Partager

Bab 5 Rama Lagi?!

last update Date de publication: 2026-04-09 11:10:14

Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.

“Hachi!”

“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”

“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak sakit. Erin bersin cuma karena debu,” balas Erin cepat sambil tersenyum hangat.

Dia kemudian menaikkan selimut untuk menghangatkan tubuh ibunya yang kini berbaring di ranjang tidur.

Menatap sang ibu yang tampak lemas, senyuman Erin sedikit goyah.

Hari ini terhitung bulan ketiga sejak dia kembali ke kota asal untuk membangun klinik sekaligus menjaga kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini … kondisi ibunya yang didiagnosis Alzheimer tidak menunjukkan perbaikan. Justru semakin menurun.

Beberapa saat lalu, saat Erin berjaga di klinik, dia mendadak menerima telepon dari sang ayah yang mengatakan bahwa ibunya keracunan makanan. Panik, Erin langsung pulang dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Untungnya, kondisi sang ibu berhasil ditangani dengan cepat, dan dia bisa langsung diperbolehkan pulang.

Kejadian seperti itu bukan yang pertama kali terjadi. Hera—ibu Erin—sudah beberapa kali membahayakan diri akibat penyakitnya.

Bukan cuma pernah mendadak menghilang hingga malam dan membuat panik seisi rumah, tapi Hera juga pernah menyalakan kompor lalu melupakannya hingga dapur hampir terbakar.

Hal-hal seperti itulah yang membuat Wisam, yang tadinya adalah seorang guru di Gravion, berhenti dari pekerjaannya dan memilih bekerja sebagai pengemas hasil panen jeruk di toko dekat rumah. Semua agar dia bisa terus mengawasi sang istri.

Sebelumnya, adik laki-laki Erin selalu berusaha pulang setiap libur semester untuk membantu ayah mereka untuk menjaga sang ibu. Akan tetapi, karena harus fokus dengan tugas kelulusannya, dia semakin sulit pulang.

Alhasil, sebagai anak tertua sekaligus yang paling mapan, Erin memutuskan untuk pulang dan membangun bisnisnya di kota ini. Semua demi bisa memiliki waktu untuk menjaga ibu dan ayahnya.

Erin sungguh berharap bisnisnya dengan Cakka bisa segera makmur. Karena hal tersebut bukan hanya akan membantunya secara finansial, tapi juga memberikannya lebih banyak waktu untuk menjaga kedua orang tuanya sendiri.

‘Semoga hari ini Kepala Sekolah kirim kontraknya,’ batin Erin.

Lalu pintu kamar terbuka.

Erin menoleh ke sana dan menemukan Wisam datang sambil membawa air kelapa untuk Hera agar tidak mengalami dehidrasi.

Namun, ada hal lain di tangan ayahnya yang membuat Erin menghela napas. “Yah, Erin sudah pernah bilang, kurangi minuman manis begitu.”

“Oh, ini?”

Usai memberikan air kelapa itu pada Hera untuk diminum, Wisam menunjuk minuman botol yang ada di tangannya. “Ini minuman isotonik, bukan soda,” jelasnya.

Dia lalu memutar botol tersebut ke arah Erin dan berkata, “Perhatikan baik-baik, siapa model iklan minuman ini?”

“ … Rama?”

Itu bukan Erin yang menjawab, melainkan Hera.

Erin terdiam dan langsung menatap sang ibu. Dia membatin, ‘Ibu ingat soal Rama?’

Pasalnya ingatan Hera memburuk setelah adanya diagnosis penyakit tersebut. Hera bahkan pernah lupa wajah ibunya yang sudah lama meninggal.

Lalu, bagaimana bisa Hera bisa mengingat soal Rama?

“Loh, Ibu masih ingat siapa Rama?”

Wisam menyuarakan pertanyaan yang sama persis dengan yang ada di benak Erin.

Hera menjauhkan gelas yang berisi air kelapa di bibirnya dan menganggukkan kepala. “Ibu tahu. Wajahnya sering Ibu lihat di televisi.”

Jawaban Hera tak cukup sampai di sana. Dia melanjutkan, “Wajahnya mirip dengan teman Erin yang pernah datang ke sini. Apa mereka orang yang sama?”

Mendengar Hera mengingat itu dengan baik, Erin tidak tahu harus merasa bersyukur atau tidak. Karena dari sekian banyak hal yang bisa Hera ingat, kenapa harus sosok Rama? Seseorang yang Erin sendiri ingin sekali lupakan.

“Ya, mereka Rama yang sama, Bu!” sahut Wisam antusias. Dia juga tidak menyangka Hera mengingat Rama yang sering berkunjung ke rumah karena berteman dengan Erin.

“Rumornya Rama sedang ada di kota kita loh!” Wisam terdengar antusias. Dia menatap Erin dan Hera dengan semangat. “Waktu Ayah beli air kelapa tadi, di lapangan basket situ banyak warga berkerumun. Dan saat ayah tanya, katanya Rama sedang di sana.”

“Sayang sekali, Ayah tidak sempat ketemu karena terlalu ramai,” keluhnya sambil menghela napas. “Tapi, untungnya Ayah masih dapat minuman isotonik gratis dari petugas.”

Terdengar Wisam berdecak kagum. “Rama hebat sekali ya, sekarang. Kamu sudah ketemu belum, Erin?”

Ditembak pertanyaan itu, Erin meneguk ludah. Mendadak dia gelagapan. “K–kemarin sempat ketemu, tapi Rama sibuk. Jadi, cuma bertegur sapa saja.”

Erin tak menjelaskan banyak. Orang tuanya hanya mengetahui bahwa dia dan Rama berteman. Tidak lebih daripada itu.

Di tengah rasa takut ditanyai lebih lanjut, beruntung ponsel di saku celana Erin berdering panjang.

“Bu … Yah, Erin izin angkat telepon dulu ya,” pamitnya sebelum langsung keluar untuk mengangkat panggilan.

Saat melihat layar, mata Erin terbelalak. “Pak Kepsek?”

Ini pasti tentang kontrak kerja sama mereka!

Tanpa berpikir panjang, Erin langsung menerima sambungan telepon itu. “Selamat sore, Pak,” sapanya dengan ramah.

“Sore. Apa saya mengganggu waktunya, Erin? Saya ingin bicarakan tentang kontrak kerja sama.”

Langkah Erin berbelok menuju kamar miliknya. Dia masuk ke dalam dan menyahut antusias, “Sama sekali tidak mengganggu, Pak. Bagaimana jadinya, Pak?”

“Emm, jadi ….”

Mendengar kecanggungan di suara pak kepala sekolah, senyuman Erin sedikit memudar. Dia pun duduk di sisi ranjang dan berkata, “Ada apa, Pak? Bisa katakan saja langsung. Apa ada masalah dengan klausanya? Ada yang perlu dirundingkan kembali?” cecarnya.

“Bukan, Erin. Begini …,” Erin mendengar suara kepala sekolah menarik napas panjang sebelum lanjut berucap, “Yayasan berakhir tidak menyetujui bekerja sama dengan klinikmu.”

“Apa?” Erin membeku sesaat. Lalu, kepanikan menyelimutinya. “Bukannya sebelumnya Bapak sendiri sudah setuju dengan kontrak kerja sama yang saya ajukan?” protesnya yang merasa keberatan. “Lalu, apa masalahnya, Pak? Apa perlu ada klausa yang diubah? Atau apa, Pak?”

Dua sampai lima detik menunggu, belum ada tanggapan. Sayup-sayup Erin mendengar kepala sekolah tengah berbicara dengan seseorang sebelum akhirnya membalas, “Maaf, Erin, ini sudah keputusan yayasan. Mereka ingin bekerja sama dengan fisioterapis yang lain.”

Tanpa jeda, Erin langsung menimpali, “Fisioterapis lain?”

Erin sudah memeriksa beberapa lokasi di sekitaran Gravion, tidak ada klinik fisioterapi terdekat dari sana.

Alhasil, Erin bertanya untuk memastikan, “Fisioterapis yang mana yang Pak Kepala maksud?”

“Ah, itu … sebenarnya kemarin Rama merekomendasikan fisioterapis yang lebih cocok untuk bisa bekerja sama dengan Gravion.”

DEG

Jantung Erin seperti dipukul keras. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Kenapa lagi-lagi harus Rama?!

**

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 6 Kerumunan Penggemar

    “Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai membakar dadanya.Tindakan Rama sudah keterlaluan!Pun mereka pernah memiliki masalah di masa lalu, haruskah Rama membalasnya dengan cara seperti ini?!Tanpa kerja sama dengan Gravion, kliniknya mungkin akan bangkrut dalam hitungan beberapa bulan ke depan.Dan kalau itu terjadi, bukan hanya dirinya, tapi Cakka juga akan berada dalam situasi terpojok!Memikirkan bukan hanya nasib dirinya, melainkan juga sahabatnya, Erin pun bertekad. “Aku harus menemui Rama!” Berdasarkan informasi yang dia terima dari mulut ayahnya sendiri, Erin segera bergegas menuju lapangan basket dekat tempat sang ayah membeli air kelapa tadi. Jika memang pria itu sedang melakukan syuting, seharusnya dia masih berada di

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak sakit. Erin bersin cuma karena debu,” balas Erin cepat sambil tersenyum hangat.Dia kemudian menaikkan selimut untuk menghangatkan tubuh ibunya yang kini berbaring di ranjang tidur. Menatap sang ibu yang tampak lemas, senyuman Erin sedikit goyah.Hari ini terhitung bulan ketiga sejak dia kembali ke kota asal untuk membangun klinik sekaligus menjaga kedua orang tuanya. Tapi sejauh ini … kondisi ibunya yang didiagnosis Alzheimer tidak menunjukkan perbaikan. Justru semakin menurun.Beberapa saat lalu, saat Erin berjaga di klinik, dia mendadak menerima telepon dari sang ayah yang mengatakan bahwa ibunya keracunan makanan. Panik, Erin langsung pulang dan membawa sang ibu ke rumah sakit. Untungny

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 4 Tanda Tanya Besar

    Kalimat Cakka membuat jantung Erin berdebar. Dia melirik sang sahabat yang lanjut berkata, “Apa mungkin kalian sebenarnya—” “Kami rival,” sela Erin cepat seraya membasahi bibir bawahnya. “Ah?” Cakka menatap Erin penuh selidik, tidak langsung percaya. “Rival …?” Erin menelan makanannya dan menatap Cakka. “Sifat kami tidak cocok, dan selalu ada saja hal yang kami jadikan kompetisi.” Dia menyendok makanannya lagi. “Intinya, kami tidak akur, tapi tidak sepenuhnya benci. Jadi … rival.” Kerutan di dahi Cakka terlihat dalam. “Hanya itu?” Usai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan menelannya, Erin mengalihkan pandangan dari bento yang sudah kosong kembali ke Cakka. “Apa lagi yang kamu harapkan?” Cakka menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas kasar. Raut wajah yang semula tampak antusias pun sirna. “Tidak seru. Kukira kalian mantan pacar, makanya kamu tidak suka saat mendengar namanya.” Erin hampir tersedak mendengar tebakan sahabatnya itu, tapi cepat dia berusaha menj

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 3 Teman Kandung

    “Erin, jangan marah! Aku benar-benar tidak sengaja!”Rengekan itu membuat Erin, yang sedang menyantap makan siangnya di klinik, mengangkat pandangan dan menatap ke depan.Seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata biru terang indah tampak memasang wajah memelas di hadapannya.“Tolong, maafkan aku …?”Menatap Cakka Dalziel, sahabat dekat sekaligus partnernya dalam kepemilikan klinik itu, Erin hanya bisa menghela napas pasrah.Tadi, usai Erin menemukan klinik dalam keadaan kosong tanpa terkunci, Cakka baru kembali dan menjelaskan semuanya. Sekitar setengah jam yang lalu, pria itu ingin menerima paket dari kurir yang baru tiba. Tapi, kemudian dia tertarik oleh restoran baru di ujung jalan dan berujung membeli makan siang untuk Erin dari sana. Masalahnya, dia lupa belum mengunci pintu klinik dan baru teringat kembali saat makanan sudah jadi dan Erin sudah tiba!Alhasil, Erin menegur Cakka habis-habisan dan berujung mendiamkannya selama beberapa saat agar pria itu tahu betapa serius

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 2 Berjodoh?

    Lahir di keluarga yang cukup harmonis dan penuh cinta kasih, membuat Erin pernah berandai-andai, apa rasanya jatuh cinta dan dicintai seseorang?Sampai ketika dirinya masuk SMA, Erin bertemu dengan seorang Rama Mahanta. Dari sejumlah teman, Erin mengetahui satu-dua hal tentang pemuda itu. Tampan, populer, dan berasal dari keluarga kaya. Hal-hal itu membuat Erin awalnya mengira Rama adalah sosok yang arogan. Akan tetapi, tidak disangka, pria itu jauh berkebalikan dari ekspektasinya. Rama cerdas, hangat, perhatian, dan memiliki empati tinggi. Ditambah beberapa kegiatan yang mengharuskannya menjadi partner Erin, keduanya pun menjadi dekat dengan sangat cepat.Sampai akhirnya, Rama pun mengutarakan perasaannya pada Erin.“Erin, ayo kita pacaran.”Berusia tujuh belas tahun dan mudah terbuai perasaan, Erin pun langsung menerima Rama dengan dasar keduanya nyaman menghabiskan waktu bersama.Di masa-masa itu, Erin merasa sangat bahagia, hidupnya terasa sempurna. Dia bahkan percaya bahwa Ram

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 1 Pertemuan di Gravion

    Erin Kayonna berdiri di depan gerbang SMA Gravion dengan satu tangan menggenggam erat dokumennya.Setelah sepuluh tahun lalu meninggalkan kota ini dengan memori buruk, Erin tidak menyangka dia malah kembali ke tempat ini lagi. Tapi, keadaan memaksa, jadi Erin tidak memiliki pilihan lain.Kesehatan ibu Erin mulai menurun beberapa bulan terakhir karena usia. Ayahnya pun tidak lagi cukup kuat untuk merawatnya sendiri, sementara adik laki-lakinya masih kuliah di luar kota dan jarang bisa pulang.Akhirnya, Erin memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai fisioterapis di ibu kota dan kembali ke kota asal demi menjaga kedua orang tuanya.Untungnya, teman Erin dari ibu kota, yang berprofesi sama dengannya, menawarkan kerja sama untuk membuka klinik fisioterapi olahraga kecil di kota ini. Dan karena Gravion memang cukup terkenal sebagai penghasil atlet profesional, Erin pun menyetujui ide tersebut.Seperti bunyi peribahasa ‘sambil menyelam minum air’, dia bisa tetap bekerja sekaligus menjag

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status