FAZER LOGIN"Adit... apa itu tadi?"Suara Renata terdengar parau, sisa-sisa kantuk masih menggelayut di ujung lidahnya. Namun, sepasang matanya sudah terbuka sempurna, terjaga oleh alarm bahaya yang tiba-tiba berdering di kepalanya. Ia langsung duduk tegak di atas ranjang, membiarkan selimut sutranya merosot begitu saja dari bahu. Tatapannya tertuju lurus ke arah pintu kamar, terpaku pada rasa tidak nyaman yang mendadak merayapi tengkuknya.Di dekat jendela, Adit sudah berdiri tegak."Ada tamu tak diundang di depan sana," jawab Adit pendek. Tangannya bergerak cepat menyambar kaos dan celananya yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya dengan gerakan cepat, namun sama sekali tidak menyiratkan kepanikan. "Kak Ren, tetap di sini.""Tapi, suara apa yang…""Akan aku periksa," potong Adit cepat, memangkas kalimat Renata. Ia menoleh sekilas, memastikan tatapan mereka bertemu. "Tapi tetaplah di sini. Jangan ke mana-mana. Pakai bajumu, dan pegang pistolmu!"Renata menelan ludah, lalu mengangguk pela
Malam di rumah Renata tidak pernah benar-benar sunyi sejak Juanda Tan duduk di ruang paling belakang yang terkunci sedemikian rupa.Selalu ada orang. Selalu ada gerakan. Selalu ada suara langkah di koridor atau batuk seseorang di pos jaga atau bunyi kursi yang digeser di ruang tengah. Itu sudah menjadi ritme baru tempat itu; denyut yang konstan, seperti mesin yang tidak pernah dimatikan.Tapi malam itu berbeda.Bukan karena rumah itu kosong. Masih ada enam puluhan orang di sana, tersebar di berbagai sudut, di dalam dan di luar bangunan. Tapi sejak sore, sesuatu yang tidak bisa diberi nama mulai merayap; semacam kelesuan yang menular dari satu orang ke orang berikutnya. Mungkin karena sudah beberapa malam tanpa tidur yang benar. Mungkin karena tegangan yang sudah lama dipegang akhirnya meminta bayarannya. Maka banyak dari mereka yang seharusnya terjaga, kini malah tidur.Dan kemudian, yang masih terjaga tidak sampai dua puluh orang. Mereka berpasangan di sudut-sudut yang berbeda; dua d
Lantai puncak Menara Hitam tidak terlihat dari bawah.Bukan karena ketinggiannya, meski gedung itu memang salah satu yang tertinggi di kota ini. Tapi karena tidak ada yang tahu lantai itu ada. Denah resmi gedung mencatat dua puluh tujuh lantai. Yang sesungguhnya, ada dua puluh delapan. Satu lantai yang tidak pernah muncul di dokumen mana pun, tidak terdaftar di kantor pertanahan, tidak tercantum dalam izin bangunan, dan tidak pernah dijangkau oleh lift yang tersedia untuk umum.Malam itu, ruangan di lantai itu menyala.Bukan dengan cahaya yang mencolok. Justru sebaliknya; lampu-lampu dinding dengan nyala yang rendah dan kemerahan, seperti bara yang belum sepenuhnya padam. Meja bundar besar di tengah ruangan dikelilingi oleh kursi-kursi yang hampir semuanya terisi. Dua puluh orang. Tidak lebih, tidak kurang; karena memang begitulah aturannya, dan aturan di tempat ini tidak pernah dilanggar dua kali oleh orang yang sama.Dari luar, jika ada yang bisa melihat, mereka akan mengira ini ada
Restoran itu tutup untuk umum malam itu.Bukan karena sepi, bukan karena ada acara keluarga, dan bukan pula karena renovasi seperti yang tertulis di papan kecil yang digantung di pintu kaca bagian depan. Alasannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih rumit dari itu: ada orang-orang yang perlu bicara tanpa saksi yang tidak berkepentingan.Meja panjang di ruang privat lantai dua sudah disiapkan sejak sore. Delapan kursi. Lampu gantung yang redup dan hangat. Tidak ada musik. Tidak ada pelayan yang berlalu-lalang. Hanya sebotol air mineral di tengah meja dan asbak yang belum disentuh.Mereka datang tidak serentak. Itu sudah menjadi kebiasaan lama; tidak ada yang mau terlihat terlalu bersemangat, tidak ada yang mau tiba pertama seperti orang yang sedang menunggu belas kasihan. Satu per satu mereka masuk, menarik kursi, meletakkan tangan di atas meja atau di pangkuan, dan menunggu dengan sabar yang sebenarnya bukan sabar, melainkan kalkulasi.Hadir dari Serigala Timur: Ragil Santoso, lelaki
Dua hari berlalu seperti air yang mengalir di atas batu; tenang di permukaan, tapi menyimpan arus di bawahnya.Juanda Tan masih ada di ruang paling belakang rumah Renata. Dijaga bergantian oleh dua orang setiap saat, pintu dikunci dari luar, jendela dipasang terali tambahan. Mereka tidak memperlakukannya dengan kasar; tidak ada gunanya merusak barang yang nilainya bergantung pada kondisinya.Makanan diberikan tiga kali sehari. Seorang dokter langganan Renata sudah datang di hari pertama, memeriksa kondisi matanya yang masih meradang, memberikan obat tetes dan salep, memastikan tidak ada cedera serius yang tersembunyi. Juanda makan, tidur, dan diam. Ia tidak banyak bicara sejak malam pertama itu. Mungkin ia sedang berpikir. Mungkin ia sudah terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain menunggu.Di luar tembok rumah itu, dunia seolah menahan napas.Tidak ada telepon dari pimpinan kelompok mana pun. Tidak ada utusan yang datang. Tidak ada pernyataan resmi, tidak ada ancaman terbuka, tida
Jarum jam belum menyentuh angka empat. Lampu utama di rumah mewah itu masih menyala, yang artinya, tak ada istirahat malam di rumah itu.Renata duduk di sofa di sudut ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah lama dingin di atas meja di sampingnya. Ia tidak menyentuhnya lagi sejak sejam yang lalu. Vera berbaring di sofa dengan sebelah lengan menutup matanya; bukan tidur, hanya beristirahat dengan tubuh yang tidak sepenuhnya menyerah. Sesekali ia menggeser posisi, atau mengeluarkan bunyi kecil yang tidak jelas artinya.Tak ada yang menyuruh mereka terjaga. Tapi jelas, mereka tak akan bisa tidur. Tak akan tidur. Dan lebih baik memang menunggu meski rasanya cemas juga.Ketika suara mesin mobil terdengar dari luar, langsung bangkit duduk. Renata sudah berdiri bahkan sebelum suara ban berderak di atas permukaan jalan masuk.Mereka berjalan ke teras.Mobil pertama berhenti. Pintu terbuka. Arman turun, lalu Bimo, Steven, dan dari pintu belakang. Semua tampak lelah tapi berdiri tegak, tidak







