MasukDari ruangan Ibu Celina, dan lolos dari Pak Rudi, Adit kembali bekerja seperti biasa. Belum ada klien yang datang. Ia memilih untuk mengobrol bersama terapis lain. Namun sesungguhnya, ia tidak fokus juga diajak mengobrol teman-temannya.
Setelah kejadian dengan Larasati dan perdebatan panjang dengan Pak Rudi, ia merasa butuh angin segar sebetulnya. Mengobrol bersama yang lain bisa menjadi sebuah solusi. Namun, entah kenapa, pikirannya masih melayang ke kejadian-kejadian aneh yang dialaminya belakangan ini.
Waktu berjalan dan satu demi satu para terapis senior itu sudah mendapatkan klien. Tinggal adit seorang di ruangan itu. Sendirian menunggu. Namun tak lama kemudian, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Adit, kamu ada klien baru. Dia minta dipijat oleh terapis pria. Hanya kamu yang kosong kan!" ujar Tia, si resepsionis yang kemarin sore membelanya saat Pak Rudi marah-marah.
“E, iya...” Adir segera berdiri. “Ruangan mana?”
“Ruang 18,” balas Tia. Ia mendekat dan berkata pelan, “Yang sabar ya. Rejeki nggak akan kemana kok...”
“Ada apa memangnya?”
“Pak Rudi sengaja nggak kasih kamu klien. Tapi ini tadi ada satu klien lain yang nggak mau dilayani terapis cewek. Dan hanya kamu terapis cowok yang tersisa. Kalau kamu nggak layani mereka kan nggak ada tips...” kata Tia.
“Hehehe. Nggak apa-apa. Masih ada gaji pokok. Aku cukup beryukur kok. Kebutuhanku juga nggak banyak...” kata Adit.
“Ya sudah sana. Semoga beruntung!” kata Tia.
“Makasih ya Tia. Juga buat kemarin sore. Kamu jadi ikutan kena marah...” kata Adit.
“Santai! Sudah biasa kok!” Tia tersenyum cantik. Ia pun kembali ke ruang depan.
Adit mengangguk. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menuju ke kamar pijat nomor 18. Begitu ia masuk, matanya langsung bertemu dengan sosok wanita yang duduk di kursi menghadap ke cermin besar di sebelah ranjang itu.
Wanita itu tidak muda, namun juga belum bisa dikatakan tua. Usianya mungkin sekitar empat puluhan. Meski begitu, ia masih tampak cantik dengan riasan yang tidak berlebihan. Rambutnya yang sedikit bergelombang tergerai rapi, dan ia memakai gaun santai yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan berada.
“Selamat pagi menjelang siang. Maaf telah menunggu!” Adit menyapa dengan ramah.
"Kamu yang akan memijat saya?" tanyanya dengan suara lembut, namun ada nada penasaran dalam suaranya.
"Ya, Bu. Saya Adit, terapis Anda hari ini," jawab Adit sopan.
Wanita itu tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang. "Akhirnya, ada juga terapis pria yang bisa saya coba. Saya sudah sering datang ke sini, tapi selalu dapat yang wanita."
Adit hanya membalas dengan anggukan kecil.
“Aku akan ganti pakaian sebentar...” kata wanita itu.
“Akan saya siapkan pakaian untuk pijit terlebih dahulu,” kata Adit. Ia segera menuju ke lemari dan mengambil semua yang dibutuhkan. Wanita itu mengambil baju ganti untuk pijat, lalu segera ke ruang ganti.
Adit menyiapkan minyak. Tak lama kemudian, wanita itu kembali. Pakaian khusus pijit yang ia kenakan itu tampak ketat dan pas. Pikiran aneh-aneh mulai menyerang Adit. Namun ia segera menepiskannya agar tetap bisa fokus dan profesional.
Wanita itu berbaring tengkurap di ranjang. Adit menelan ludah, “bisa dimulai, Ibu?”
"Nama saya Ratna," katanya. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Adit dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Saya sebenarnya datang ke sini bukan hanya karena ingin dipijat, tapi juga karena saya butuh seseorang untuk diajak bicara."
Adit tetap mempertahankan senyum profesionalnya. "Kalau saya bisa membantu, saya akan mendengarkan, Bu."
Ratna tertawa kecil. "Jangan terlalu formal begitu. Panggil saja saya Mbak Ratna. Saya belum setua itu."
Adit tersenyum, lalu mengangguk. "Baik, Mbak Ratna. Jadi, ada yang ingin diceritakan?"
Wanita itu menghela napas panjang, lalu mulai berbicara. "Suami saya bekerja di pelayaran. Dia jarang pulang. Kadang berbulan-bulan, bahkan hampir setahun baru kembali ke rumah. Awalnya, saya pikir saya bisa menerima itu. Tapi semakin lama, semakin terasa sepi. Rumah besar, uang berlimpah, tapi tidak ada yang bisa diajak bicara."
Adit mendengarkan dengan tenang. Meski tidak memiliki pengalaman dalam hubungan rumah tangga, ia bisa merasakan kesepian yang dirasakan wanita itu. Namun, ia juga tahu bahwa dirinya bukan orang yang tepat untuk memberikan saran.
"Saya rasa itu sulit, Mbak Ratna. Mungkin bisa coba mencari kesibukan lain? Seperti komunitas, atau hobi yang menyenangkan?" Adit mencoba memberikan saran seadanya.
Ratna tersenyum kecil. "Aku sudah mencoba. Tapi tetap saja, rasa sepi itu tidak hilang."
Adit tidak tahu harus menanggapi seperti apa, maka ia memutuskan untuk mulai memijat. Ia tuangkan minyak di bagian kaki, lalu tangannya mulai bekerja, memberikan tekanan yang tepat di titik-titik tertentu yang terasa keras dan kaku.
Dalam beberapa menit, napas Ratna mulai berubah. "Astaga..." gumamnya pelan. "Ini luar biasa..."
Adit tetap fokus, tidak menanggapi reaksi itu. Namun, ia tahu betul bahwa efek cincinnya kembali bekerja. Tubuh Ratna tampak lebih rileks, bahkan suara desahannya semakin terdengar jelas.
"Adit..." suara Ratna terdengar berat. "Sentuhanmu... ini... lebih nikmat dari apa pun yang pernah kurasakan."
Adit tetap menjaga ekspresi profesionalnya, walau ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Efek pijatan ini bukan sekadar relaksasi biasa. Wanita itu benar-benar tenggelam dalam sensasi yang diciptakan oleh cincin mistis di jarinya.
Demi apa, adit sendiri merasa bingung. Stres juga rasanya melihat wanita itu menggeliat sedemikian rupa diiringi dengan desahan merdu yang lolos dari bibirnya.
Setelah sesi berakhir, Ratna masih berbaring di tempat tidur pijat, matanya terpejam seolah tak ingin kehilangan rasa nyaman yang masih tersisa.
Saat ia akhirnya duduk kembali, ekspresinya telah berubah. Ada tatapan berbeda di matanya saat menatap Adit. Tatapan yang penuh keinginan.
“Sesi sudah selesai Mbak. Apakah ada lagi yang kira-kira belum nyaman?” tanya Adit.
"Adit," katanya dengan suara pelan. "Malam ini... kamu sudah ada rencana?"
Adit mengernyit, merasa ada sesuatu di balik pertanyaan itu. "Belum, Mbak Ratna. Kenapa?"
Ratna tersenyum tipis. "Kalau begitu, temani aku makan malam. Aku tahu restoran yang enak dan aku butuh teman bicara yang menyenangkan seperti kamu."
Adit terdiam sejenak. Tawaran ini jelas lebih dari sekadar makan malam biasa. Ia bisa melihat sesuatu di mata Ratna; sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesepian.
Namun, pertanyaannya sekarang, haruskah ia menerimanya?
"Kenapa diam saja? Ayo turun," kata Renata sambil membuka pintu mobilnya.Adit menghela napas panjang, lalu ikut turun dari mobil.Mereka berjalan memasuki rumah melalui pintu depan yang besar. Begitu pintu terbuka, Adit disambut oleh interior rumah yang selalu terlihat mewah itu. Banyak benda baru yang mengiasi ruang tamu ituTidak ada pembantu yang terlihat. Semua sedang tidur di malam yang sudah selarut itu.Renata melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan anggun, lalu berjalan menuju dapur. "Kamu mau minum apa? Bir? Whisky? Atau air putih saja?""Air putih," jawab Adit pelan. Aku ambil sendiri nanti…”Renata tersenyum, “Baguslah kalau kamu masih anggap rumah ini rumahmu sendiri…”Adit mengambil sebotol air mineral di dapur; di kotak kardus. Lalu ia kembali dan duduk di sofa besar di ruang tamu, meneguk airnya perlahan sambil menatap kosong ke depan.Renata duduk di sampingnya, cukup dekat, lalu menatap Adit dengan pandangan yang mengamati."Kamu terlihat lelah," komentarnya samb
Setelah sekian lama. Sangat lama bahkan, kini Adit kembali duduk di kursi pengemudi mobil mewah itu. Tangannya memegang setir dengan erat, matanya fokus ke jalan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.Ia menyetir tanpa banyak bicara. Mulutnya tertutup rapat, hanya sesekali mengangguk atau bergumam menanggapi.Renata yang duduk di kursi penumpang samping, tampak sangat santai. Ia bersandar dengan nyaman, sesekali melirik Adit dengan senyum tipis, lalu melanjutkan ceritanya tentang bisnis-bisnisnya. Adit hanya mengangguk pelan dan berdehem sesekali menanggapi cerita Renata."Ya, seperti biasanya sih. Dalam bisnis seperti ini, pendapatan tak pernah menjadi masalah. Tapi yang selalu menjadi masalah adalah kemana apakah pendapatan itu sepenuhnya masuk di kantong yang tepat. Dan juga selalu ada pengeluaran yang tidak terduga.""Pengeluaran tak terduga gimana?" tanya Adit akhirnya, suaranya pelan. Sekadar merespon tanpa terlalu memedulikannya."Uang keamanan," jawab Renata sambil menghela
Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan mengatur. Tugas utamamu hanya... bersenang-senang denganku."Ia berhenti sejenak, menatap Adit dengan mata yang menggoda."Bagaimana menurutmu?"Sungguh sebuah tawaran yang bagus. Adit harus mengakui itu.Jika ia mau, ia bisa mendapatkan banyak anak buah; puluhan, bahkan ratusan orang yang siap melindunginya kapan pun. Ia tidak perlu khawatir soal keamanan lagi. Tidak perlu khawatir soal ancaman dari Jenderal guntur atau siapa pun.Ia juga akan punya kekuasaan. Uang. Koneksi.Tapi di saat yang sama, ia tahu ia tidak akan bebas. Ia akan semakin terikat pada Renata. Semakin tenggelam dalam dunia hitam yang ia coba tinggalkan.Dan Adit tahu, bisnis hitam adalah bisnis yang berbahaya. Saat ini mungk
Adit menutup pintu dengan pelan, suara klik kunci yang mengunci pintu itu seolah terdengar nyaring di ruangan itu. Ia berdiri sejenak di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan; mencari tanda-tanda bahwa ada masalah darurat seperti yang Renata katakan lewat telepon.Tapi tidak ada apa-apa.Tidak ada orang terluka. Tidak ada suasana panik. Tidak ada tanda-tanda masalah sama sekali.Hanya Renata yang duduk dengan santai di balik meja kerjanya, menatapnya dengan senyum tipis yang penuh arti.Adit mulai mencurigai sesuatu. Jika memang tidak ada apa-apa yang darurat, ia hanya bisa kesal dalam hati; meski ia tahu ia tidak pernah bisa menunjukkan kekesalannya kepada Renata, bahkan saat ini ketika ia sudah bukan lagi anak buah wanita itu.Ada sesuatu tentang Renata yang membuat Adit selalu merasa... tidak berdaya. Mungkin karena wanita itu pernah memberikannya begitu banyak, pekerjaan, perlindungan, pengalaman hidup, dan juga... malam pertamanya."Duduk, Adit. Jangan berdiri seperti bod
Pukul dua belas malam, ketika Adit baru saja selesai mandi dan bersiap untuk tidur, ponselnya tiba-tiba berdering.Ia meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur, melirik layarnya, dan matanya langsung membesar.Renata.Nama itu muncul di layar dengan foto profil seorang wanita cantik berusia empat puluhan yang masih terlihat sangat muda dan menawan.Adit terdiam, jarinya melayang di atas layar, ragu untuk mengangkat. Kenapa Renata menelefon? Malam-malam begini.Ponselnya terus berdering. Adit ingin mengabaikan, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa. Mungkin rasa hormat. Mungkin rasa penasaran. Atau mungkin... sisa-sisa ikatan emosional yang belum sepenuhnya terputus. Yang jelas, Adit tak bisa mengabaikan Renata.Dengan napas berat, ia mengangkat telepon."Halo?"Suara Renata terdengar di ujung sana; suara yang khas tapi kali ini ada nada mendesak di dalamnya."Adit, ini aku. Renata.""Iya, Kak. Ada apa menelepon malam-malam begini?" tanya Adit."Aku butuh kamu datang ke sua
Dunia seolah heboh karena sebuah postingan. Kadang rasanya tidak masuk akal; kenapa seseorang bisa menjadi sangat terkenal dan menjadi hal yang penting bagi semua orang, membuat mereka merasa harus mengikuti kisah hidupnya, seolah kisah itu adalah bagian dari kehidupan mereka sendiri.Dalam waktu kurang dari satu jam, video itu sudah ditonton ratusan ribu kali. Angka itu terus naik dengan cepat; lima ratus ribu, tujuh ratus ribu, satu juta. Komentar terus berdatangan seperti air bah yang tidak terbendung.Adit menatap layar laptop dengan perasaan campur aduk. Rencananya berhasil. Publik percaya. Mereka menelan mentah-mentah cerita yang ia buat bersama Vera; cerita palsu tentang cinta yang sebenarnya tidak ada.Tapi hatinya terasa berat. Sangat berat.Karena ia tahu, cinta sejatinya sedang menangis sendirian di suatu tempat, melihat video yang sama ini. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap bahwa Larasati mengerti; bahwa ini semua demi melindunginya, bahwa cinta mereka masi







