya semakin berat membuat dirinya tak kuat untuk pergi bekerja,

Vania pun duduk di kursi dia pun meraih ponselnya dan menelpon sahabatnya.

"Hallo Thalia," sapa Vania membuka obrolan di telepon dengan Thalia.

Thalia yang berada di sebrang telepon merasa penasaran. "Iya ada apa Vania tumben pagi-pagi telepon." tanya Thalia sahabatnya sekaligus atasanya.

"Bolehkan aku izin untuk gak masuk kerja hari ini, aku gak kuat berangkat bekerja rasanya badan ku gak kuat untuk jalan." ujar Vania yang menjelaskan kepada Thalia dengan nafas yang sudah naik turun.

Thalia pun menghembuskan nafas panjangnya, dia merasa sangat kasihan dengan nasib sahabatnya saat ini.

"Kamu gak usah khawatir, mulai sekarang kamu bisa kerja dari rumah, kamu bisa mengirim ke surel ku saja. Yang terpenting sekarang kesehatan mu." jawab Thalia yang sangat membantu Vania.

Vania pun meneteskan air matanya mendengar itu, dia sangat terharu.

menutup teleponnya.

Dia pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk mendekati sebuah almari yang terdapat sebuah kaca besar menempel di lemari tersebut.

Dia menatap tubuhnya yang kian membengkak,

Perutnya membesar.

Dan dia memutar tubuhnya.

Dan dia pun mengangkat kaosnya terdapat garisan stretch mark yang melilit sebagian perutnya,

Dari pantulan cermin tersirat sebuah raut wajah yang sayu, sedih dan putus asa.

Dan kehamilannya sudah menginjak 8 bulan.

Vania pun memeriksakan kehamilannya untuk mengetahui keadaan anaknya di dalam perutnya.

"Hem mau bagaimana lagi ini, semua sudah takdir yang harus ku jalani." ucapnya sambil berjalan di tengah terik matahari.

Dan dia pun mengusap keringat yang keluar dari dahinya dengan punggung tangannya.

Sampailah dia di sebuah rumah sakit yang berada di tengah-tengah kota.

Wanita yang sedang hamil itu langsung mencari dokter yang di rekomendasikan oleh sahabatnya itu.

"Selamat siang dok, saya Vania saya di suruh ibu Thalia." ujar Vania yang membuka obrolan dengan dokter separuh baya tersebut.

Dan dokter pun tanpa basa-basi langsung menyuruh Vania berbaring lalu memeriksanya.

Dokter laki-laki itu tersenyum, "Selamat ya ibu memiliki dua anak laki-laki." ujarnya sambil mengamati monitor yang terpasang besar di dinding ruangan tersebut.

"Hahhh yang benar dok?" tanya Vania yang terkejut.

Vania tak menyangka jika ternyata di dalam perutnya terdapat dua janin yang tumbuh dan berkembang begitu sangat baik.

Vania pun syok.

Membuat Vania duduk terdiam dia tak bisa membayangkan jika dia harus merawat dua anak secara bersamaan dan dia harus juga bekerja. "Ya tuhan aku harus bagaimana ini?" tanyanya dalam hati yang bingung akan kedepannya.

Dan ternyata kehamilannya juga membawa rezeki yang tak terduga.

Semenjak itu Vania selalu menghasilkan karya dan karyanya selalu rilis di pasaran dengan nilai yang sangat tinggi membuat kehidupannya mulai berubah berangsur menjadi lebih baik.

Bulan berganti bulan tahun berganti tahun.

7 tahun kemudian Vania yang terkenal memiliki nama VA dalam dunia desainer,

Kini memiliki pondasi ketahanan ekonomi yang kuat dan dia pun kembali ke negara asalnya bersama dengan kedua anaknya untuk melanjutkan karirnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status