LOGINSedan hitam itu meluncur mulus membelah kawasan bisnis Sudirman sebelum akhirnya berbelok masuk ke pelataran sebuah restoran privat berkonsep fine dining di lantai atas gedung pencakar langit.Suasana kabin yang tadinya tegang oleh makian Harry di telepon kini mencair sepenuhnya, digantikan oleh pendar kepuasan dan kelegaan mutlak yang terpancar dari paras cantik Meisya.Dani memarkirkan kendaraan dengan presisi di area parkir VIP.Dengan gerakan tangkas, sang pengawal tegap turun terlebih dahulu, melangkah cepat membukakan pintu belakang untuk sang nyonya rumah."Silakan, Nyonya Meisya," ucap Dani serak dengan vokal beratnya yang amat tenang.Meisya melangkah keluar, menyunggingkan senyum hangat seraya menyapukan tangannya di lengan berotot Dani yang terbalut jas hitam."Ayo, Dani. Hari ini kita merayakan kemenangan kecil ini berdua saja."Seorang hostess berseragam elegan membimbing mereka menuju area makan privat di sudut ruangan berdinding kaca transparan, menyuguhkan pemandangan
Sebuah restoran khas Prancis berdinding kaca dengan pemandangan kota dari lantai atas menjadi tempat Harry meluapkan kekesalannya siang itu.Di hadapannya, seorang wanita muda berambut pirang hasil cat duduk bersandar seraya memainkan gelas anggur kristal.Harry baru saja selesai memesan menu termahal untuk memanjakan selingkuhannya, mencoba menghibur diri dari amarah yang masih membakar dadanya akibat pertengkaran di rumah Meisya tadi malam."Kamu beneran mau beliin aku tas yang kemarin kita lihat di butik bawah kan, Sayang?" goda wanita muda itu dengan suara manja yang mendayu-dayu.Harry menyunggingkan senyum sombong, menepuk pelan punggung tangan wanita itu. "Tenang aja, Selly. Apa sih yang gak buat kamu? Kamu pikir aku gak punya uang cuma gara-gara masalah kecil di kantor?"Seorang pelayan berseragam rapi melangkah mendekat ke meja mereka, membawakan resi pembayaran di atas nampan perak kecil."Permisi, Bapak. Ini untuk rincian tagihan makan siang hari ini."Harry mencabut sebuah
"Ada satu hal lagi yang harus saya katakan pada kamu, Meisya.”Meisya mendengarkan tanpa ragu sedikit pun.“Kita tidak boleh membiarkan Harry bernapas, Meisya," ucap Pak Laksana dengan nada suara mantap, menatap lurus ke arah Meisya dan Dani."Strategi kita adalah merobohkan benteng perthanannya dalam satu ayunan langkah. Tim saya akan menyiapkan dua berkas permohonan utama yang diajukan bersamaan ke pengadilan negeri dan pengadilan agama."Meisya memajukan posisinya, menopang kedua lengannya di atas meja kaca."Taktik ganda seperti apa yang Bapak maksud?""Pertama, kita daftarkan gugatan cerai resmi dengan alasan perselingkuhan dan penelantaran," terang Pak Laksana seraya menunjuk layar monitor."Bersamaan dengan itu, kita sertakan permohonan penetapan sita jaminan (conservatoir beslag) atas seluruh aset yang dikuasai Harry.“Kita minta pengadilan membekukan sertifikat rumah utama, memblokir seluruh rekening pribadi milik Harry di lima bank swasta, serta menyita mobil sport impor yan
Lift khusus koridor privat berdengung pelan sebelum akhirnya pintu berlapis kaca buram terbuka di lantai teratas gedung pencakar langit tersebut.Dani melangkah keluar lebih dulu, mengedarkan pandangan mata elangnya menyapu seluruh sudut area resepsionis firma hukum Laksana & Partners.Setelah memastikan situasi aman, sang ajudan tegap memberikan isyarat pelan pada Meisya untuk melangkah di sampingnya.Seorang pria paruh baya berambut perak dengan setelan jas abu-abu gelap bergaris berdiri menyambut mereka di ujung lorong.Wajah tegasnya langsung mengukir senyum hangat saat melihat sosok putri tunggal mendiang sahabatnya."Meisya... akhirnya kamu datang juga," sapa Pak Laksana dengan vokal berat yang ramah, menjabat hangat tangan Meisya."Mari, langsung masuk ke ruang rapat utama. Semuanya sudah saya siapkan."Pandangan mata tajam pengacara senior itu sempat tertahan sejenak pada sosok Dani yang berdiri kokoh di belakang Meisya.Postur tegap, rahang keras, dan pandangan mengintimidasi
Keesokan paginya, Meisya melangkah turun menuruni tangga utama dengan keanggunan mutlak seorang putri mahkota penguasa bisnis.Busana dress blazer berwarna biru dongker terpasang sempurna melilit tubuh moleknya, dipadu riasan wajah tegas dan bibir bergincu merah menyala.Dani yang sudah berdiri siap di dekat pintu depan mengancingkan jas hitamnya.Wajah maskulinnya tampak segar meski hanya beristirahat beberapa jam setelah petualangan panjangnya bersama dua wanita di kediaman tersebut."Selamat pagi, Nyonya Meisya," ucap Dani serak dengan vokal berat yang amat tenang, membukakan pintu untuk sang majikan."Pagi, Dani. Siapkan mobil," ucap Meisya penuh wibawa.Sementara tangannya mencengkeram erat tas kulit yang memuat flashdisk dan tumpukan berkas bukti fisik SPT Tahunan."Hari ini
Melihat tubuh mungil Yuni yang berguncang hebat akibat siksaan nikmat yang tak kunjung dituntaskan, Dani menyunggingkan senyum miring.Pria berotot itu akhirnya mengalah, menyadari bahwa pelayan muda berusia dua puluhan di hadapannya memang sudah berada di ambang batas ketahanan fisik dan mental.Tanpa mengulur waktu lagi, Dani merengkuh pinggang ramping Yuni dengan kedua tangan kasarnya yang kekar.Dengan kekuatan fisik yang begitu dominan, Dani mengangkat tubuh Yuni dengan sangat mudah, memindahkannya ke atas meja kabinet dapur yang terbuat dari batuan marmer dingin."M-Mas Dani... dingin!" pekik Yuni lirik, tubuhnya bergidik halus saat panggul polosnya menyentuh permukaan marmer yang sejuk."Nanti juga panas sendiri," pangkas Dani serak dengan vokal berat yang begitu rendah di dekat telinga Yuni.Dani menarik ke atas daster tipis semata kaki yang dikenakan Yuni hingga menumpuk kasar di atas dadanya.Pria tegap itu meregangkan kedua paha mulus Yuni lebar-lebar, membiarkan posisi pel