MasukHari-hari berganti dan berjalan seperti biasa. Adit fokus pada berbagai persiapan untuk acara jumpa fans yang akan datang, latihan fisik di home gym barunya, dan sesekali mengobrol dengan Vera dan Laras membahas soal endorsement. Hanya itu-itu saja. Tak ada yang ia kerjakan.Adit tidak berkomunikasi dengan Seina sama sekali. Itu hal bagus bagi Adit. Ia justru akan pusing jika bertemu dengan wanita penuh godaan seperti itu lagi. Dan ia sungguh tak memikirkan soal imbalan dari wanita itu. Ia tak mengharapkannya.Hidup terus berjalan. Eksistensi di media sosial semakin meningkat. Followers Instagram Adit sudah menembus angka tujuh juta dalam waktu singkat. Setiap postingan yang Vera upload langsung mendapat ratusan ribu likes dalam beberapa jam pertama. Brand-brand besar mulai mengirim tawaran endorsement dengan harga yang fantastis; mulai dari produk fashion, jam tangan, suplemen kesehatan, hingga mobil.Vera sibuk screening semua tawaran itu, memilih yang paling cocok dengan image Adi
Adit beranjak dari tempat tidur kamar tamu yang empuk itu dan berjalan menuju pintu dengan langkah perlahan. Adit membuka pintu dan persis seperti dugaannya; Seina lah yang datang.Tapi kali ini, berkat kejadian serangan yang baru saja terjadi, Adit sama sekali tidak memiliki minat untuk melanjutkan apa yang hampir terjadi sebelumnya. Hasrat yang sempat membara tadi sudah padam total, digantikan dengan kewaspadaan dan kelelahan mental.Dan tampaknya, Seina pun juga merasakan hal yang sama. Wanita itu sudah berganti gaun tidur; kali ini yang jauh lebih tertutup, semacam piyama sutra berwarna biru muda dengan lengan panjang dan celana panjang yang sopan, tidak ada lagi godaan atau undangan terselubung. Wajahnya terlihat lelah, dan mata yang tadi penuh hasrat kini hanya menunjukkan kelelahan dan rasa bersalah."Adit, maaf soal yang tadi ya…" katanya dengan suara yang pelan, tulus, dan sedikit gemetar. "Dua kali berturut-turut dalam satu malam kamu menyelamatkan aku… dan aset di rumah ini
Adit menghindar dari ayunan tongkat seseorang yang mengarah padanya dengan mudah. Tubuhnya bergerak seperti bayangan, meliuk ke samping dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat mata, lalu ia meluncurkan pukulan keras langsung ke wajah penyerang itu.PRAAAKK!Bunyi tulang hidung patah terdengar sangat jelas bahkan di tengah keributan. Penyerang itu terlempar ke belakang seperti ditendang kuda, tubuhnya melayang hampir dua meter sebelum jatuh tidak sadarkan diri, masker robek dan hidung hancur berdarah.Satu orang telah tumbang mengenaskan.Tiga penyerang yang melihat itu langsung meninggalkan satpam yang sudah hampir tidak berdaya dan beralih menyerang Adit. Sepertinya, kini mereka menyadari ancaman baru yang jauh lebih berbahaya. Mereka datang dari tiga arah berbeda dengan senjata teracung; golok dari kiri, rantai besi dari kanan, pentungan dari depan.Adit tidak mundur. Ia maju ke depan dan masuk ke jarak dekat dengan penyerang yang membawa pentungan sebelum pentungan itu sempat d
Awalnya Adit membeku. Tubuhnya kaku seperti patung, tidak merespon, masih berusaha mempertahankan kontrol terakhir.Tapi kemudian, entah karena tubuh mengalahkan pikiran, atau karena ia sudah lelah melawan, ciuman itu ia balas juga.Perlahan. Ragu-ragu pada awalnya. Tapi kemudian lebih dalam. Lebih intens.Tangan Seina yang melingkar di leher Adit menariknya lebih dekat. Tangan Adit yang tadinya kaku di samping tubuh, perlahan naik, satu menyentuh pinggang Seina yang ramping itu, dan satunya lagi ke punggung wanita itu.Ciuman berlanjut. Makin lama makin dalam. Makin panas. Hasrat yang sudah lama terpendam mulai terbakar, mengobarkan api gairah yang sulit dipadamkan.Seina mulai menggerakkan tubuhnya; gerakan kecil yang sangat menggoda. Tangannya turun dari leher Adit, menyusuri dada, meraba otot-otot di balik piyama tipis itu.Adit sudah tidak berpikir lagi. Hanya merasakan. Hanya merespon.Seina mendorong tubuh Adit perlahan, membuat lelaki itu berbaring di tempat tidur. Ia ikut ber
Adit tidak bisa menolak. Atau lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana menolak dengan cara yang tidak menyinggung wanita yang baru saja ia tolong dan yang sedang berdiri di depan kamarnya dengan gaun tidur yang sangat menggoda itu. Ia mengizinkan Seina masuk dengan gerakan canggung; mundur sedikit, membuka pintu lebih lebar, memberi ruang bagi wanita itu untuk melangkah masuk.Seina masuk dengan langkah pelan dan anggun, aroma parfumnya semakin kuat di ruangan tertutup itu. Ia menutup pintu di belakangnya, tidak mengunci, hanya menutup, lalu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya dengan postur yang sangat sadar akan daya tariknya sendiri.Adit berdiri canggung di tengah ruangan, tidak tahu harus duduk di mana. Akhirnya ia memilih duduk di tepi tempat tidur juga, tapi menjaga jarak yang cukup jauh, setidaknya satu meter, dari Seina. Suasana di antara mereka sangat canggung, dipenuhi dengan ketegangan yang tidak terucap."Kok kamu belum tidur?" tanya Seina dengan suara yang le
Sepuluh menit kemudian, seperti yang Seina janjikan, mereka sampai di sebuah kawasan elite; komplek dengan gerbang utama yang dijaga ketat oleh security berseragam, jalan yang bersih dan lebar dengan pohon-pohon tinggi di kedua sisi, dan rumah-rumah mewah yang berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis.Mobil mewah putih Seina berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan fasad kaca dan beton yang elegan, halaman depan yang luas dengan taman yang terawat sempurna, dan pagar otomatis yang terbuka begitu mobil mendekat; sistem sensor yang canggih. Adit parkir motornya di samping mobil Seina, di garasi terbuka yang bisa muat untuk lima mobil.Rumah itu bukan hanya besar. Rumah itu mewah dengan cara yang subtle; tidak mencolok atau berlebihan, tapi setiap detail menunjukkan kelas dan harga yang tidak murah."Ini rumahmu?" tanya Adit sambil melepas helm, tidak bisa menyembunyikan sedikit kekaguman di suaranya."Iya. Sederhana saja," jawab Seina dengan nada santai. Bagi wanita seka







