MasukSegera saja Adit menuju ke lokernya. Kunci masih tergantung di sana dan dia segera mengambil seragam kerja, lalu ke ruang ganti untuk mengenakan bajunya.
Buru-buru ia memasukkan baju dan bawaannya yang lain, memasukkannya ke loker, menguncinya dan mulai bergegas menuju ke ruang 25.
Satu kamar itu ada satu ranjang untuk klien. Semua peralatan yang dibutuhkan ada di sana.
Adit mengetuk pintu dan kemudian masuk. Dilihatnya seorang wanita berusia 40 tahunan. Dia masih sedang menelefon entah siapa. Jadi Adit hanya berdiri menunggu saja di dekat pintu. Ia pun masih merasa berdebar.
Wanita itu terlihat kaya dengan outfit yang melekat di tubuhnya yang biasa saja itu. Adit memperhatikan wajah wanita itu; biasa saja. Tapi terlihat mahal karena perawatan. Kulitnya putih mulus tanpa jerawat. Make-upnya tampak natural kecuali bibirnya yang terlihat merah oleh gincu. Rambutnya juga terlihat mahal yang tak mungkin pula disentuh oleh salon biasa.
Wanita itu menutup telefon, lalu menoleh ke arah Adit, melihatnya dari atas sampai bawah. “Kok lama? Kok kamu yang ke sini?”
“Maaf Nona, tadi seharusnya melayani Nona ternyata masih sedang melayani klien lain. Jadi, saya diminta untuk menggantikannya. Mohon maaf sebelumnya...” kata Adit.
Klien yang datang bisa pesan lebih dahulu; pesan ruangan, pesan jenis pelayanan, dan juga pesan siapa yang akan melayaninya.
“Ya sudah deh kalau gitu, kamu aja nggak apa-apa...” kata wanita itu.
“Baik, Nona. Em, boleh saya tahu, Nona ingin pelayanan apa ini?” tanya Adit.
Lagi-lagi, wanita itu menghela nafas panjang. Adit merasa semakin tidak enak hati. Seharusnya ia tadi tanya-tanya dulu di bagian penerima tamu, apa yang diminta oleh klien di kamar 25 itu.
“Pijit biasa saja! Pakai minyak zaitun. Sangsi aku kalau kamu bisa melayani kayak biasanya!”
“Eh, baik, Nona. Manager kami mungkin akan memberikan diskon untuk hal ini, karena kami lalai. Mohon maaf. Semoga Nona berkenan nanti dengan pijitan saya...” kata Adit.
“Aku ganti baju dulu! Mana handuknya?” kata wanita itu.
“Mohon ditunggu sebentar...”
Adit segera membuka lemari, lalu menyediakan handuk untuk wanita itu. Ia langsung paham jika nanti wanita itu hanya akan mengenakan pakaian dalam, dan membungkus tubuhnya dengan handuk.
Kadang ada klien yang hanya mau memakai baju utuh. Itu pilihan mereka. Adit tak tahu bagaimana persisnya, sebab itu pertama kali ia bertemu klien sungguhan. Apa yang ia tahu hanya dari trainernya.
Tapi memang benar, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi kecil yang tersedia di ruangan itu, lalu kembali lagi dengan tubuh sudah terlilit handuk yang tak sepenuhnya berhasil menutupi tubuhnya.
Adit menelan ludah melihat kulit yang sangat mulus itu. Tapi ia tak berani lama-lama menatap wanita tersebut dalam situasi seperti itu. Takutnya dia salah paham. Adit hanya sedang ingin mendapatkan kesan baik dan sopan.
Tanpa disuruh, wanita itu menyamankan diri dengan tengkurap di ranjang. Sesaat Adit tertegun memandang wanita itu. Ia pun segera mengenyahkan pikiran kotornya dan segera menyiapkan minyak.
“Saya mulai, Nona...”
“Ya...”
Lalu Adit menuangkan minyak di kedua tangannya, menggosoknya, lalu ia mulai menyentuh telapak kaki wanita itu; memulainya dari sana.
Adit merasa jari manis tangan kanannya sejenak terasa panas kembali, persis seperti kejadian memalukan saat memergoki bu Celina.
Adit tak tahu, ada sesuatu yang sedang bekerja pada dirinya; sesuatu yang berasal dari cincin kakeknya, yang sebetulnya tidak hilang, melainkan telah menyatu dengan tubuhnya, berganti menjadi sebuah tanda garis melingkar berwarna hitam di jari tangannya itu.
Sentuhan tangannya itu menciptakan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dan sedang dirasakan oleh perempuan itu.
Adit sunguh tak tahu soal itu. Yang ada di pikirannya hanyalah memijit dengan benar dan senyaman mungkin. Ia tak mau melakukan kesalahan setelah apa yang terjadi di hari-hari sebelumnya. Telapak kaki kanan dan kiri sudah cukup lama ia pijit. Kini ia pindah ke betis, memijit dengan normal.
Tapi di titik itu, Adit mulai melihat tanda-tanda aneh. Ia melihat kliennya itu mulai bergerak sedemikian rupa; ototnya tegang dan dia seperti gelisah.
“Nona baik-baik saja kah?”
“E—lanjutkan...” ucap wanita itu.
“Apakah pijitannya kurang nyaman? Mohon disampaikan agar saya bisa melayani dengan benar...”
“Nyaman. Teruskan saja, jangan berhenti...”
“Baik, nona...”
Maka Adit terus memijit dan mencoba untuk tak memedulikan hal-hal aneh yang ia lihat ketika wanita itu bereaksi dengan tangannya.
Dari bagian betis, seharusnya Adit memijit paha. Tapi ia merasa sungkan. Jadinya, dia mulai memijit pundak wanita itu dan setengah punggungnya di bagian atas.
Adit terus memijit. Ia pun agak gugup sebenarnya; merasa seba salah, sebab ia melihat wanita itu sampai mencengkeram bantalnya dan terlihat sangat tegang.
‘Ada apa dengannya? Kenapa dia menggeliat seperti ini? Apakah ada yang salah?’ ucap Adit dalam hati. Ia merasa ragu dan cemas.
“Eghhh...”
Adit mendengar suara yang ambigu. Keringat dingin pun mulai bermunculan di dahinya. Ia benar-benar khawatir melakukan kesalahan, namun di saat yang sama ia juga bingung sebab wanita itu tidak protes apa-apa.
Dan Adit berhenti memijit karena tiba-tiba wanita itu menggigil sedemikian rupa, menggeliat dan sedikit tersentak-sentak sambil menyerukan suara-suara rintihan merdu dari mulutnya.
‘Astaga, dia kenapa? Mati aku kali ini. Aku benar-benar bisa dipecat...’ ucap Adit dalam hati. Ia sungguh takut dan cemas.
Adit hanya bisa mematung melihat wanita itu. Namun untuknya, klien yang ia pijit itu akhirnya mulai kembali normal dan yang tersisa adalah nafasnya yang masih terengah-engah.
“N-nona... maaf jika... s-saya... tidak benar memberikan pijitan. A-apakah ada yang sakit?” tanya Adit.
Wanita itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Adit. Tatapan matanya sungguh sayu dan membuat Adit bertambah gugup.
“Nyaman kok... lanjutkan saja. Tapi aku mau punggung yang bawah juga dipijit dengan minyak. Paha dan lain-lain... handuk ini dilepas saja...” ucapnya dengan suara sedikit serak. Ia melepaskan handuknya dan kembali tengkurap, menunggu Adit mulai lagi memijit tubuhnya.
“K-kamu orang baru di sini?” wanita itu mengajak ngobrol.
“Benar, Belum lama saya kerja di sini. Jadi pengalaman masih kurang. Dan, Emm, sejujurnya, saya sungguh khawatir jika pelayanan saya kurang memuaskan. Mohon saya ditegur saja jika ada yang kurang pas dan tidak membuat Nona merasa puas” jawab Adit formal.
“Aku puas kok. Dan aku kira kamu hanya pura-pura terapis pemula, soalnya kamu kaku dan formal sekali. Tidak seperti seniormu yang santai. Pijitanmu nyaman banget. Lebih berani lagi nggak apa-apa...” balas wanita itu.
‘Lebih berani? Apa maksudnya?’ ucap Adit dalam hati. Ia bingung, tapi tidak enak juga jika bertanya. Jadi ia putuskan untuk mengoleskan lagi minyak ke tangannya dan mulai memijit lagi.
Syuting di hari berikutnya dimulai dengan suasana yang... berbeda.Tidak ada yang bisa dijelaskan dengan jelas, tapi ada ketegangan yang terasa di udara. Ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh Adit dan Clara.Keduanya datang tepat waktu, menjalani proses make-up dan kostum seperti biasa, lalu mulai syuting dengan profesional.Tapi ada yang berbeda.Clara kadang moodnya bagus, tersenyum, fokus, aktingnya natural dan kuat. Tapi kadang dia terlihat... kosong. Matanya menatap tapi tidak benar-benar melihat. Dialognya keluar tapi terdengar... mekanis.Adit juga tidak jauh berbeda. Dia berusaha fokus, berusaha profesional, tapi pikirannya terus melayang. Ke Clara. Ke Raymond.Keduanya sama-sama memendam pikiran yang membuat mereka tidak bisa maksimal dalam berakting.Tapi untungnya, hasilnya masih di fase aman. Pak Teguh tidak meminta take ulang. Chemistry mereka masih cukup kuat untuk menutupi kekurangan-kekurangan kecil."Oke, bagus! Next scene!" teriak Pak Teguh setelah adegan percaka
Clara diam sepanjang perjalanan. Mobil mewah Raymond melaju dengan halus melewati jalanan yang mulai macet di sore hari.Raymond sesekali melirik Clara yang duduk dengan postur kaku, tangan terkepal di pangkuan, pandangan kosong menatap keluar jendela."Kamu ada masalah, Clara?" tanya Raymond akhirnya, mencoba memecah keheningan yang tidak nyaman.Clara tersentak sedikit, lalu menoleh. "Hmm... entahlah."Dia menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, lebih diplomatis. "Tapi, em, maaf ya, Kak. Seharusnya, kita berdua sama-sama harus membuat nyaman satu sama lain kan..."Raymond mengangguk, ekspresinya sedikit melembut. "Iya dong. Itu sebabnya aku pengen kamu bilang aja kamu mau aku seperti apa dan bagaimana. Kamu ingin apa, supaya kamu bisa merasa nyaman."Clara terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati. Ini kesempatan. Kesempatan untuk menyampaikan perasaannya tanpa terlihat menolak secara frontal."Sebenarnya, ini akan sulit, Kak Ray. Boleh aku jujur?""
Setelah take keempat yang sukses, syuting berlanjut dengan sangat lancar. Adegan demi adegan diambil dengan hasil yang memuaskan, chemistry Adit dan Clara kembali menguat, ekspresi natural, tidak ada lagi pengulangan berkali-kali.Sentuhan energi yang Adit berikan tadi, meski sedikit dan hanya sesaat, seperti membuka kembali sesuatu dalam diri Clara. Sesuatu yang tadi tertutup oleh kekhawatiran dan ketakutan.Clara kembali seperti semula; fokus, profesional, tapi juga... ada api di matanya. Api yang membuat setiap adegan terasa hidup.Pak Teguh sangat puas. "Bagus! Bagus sekali! Kalian berdua hari ini luar biasa. Kita selesai lebih cepat dari jadwal!"Kru bertepuk tangan. Semua orang merasa lega karena proses syuting berjalan mulus tanpa drama.Tapi di dalam pikiran Clara; keadaan tidak semulus yang terlihat di luar.Sepanjang sisa syuting hari itu, dia seolah melupakan Raymond. Melupakan ancaman dari kakaknya. Melupakan semua tekanan yang menimpanya sejak malam perjodohan itu.Dunian
Waktu libur dua hari berlalu begitu cepat; seolah hanya sekejap mata. Adit bahkan tidak sempat benar-benar istirahat karena pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai hal.Hari Rabu pagi, syuting kembali dimulai. Lokasi kali ini di studio dengan set interior apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal karakter Alicia. Adegan hari ini cukup berat; adegan di mana hubungan Arjuna dan Alicia mulai melewati batas.Adit tiba di studio sekitar pukul delapan pagi. Begitu masuk, dia langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda.Clara yang biasanya menyapanya dengan senyum lebar dan semangat tinggi; kali ini hanya tersenyum tipis, mengangguk singkat, lalu sibuk dengan ponselnya di pojok ruangan.‘Aneh, dia kenapa ya?’ pikir Adit sambil berjalan menuju ruang make-up.Proses make-up dan kostum berjalan seperti biasa. Adit mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka, terlihat casual tapi tetap menarik. Clara mengenakan lingerie set berwarna merah marun yang ditutupi dengan kimono sutra t
Clara tersenyum tipis, senyum yang sopan, elegan, dan tidak menyinggung."Pak Ranuwijaya, saya sangat menghargai niat baik Bapak dan keluarga," katanya dengan nada yang lembut tapi tegas. "Tapi saya harus jujur... saya sama sekali belum siap untuk memikirkan pernikahan saat ini."Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati."Karir saya sedang di puncak. Film saya yang terbaru masih dalam proses syuting dan akan memakan waktu beberapa bulan lagi. Saya... belum punya ruang untuk memikirkan hal-hal seperti ini."Pak Ranuwijaya mengangguk paham, tapi senyumnya tidak memudar. "Tentu, tentu. Kami mengerti. Karir penting.""Dan..." Clara melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati. "Malam ini terlalu... tiba-tiba bagi saya. Saya tidak tahu akan ada pembicaraan seperti ini. Jadi saya mohon maaf, tapi saya belum bisa memberikan jawaban apapun saat ini."Hening sejenak.Papa Clara terlihat sedikit kecewa, tapi dia tidak berkomentar. Mama Clara menatap Clara dengan pandangan yang s
Malam itu, saat Adit sedang berada di rumah Renata, mengobrol santai sambil menikmati teh hangat dan kue kering sambil menonton drama di TV, di tempat lain, ponsel Clara bergetar keras di atas meja makan apartemennya yang mewah itu.Dia mengangkat dengan ekspresi bingung. Papanya yang meneledon. "Halo Papa… ada apa?""Clara, kamu harus pulang sekarang," suara Papa-nya terdengar tegas di ujung sana. "Ada tamu penting yang datang. Mereka sudah di jalan."Clara mengerutkan kening. "Tamu? Siapa, Pa? Aku tidak tahu ada acara malam ini.""Rekan bisnis Papa. Keluarga Ranuwijaya. Mereka mau berkunjung. Ini penting. Kamu harus ada di rumah."Clara menghela napas, lelah setelah seharian istirahat dari perjalanan panjang Paris. "Pa, aku capek. Baru pulang dari luar negeri tadi pagi. Tidak bisa besok aja?""Tidak bisa," jawab Papa-nya dengan nada yang tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ini sangat penting. Kamu harus pulang sekarang. Pakai baju yang rapi. Jangan casual."Sebelum Clara sempat pr







