Share

Bab 7 Bantuan

last update publish date: 2026-06-05 17:13:45

Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin.

“Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—”

Namun, Rama bahkan tidak meliriknya.

Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka kini begitu dekat sampai Erin bisa mencium samar aroma maskulin dari tubuh pria itu.

“Sakit?”

Pertanyaan Rama yang mendadak membuat Erin tersentak. Dia mengikuti arah pandang pria tersebut dan menyadari bahwa ada memar merah di pergelangan tangannya, efek dirinya setengah diseret wanita tadi.

Erin menggeleng. “Aku nggak apa-apa,” balasnya pelan, merasa wajahnya mulai panas.

Erin malu bukan hanya karena semua orang sedang memperhatikan mereka, tapi juga karena … Rama melihat dirinya dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Namun, saat Erin masih sibuk menahan malu dan memikirkan bagaimana cara keluar dari situasi ini, tiba-tiba sebuah tangan besar menyelinap ke pinggangnya.

“—?!”

Belum sempat Erin bereaksi, tubuhnya mendadak terangkat dari lantai.

Karena kaget, spontan Erin memeluk leher Rama.

Dan baru beberapa detik kemudian dia sadar.

Rama … sedang menggendongnya!

Dalam sekejap, seluruh lapangan basket langsung meledak heboh.

“ASTAGA?!”

“Dia digendong Rama?!"

“Ahhh! Rama, gendong aku juga!”

“Hwaa, mimpi apa semalam Mbak itu bisa sampai dipeluk Rama?”

Keributan itu membuat wajah Erin langsung memerah total.

"R-Rama?!” panggilnya, secara tidak langsung meminta diturunkan.

Namun, Rama hanya melirik Erin sekilas sebelum berkata rendah, “Diam … atau kamu mau jatuh yang ketiga kali?”

“—!”

Kalimat itu langsung membuat Erin bungkam.

Pada akhirnya, Erin hanya bisa memegang erat pria tersebut sambil menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.

Sementara itu, Rama tetap berjalan tenang tanpa mempedulikan teriakan histeris para fans yang masih menggema di belakang mereka.

Dan salah satu pertanyaan yang paling membuat Erin takut … adalah satu:

“Siapa, sih, cewek itu?!”

Di tengah keributan yang melanda lapangan basket tersebut, tepat ketika manajer Rama dan pihak keamanan berusaha menenangkan suasana, Erin hanya bisa memaki dalam hati.

‘Kalau sampai ada yang tahu aku siapa … habis sudah riwayatku.’

***

Sekitar sepuluh menit kemudian, Erin hanya bisa duduk diam di dalam tenda set syuting.

Beberapa saat lalu, Rama sempat dipanggil oleh manajernya keluar, meninggalkan Erin sendirian di sana.

Suasana di dalam tenda terasa jauh lebih tenang dibanding keributan di luar tadi. Namun, justru karena itulah, Erin jadi semakin sadar sebesar apa kekacauan yang baru saja terjadi.

Kedatangannya benar-benar merepotkan banyak pihak.

Bukan hanya manajer Rama dan pihak keamanan yang harus mati-matian menenangkan para fans, melainkan juga kru film yang seharusnya bekerja sesuai jadwal, malah jadi terpaksa menghentikkan sesi syuting karena keributan mendadak.

Erin menghela napas panjang.

Kepalanya kembali memutar kejadian beberapa menit lalu, tentang bagaimana Rama tiba-tiba datang, membela dirinya, dan berakhir menggendongnya di depan semua orang.

Mengingat itu, wajah Erin kembali terasa panas.

‘Apa yang ada di pikirannya sampai melakukan hal seperti itu?’ batin Erin.

Bahkan sampai sekarang, Erin masih bisa mengingat jelas panas telapak tangan Rama di pinggangnya tadi.

Menyadari pikirannya mulai melantur, Erin buru-buru menggeleng keras.

“Astaga, Erin! Fokus!” gumamnya pelan sambil menepuk pipinya sendiri.

Berusaha mengalihkan pikirannya, Erin pun melirik ke arah luar tenda. Keributan di luar tampaknya sudah mulai mereda.

Akhirnya, Erin berdiri pelan dan berjalan mendekati bukaan kain tenda, berniat mengintip keadaan di luar.

Namun, sebelum tangannya sempat membuka penutup tenda itu—

“Apa kamu sudah gila, Rama?!”

Suara pria itu terdengar tajam dan penuh emosi.

Langkah Erin langsung terhenti.

Dari celah bukaan tenda, Erin bisa melihat manajer Rama berdiri sambil memijat pelipisnya frustasi.

“Kamu tahu barusan itu bisa bikin kekacauan besar?” lanjutnya. “Kamu artis terkenal, Rama! Tiba-tiba gendong perempuan di depan fans seperti itu, memangnya kamu nggak mikir apa yang bakal terjadi setelah ini?”

Rama berdiri membelakangi Erin.

Pria itu diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar, “Jadi, menurutmu aku harus diam saja dan pura-pura tidak lihat ada yang kesulitan?”

“Kamu tahu maksudku bukan begitu!” Manajer Lee menghela napas kasar sambil menyisir rambutnya ke belakang. “Aku sedang membicarakan apakah nggak ada cara yang lebih baik buat menangani situasi tadi!”

Pria itu menurunkan suaranya sebelum melanjutkan, “Dia itu mantanmu, Rama. Kalau nanti ada orang yang mulai mengungkit hubungan kalian dulu—”

BRUK!

Suara benturan mendadak memotong ucapan Manajer Lee dan membuat pria tersebut serta Rama cepat menoleh ke sumber suara.

Terlihat di dekat pintu tenda, ada sosok Erin dengan sebuah tiang besi kecil penyangga perlengkapan syuting yang terjatuh. Ternyata, Erin tak sengaja menyenggol benda tersebut hingga terjatuh.

Tertangkap basah menguping, wajah Erin seketika memerah.

“Ma-maaf …,” ucapnya gugup sambil buru-buru membetulkan kembali tiang tersebut ke posisi semula.

Manajer Lee tampak membeku sesaat karena menyadari Erin ternyata mendengar pembicaraan mereka. Dia merasa sangat tidak enak.

Sementara itu, Rama hanya mengerutkan kening tipis sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Manajer Lee.

“Siapa pun yang ada di posisi tadi, aku tetap akan membantu. Kenal maupun tidak,” ucap Rama tenang. “Jadi, tidak perlu khawatir aku melakukannya karena hubungan masa lalu.”

Kalimat Rama membuat Erin terdiam sesaat. Entah kenapa, ucapan tersebut seperti sedikit diarahkan padanya.

Setelah mengatakan itu, Rama langsung berjalan ke arah Erin.

Erin yang masih canggung refleks menegakkan tubuh saat pria itu mendekat.

Namun, tanpa banyak bicara, Rama langsung mencengkeram pergelangan tangan Erin dan menariknya masuk kembali ke dalam tenda.

“Eh?”

“Rama!” seru Manajer Lee tertahan.

Langkah Rama berhenti sesaat.

Tanpa menoleh, pria itu berkata singkat, “Aku ada tamu. Minta kru tunggu sebentar. Aku akan ganti kerugian hari ini pakai uangku sendiri.”

Setelah mengatakan itu, Rama kembali melangkah masuk ke dalam tenda bersama Erin.

Meninggalkan Manajer Lee yang hanya bisa memejamkan mata frustasi sebelum bergumam pelan,

“Siapa yang sebenarnya sedang berusaha dia bohongi ….”

Sementara itu, begitu masuk ke dalam tenda, Rama langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Erin.

Namun, sebelum Erin sempat benar-benar berdiri nyaman, pertanyaan menusuk itu pun terlontar.

“Jadi … apa tujuanmu datang hari ini, Erin Kayonna?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 61 Reaksi Aneh

    Gerakan mendadak Erin itu membuat bagian tubuh Rama ikut menegang.Bagaimana tidak? Dalam satu kali hentakan, Erin mengangkat tubuhnya dan kini kembali mendarat di pangkuannya.Refleks, tangannya mencengkeram lengan Erin sedikit lebih erat lantas melepaskannya.“Erin, rambutmu tersangkut,” beritahu Rama dengan suara yang terdengar berat. Dengan ekspresi yang kesulitan dia menatap Erin tajam. “Jadi, jangan bergerak.”Erin menganggukkan kepala. “O–oke.”Sejujurnya Erin tidak habis pikir. Bagaimana bisa rambutnya itu tersangkut? Meski berusaha menenangkan diri, jari-jarinya tampak gemetar saat mencoba melepaskan helaian rambut yang terlilit di salah satu kancing polo Rama.“Bisa lebih cepat?” desak Rama.Siapa yang bilang dia nyaman dengan posisi ini?Semalam dia memang sempat memangku Erin. Namun, saat itu tubuhnya hampir mati rasa karena dingin. Dia tidak berpikir apa pun selain mendapatkan kehangatan untuk tubuhnya dari Erin.Dan sekarang, situasinya jelas berbeda ‘kan?Rama berada da

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 60 Posisi itu Lagi

    “Kalau memang tidak menghindar, kenapa sampai melewatkan makan malam?” dengus Rama.Dia sendiri sebenarnya yakin kalau Erin memang menghindarinya. Setelah dari ruang rapat, Rama bahkan tidak melihat keberadaan fisioterapis pribadinya itu lagi.Kakinya yang panjang kembali melangkah mendekat. Tangannya kemudian meletakkan kotak makanan yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.Melihat kotak makanan itu, Erin mengernyitkan dahi. Dia sampai tidak menyadari kalau Rama membawa sesuatu di tangannya.Baru akan bertanya, pria itu lebih dulu menjelaskan, “Dokter Tim menitipkan makanan untukmu. Sekalian aku diminta mengambil obat.”Tadi di kafetaria Rama sempat bertemu dengan Dokter Tim. Setelah memeriksa lututnya yang kembali terasa nyeri, dokter itu menyuruh Rama mengambil obat ke ruang fisioterapi. Kebetulan, Dokter Tim juga menitipkan satu kotak makanan untuk Erin yang sejak tadi belum terlihat di kafetaria.“Obat apa?” tanya Erin. Dia langsung bangkit dari duduknya. “Biar aku ambilkan.”“Pe

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 59 Hilang Satu Tumbuh Seribu

    Menyadari dirinya baru saja membaca pesan yang bukan untuknya, Erin buru-buru menutup ruang percakapan itu. Telapak tangan yang tengah memegang ponsel mulai terasa lembap oleh keringat.“Apa ini? Kenapa aku malah membuka pesan ini?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan yang gelisah.Erin kembali melihat ke arah layar ponsel. Di sudut percakapan tertera keterangan bahwa pesan tersebut hanya dapat dilihat dalam waktu tertentu. Ya … pesan berwaktu.Tanpa sadar, Erin menggigit pipi bagian dalamnya.Bagaimana sekarang? Pesan itu jelas ditujukan untuk Rama. Itu berarti … Rama harus melihatnya.Tapi, bagaimana? Erin baru saja membuka pesan itu tanpa sengaja. Kalau pesan berwaktu itu hilang dalam waktu dua puluh empat jam, bukankah itu artinya Rama tidak akan sempat membacanya?“Astaga … tidak bisakah satu hari saja berlalu tanpa masalah?” gerutu Erin.Biasanya Erin tidak terbiasa menyalahkan orang lain. Tapi, kali ini dia sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri.Dilihat dari isi pesan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 58 Pesan Tanpa Nama

    Usai ke luar dari ruangan rapat, Erin tersentak saat tahu-tahu lengannya disambar Rama. “Ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu langsung membawanya menuju sebuah ruangan di samping yang letaknya tidak jauh dari ruang rapat. Erin meringis pelan. Dia tidak berusaha melepaskan diri karena memang ada sesuatu yang sejak tadi ingin dia bicarakan dengan Rama. Begitu keduanya masuk, Rama menutup pintu setelah memastikan tidak ada yang melihat keberadaan mereka. Dia juga menguncinya dari dalam. “Apa tidak sebaiknya pintunya dibiarkan terbuka saja?” tanya Erin ragu-ragu. Jari-jari tangannya meremas sisi celana. “Supaya tidak ada orang yang salah paham melihat kita.” Urusannya bisa panjang kalau kejadian seperti kemarin terulang lagi. “Silakan kalau kamu ingin mereka juga tahu kalau semalam kita melakukan–” Mengetahui arah pembicaraan Rama akan mengarah ke mana, Erin refleks mendekat dan menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya. Matanya membelalak. “Rama!” d

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 57 Dimintai Keterangan

    “Semalam aku jogging dan tidak sengaja bertemu Fisio Erin. Saat itu Coach Sena juga ada bersama kami,” Rama memulai penjelasannya. Sekilas, ekor matanya melirik ke arah Erin yang sejak tadi hanya menundukkan kepala sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Penjelasan Rama tidak jauh berbeda dengan kronologi yang sebelumnya disampaikan Erin. “Fisio Erin memang menemuiku untuk menanyakan sesuatu. Kebetulan aku juga meminjamkan ponselku karena ponselnya sedang bermasalah.” Rama mengisyaratkan dagunya ke arah ponsel yang kini tergeletak di atas meja di hadapan wanita itu. Kepala Pelatih lantas mengangguk pelan. Samar-samar dia teringat percakapannya dengan Rama beberapa waktu lalu. “Ah, benar. Kamu memang sempat bilang ponsel Fisioterapis kita rusak.” Rama mengembuskan napas pendek lalu kembali melanjutkan, “Setelah itu hujan badai turun. Kami berteduh di gudang lama tanpa tahu pintunya macet, dan tidak bisa dibuka dari dalam.” Sampai pada titik itu, Erin semakin dib

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 56 Bagian Yang Terlewatkan Part 2

    Ditodong pertanyaan seperti itu, jujur saja nyali Erin menciut. Namun, meski begitu Erin tetap memaksa dirinya menatap Rama dan memberikan penjelasan, “Kamu kedinginan dan aku ... aku cuma mau membantumu.” Setelah itu, Erin membasahi bibir bawahnya. “Kamu tahu metode skin to skin? A–aku … kalau kamu tidak keberatan– Ucapan Erin terputus begitu saja bersamaan dengan tangan Rama yang menahan pergelangan tangannya perlahan mengendur hingga akhirnya terlepas begitu saja. Dalam kondisi hujan badai yang tidak kunjung berhenti ditambah menghadapi situasi di hadapannya membuat perasaan Erin tidak karuan. Rama tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali memejamkan matanya seakan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada Erin. Dan saat itu Erin menganggapnya sebagai bentuk persetujuan. Maka, kali ini dia kembali mendekat ke arah Rama untuk membantu melepaskan kaus dari tubuhnya. Begitu kaus itu terangkat, udara dingin segera menyapu kulit Rama hingga tubuhnya kembali menggigil. Erin sendir

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 6 Kerumunan Penggemar

    “Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 4 Tanda Tanya Besar

    Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan mena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status