Home / Romansa / Tuan Rama, Aku Menolak Balikan! / Bab 6 Kerumunan Penggemar

Share

Bab 6 Kerumunan Penggemar

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-04 09:33:03

“Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”

BIP.

Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.

Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai membakar dadanya.

Tindakan Rama sudah keterlaluan!

Pun mereka pernah memiliki masalah di masa lalu, haruskah Rama membalasnya dengan cara seperti ini?!

Tanpa kerja sama dengan Gravion, kliniknya mungkin akan bangkrut dalam hitungan beberapa bulan ke depan.

Dan kalau itu terjadi, bukan hanya dirinya, tapi Cakka juga akan berada dalam situasi terpojok!

Memikirkan bukan hanya nasib dirinya, melainkan juga sahabatnya, Erin pun bertekad. “Aku harus menemui Rama!” 

Berdasarkan informasi yang dia terima dari mulut ayahnya sendiri, Erin segera bergegas menuju lapangan basket dekat tempat sang ayah membeli air kelapa tadi. Jika memang pria itu sedang melakukan syuting, seharusnya dia masih berada di sana.

Menggunakan sepeda miliknya, hanya perlu beberapa menit sebelum Erin akhirnya tiba di sana. Dan sesuai yang Erin duga, Rama memang masih ada di sana, terlihat dari kerumunan orang … atau lebih tepatnya wanita … yang terus-menerus meneriakkan nama pria tersebut.

“Rama! Lihat sini!”

“Astaga dia tampan sekali!”

Mendengar bagaimana fans-fans pria tersebut mengelu-elukan namanya seperti itu membuat Erin menarik napas panjang. 

Secara logika, akan lebih baik bagi Rama untuk lebih fokus dengan karir dan reputasinya, jadi … kenapa pria itu malah membuang waktu dengan mempersulit dirinya?!

Sungguh pria yang tidak bisa dimengerti!

Menepis pemikiran pribadinya, Erin langsung memarkirkan sepedanya secara asal dan bergegas mendekat ke arah kerumunan tersebut.

Di tengah kerumunan tersebut, Erin bisa melihat sosok Rama yang sedang berdiri dengan seragam basketnya, terlihat memukau dengan tubuh tinggi dan berototnya. 

Mengelap keringat yang mengucur deras dari pelipisnya, pria itu terlihat sangat memesona.

Tapi, Erin memiliki tujuan, jadi dia menelan lamunannya dan berseru, “Rama! Rama Mahanta!”

Namun, seruan Erin tidak jauh berbeda dari seruan-seruan wanita lain di sana. Alhasil, tidak sedikit pun Rama meresponsnya.

Frustrasi, Erin berusaha menerobos masuk ke dalam kerumunan tanpa mempedulikan peringatan petugas maupun keluhan orang-orang lain yang dia lalui.

Saat tubuhnya berhasil menyelinap, Erin berusaha berseru lagi. Tapi, hasilnya nihil.

Kesal dan merasa frustrasi, dia memutar otak, mencari cara agar bisa menarik perhatian Rama.

Sampai akhirnya, dia mendapatkan satu ide.

Cepat, Erin pun menjijitkan kaki dan berseru dengan sangat lantang, “Rama Mahanta! Kelas 11C! Lihat kemari!”

Detik teriakan lantang itu terucap, spontan sosok Rama tampak mematung sesaat sebelum langsung menoleh.

Dan begitu pandangan keduanya bertemu, Erin tak elak langsung tersenyum. 

Sudah dia duga panggilan itu akan membuat Rama menoleh!

Lagi pula … kalimat tersebut adalah kalimat yang dulu selalu Erin gunakan untuk mengajak Rama pulang bersama usai jam sekolah selesai.

Namun, kala ingatan akan masa lalu itu selesai, Erin langsung membeku saat melihat hal aneh dari ekspresi Rama.

Pria itu … seakan terluka.

Tapi, ekspresi itu hanya bertahan sesaat.

Karena detik berikutnya, Rama langsung membuang wajah, membuat Erin terperangah.

‘Bukannya dia sudah melihatku? Kenapa malah membuang muka begitu?!’ protesnya.

Ketidakacuhan Rama menaikkan level kemarahan Erin.

Tapi, di waktu yang sama, perhatian singkat yang diberikan Rama membuat sejumlah fans merasa cemburu dan—

BRUK

“Ah!”

Tiba-tiba saja seseorang di sebelah Erin menyikut sisi perutnya dan mendorong tubuh Erin dengan keras. Hal tersebut membuat Erin berakhir terjatuh ke lantai lapangan basket dengan keras.

“Duh, kamu gimana, sih, Kak! Kok malah dorong-dorong?!” 

Erin terkejut. Jelas-jelas orang itu yang tadi mendorongnya hingga dia terjatuh, tapi kenapa jadi dia yang disalahkan?!

Erin buru-buru ingin membela diri, tapi orang lain langsung berkata, “Minggir sana, kamu menghalangi jalan tahu!”

Kalimat tersebut disusul keluhan fans-fans lain tentang betapa mengganggunya sosok Erin.

Erin terperangah. Karena tudingan awal wanita yang mendorongnya, semua orang langsung menganggapnya dalang dari kekacauan karena begitu ingin menarik perhatian Rama!

“Maaf, tapi aku kemari karena harus bertemu Rama. Aku perlu—”

Belum selesai kalimat Erin, wanita berambut ikal yang tadi mendorong Erin langsung memotong, “Heh, kocak! Ya kita juga tahu kamu mau ketemu Rama. Semua orang di sini juga sama! Memangnya kamu pikir kita semua di sini mau ngapain kalau bukan mau ketemu Rama?”

Beberapa orang di sekitaran Erin tampak menaruh kesal padanya dan ikut berkomentar keji tentang Erin.

“Tapi—!”

“Halah, udah nggak usah banyak ngomong! Yang jelas, kamu udah ngerusuh! Jadi kamu harus pergi!”

“Kalau kamu nggak mau,” wanita berambut ikal tadi langsung mencengkeram lengan Erin dengan kasar, “aku sendiri yang bakal nyeret kamu keluar!”

Wanita itu langsung menarik tubuh Erin paksa hingga Erin hampir kehilangan keseimbangan untuk kedua kalinya. Orang-orang di sekitar mereka ikut mundur memberi jalan, tapi bukan untuk membantu Erin.

Sebaliknya, beberapa malah ikut bersorak menyuruh Erin pergi.

“Usir aja!”

“Cari perhatian banget!”

Wajah Erin memanas.

Campuran malu, marah, dan frustrasi membuat dadanya terasa sesak. Dia datang ke sini untuk menyelesaikan masalah kliniknya, bukan untuk dipermalukan seperti ini!

Namun, sebelum Erin sempat kembali melawan—

“Apa-apaan ini?”

Suara pria yang rendah dan dingin itu mendadak membuat kerumunan membisu.

Semua orang spontan menoleh. Begitu pula Erin.

Dan di sana … Rama berdiri beberapa meter dari mereka.

Namun, bukan itu yang membuat Erin terpaku.

Melainkan tatapan Rama.

Tatapan pria itu lurus tertuju pada dirinya.

Pada rambut Erin yang berantakan.

Pada tubuhnya yang nyaris diseret.

Dan pada tangan wanita lain yang masih mencengkeram lengan Erin kasar.

Raut wajah Rama langsung berubah gelap. Aura dingin yang tadi biasa saja kini terasa menyesakkan.

“Lepas.”

Wanita berambut ikal itu tampak gugup. “A-ah?”

Rama melangkah mendekat. Sorot matanya tajam hingga wanita itu refleks menelan ludah.

“Kubilang,” ucap Rama lagi dengan ekspresi mengerikan, “lepas tanganmu dari wanita itu.”

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 68 Tentang Kita ... END

    Erin tidak segan mendorong bahu Rama agar menjauh. “Pergi,” pintanya sambil tanpa sadar mulai memukul dada pria di hadapannya dengan lemah. “Tolong, Rama, jangan seperti ini.” Erin menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah untuk menolak Rama atau menolak kenyataan yang akhirnya terbongkar juga. Kedua tangan Rama menahan lengan Erin di dadanya. “Kamu yang membuatku tampak menyedihkan seperti ini, Erin.” Suara Rama terdengar jauh lebih lirih dibandingkan sebelumnya. Selama sepuluh tahun, dia percaya kalau Erin–cinta pertamanya telah mengkhianatinya. Jadi, Rama terus memupuk kebencian terhadap sosok Erin. Bahkan dengan kejamnya, dia sengaja membuat wanita itu kesulitan. “Kalau memang alasanmu memutuskanku dulu karena permintaan Ayah …,” Rama menjeda ucapannya. Rahangnya mengeras, seakan kalimat berikutnya terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Dia berusaha menelan egonya. “Lalu, bagaimana dengan kamu yang memacari rival basketku?” Tidak sedikit pun Rama menggeser pandangannya dari

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 67 Semua Sudah Berakhir

    “Jangan-jangan kamu berpikir bisa balikan dengan Rama?”Di balik pintu ruang fisioterapi yang ternyata tidak tertutup rapat, Rama yang baru saja tiba mengernyit ketika mendengar suara Rowan.Jadi … benar ayahnya ada di sini?Tangannya yang semula hendak mendorong pintu seketika mengurungkan niat untuk masuk. Entah pembicaraan apa yang sedang berlangsung di dalam, Rama memilih diam dan memutuskan mendengarkan terlebih dahulu.“Aku bertanya, Nona Erin.”Suara Rowan kembali terdengar mengudara.Sebelum benar-benar menjawab, pandangan Erin tidak sengaja bergeser ke arah pintu.Mungkin karena Siska tadi pergi terlalu terburu-buru, pintu itu tidak tertutup sepenuhnya. Karena di balik kaca buramnya, samar-samar terlihat bayangan seseorang yang berdiri di sana. Erin tidak bisa mengenali siapa sosok itu. Mungkin hanya seseorang yang kebetulan lewat, pikirnya, sebelum dehaman Rowan membuat pandangannya kembali teralihkan.Wanita itu mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan dirinya sendir

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 66 Alasan Putus

    Beberapa saat sebelum memutuskan bergabung ke kafetaria untuk makan siang, Erin masih memiliki satu pekerjaan yang menurutnya tanggung jika ditinggalkan. Jadi, dia memilih menyelesaikannya lebih dulu di ruang fisioterapi yang saat itu hanya dihuni dirinya seorang.Erin tetap fokus pada pekerjaannya sampai suara pintu terbuka terdengar dari belakang.“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sambil mengangkat wajah.Dalam sekejap, tubuhnya membeku. Bahu Erin tampak menegang. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Sebenarnya kakinya juga sulit untuk digerakkan. Namun, Erin tetap memaksakan diri melangkah mendekat. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin.“Pak Rowan … lama tidak bertemu dengan Anda.” Erin menyapa sosok pria yang datang dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.Di hadapannya, Rowan Mahanta menatapnya intens dari atas kepala hingga ujung kaki Erin, membuat kedua tangan wanita itu meremas erat sisi celananya.“Jadi …,” Rowan mendengus pelan. “Kamu wanita yang bersama Rama di da

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 65 Kamu Menyukainya?

    Malam itu Erin menyadari kalau dirinya sudah terlalu banyak ikut campur terhadap apa yang terjadi dengan Rama.Entah ada masalah apa di antara Rama dan Sena, wanita pengirim pesan tanpa nama, hal-hal seperti itu seharusnya dibiarkan berlalu saja.Ah, dan satu hal lagi.Erin juga sempat menanyakan nama lengkap Manajer Lee.Mendapati pertanyaan yang tiba-tiba itu, Rama jelas dibuat penasaran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan manajerku?”Karena tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, Erin pun menarik kembali pertanyaannya. Dia beralibi, “Itu … cuma penasaran saja. Kalau Manajer Lee tahu apa yang baru saja kamu lakukan, dia pasti juga akan kesal sepertiku.”Erin menambahkan, “Sejak awal aku sudah memanggilnya Manajer Lee, tapi sebenarnya aku tidak tahu nama aslinya.”“Cukup panggil Manajer Lee saja.”Sampai di situ, Rama tidak memberikan jawaban lain. Oleh karena itu, Erin tidak bertanya lebih lanjut.Tidak mungkin dia terang-terangan memberitahu asumsi konyolnya kalau pria bernama ‘Pak Lee’ ya

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 64 Memberitahu Rama

    “Kalau kamu tidak mencoba menghentikkan permainan, aku tidak akan kalah, Erin.”Begitu menyusul Erin masuk ke ruang fisioterapi, Rama tidak segan menyuarakan kekesalannya. Namun, dia sengaja menjaga jarak, seakan tidak ingin kekesalannya memuncak.Erin yang sedang menyiapkan alat terapi di dekat salah satu bed menatap Rama setengah tidak percaya. “Dalam situasi tadi, kamu masih memikirkan hal itu?”Tidak hanya Rama yang kesal. Erin pun sama. Kedua alisnya bertaut tidak kalah tajam. “Kalau cederamu memburuk, kamu bisa absen bertanding berbulan-bulan.”Bukan hanya proses terapinya yang akan berjalan lebih lama, tetapi juga kesempatan Rama untuk kembali bermain di lapangan. Tidakkah seharusnya pria itu menyadari hal tersebut?Keduanya masih saling bertatapan sengit sampai akhirnya Rama yang lebih dulu membuang pandangan. Dia mendengus pelan. “Kamu tidak mengerti.”“Apa yang tidak aku mengerti?” balas Erin seakan menantang Rama.Apa yang dia lakukan adalah mencoba memahami pria keras kepa

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 63 Ikut Campur

    Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 7 Bantuan

    Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin. “Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—” Namun, Rama bahkan tidak meliriknya. Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depanny

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 4 Tanda Tanya Besar

    Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan mena

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status