Share

Adit Viral

Author: Black Jack
last update publish date: 2025-11-04 12:40:28

Tawaran wawancara live dari luar markas datang bertubi-tubi sejak tadi. Kepala keamanan markas, seorang pria berperawakan tegap dengan latar belakang militer, segera menolak semua permintaan itu tanpa basa-basi. Suaranya tegas nadanya tidak memberi ruang negosiasi. Markas ini bukan panggung terbuka untuk media massa.

Namun Pak Robert dan tim strategisnya memahami dengan sangat jernih bahwa dalam pertarungan opini publik, momentum adalah nyawa. Sebuah trending topic bisa menyala terang dalam sem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Rumah Renata Diserang

    Perjalanan pulang adalah perjuangan yang tidak mudah. Area disekitaran Auditorium itu masih ramai meski sudah 30 menit acara tersebut selesai. Entah kenapa mereka tak mau pulang. Tapi memang ada hoax bahwa Adit akan menemui fans yang ada di luar. Jadilah mereka menunggu. Dan yang tadi ada di dalam Auditorium juga tak pula lekas pulang.Di dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, Adit duduk di tengah, diapit oleh Vera yang terus memantau tabletnya dan Renata yang duduk diam menyesap aroma dari botol kecil essential oil.Seluruh kacanya gelap. Orang tidak tahu siapa yang ada di dalam. Namun demikian, entah mobil apapun yang keluar dalam kawalan ketat, pasti akan menimbulkan teriakan dari fans yang menggila itu.“Astaga…” Adit cukup syok melihatnya.“Sampai sebegitunya ya…” kata Vera.“Masuk ke dunia hiburan adalah kesalahan terbesar yang telah kalian lakukan…” Renata berkomentar. “Aku tidak memungkiri, kamu mendapatkan banyak pendukung, Dit. Mereka akan maju saat kamu ada masalah. Sepert

  • Tukang Pijat Tampan   Jumpa Fans

    Mobil itu berangkat pukul delapan pagi.Renata duduk di depan bersama sopirnya. Adit dan Vera di belakang, dengan jarak yang sudah menjadi jarak default mereka dalam perjalanan panjang.Vera sibuk dengan ponselnya yang sudah aktif sejak sejam sebelumnya, membalas pesan dari Bu Ria dan tim manajemen yang rupanya juga sudah tidak tidur sejak tadi malam.Sementara Adit dengan jaket gelap dan masker yang sudah ia pasang sejak keluar dari gerbang, memilih untuk menatap keluar jendela dengan ekspresi seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Adit diam-diam mencoba untuk tidak gugup. Tapi ia tidak berhasil."Kamu sarapan tadi nggak habis," kata Vera tanpa menoleh dari layarnya."Habis.""Apa iya? Kayaknya kamu nggak habis deh sarapannya..." Vera menggodai Adit.Adit tidak merespons. Jiwanya seolah tidak sedangh berada di tubuhnya. Melihat hal itu, Vera memilih untuk tidak melanjutkan.Renata di depan tidak berkomentar, tapi ada sesuatu

  • Tukang Pijat Tampan   Thrailer Sudah Muncul

    Sekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r

  • Tukang Pijat Tampan   Adit Setuju, Tapi Tidak Mau Gratis

    Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B

  • Tukang Pijat Tampan   Bangunan Peninggalan Pak Darmawan

    Uap air yang tersisa di ruangan itu perlahan menipis, menyisakan keheningan yang nyaman setelah badai gairah yang baru saja mereda. Adit, dengan sisa-sisa napas yang mulai teratur, menunjukkan sisi lembutnya. Ia meraih handuk putih tebal dan dengan telaten mengeringkan tubuh Renata yang masih bergetar kecil karena sisa-sisa stimulasi tadi.Lalu mereka keluar dari kamar mandi. Adit menggendong Renata dan memberdirikannya di depan cermin. Mereka berdua sama-sama menatap pantulan itu; dua sosok yang masih telanjang.“Dit… itumu masih berdiri… sumpah aku udah nggak kuat… jangan minta lagi ya. Ini masih pagi…” kata Renata.“Hehehe. Nggak kok. Tadi udah cukup. Aku bantu kamu pakai baju…”Renata benar-benar seperti boneka kain; ia membiarkan Adit memandu lengannya masuk ke dalam pakaian, bahkan untuk mengancingkan pakaiannya pun ia tak lagi memiliki tenaga. Sentuhan Adit kini murni penuh perhatian, tanpa ada lagi sisa-sisa manipulasi energi yang mengintimidasi.Setelah memastikan dirinya sen

  • Tukang Pijat Tampan   Mengakhiri Permainan Nakal Itu

    Renata mendongakkan kepala, menyandarkannya di bahu Adit yang basah. Matanya terpejam rapat, mencoba menghalau arus listrik yang dikirimkan Adit melalui permukaan kulitnya. "Kamu... curang, Dit. Pakai kekuatan unikmu itu," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan suara air.Adit terkekeh rendah, sebuah getaran maskulin yang terasa langsung di punggung Renata. "Dalam perang dan cinta, tidak ada aturan, Kak. Bukannya kamu sendiri yang bilang mau memastikan semuanya 'bersih'?"Tangan Adit yang tadinya hanya memberikan sentuhan halus, kini mulai memberikan tekanan yang lebih tegas. Energi gaib yang ia salurkan perlahan berubah frekuensinya, dari getaran lembut menjadi sensasi hangat yang menjalar secara konsisten, mengunci kesadaran Renata hanya pada titik-titik sentuhannya.Namun, Renata bukanlah tipe yang mudah menyerah. Meski lututnya terasa lemas, ia menemukan celah. Saat tangan Adit sedikit melonggar untuk berpindah posisi, Renata dengan cepat membalikkan badannya di dalam ku

  • Tukang Pijat Tampan   Terlalu Sungguhan Sebagai Latihan

    Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Semakin Intens Bersama Melinda

    Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Larasati Lemas

    Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Tak Pernah Bisa Menolak Renata

    Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status