MasukDua hari berlalu dengan ketenangan yang terasa janggal; sebuah jeda yang menipu, seolah badai besar sedang menahan napas sebelum menerjang kembali. Di sebuah titik pertemuan yang terisolasi, drama kemanusiaan tersaji dalam sunyi.Satu demi satu, keluarga para tawanan itu datang.Mereka datang dengan langkah berat, menggenggam amplop tebal atau tas kecil yang dipeluk erat di dada seolah benda itu adalah jantung mereka sendiri. Di dalamnya, tumpukan uang tebusan menjadi tiket tunggal untuk menukar nyawa. Prosedurnya singkat dan dingin: uang berpindah tangan, dan sebagai gantinya, mereka menerima kembali anggota keluarga yang kini tampak asing. Fisik yang layu dan tatapan mata yang kosong menjadi bukti bahwa meski tubuh mereka selamat, jiwa mereka telah tertinggal di ruang-ruang gelap penyekapan."Lima juta per kepala," gumam salah satu penjaga.Angka itu tampak sederhana, namun jika dikalikan dengan seratus lima puluh nyawa, jumlahnya menjadi sangat masif. Tumpukan uang itu segera menga
Renata baru saja mendapatkan puncak kenikmatan yang menyenangkan, yang membuatnya memejamkan mata lama dengan tubuh berkedut-kedut. Adit mengusap bibir dan wajahnya setelah tadi bersarang di lembah panas itu dan ia mendapatkan hadiah percikan surgawi di wajahnya.Kini Renata mulai bergerak dengan dorongan insting yang jauh lebih liar. Meskipun tubuhnya masih terasa ringan dan sisa-sisa getaran energi dari pijatan Adit tadi masih menggelitik saraf-sarafnya, ia memaksakan diri untuk bangkit.Dengan tatapan yang lapar dan penuh damba, ia menekan bahu Adit, memberi isyarat tanpa kata agar pria itu berbaring telentang di atas hamparan seprai yang sudah berantakan. Adit menurut, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian sang ratu malam itu.Dengan gerakan yang sedikit terburu-buru namun penuh gairah, Renata melucuti pakaian Adit satu per satu, membuangnya ke sembarang arah hingga pria itu kini sepenuhnya polos di hadapannya.Mata Renata membelalak kecil, berkilau di bawah temaram lampu kam
Adit menggeser posisinya, berlutut tepat di samping pinggul Renata yang masih berbaring telungkup. Suasana kamar itu kini terasa begitu kedap, seolah-olah dinding beton markas ini mampu meredam seluruh hiruk-pikuk dunia luar, menyisakan hanya suara napas mereka yang mulai saling berkejaran.Adit meletakkan kedua telapak tangannya di punggung bawah Renata, tepat di atas batas pakaian dalamnya. Ia tidak langsung bergerak; ia memulainya dengan memejamkan mata, memusatkan seluruh fokus pada titik di tengah dadanya, memanggil aliran hangat yang sudah menjadi bagian dari kutukan sekaligus anugerahnya itu.Perlahan, suhu di telapak tangan Adit meningkat, bukan panas yang membakar, melainkan kehangatan yang menjalar seperti madu cair yang meresap ke dalam serat otot.Saat jemarinya mulai melakukan gerakan melingkar yang sinkron, Renata memberikan reaksi instan; punggungnya melengkung sedikit, kepalanya terbenam lebih dalam ke bantal, dan sebuah lenguhan tertahan lolos dari bibirnya, menandaka
Akhirnya Renata memutuskan sesuatu. Ia tak mau rumahnya riuh dan ramai. Maka ia memberi perintah baru; memindahkan orang-orang Pancasona dan Kobra hitam itu ke tempat lain dan proses penebusan akan terjadi di sana.Dengan sigap, Bayu dan Joko mengkoordinasi semuanya. Markas selatan di pilih karena di sana ada banyak gudang, tempatnya luas dan bisa menampung banyak orang dengan nyaman.Satu jam kemudian, truk-truk besar mulai masuk ke halaman. Para tawanan digiring berdiri, tangan masih terikat, lalu dinaikkan ke bak terbuka satu per satu dengan pengawalan ketat. Tidak ada yang berani protes. Wajah-wajah itu sudah cukup tahu bahwa malam ini bukan malam untuk mencoba keberuntungan.Bayu mengawasi proses evakuasi dari pinggir halaman, sesekali berbicara lewat radio genggam. Joko berjalan hilir mudik, matanya awas, goloknya masih tergantung di pinggang.Kurang dari dua jam, halaman sudah kosong. Bahkan motor-motor anak buah Pancasona dan Kobra Hitam itu juga sudah dievakuasi. Terserah mau
Bayu menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah pemuda yang masih gemetar di tanah."Nomor siapa yang bisa dihubungi? Bos kalian. Yang paling atas."Pemuda itu mengangkat kepala dengan susah payah. Matanya merah dan bengkak. "S-saya cuma punya nomor koordinator lapangan. Namanya Hendra. Dia yang tugasin kami malam ini.""Sudah cukup," kata Bayu. "Nomor."Dengan tangan terikat ke depan, pemuda itu menyebutkan deretan angka pelan-pelan. Bayu mengetiknya di ponselnya tanpa terburu-buru. Ia lalu mulai melakukan panggilanNada tunggu berbunyi empat kali sebelum tersambung."Halo? Siapa ini?" Suara di seberang terdengar waspada. Bising motor dan percakapan samar di latar belakang."Kamu Hendra?"Hening sejenak. Lalu, "...Iya. Kamu siapa?”"Bagus. Hendra, saya mau kasih tahu bahwa orang yang kamu kirim malam ini sekarang sedang duduk di halaman kami. Terikat. Dalam kondisi hidup, tapi tidak terlalu nyaman. Kamu mengerti situasinya?"Tidak ada jawaban langsung. Bayu bisa mendengar suara lang
Halaman itu sungguh terlihat kacau dan berantakan. Banyak pot berisi bonsai mahal yang terjatuh. Renata pasti akan sangat kesal melihat semua kekacauan itu.Semua yang masih bisa berdiri sudah lari. Semua yang tidak bisa berdiri tergeletak di atas lantai atau di atas rumput taman dalam posisi yang bermacam-macam; sebagian meringkuk, sebagian telentang datar, sebagian saling menimpa satu sama lain seperti tumpukan karung yang dijatuhkan tanpa perencanaan.Sekitar seratus lima puluh orang, lebih atau kurang. Adit tidak menghitungnya dengan saksama, tapi matanya sudah terlatih untuk membaca kepadatan dan ia tahu angkanya tidak jauh dari itu.Bayu mengeluarkan teleponnya, menghubungi seseorang, dan berbicara dengan nada rendah yang tidak terdengar dari mana Adit berdiri. Joko sudah bergerak, berjalan di antara tubuh-tubuh yang tergeletak, memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang dalam kondisi yang memerlukan penanganan segera, bukan karena kasihan, tapi karena orang yang mati ak
Lima menit berlalu; Lima menit yang terasa seperti berjam-jam bagi semua orang yang menonton dari dalam bus.Clara menatap keluar jendela dengan wajah pucat; tangannya gemetar memegang ponsel. Dia melihat Adit bergerak dengan kecepatan yang melampaui manusia normal, melumpuhkan satu demi satu peram
Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok
Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga
Melalui telefon, Adit menceritakan soal orang-orang TV itu kepada Pak Robert. Lelaki paruh baya itu mengatakan akan segera sampai di markas. Dia meminta Adit menunggu.Tidak sampai sepuluh menit, Pak Robert akhirnya tiba juga di markas. Ia langsung ke ruang tengah dan di sana Adit sedang menunggu s







