Beranda / Urban / Tukang Pijat Tampan / Laras Bertemu Orang Tuanya

Share

Laras Bertemu Orang Tuanya

Penulis: Black Jack
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 20:13:16

Akhirnya mereka memesan. Adit memilih yang paling "murah" meski tetap saja satu setengah juta untuk sarapan terasa gila dan meski ia bukan lagi orang miskin. Jadi, ia hanya memesan makanan dengan nama asing: eggs benedict dengan smoked salmon dan asparagus, plus jus jeruk segar.

Clara memesan yang lebih mewah: French omelet dengan truffle hitam, croissant butter Prancis, dan champagne. Ya, champagne untuk sarapan, karena kenapa tidak!

Setelah pelayan pergi dengan pesanan mereka, Clara bersandar di kursi dengan postur yang rileks, menatap Adit dengan senyum yang hangat.

"Jadi," katanya sambil menyilangkan tangan di atas meja dengan elegan, "ada yang mau aku obrolin sama kamu. Soal tawaran project baru."

Adit mengangguk, mencoba fokus pada urusan profesional dan mengabaikan perasaan lain di luar urusan itu. "Iya, kamu bilang ada produser yang mau kita main bareng lagi?"

"Yup," kata Clara sambil mengeluarkan tablet dari tasnya. Ia membuka beberapa file dan memutar tablet agar Adit bisa m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Dilarang Pacaran Dengan Adit

    Larasati melepaskan pelukan ibunya dan menatap ayahnya dengan mata yang mulai basah. "Papa... jangan bilang seperti itu. Adit bukan laki-laki sembarangan kok… dia itu…""Dia artis yang terlalu terkenal," potong Pak Sudirman dengan nada yang lebih keras. "Dia orang yang pernah punya konflik besar dengan Jenderal Polisi. Kamu tahu apa artinya itu, Laras? Kamu tahu resikonya?""Papa, itu sudah berlalu. Kasusnya sudah selesai. Adit menang di pengadilan…""Menang di pengadilan bukan berarti aman, Laras!" Pak Sudirman melangkah lebih dekat, suaranya meninggi tapi masih terkontrol. "Kamu pikir seorang Jenderal yang anaknya kalah dan dia sendiri terseret kasus akan begitu saja melupakan orang yang membuatnya malu? Kamu pikir mereka akan diam saja?"Nenek Delima yang berdiri di dekat pintu ruang tamu, menghela napas panjang. Ia paham. Ia paham sekali kekhawatiran menantunya ini."Dirman, duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik," kata Nenek Delima dengan suara yang lembut tapi tegas.Pak Sudirman

  • Tukang Pijat Tampan   Laras Bertemu Orang Tuanya

    Akhirnya mereka memesan. Adit memilih yang paling "murah" meski tetap saja satu setengah juta untuk sarapan terasa gila dan meski ia bukan lagi orang miskin. Jadi, ia hanya memesan makanan dengan nama asing: eggs benedict dengan smoked salmon dan asparagus, plus jus jeruk segar.Clara memesan yang lebih mewah: French omelet dengan truffle hitam, croissant butter Prancis, dan champagne. Ya, champagne untuk sarapan, karena kenapa tidak!Setelah pelayan pergi dengan pesanan mereka, Clara bersandar di kursi dengan postur yang rileks, menatap Adit dengan senyum yang hangat."Jadi," katanya sambil menyilangkan tangan di atas meja dengan elegan, "ada yang mau aku obrolin sama kamu. Soal tawaran project baru."Adit mengangguk, mencoba fokus pada urusan profesional dan mengabaikan perasaan lain di luar urusan itu. "Iya, kamu bilang ada produser yang mau kita main bareng lagi?""Yup," kata Clara sambil mengeluarkan tablet dari tasnya. Ia membuka beberapa file dan memutar tablet agar Adit bisa m

  • Tukang Pijat Tampan   Di Sebuah Restoran Yang Sangat Mewah

    Sebenarnya, Adit bisa saja menolak. Tapi memang dasarnya dia tidak enakan. Dan ujung-ujungnya, dia melakukan saja apa yang diminta Clara. Dan ia memang percaya saja, sebab toh mereka sama-sama mengenakan masker, topi dan kacamata hitam. Mereka tak terlihat sebagai entah siapa.Clara mengambil beberapa foto dengan beberapa pose yang berbeda.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dengan lalu lintas pusat kota yang mulai padat. Mereka mengobrol ringan sepanjang jalan, tentang respon positif film, tentang angka box office yang terus naik, tentang berbagai tawaran endorsement yang masuk untuk Clara, tentang rencana promosi selanjutnya di beberapa kota besar di Indonesia.Clara sangat pandai membuat percakapan tetap ringan dan menyenangkan, tidak ada yang terasa awkward atau terlalu serius. Ia tertawa di saat yang tepat, memberikan komentar yang tulus tapi tidak berlebihan, dan membuat Adit merasa... nyaman. Terlalu nyaman. Ya, selalu begitu pada akhirnya. Awalan boleh saj

  • Tukang Pijat Tampan   Dijemput Clara

    Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah berwarna putih mutiara berhenti dengan mulus di depan gerbang rumah Adit.Adit yang sudah bersiap sejak pukul tujuh, mandi, sarapan ringan, dan berpakaian rapi dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana chino biru navy, keluar dari rumah dengan sedikit perasaan tidak nyaman yang masih mengganjal sejak kemarin.Vera yang juga ada di rumah sejak semalam, berdiri di pintu dengan tangan dilipat di dada, menatap mobil mewah itu dengan ekspresi yang sulit dibaca."Kamu yakin ini cuma breakfast meeting profesional?" tanyanya dengan nada skeptis."Iya, Ver. Clara bilang mau obrolin tawaran project baru. Satu jam doang," jawab Adit sambil mengambil tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel."Hmm," gumam Vera sambil menggelengkan kepala kecil. "Ya sudah. Hati-hati. Jangan buat keputusan yang terburu-buru. Sebab seharusnya kalau soal deal-dealan kontrak, Clara juga melibatkan aku. Ya, anggap saja

  • Tukang Pijat Tampan   Clara Maksa Ketemu

    Adit tahu, ia sendiri adalah seorang bajingan yang tak setia, yang diam-diam telah meniduri banyak perempuan lain tanpa sepengetahuan Larasati.Dulu mungkin ia merasa tak pantas menjadi pasangan Larasati. Perbedaan status sangat jauh. Tapi kini, setelah menjadi artis, setelah terkenal dan punya banyak penghasilan, Adit merasa layak dan ia sungguh ingin menjaga Larasati. Ia tahu, semua pencapaiannya itu berawal dari pertemuannya dengan Larasati.Jadi, Adir merasa emosional saat ia mendengar ucapan Laras."Itu nggak akan pernah terjadi," kata Adit sambil menghapus air mata Larasati dengan ibu jarinya. "Kita sudah terikat jiwa dan raga. Kita tak bisa menyangkal hal itu. Ikuti saranku, nggak usah buka sosmed. Jauhkan Hpmu. Cari kegiatan lain… masak kek. Enak nggak enak, pasti juga aku makan!”Larasati tertawa kecil di antara tangisnya; tawa yang campur dengan isak. "Kamu yakin?" ujarnya. Ia agak malu. Soal memasak ia memang payah."Sangat yakin."“Kalau mengerikan kayak kapan itu? Gosong?

  • Tukang Pijat Tampan   Menenangkan Larasati

    Pagi itu, Adit mengendarai mobilbarunya Vera menuju ke rumah Nenek Delima; sebuah area yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, tempat di mana rumah-rumah tua dengan arsitektur klasik Belanda masih berdiri kokoh dengan taman yang rimbun dan jalanan yang teduh.Vera meminjamkan mobilnya tanpa banyak pertanyaan; ia tahu Adit butuh untuk menemui Larasati yang sedang dalam kondisi mental yang rapuh setelah kejadian viral semalam. Dan pagi ini, Vera memilih tinggal di rumah Adit, mengerjakan berbagai hal administratif yang menumpuk: membalas email dari brand yang menawarkan endorsement, menyusun jadwal untuk minggu-minggu ke depan, dan berkoordinasi dengan tim media sosial yang baru saja mereka rekrut untuk mengelola akun-akun Adit.Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan lalu lintas pagi yang padat. Adit menyalakan musik instrumental yang menenangkan di sound system mobil, mencoba menjernihkan pikirannya sendiri sebelum bertemu Larasati. Ia tahu pacarnya s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status