Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Ajakan Ke Hotel

Share

Ajakan Ke Hotel

Author: Black Jack
last update publish date: 2025-03-08 18:43:00

Adit menatap uang lima lembar seratus ribuan di tangannya. Rasanya masih sulit percaya kalau ia baru saja menerima tip sebesar itu hanya dari satu sesi pijat. Seumur-umur bekerja di tempat ini, belum pernah ada klien yang memberinya uang sebanyak ini sebagai bonus.

"Kamu layak mendapatkannya," kata Ratna tadi sebelum keluar dari ruangan. "Aku harap kamu tidak keberatan aku mengajakmu makan malam nanti."

Adit tidak tahu harus menjawab apa saat itu. Namun, melihat cara Ratna tersenyum, caranya menggenggam tangannya sesaat sebelum pergi, ia tahu bahwa ajakan itu bukan sekadar basa-basi.

Maka, ia pun mengangguk dan menerima ajakan tersebut. Adit sendiri tak tahu kenapa ia tak bisa menolak. Mereka sempat bertukar nomor telepon sebelum Ratna meninggalkan tempat pijat dengan langkah ringan.

Ia menyimpan uang itu dengan hati-hati ke dalam dompetnya yang sudah mulai usang. Lima ratus ribu—jumlah yang sangat berarti bagi Adit yang selama ini hidup pas-pasan. Apalagi ia masih harus membayar cicilan utang pinjaman online yang dulu ia ambil demi membiayai pengobatan kakeknya. Sayangnya, meski sudah berusaha semaksimal mungkin, takdir berkata lain. Kakeknya tetap meninggal dunia, meninggalkan Adit dengan beban finansial yang cukup berat.

Hari itu, Adit tidak menerima klien lain. Entah kebetulan atau memang Pak Rudi yang mengaturnya, ia tidak terlalu peduli. Dengan uang yang baru ia dapat, rasanya ia tidak masalah meski hanya menangani satu pelanggan saja hari ini. Gaji pokoknya tetap ada, dan kini ada tambahan besar yang bisa meringankan bebannya.

Waktu terasa berlalu cepat. Jam kerja pun berakhir. Adit segera menuju ke rumahnya yang kecil dan sederhana itu. Begitu sampai, ia langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dengan air dingin yang sedikit mengusir rasa lelah. Setelah itu, ia mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki; kaus hitam polos dan celana jeans yang masih cukup layak.

Saat ia sedang merapikan rambutnya di depan cermin kecil di dinding, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk.

"Halo?" Adit mengangkatnya. Jantungnya sedikit deg-degan.

"Adit... kamu sudah siap?" Suara Ratna terdengar di seberang, lembut namun ada nada antusias.

Adit melirik jam dinding. Masih ada waktu, tapi sepertinya Ratna sudah tidak sabar. "Iya, Mbak Ratna. Sebentar lagi aku berangkat. Kita ketemu di mana?"

“Aku sudah di restoran, nih. Restoran Orchid di pusat kota. Aku tunggu kamu di sini, ya. Jangan lama-lama,” balas Ratna.

“Baik, Mbak. Aku segera ke sana,” jawab Adit. Ia semakin gugup saja. ‘Hanya makan malam. Bukan apa-apa...’ ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Panggilan berakhir. Adit menarik napas panjang sebelum mengambil kunci motornya. Malam ini mungkin akan jadi malam yang menarik. Ia tidak tahu pasti apa yang Ratna inginkan darinya, tapi ia memutuskan untuk mengalir saja mengikuti arus.

Tanpa menunda lagi, ia pun bergegas keluar, menyalakan motor, melaju dengan kecepatan terbaik yang bisa ditempuh oleh motor tuanya itu menuju restoran tempat janji temu mereka.

Sesampainya di restoran Orchid, Adit segera melangkah masuk dan mencari sosok Ratna. Wanita itu sudah duduk di sebuah meja dekat jendela, mengenakan gaun elegan berwarna merah anggur. Rambutnya tertata rapi, dan ada senyum lembut di wajahnya saat melihat Adit datang.

"Akhirnya kamu datang," ujar Ratna saat Adit duduk di hadapannya. "Kamu terlihat lebih segar setelah mandi."

Adit tersenyum canggung. "Terima kasih, Mbak Ratna. Saya tidak ingin terlihat berantakan di tempat seperti ini. Mbak Ratna juga kelihatan beda,” balas Adit.

“Beda apanya?” tanya Ratna dengan eskpresi menggoda.

“E, lebih cantik... em, maaf Mbak...” kata Adit. Ia cukup salah tingkah di depan wanita yang lebih tua darinya itu. Masalahnya, Ratna sudah menikah. Ia pun kepikiran juga sebenarnya.

Ratna terkekeh kecil. "Santai saja, Adit. Anggap saja kita teman. Tidak usah terlalu formal. Oh ya, pesan saja apa pun yang kamu mau. Jangan sungkan."

Adit menatap menu di tangannya dengan sedikit bimbang. Restoran ini jelas bukan tempat makan murah yang biasa ia datangi. Semua harga di sini cukup mahal baginya. Namun, melihat tatapan Ratna yang meyakinkan, akhirnya ia memilih menu yang sekiranya tidak terlalu berlebihan.

Tak lama, pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelah makanan dipesan, mereka kembali mengobrol santai. Ratna banyak bertanya tentang kehidupan Adit, tentang bagaimana ia bisa menjadi terapis pijat, dan juga sedikit tentang masa lalunya. Adit menjawab secukupnya, meski ada beberapa hal yang ia simpan untuk dirinya sendiri.

"Jadi, kamu tinggal sendiri di rumah?" tanya Ratna sambil menyesap anggurnya.

"Iya, Mbak. Saya sudah lama hidup mandiri. Sejak kakek meninggal, saya harus mengurus semuanya sendiri,” jawab Adit.

Ratna mengangguk dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Kamu anak yang mandiri. Itu bagus. Tidak banyak pria seusiamu yang bisa bertahan sendiri seperti itu!”

Adit hanya tersenyum tipis. "Saya tidak punya pilihan, Mbak. Kalau tidak bekerja, saya tidak bisa hidup,”

“Berapa sih usiamu? Sory, hanya penasaran...”

“Hampir 19 mbak. Ya lulus SMA terus kerja serabutan, lalu nemu lowongan di klinik itu. Nggak tahu kenapa aku dimasukkan ke terapis. Padahal lowongannya cuma OB...”

“Itu karena kamu punya penampilan menarik. Tubuhmu bagus. Rajin olah raga kah?”

“Ya lumayan sih. Dulu ikut pencak silat. Tapi karena itu aku jadi rutin berolah raga!”

“Wow! Bisa jadi pelindung dong! Hehehe!”

Obrolan mereka berlanjut hingga makanan datang. Mereka makan dalam suasana nyaman, diselingi percakapan ringan dan beberapa tawa kecil. Ratna tampak benar-benar menikmati kebersamaan ini, dan Adit, meski awalnya canggung, mulai merasa lebih santai.

Setelah makanan hampir habis, Ratna meletakkan garpunya dan menatap Adit dengan senyum penuh arti. "Adit, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu malam ini. Bagaimana kalau kita menginap di hotel?"

Adit terdiam sejenak. Tawaran itu jelas memiliki makna tersendiri. Ia bisa membaca isyarat dari cara Ratna menatapnya. Namun, ia juga tahu bahwa ini bukan sekadar ajakan biasa.

"Hotel?" Adit mengulang kata itu, mencoba memastikan maksudnya.

Ratna mengangguk. "Ya. Aku ingin bersantai lebih lama. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. Aku yang urus semuanya."

Adit menatap Ratna dalam diam. Malam ini benar-benar semakin membuat dia galau berat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Anank Maycon
mantap banget
goodnovel comment avatar
Gilang Romadhon
tidak asik
goodnovel comment avatar
mangana engfree (engineering)
Gak bisa buka lagi….!!!!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   The End

    Sentuhan bibir Adit di area paling sensitifnya mengirimkan gelombang kejut yang membuat Vera melentingkan punggungnya. Di bawah temaramnya cahaya kamar, Vera mencengkeram erat seprai, sementara Larasati yang berada di sisinya terus menggenggam jemari Vera, menyalurkan kehangatan yang anehnya terasa begitu menenangkan. Tidak ada amarah di mata Larasati; yang ada hanyalah tatapan sayu yang penuh penerimaan.Adit perlahan menyudahi kecupan awalnya, lalu menegakkan tubuhnya di antara kedua kaki Vera yang kini terbuka tanpa daya. Sepasang mata tajam Adit menatap lurus ke dalam netra Vera yang basah oleh air mata gairah."Rileks, Ver... Percaya sama aku," bisik Adit, suaranya terdengar begitu dalam dan berwibawa di sela keheningan malam.Vera tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, bibirnya yang sedikit digigit menahan desah yang terus mendesak keluar. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dadanya, berpacu antara rasa takut akan rasa sakit pertama, rasa

  • Tukang Pijat Tampan   Atas Izin Laras

    Di atas ranjang yang sama, atmosfer kamar seolah dipenuhi oleh kabut gairah yang tebal. Vera masih terus menggelinjang, tubuhnya melengkung pasrah didera sisa-sisa badai kenikmatan yang belum sepenuhnya reda dari sistem sarafnya. Di sisinya, Larasati pun dibuat berada dalam kondisi yang serupa; energi murni yang terus dipompakan Adit membuatnya terengah-engah dalam kepuasan yang tumpang-tindih.Ketika Adit akhirnya perlahan menarik dirinya dan mencabut penyatuan mereka, Larasati merasakan kekosongan yang seketika melanda. Tubuhnya benar-benar lelah, lumpuh, dan tak lagi bisa digerakkan. Namun, di tengah keletihan fisik itu, kabut di otaknya perlahan mulai menipis, memaksanya untuk mencerna apa yang sedang terjadi di depan matanya.Larasati mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Ia tahu Adit sedang beralih pada wanita lain di sebelah mereka. Anehnya, tidak ada rasa cemburu atau amarah yang membakar dadanya.Ada sebuah letupan perasaan asing yang tak bisa ia d

  • Tukang Pijat Tampan   Membawa Laras Ke Ranjang Vera

    Setelah jeda sesaat yang diisi oleh hela napas pendek, kerinduan Larasati rupanya belum sepenuhnya terpuaskan. Ia masih ingin lagi merasakan kenikmatan yang sungguh gila dan nyata itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia kembali menegakkan tubuh dan menggerakkan pinggulnya dengan lincah di atas tubuh Adit.Gerakan ritmis yang penuh gairah itu baru benar-benar melambat dan berhenti ketika badai kenikmatan yang kedua kembali menerjang seluruh syaraf tubuhnya. Kali ini, Larasati benar-benar kehabisan daya. Ia ambruk, terengah-engah pasrah dengan tubuh yang lemas dan basah oleh keringat, merebahkan dadanya di atas dada bidang Adit.Di momen itu, Adit memikirkan Vera.Sedari tadi, sebetulnya, indra sensitif Adit bisa merasakan setiap pergerakan gelisah dari ranjang seberang. Vera tidak benar-benar tidur. Adit tahu persis wanita itu sedang berpura-pura terlelap di tengah siksaan batin mendengar semua keintiman ini.Ada rasa tidak tega yang mendalam merayap di hati Adit. Terlebih, ia masih

  • Tukang Pijat Tampan   Bersatu Secara Nyata

    Di sisi lain ranjang, Vera seketika menahan napas. Jantungnya berdebar-debar hebat menyadari pergerakan Larasati. Namun, Vera tetap memaku tubuhnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan berpura-pura tetap tidur di tengah kegelapan malam.Larasati perlahan merebahkan tubuhnya di sebelah Adit, bergerak seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara, lalu melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu. Sentuhan lembut dan aroma familier Larasati seketika membuat Adit terbangun.Berkat sirkulasi energi murninya, tidur singkat pun sudah lebih dari cukup untuk membuat kesadarannya pulih sepenuhnya dan matanya kembali segar.Larasati yang menyadari Adit sudah terjaga, semakin merapatkan tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Adit dan berbisik lirih, “Dit... aku kangen...”“Iya... aku juga...” balas Adit dengan suara rendah, menatap manik mata Larasati di tengah temaramnya lampu nakas.Mereka pun berciuman, menyalurkan seluruh kerinduan dan rasa lega yang mendalam setelah sekian lama terpisah

  • Tukang Pijat Tampan   Tidak Tahan

    Mereka menatap wajah pemuda itu dengan saksama. Ada rasa haru sekaligus takjub yang menyeruak di hati mereka setiap kali melihat penampilan fisik Adit yang sekarang. Wajah di hadapan mereka saat ini adalah hasil dari operasi paksa yang dilakukan oleh Sekte Kegelapan saat Adit diculik waktu itu. Wajah aslinya telah hilang, berganti dengan struktur wajah baru yang 90 persen berbeda dari Adit yang mereka kenal dulu.Namun, di balik tragedi mengerikan itu, sebuah keberuntungan kecil tetap berpihak pada Adit. Dokter dari Sekte Kegelapan yang mengoperasi wajahnya dulu ternyata adalah seorang penggemar berat drama Korea. Alhasil, sang dokter merekonstruksi wajah Adit hingga kini memiliki visual yang luar biasa tampan, mirip dengan artis Korea papan atas yang sering diidolakan banyak orang. Dengan kulit yang bersih efek dari sirkulasi energi murninya, garis rahang yang tegas namun lembut, serta mata yang kini memiliki sorot yang lebih dalam, Adit benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang

  • Tukang Pijat Tampan   Pertemuan Kembali

    Pintu lift berdenting terbuka di lantai lobi. Larasati hampir berlari keluar, sementara Vera mengekor beberapa langkah di belakangnya dengan topi fedora yang ditarik agak rendah dan masker yang masih menutupi sebagian wajahnya.Di dekat pilar besar lobi, sesosok pemuda dengan ransel gunung berukuran besar tengah berdiri menyandar. Wajahnya agak kusam oleh debu jalanan, namun senyumnya langsung mengembang begitu melihat siapa yang keluar dari lift."Adit!" seru Larasati tak mampu membendung kegembiraannya.Ia langsung menghambur dan memeluk Adit erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu. Laras melepaskan seluruh rasa rindu yang membuncah setelah cukup lama cemas dan terpisah jarak. Adit terkekeh pelan, melingkarkan satu lengannya di pinggang Larasati dan menepuk punggung kekasihnya itu dengan lembut. "Hei, pelan-pelan, Nyonya Besar. Aku bau matahari, lho.""Nggak peduli!" bisik Larasati manja, semakin mempererat pelukannya sebelum akhirnya melepaskannya dengan wajah bersemu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status