Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Ke Sebuah Candi Tua

Share

Ke Sebuah Candi Tua

Penulis: Black Jack
last update Tanggal publikasi: 2025-04-28 22:11:26

Setengah jam kemudian, deru mesin halus terdengar dari luar. Adit berdiri di ambang pintu dan mendapati sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik terparkir di depan rumah. Di balik kaca jendela yang terbuka separuh, Larasati melambaikan tangan kecilnya dengan santai.

Adit mengambil tas kecilnya, menutup pintu dan menguncinya. Lalu ia berjalan mendekat ke arah Larasati.

"Ayo, masuk." Kata Larasati sambil tersenyum cantik.

Mobil itu begitu nyaman di dalamnya, aroma interior kulit bercampur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Bercanda Di Kamar Mandi

    Setelah puas beradu peluh dan ciuman di bawah guyuran air, gerakan mereka perlahan melambat, berganti menjadi ritme yang lebih seduktif. Adit meraih botol sabun cair, menuangkannya ke telapak tangan hingga busa putih mulai melimpah. Dengan sisa-sisa napas yang masih pendek, mereka mulai saling menyabuni, membiarkan jemari masing-masing menari di atas kulit yang licin dan basah.Namun, fokus Renata mulai teralihkan. Tangannya yang semula berada di dada Adit, perlahan merosot turun melewati perut yang keras, hingga jemarinya menemukan apa yang ia cari. Ia menggenggam "tongkat sakti" Adit yang kini telah bangun sepenuhnya, menegang kaku dan berdenyut hangat di tengah dinginnya air shower.Renata tidak hanya menyabuninya. Ia mulai memainkannya dengan gerakan-gerakan kecil yang menggoda, sesekali menekannya dengan lembut, lalu mengelusnya dengan ibu jari dengan ritme yang sengaja dibuat lambat."Kak Ren... ah, jangan sekarang. Aku bisa selesai duluan kalau kamu begitu," protes Adit sambil

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Agak Merajuk

    Pintu kamar Renata tidak sepenuhnya rapat, menyisakan celah kecil yang seolah mengundang siapa saja untuk mengintip. Tanpa mengetuk, Adit mendorong pintu itu dan melangkah masuk dengan gerak-gerik yang terlampau santai. Renata, yang sedang duduk di tepi ranjang, langsung menoleh. Sepasang matanya terpaku pada Adit, mengisyaratkan tanda tanya besar yang tak terucap.“Ada apa?” tanya Renata pendek. Suaranya datar, namun ada nada waspada di sana.Adit tak lekas menjawab. Alih-alih bicara, ia berbalik dan menutup pintu itu perlahan. Klik. Ia memutar kunci, memastikan privasi mereka utuh. Dengan langkah yang ringan, ia mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di samping Renata. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit dengan posisi tangan menyangga kepala, seolah kamar itu adalah miliknya sendiri.“Kok Kak Ren nggak memarahi aku?” celetuk Adit sambil melirik dari sudut matanya.Renata tetap pada posisinya, tidak beranjak. “Marah untuk?”“Entahlah. Siapa tahu kamu marah.

  • Tukang Pijat Tampan   Tawaran Renata

    Vera mematikan mesin.Pintu utama sudah terbuka ketika mereka berjalan ke teras.Renata berdiri di ambangnya.Ia berpakaian rapi meski masih pagi; blus sutra lengan panjang berwarna krem dan celana palazzo hitam yang membuat ia terlihat seperti seseorang yang tidak mengenal konsep hari santai. Rambutnya diikat rendah di tengkuk, beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah dengan cara yang terlalu sempurna untuk disebut tidak disengaja.Matanya langsung ke Adit.Hanya sepersekian detik, tapi Vera melihatnya. Sesuatu di balik ekspresi Renata yang biasanya terkontrol sempurna bergerak, seperti permukaan air yang disentuh satu jari, sebelum kembali tenang."Sudah pulang," kata Renata. Bukan pertanyaan, bukan teguran. Hanya pernyataan yang membawa banyak hal di dalamnya tanpa menumpahkan satupun."Sudah," jawab Adit datar, menunggu dimarahi.“Ayo sarapan!” ajak Renata. Ia lekas berbalik dengan sikapnya yang datar. Padahal sebetulnya, dan sejujurnya, ia merasa senang Adit pulang. Ada rasa

  • Tukang Pijat Tampan   Memikirkan Bisnis Baru

    Pagi itu udara masih menyimpan sisa dingin malam ketika Vera memarkirkan mobilnya di depan toko. Adit menunggu di depan setelah Vera menelefonnya dan mengatakan ia dalam perjalanan.Toko belum buka tentu saja.Kini Adit mengajak Vera masuk, duduk di meja dapur."Kamu ini…" Vera meletakkan tasnya di kursi kosong, nada suaranya antara menggerutu dan tidak bisa sepenuhnya marah. "Bu Renata marah, tau! Kamu nggak langsung pulang, malah nginep di disini…"Adit menyesap kopinya dengan tenang. "Kemarin mau pulang rasanya kok tanggung. Nemenin Ayunda sekalian biar dia tenang. Dia mungkin masih bawa rasa takut gara-gara tukang palak itu, Ver.""Hmmm."Gumaman itu tidak mengandung persetujuan, tapi juga tidak mengandung penolakan. Vera sudah terlalu lama mengenal Adit untuk tidak mengerti bahwa alasannya tidak salah, dan terlalu jujur pada dirinya sendiri untuk pura-pura tidak mengerti itu.Ayunda muncul dari ruang belakang membawa handuk kecil di tangan, rambutnya masih sedikit berantakan dari

  • Tukang Pijat Tampan   Bermain Sepenuh Hati

    Ayunda tidak memedulikan peringatan itu. Alih-alih melambat, ia justru semakin berani, seolah ingin membuktikan bahwa otoritas Adit tidak berlaku sepenuhnya di atas ranjang ini. Ia tahu persis siapa pria yang ada di hadapannya; Adit bukan pria biasa yang akan tumbang setelah satu kali pelepasan. Energi Adit menjamin keperkasaan yang nyaris tanpa batas; lima ronde pun ia akan tetap kokoh berdiri seperti karang. Dan Ayunda sudah membuktikan hal itu, tak hanya sekali. Tapi selalu setiap mereka bercinta.Dengan pemahaman itu, Ayunda semakin menggila. Gerakannya menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh ritme yang mematikan. Ia menggunakan lidah dan tekanan bibirnya untuk memeras setiap sisa kontrol yang masih dimiliki Adit.Tongkat sakti itu benar-benar tenggelam di tenggorokannya. Ayunda menguncinya sejenak. Lalu jemari tangannya mengusap dua bola di bawa sana, dan terus bergerak ke celahnya, seolah mencari lubang kotor yang ada di sana.Hal itu menciptakan sensasi yang mematikan ba

  • Tukang Pijat Tampan   Menahan Diri Di Kamar Mandi

    Uap air mulai memenuhi ruangan sempit itu saat kran pancuran diputar. Suara gemericik air yang jatuh ke lantai keramik menjadi satu-satunya musik yang mengiringi napas mereka yang mulai memburu. Di bawah temaram lampu kamar mandi yang kekuningan, suasana terasa jauh lebih gerah daripada dapur tadi siang.Ayunda tidak membuang waktu. Dengan jemari yang biasanya lihai menguleni adonan roti, ia kini menelusuri lekuk tubuh Adit. Tangannya yang masih basah bergerak nakal, turun ke bawah, memberikan usapan-usapan berani pada milik Adit yang sudah menegang sempurna sejak pertama kali pintu dikunci.Adit menggeram rendah, sebuah suara yang tertahan di tenggorokan. Ia merasakan sensasi keras dan kaku itu berdenyut di bawah elusan Ayunda yang sengaja menggoda. Ayunda menatapnya dari balik helaian rambut yang basah, matanya berkilat nakal; sisi genit yang hanya ia tunjukkan saat mereka benar-benar berdua."Sabar, Dit..." bisik Ayunda lirih, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan getaran di s

  • Tukang Pijat Tampan   Butuh Mempertimbangkan Sebentar

    Setelah Vera dan Adit selesai membaca naskah; membaca dengan seksama halaman demi halaman, terutama bagian-bagian yang ditandai dengan sticky notes kuning, mereka saling berpandangan dengan ekspresi yang kompleks.Adit menutup naskahnya perlahan, napasnya terdengar berat. Vera masih membuka naskahn

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Tak Pernah Bisa Menolak Renata

    Renata tersenyum melihat Adit sedang berpikir, lalu melanjutkan."Dulu aku tidak bisa terang-terangan memberikan hadiah-hadiah menarik untukmu. Aku takut ketahuan suamiku. Tapi kini aku bebas. Aku bisa memberimu posisi bagus sebagai wakilku. Tidak usah bekerja keras. Hanya tinggal menyuruh dan meng

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Deal Memainkan Film Dewasa

    "Tapi..." Adit bersuara pelan. "Ini tantangan juga sih. Dan kayaknya aku butuh pelatih khusus deh buat latihan akting harian. Soalnya tokoh di film ini beda banget sama film pertama."Vera tersenyum tipis. "Itu gampang. Nanti kita carikan acting coach yang bagus. Mungkin bisa latihan sama coach-nya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Tukang Pijat Tampan   Putus Dengan Laras?

    Adit kembali ke ruang tamu dengan langkah gontai, wajahnya suram seperti langit mendung yang siap menurunkan hujan. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya menyeret beban seberat gunung.Di ruang tamu, semua mata langsung tertuju padanya. Larasati yang duduk di sofa dengan tubuh tegang, Nyonya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status