LOGINSetelah seharian penuh memulihkan diri, Shanina akhirnya bisa beranjak dari kasur. Badannya sudah lebih enteng. Kemarin, Theo mengantarnya pulang lantaran pria itu hendak melakukan perjalan bisnis keluar negeri entah sampai kapan. Dan dua hari berlalu semenjak ia sembuh. Seperti baiasa, rumah besar kediaman Carter terasa membosankan baginya. "Bukankah ini sangat membosankan? Kurasa aku belum menyentuh pekerjaanku semenjak pulang dari kantor Theo." Shanina bergumam sendiri di dalam kamarnya. Ia mengambil peralatan kerja miliknya, hanya untuk mendapati bahwa barang-barang miliknya telah hilang. Ekspresi keterkejutan nampak jelas di wajahnya. "Theo!" Shanina menggeram marah, menyapu barang-barang di atas meja dalam sekali sentakan, membuat bunyi gaduh akibat barang-barang yang berjatuhan. Shanina berteriak menjambak rambutnya sendiri. Kemarahannya menghilang secepat itu datang tiba-tiba. Napasnya masih terengah, tapi emosinya sudah kembali terkontrol. Dia jatuh terduduk
Disisi lain, Largo sedang menjalankan tusah khususnya. Setelah membuat Shanina dikeluarkan paksa dari pekerjaannya yang sekarang, dia juga mengambil laptop, alat desain, dan barang-barang yang dipakai untuk bekerja, untuk diserahkan kepada Theo. Setelah mengamati beberapa waktu, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga majikannya. Dahulu, dia adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan kota terpencil, yang hidup di bawa kekejian rumah pemasok human-traficking berkedok panti asuhan. Dia adalah satu-satunya anak yang menyadari kebenaran tersebut, lalu melarikan diri dengan penuh ketakutan yang mengakar kuat. Dia tidak ingin menjadi seperti temannya yang berakhir termutilasi di dalam drum bersama organ-organ manusia milik entah siapa. Selama tiga tahun, ia luntang-lantung di jalanan, mengais makanan dari tempat sampah atau menerima belas kasihan para dermawan. Berbagai kejahatan paling keji telah dia saksikan, berbagai penyiksaan yang menguras mental dan kewarasannya
Terlepas dari semua itu, Theo masih mengajaknya pergi ke mal. Hampir dua jam mereka berkeliling dan memilih pakaian untuk Shanina. Sudah beberapa toko dijarah Theo, semua keluaran yang paling cantik nan langka di beli dengan mudah. Membuat Shanina takjub dengan kekuatan uang dan reputasi yang dimiliki Theo. "Kita belum makan sejak siang," rengek Shanina yang menggelayut di lengan Theo, kini sandiwaranya sudah menjadi lebih natural. Theo membawanya ke salah satu restoran di dalam mal. Masih dengan uang Theo, Shanina bisa menikmati apapun yang dia inginkan, meski begitu dia tahu bahwa dirinya harus tetap tahu diri dan tidak menunjukkan kesan negatif. Theo orang yang sarkastik, sedikit saja berbuat salah dia akan disindir. Shanina mengeluarkan ponselnya, hendak memotret makanan tersebut. Theo yang hendak memulai makan kembali menarik tangannya. Memerhatikan Shanina yang tersenyum gembira hingga gadis itu selesai memotretnya. "Dasar norak," cercar Theo. Senyuman di bibir Sha
Theo seharusnya sedang bekerja, namun dia malah sedang sibuk mengamati postingan Instagram Shanina. Baru-baru ini, dia mendapat notifikasi bahwa Shanina telah menerima permintaan untuk mengikuti akunnya. Theo awalnya mencibir tentang akun Shanina yang di private meski pengikutnya hanya sedikit. Namun, kini dia mendukung keputusan itu, lebih baik di private dari pada membiarkan orang-orang asing menikmati wajah Shanina sembarangan. Postingan pertama memperlihatkan wajah muda Shanina, tersenyum manis dengan pose kalem. Itu adalah foto dari tiga tahun lalu, mungkin saat Shanina masih kelas satu. Jika saat itu dia ada di rumah, mungkin dia bisa melihat Shanina di masa-masa segarnya yang polos. Theo melamun memikirkannya sebelum kembali menggulir layar. Ada banyak foto wajah Shanina yang muncul setiap kali dia menggeser foto pemandangan di slide pertama postingannya.Meski tidak menggunakan riasan dan hanya berpose sederhana, anehnya, hal itu mampu membuat matanya terpaku
Sementara itu, Kaysen baru saja mandi dan hendak tidur. Namun sebelum itu, dia mengecek ponselnya terlebih dulu. Keningnya berkerut dalam saat melihat direct message dari Theo. Mereka tidak pernah berinteraksi di media sosial, tapi Theo tiba-tiba mengirim pesan, tentu saja hal itu membuat Kaysen penasaran. Isinya aneh. (Hapus yang ini.) Dan itu merujuk postingan yang terdapat wajah Shanina di dalamnya. Kaysen menurutinya, dia tidak ingin membuat masalah di hidupnya yang tenang—karena Theo adalah orang yang melakukan segalanya sesuka hati dan tidak akan dikritik atas perbuatannya meski dia berbuat kejam. "Oke," gumam Kaysen acuh. Semua postingannya yang menampilkan wajah Shanina telah dihapus. Sekarang pikirannya menjadi rumit. Selama beberapa saat, dia hanya melamun dan berpikir. Jika Theo menyukainya, Shanina mungkin akan berada dalam masalah. *** Pagi itu Shanina melakukan rutinitas yang sama, yakni menyapa Helena meski tidak di respons baik. Ketika sedang berkel
Shanina lupa waktu, ia terlena dalam keseruan bersama teman seangkatannya, yang kini masing-masing sedang mengejar tujuan hidup mereka. Awalnya, sebelas orang tersebut hanya berkumpul untuk makan bersama sambil berbincang hangat—tanpa sindiran atau ejekan, mereka semua positif dan anti toxic club'. Namun, pertemuan itu berlanjut ke ruang karaoke, dimana mereka mengadakan pesta kecil sebelum kembali menghadapi kenyataan esok hari. Shanina bahagia, dia bebas mengekspresikan diri tanpa harus memberitahu keadaan rumah tangganya yang sebenarnya. Semua temannya awalnya tidak biasa melihat keakraban antara dirinya dengan Kaysen, bahkan dulu Kaysen lah yang membuat mereka takut untuk berteman dengannya, tapi kini mereka ikut senang melihat semuanya baik-baik saja. Kaysen tidak lagi semenyebalkan dulu. Saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, Shanina baru merasa panik, tapi tetap menyuruh Kaysen untuk berkendara dengan hati-hati. Dia tidak pernah keluar rumah di atas jam delapan malam, te







