Share

Renata Datang

Penulis: Black Jack
last update Tanggal publikasi: 2025-06-27 10:08:02

Adit berdiri mematung di depan cermin kamar mandi kecilnya, menatap pantulan dirinya dengan perasaan rumit. Rambutnya sudah ia sisir rapi, wajahnya sudah ia cuci berkali-kali, dan parfum murah yang jarang ia pakai kini menguar dari tubuhnya. Tangannya masih memegang botol parfum itu sambil bertanya-tanya dalam hati.

‘Kenapa sih aku harus begini?’ gumamnya pelan sambil meletakkan botol parfum di rak kecil. ‘Kenapa aku merapikan diri, pakai parfum, dan gugup seperti ini? Apakah ini artinya, seben
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Irfan Mitra
sdudh nonton 2 iklan masih belum.juga terbuka kunci
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tukang Pijat Tampan   Thrailer Sudah Muncul

    Sekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r

  • Tukang Pijat Tampan   Adit Setuju, Tapi Tidak Mau Gratis

    Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B

  • Tukang Pijat Tampan   Bangunan Peninggalan Pak Darmawan

    Uap air yang tersisa di ruangan itu perlahan menipis, menyisakan keheningan yang nyaman setelah badai gairah yang baru saja mereda. Adit, dengan sisa-sisa napas yang mulai teratur, menunjukkan sisi lembutnya. Ia meraih handuk putih tebal dan dengan telaten mengeringkan tubuh Renata yang masih bergetar kecil karena sisa-sisa stimulasi tadi.Lalu mereka keluar dari kamar mandi. Adit menggendong Renata dan memberdirikannya di depan cermin. Mereka berdua sama-sama menatap pantulan itu; dua sosok yang masih telanjang.“Dit… itumu masih berdiri… sumpah aku udah nggak kuat… jangan minta lagi ya. Ini masih pagi…” kata Renata.“Hehehe. Nggak kok. Tadi udah cukup. Aku bantu kamu pakai baju…”Renata benar-benar seperti boneka kain; ia membiarkan Adit memandu lengannya masuk ke dalam pakaian, bahkan untuk mengancingkan pakaiannya pun ia tak lagi memiliki tenaga. Sentuhan Adit kini murni penuh perhatian, tanpa ada lagi sisa-sisa manipulasi energi yang mengintimidasi.Setelah memastikan dirinya sen

  • Tukang Pijat Tampan   Mengakhiri Permainan Nakal Itu

    Renata mendongakkan kepala, menyandarkannya di bahu Adit yang basah. Matanya terpejam rapat, mencoba menghalau arus listrik yang dikirimkan Adit melalui permukaan kulitnya. "Kamu... curang, Dit. Pakai kekuatan unikmu itu," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan suara air.Adit terkekeh rendah, sebuah getaran maskulin yang terasa langsung di punggung Renata. "Dalam perang dan cinta, tidak ada aturan, Kak. Bukannya kamu sendiri yang bilang mau memastikan semuanya 'bersih'?"Tangan Adit yang tadinya hanya memberikan sentuhan halus, kini mulai memberikan tekanan yang lebih tegas. Energi gaib yang ia salurkan perlahan berubah frekuensinya, dari getaran lembut menjadi sensasi hangat yang menjalar secara konsisten, mengunci kesadaran Renata hanya pada titik-titik sentuhannya.Namun, Renata bukanlah tipe yang mudah menyerah. Meski lututnya terasa lemas, ia menemukan celah. Saat tangan Adit sedikit melonggar untuk berpindah posisi, Renata dengan cepat membalikkan badannya di dalam ku

  • Tukang Pijat Tampan   Bercanda Di Kamar Mandi

    Setelah puas beradu peluh dan ciuman di bawah guyuran air, gerakan mereka perlahan melambat, berganti menjadi ritme yang lebih seduktif. Adit meraih botol sabun cair, menuangkannya ke telapak tangan hingga busa putih mulai melimpah. Dengan sisa-sisa napas yang masih pendek, mereka mulai saling menyabuni, membiarkan jemari masing-masing menari di atas kulit yang licin dan basah.Namun, fokus Renata mulai teralihkan. Tangannya yang semula berada di dada Adit, perlahan merosot turun melewati perut yang keras, hingga jemarinya menemukan apa yang ia cari. Ia menggenggam "tongkat sakti" Adit yang kini telah bangun sepenuhnya, menegang kaku dan berdenyut hangat di tengah dinginnya air shower.Renata tidak hanya menyabuninya. Ia mulai memainkannya dengan gerakan-gerakan kecil yang menggoda, sesekali menekannya dengan lembut, lalu mengelusnya dengan ibu jari dengan ritme yang sengaja dibuat lambat."Kak Ren... ah, jangan sekarang. Aku bisa selesai duluan kalau kamu begitu," protes Adit sambil

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Agak Merajuk

    Pintu kamar Renata tidak sepenuhnya rapat, menyisakan celah kecil yang seolah mengundang siapa saja untuk mengintip. Tanpa mengetuk, Adit mendorong pintu itu dan melangkah masuk dengan gerak-gerik yang terlampau santai. Renata, yang sedang duduk di tepi ranjang, langsung menoleh. Sepasang matanya terpaku pada Adit, mengisyaratkan tanda tanya besar yang tak terucap.“Ada apa?” tanya Renata pendek. Suaranya datar, namun ada nada waspada di sana.Adit tak lekas menjawab. Alih-alih bicara, ia berbalik dan menutup pintu itu perlahan. Klik. Ia memutar kunci, memastikan privasi mereka utuh. Dengan langkah yang ringan, ia mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di samping Renata. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit dengan posisi tangan menyangga kepala, seolah kamar itu adalah miliknya sendiri.“Kok Kak Ren nggak memarahi aku?” celetuk Adit sambil melirik dari sudut matanya.Renata tetap pada posisinya, tidak beranjak. “Marah untuk?”“Entahlah. Siapa tahu kamu marah.

  • Tukang Pijat Tampan   Pertemuan Yang Singkat

    Lalu Adit melepaskan pelukan sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Larasati. Tangannya terangkat, mengusap pipi wanita itu dengan lembut, ibu jarinya menghapus air mata yang mulai menetes."Aku mencintaimu," bisiknya dengan suara yang sangat lembut tapi penuh keyakinan.Larasati tersenyum di anta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Terlalu Sungguhan Sebagai Latihan

    Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Semakin Intens Bersama Melinda

    Adit yang sudah kehilangan semua pertahanannya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.Tangannya bergerak memeluk pinggang Melinda, menarik tubuh wanita itu semakin dekat sampai mereka bersentuhan sepenuhnya; dada ke dada, pinggul ke pinggul.Melinda mengerang pelan di dalam ciuman, tanga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Tukang Pijat Tampan   Larasati Lemas

    Keesokan paginya, Adit terbangun dengan perasaan yang aneh; campuran antara bahagia dan gelisah. Pengalaman semalam masih terasa sangat nyata di ingatannya. Sensasi melayang, alam yang indah bersama Larasati. Adit seolah menemukan solusi bagaimana mereka pacaran dan melepas rindu tanpa ketahuan ora

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status