/ Urban / Tukang Pijat Tampan / Dijemput Clara

공유

Dijemput Clara

작가: Black Jack
last update 게시일: 2026-01-11 19:13:55

Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, sebuah mobil mewah berwarna putih mutiara berhenti dengan mulus di depan gerbang rumah Adit.

Adit yang sudah bersiap sejak pukul tujuh, mandi, sarapan ringan, dan berpakaian rapi dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana chino biru navy, keluar dari rumah dengan sedikit perasaan tidak nyaman yang masih mengganjal sejak kemarin.

Vera yang juga ada di rumah sejak semalam, berdiri di pintu dengan tangan dilipat di dada, mena
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Tukang Pijat Tampan   Pilih Hidup Atau Mati?

    Adit mencoba mengumpulkan kesadarannya, mengolah napasnya dengan ritme yang teratur. Ia sengaja tidak langsung menegakkan tubuh. Memanfaatkan sisa waktu yang ada, ia membiarkan kemampuan penyembuhan alami dalam tubuhnya bekerja menyembuhkan sisa-sisa nyeri di kepalanya.Sembari memejamkan mata, indranya bergerak liar, memetakan situasi. Bau apak dan karat yang tadi ia rasakan ternyata bercampur dengan sirkulasi udara buatan yang dingin dan tipis. Ketika ia membuka mata sedikit, ia sadar tebakannya tentang ruang bawah tanah keliru. Dari celah ventilasi kecil di langit-langit, tidak ada bau tanah, melainkan sayup-sayup suara angin luar yang menderu kencang di ketinggian.Adit menatap sekeliling dengan saksama. Dinding, langit-langit, hingga lantai ruangan ini bukan terbuat dari batu tua, melainkan lapisan baja hitam tebal yang kokoh tanpa sambungan. Ruangan itu adalah adalah salah satu sel isolasi khusus di puncak Menara Hitam; gedung pencakar langit elit di tengah kota yang fasadnya di

  • Tukang Pijat Tampan   Bertemu Di Alam Lain

    Aroma sisa-sisa wewangian maskulin Adit yang khas langsung menyambut Larasati begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar itu; wangi yang ia rindukan, wangi yang membuatnya merasa nyaman dan sangat ingin memeluk Adit.Kamar itu sunyi, menyisakan jejak energi yang samar namun terasa familier di kulitnya. Larasati menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang sedari tadi berkejaran dengan ketakutan. Ia takut kehilangan Adit. Dan ia sangat sadar, pura-pura tidak pacaran dengan Adit bukanlah hal yang menyenangkan.Ia berjalan menuju ke tengah ruangan, lalu mengambil posisi duduk bersila di atas karpet. Kedua matanya terpejam perlahan. Larasati mulai mengatur ritme napasnya, menariknya dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia membuang jauh-jauh suara apapun yang ada di lantai bawah. Fokusnya kini hanya satu: Adit.Larasati memusatkan seluruh energi spiritual murni di dalam dadanya, membiarkan kesadarannya merosot jatuh melewati batas alam sadar. Perlahan, k

  • Tukang Pijat Tampan   Mencari Tahu Keberadaan Adit

    Suasana di dalam ruang tamu markas terasa begitu pekat oleh kecemasan. Bunyi dengung kipas laptop berpadu dengan ketukan jemari Bayu yang gelisah di atas meja kaca. Di layar monitor, rekaman CCTV halaman depan rumah Renata diputar ulang untuk kesekian kalinya. Siluet hitam Bastito yang bergerak secepat kilat dan distorsi energi gelap yang mematikan terekam jelas di sana, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang.Joko memajukan tubuhnya, menunjuk layar dengan dahi berkerut dalam.“Aku yakin dia adalah orang dari Kelompok Naga Timur," ujar Joko, suaranya berat dan penuh kepastian. "Dia jarang muncul. Tapi dulu, saat aku masih bersama almarhum Pak Darmawan, aku pernah melihat orang itu ada di arena judi bawah tanah...”Bayu menoleh cepat, tampak terkejut. “Naga Timur itu sangat jarang terlihat... Jadi, bajingan yang mengacaukan rumah Bu Renata itu benar-benar orang dari kelompok mereka?”“Kata Pak Darmawan waktu itu, dia bukan sekadar anggota biasa," Joko menggelengkan kepal

  • Tukang Pijat Tampan   Gilang Telah Datang

    Halaman rumah mewah itu kini tak lebih dari medan perang yang luluh lantak. Sisa-sisa pertempuran masih menyisakan bau hangus udara yang terdistorsi oleh energi hitam Bastito. Di tengah kekacauan itu, Renata berdiri dengan tubuh gemetar hebat. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut, dan sepasang matanya menyiratkan ketakutan sekaligus amarah yang meledak-ledak. Ia sangat kalut, panik hingga ke sumsum tulangnya.Dengan tangan yang masih menggenggam pistol berlaras dingin, ia memarahi semua anak buahnya yang kini sedang berkumpul di halaman. Sebagian dari mereka merintih memegangi tulang rusuk yang patah, sementara yang lain hanya bisa menunduk pasrah, tak berani menatap mata sang nyonya."Kalian ini berguna untuk apa?!" jerit Renata, suaranya melengking memecah keheningan malam, sarat dengan keputusasaan. "Aku membayar kalian mahal bukan untuk melihat kalian tumbang seperti lalat dalam hitungan detik! Satu orang! Hanya satu orang dan dia membawa pergi Adit tepat di depan hidung k

  • Tukang Pijat Tampan   Kalah Dan Dibawa Pergi

    Mereka berdua kembali bertolak dengan cepat dan kuat hingga tanah di sekitar mereka sedikit bergetar; bisa dirasakan apabila ada yang dekat dengan area itu. Namun tak ada yang berani mendekat. Semua orang masing-masing menjaga jarak aman dari pertarungan Adit dan Bastito.Bastito menyerang lebih dulu. Tangannya bergerak membentuk lintasan melengkung yang cepat, mengincar leher Adit dengan ujung-ujung jarinya yang mengeras bagaikan belati baja. Adit tidak menghindar. Ia mengangkat lengan kirinya, menangkis hantaman itu tepat di pergelangan tangan Bastito, memicu bunyi BUK! yang berat dan bergaung di halaman.Tak membiarkan lawannya mengambil napas, Bastito memutar tubuhnya, melepaskan tendangan berputar ke arah rusuk Adit. Kecepatan tendangan itu begitu ekstrem hingga memicu bunyi desingan angin yang tajam.Adit mengatupkan kedua lengannya di depan dada, menerima benturan tersebut. Kekuatan tendangan Bastito luar biasa berat; Adit terdorong mundur, sepasang kakinya menyeret tanah hingg

  • Tukang Pijat Tampan   Bertarung Dengan Bastito

    "Adit... apa itu tadi?"Suara Renata terdengar parau, sisa-sisa kantuk masih menggelayut di ujung lidahnya. Namun, sepasang matanya sudah terbuka sempurna, terjaga oleh alarm bahaya yang tiba-tiba berdering di kepalanya. Ia langsung duduk tegak di atas ranjang, membiarkan selimut sutranya merosot begitu saja dari bahu. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu kamar, terpaku pada rasa tidak nyaman yang mendadak merayapi tengkuknya.Di dekat jendela, Adit sudah berdiri tegak."Ada tamu tak diundang di depan sana," jawab Adit pendek. Tangannya bergerak cepat menyambar kaos dan celananya yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat, namun sama sekali tidak menyiratkan kepanikan. "Kak Ren, tetap di sini.""Tapi, suara apa yang…""Akan aku periksa," potong Adit cepat, memangkas kalimat Renata. Ia menoleh sekilas, memastikan tatapan mereka bertemu. "Tapi tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana. Pakai bajumu, dan pegang pistolmu!"Renata menelan ludah, lalu mengangguk pela

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status