Share

Chemistry

Author: Black Jack
last update Last Updated: 2025-11-16 14:41:46

Adit tahu ia melakukan kesalahan dan ia berusaha mengendalikan kekuatannya itu. Menghentikan aliran ajaib yang membuat Clara sempat merasakan sesuatu. Dan sebisa mungkin, Adit bersikap biasa saja. Seolah tak ada apa-apa.

Dan memang di mata orang, semua itu tampak normal. Tak ada apa-apa. Clara pun, setelah mengalami keterkejutan, ia hanya bisa bertanya-tanya; apa itu tadi? Dia juga tak menuduh Adit aneh-aneh. Tak ada yang aneh dengan kontak fisik barusan. Tapi ia tahu, sepertinya, Adit tak sengaja mengeluarkan sesuatu, dari sentuhannya, yang membuat dia merasa penasaran.

'Apa itu tadi…' ucap Clara dalam hati.

Meski sudah tak ada lagi aliran energi nakal dari tangan Adit, namun saat itu, Rendra dan Coach meminta mereka berdansa, latihan chemistry. Di pose seperti itu, Clara merasa berdebar; dekat dengan Adit, membangkitkan sesuatu dalam dirinya, berbagai rasa yang rumit.

"Oke, sekarang kita coba adegan di pesta dansa!" kata Rendra sambil menunjuk ke bagian tengah ruangan yang sudah dik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Abdillah Mahyuddin
ngaku aja kamu mantan tukan pijat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Pembicaraan Lelaki

    Adit melangkah memasuki halaman rumah Nenek Delima dengan napas yang tertahan. Vera berjalan di sampingnya, memberikan kehadiran moral yang Adit sangat butuhkan saat ini.Nenek Delima sudah menunggu di teras, wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan harapan. "Adit…masuk," sapanya dengan suara yang lembut tapi serius."Selamat siang, Nenek," sapa Adit sambil sedikit membungkuk hormat. Vera pun juga bersikap serupa.Mereka masuk ke ruang tamu. Di sana, Larasati duduk di sofa dengan mata yang sembab; jelas baru selesai menangis. Di sampingnya duduk seorang wanita anggun yang meski terlihat lelah, tetap memancarkan aura keanggunan dan kelas; Nyonya Sukmasari.Dan di sofa single, duduk seorang pria paruh baya dengan postur tegap, wajah tegas, dan tatapan yang menusuk; Pak Sudirman.Begitu mata Pak Sudirman dan Adit bertemu, ada ketegangan yang langsung terasa.Adit menelan ludah, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak menunduk. Ia menatap balik dengan sopan tapi tidak kalah teguh."S

  • Tukang Pijat Tampan   Pak Sudirman Ingin Bertemu Adit

    Larasati terdiam. Mulutnya terbuka, ingin membantah, tapi tidak ada suara yang keluar. Air matanya mengalir deras.Nyonya Sukmasari juga menangis, tapi ia mengangguk mendukung keputusan suaminya. "Ini demi kebaikanmu, sayang. Percaya sama Papa dan Mama."Nenek Delima hanya bisa menghela napas panjang. Ia paham kekhawatiran Pak Sudirman. Benar, resiko berpacaran dengan Adit sangat besar, resiko keamanan karena musuh lama Adit, resiko privasi karena ketenaran Adit, resiko emosional karena dunia entertainment yang penuh godaan.Tapi di sisi lain, ia juga paham perasaan Larasati. Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dimatikan dengan perintah. Cinta itu tumbuh di hati, dan hati tidak selalu mendengarkan logika."Sudirman," kata Nenek Delima pelan. "Apa kamu yakin ini cara yang benar?"Pak Sudirman menatap ibu mertuanya dengan pandangan yang lelah tapi tetap teguh."Ibu, saya harus melindungi anak saya. Dengan cara apa pun."Ia berdiri, menghampiri Larasati yang masih duduk dengan tubuh berget

  • Tukang Pijat Tampan   Dilarang Pacaran Dengan Adit

    Larasati melepaskan pelukan ibunya dan menatap ayahnya dengan mata yang mulai basah. "Papa... jangan bilang seperti itu. Adit bukan laki-laki sembarangan kok… dia itu…""Dia artis yang terlalu terkenal," potong Pak Sudirman dengan nada yang lebih keras. "Dia orang yang pernah punya konflik besar dengan Jenderal Polisi. Kamu tahu apa artinya itu, Laras? Kamu tahu resikonya?""Papa, itu sudah berlalu. Kasusnya sudah selesai. Adit menang di pengadilan…""Menang di pengadilan bukan berarti aman, Laras!" Pak Sudirman melangkah lebih dekat, suaranya meninggi tapi masih terkontrol. "Kamu pikir seorang Jenderal yang anaknya kalah dan dia sendiri terseret kasus akan begitu saja melupakan orang yang membuatnya malu? Kamu pikir mereka akan diam saja?"Nenek Delima yang berdiri di dekat pintu ruang tamu, menghela napas panjang. Ia paham. Ia paham sekali kekhawatiran menantunya ini."Dirman, duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik," kata Nenek Delima dengan suara yang lembut tapi tegas.Pak Sudirman

  • Tukang Pijat Tampan   Laras Bertemu Orang Tuanya

    Akhirnya mereka memesan. Adit memilih yang paling "murah" meski tetap saja satu setengah juta untuk sarapan terasa gila dan meski ia bukan lagi orang miskin. Jadi, ia hanya memesan makanan dengan nama asing: eggs benedict dengan smoked salmon dan asparagus, plus jus jeruk segar.Clara memesan yang lebih mewah: French omelet dengan truffle hitam, croissant butter Prancis, dan champagne. Ya, champagne untuk sarapan, karena kenapa tidak!Setelah pelayan pergi dengan pesanan mereka, Clara bersandar di kursi dengan postur yang rileks, menatap Adit dengan senyum yang hangat."Jadi," katanya sambil menyilangkan tangan di atas meja dengan elegan, "ada yang mau aku obrolin sama kamu. Soal tawaran project baru."Adit mengangguk, mencoba fokus pada urusan profesional dan mengabaikan perasaan lain di luar urusan itu. "Iya, kamu bilang ada produser yang mau kita main bareng lagi?""Yup," kata Clara sambil mengeluarkan tablet dari tasnya. Ia membuka beberapa file dan memutar tablet agar Adit bisa m

  • Tukang Pijat Tampan   Di Sebuah Restoran Yang Sangat Mewah

    Sebenarnya, Adit bisa saja menolak. Tapi memang dasarnya dia tidak enakan. Dan ujung-ujungnya, dia melakukan saja apa yang diminta Clara. Dan ia memang percaya saja, sebab toh mereka sama-sama mengenakan masker, topi dan kacamata hitam. Mereka tak terlihat sebagai entah siapa.Clara mengambil beberapa foto dengan beberapa pose yang berbeda.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dengan lalu lintas pusat kota yang mulai padat. Mereka mengobrol ringan sepanjang jalan, tentang respon positif film, tentang angka box office yang terus naik, tentang berbagai tawaran endorsement yang masuk untuk Clara, tentang rencana promosi selanjutnya di beberapa kota besar di Indonesia.Clara sangat pandai membuat percakapan tetap ringan dan menyenangkan, tidak ada yang terasa awkward atau terlalu serius. Ia tertawa di saat yang tepat, memberikan komentar yang tulus tapi tidak berlebihan, dan membuat Adit merasa... nyaman. Terlalu nyaman. Ya, selalu begitu pada akhirnya. Awalan boleh saj

  • Tukang Pijat Tampan   Dijemput Clara

    Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah berwarna putih mutiara berhenti dengan mulus di depan gerbang rumah Adit.Adit yang sudah bersiap sejak pukul tujuh, mandi, sarapan ringan, dan berpakaian rapi dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana chino biru navy, keluar dari rumah dengan sedikit perasaan tidak nyaman yang masih mengganjal sejak kemarin.Vera yang juga ada di rumah sejak semalam, berdiri di pintu dengan tangan dilipat di dada, menatap mobil mewah itu dengan ekspresi yang sulit dibaca."Kamu yakin ini cuma breakfast meeting profesional?" tanyanya dengan nada skeptis."Iya, Ver. Clara bilang mau obrolin tawaran project baru. Satu jam doang," jawab Adit sambil mengambil tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel."Hmm," gumam Vera sambil menggelengkan kepala kecil. "Ya sudah. Hati-hati. Jangan buat keputusan yang terburu-buru. Sebab seharusnya kalau soal deal-dealan kontrak, Clara juga melibatkan aku. Ya, anggap saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status