로그인Halaman itu sungguh terlihat kacau dan berantakan. Banyak pot berisi bonsai mahal yang terjatuh. Renata pasti akan sangat kesal melihat semua kekacauan itu.Semua yang masih bisa berdiri sudah lari. Semua yang tidak bisa berdiri tergeletak di atas lantai atau di atas rumput taman dalam posisi yang bermacam-macam; sebagian meringkuk, sebagian telentang datar, sebagian saling menimpa satu sama lain seperti tumpukan karung yang dijatuhkan tanpa perencanaan.Sekitar seratus lima puluh orang, lebih atau kurang. Adit tidak menghitungnya dengan saksama, tapi matanya sudah terlatih untuk membaca kepadatan dan ia tahu angkanya tidak jauh dari itu.Bayu mengeluarkan teleponnya, menghubungi seseorang, dan berbicara dengan nada rendah yang tidak terdengar dari mana Adit berdiri. Joko sudah bergerak, berjalan di antara tubuh-tubuh yang tergeletak, memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang dalam kondisi yang memerlukan penanganan segera, bukan karena kasihan, tapi karena orang yang mati ak
Penyerang lain datang dari kiri; pria bertubuh besar dengan rantai besi yang diputar di atas kepalanya, menimbulkan dengung yang memekakkan. Ia berlari dengan langkah berat, yakin bahwa momentum dan massa tubuhnya cukup untuk merobohkan apapun yang ada di depannya.Adit tidak bergerak. Tidak satu langkah pun. Ia hanya menatap, menghitung, menunggu. Tiga langkah. Dua. Satu.Tepat saat rantai itu terayun ke arah kepalanya, Adit melangkah miring setengah meter ke kanan, gerakan paling minimal yang mungkin dilakukan, dan rantai itu lewat begitu saja, membelah udara tepat di sisi kirinya. Sebelum lawan sempat menarik kembali ayunannya, Adit memutar tubuh, menghantamkan sikunya dengan presisi ke tulang rusuk penyerang itu.Krak.Suara yang tidak enak didengar.Pria besar itu terlipat ke depan, napasnya tercabut seketika. Adit menangkap kepalanya, membantingnya ke lantai dengan satu gerakan mulus.BAAAMMM!!Bisa dipastikan, dia tak akan bangun lagi dalam waktu lama.Tapi yang lainnya terus d
Perjalanan pulang adalah perjuangan yang tidak mudah. Area disekitaran Auditorium itu masih ramai meski sudah 30 menit acara tersebut selesai. Entah kenapa mereka tak mau pulang. Tapi memang ada hoax bahwa Adit akan menemui fans yang ada di luar. Jadilah mereka menunggu. Dan yang tadi ada di dalam Auditorium juga tak pula lekas pulang.Di dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, Adit duduk di tengah, diapit oleh Vera yang terus memantau tabletnya dan Renata yang duduk diam menyesap aroma dari botol kecil essential oil.Seluruh kacanya gelap. Orang tidak tahu siapa yang ada di dalam. Namun demikian, entah mobil apapun yang keluar dalam kawalan ketat, pasti akan menimbulkan teriakan dari fans yang menggila itu.“Astaga…” Adit cukup syok melihatnya.“Sampai sebegitunya ya…” kata Vera.“Masuk ke dunia hiburan adalah kesalahan terbesar yang telah kalian lakukan…” Renata berkomentar. “Aku tidak memungkiri, kamu mendapatkan banyak pendukung, Dit. Mereka akan maju saat kamu ada masalah. Sepert
Mobil itu berangkat pukul delapan pagi.Renata duduk di depan bersama sopirnya. Adit dan Vera di belakang, dengan jarak yang sudah menjadi jarak default mereka dalam perjalanan panjang.Vera sibuk dengan ponselnya yang sudah aktif sejak sejam sebelumnya, membalas pesan dari Bu Ria dan tim manajemen yang rupanya juga sudah tidak tidur sejak tadi malam.Sementara Adit dengan jaket gelap dan masker yang sudah ia pasang sejak keluar dari gerbang, memilih untuk menatap keluar jendela dengan ekspresi seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa hari ini tidak berbeda dari hari-hari lain.Adit diam-diam mencoba untuk tidak gugup. Tapi ia tidak berhasil."Kamu sarapan tadi nggak habis," kata Vera tanpa menoleh dari layarnya."Habis.""Apa iya? Kayaknya kamu nggak habis deh sarapannya..." Vera menggodai Adit.Adit tidak merespons. Jiwanya seolah tidak sedangh berada di tubuhnya. Melihat hal itu, Vera memilih untuk tidak melanjutkan.Renata di depan tidak berkomentar, tapi ada sesuatu
Sekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r
Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B
Lalu Adit melepaskan pelukan sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Larasati. Tangannya terangkat, mengusap pipi wanita itu dengan lembut, ibu jarinya menghapus air mata yang mulai menetes."Aku mencintaimu," bisiknya dengan suara yang sangat lembut tapi penuh keyakinan.Larasati tersenyum di anta
Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok
Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga
Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora







