Home / Male Adult / Tukang Servis Spesialis / Modal Awal Proyek Pertama

Share

Modal Awal Proyek Pertama

Author: NomNom69
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-14 08:05:08

"Yat udah... saya udah nggak kuat," rintih Clara dengan napas yang terputus-putus di sela desahnya. Tubuhnya gemetar hebat, sisa-sisa kenikmatan masih terasa menyetrum setiap sarafnya.

"Iya, Tan..." bisik Dayat pelan. Ia perlahan menghentikan gerakannya, menuruti keinginan Clara meski peluh masih membanjiri punggungnya.

Clara menyandarkan kepalanya di bahu Dayat, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. "Udah bikin saya keluar dua kali, punyamu masih tegang aja, Yat," ucap Clara sambil mel
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tukang Servis Spesialis   Servis Yang Entah Keberapa Kalinya

    "Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar dua kendaraannya agar berdiri tegak dengan kokoh di atas lantai semen. "Iya iya bentar aku parkir motor dulu Mir," ucap Dayat menenangkan kegelisahan gadis di depannya yang nampak sangat terburu-buru itu. Mira melepas cekalannya pada tangan Dayat, berbalik dengan cepat lalu melangkah setengah berlari menuju teras depan rumah. Jemarinya yang lentur merogoh isi tas kecil miliknya, mengambil sebatang kunci logam, lalu memasukkannya ke dalam lubang selot pintu kayu rumahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Cklek. Mira melangkah lebih dulu dan membuka kunci serta pintu rumahnya, membiarkan lampu ruang tamu yang masih padam terlihat remang-remang dari arah luar halaman. Setelah memastikan motor

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Untuk Melanjutkan

    "Oh itu, tadi aku mau nyuruh Mas Dayat WA kamu.. aku mau pulang soalnya," ucap Mira dengan nada suara yang agak cepat, berusaha mencari alasan agar tidak ketahuan. Gita mengangguk pelan sambil menurunkan tas kecilnya dari pundak, meski matanya masih memperhatikan gerak-gerik temannya itu. "Ohh gitu... kamu mau pulang sekarang?" tanya Gita yang merasa agak aneh dengan gelagat Mira yang tampak buru-buru. Tak lama, pintu kamar terbuka sepenuhnya dan Dayat melangkah keluar dengan wajah yang diusahakan sepadat mungkin untuk menutupi kepanikannya. Dia langsung mendapati Gita dan Mira sedang berdiri berhadapan di ruang tengah. "Lho kamu udah pulang Git?" tanya Dayat sambil berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Gita menoleh ke arah Dayat, mengembuskan napas panjang karena merasa lelah setelah menempuh perjalanan sore yang lumayan macet. "Iya Mas, cuma sebentar aja kok.. soalnya kebetulan pamanku disana juga mau pergi katanya," ucap Gita menjelaskan situasi yang membuatnya harus pulang

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan dan Rasa Penasaran

    "Ya, namanya juga memang kerjaanku sehari-hari sebagai tukang servis, Mir. Jadi ya harus pintar servis segala macam barang lah," ucap Dayat dengan nada bicara yang diusahakan tetap tenang dan santai, meskipun ia bisa merasakan deru napasnya sendiri mulai agak tidak teratur. Di dalam benaknya, Dayat mulai menebak-nebak dengan rasa cemas yang tertahan. "Gita udah ngomong apa aja ya ke ini anak?" gumam batin Dayat dalam hati. "Hmmm..." Mira hanya bergumam pelan. Jemarinya yang lentur kembali meremas pelan otot bahu tegap Dayat dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dayat tampak diam dan sama sekali tidak memberikan gerakan untuk menghindar atau menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tersebut. Hal itu membuat Mira merasa berada di atas angin. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Bukan servis barang atau sanyo itu maksudku, Mas Dayat. Tapi servis yang lain," ucap Mira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja tepat di samping

  • Tukang Servis Spesialis   Tekanan Yang Lembut

    "Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi. Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan. Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ihh, Mas Dayat ini kok ketahuan banget sih mau mengusir aku ya? Belum juga semenit Gita jalan, udah langsung ditanya begitu," ucap Mira dengan wajah cemberut yang dibuat-bikin. Dayat tertawa kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah bicara. "Yaa enggak begitu, Mir. Maksudku, aku cuma tanya aja. Kalau kamu masih mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Mau nunggu sampai Gita pulang nanti juga nggak apa-apa kok, santai aja." Raut wajah

  • Tukang Servis Spesialis   Di tinggal Berdua

    "Mas Dayat, mau dibuatkan kopi hitam hangat nggak? Kebetulan aku baru saja menjerang air di dapur," tawar Gita sambil menyunggingkan senyum manisnya dari ambang pintu. Dayat berbalik, "Boleh, Git. Terima kasih ya." "Siap, Mas. Ditunggu sebentar ya, aku buatkan dulu," sahut Gita dengan riang sebelum melangkah cepat kembali menuju arah dapur. Dayat berjalan keluar dari kamar, melintasi koridor dalam, lalu menghampiri Mira yang masih duduk sendirian di sofa ruang tengah. "Mir, kita ngobrol di ruang tamu depan aja yuk. Di sana angin sorenya lebih terasa segar, agak gerah kalau di dalam ruangan tengah begini," ajak Dayat dengan nada bicara yang sopan dan santai. Mira langsung bangkit dari duduknya sambil merapikan rok selututnya. "Oh, iya, Mas Dayat. Boleh. Di depan memang kelihatannya lebih adem ya." Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu depan dan mengambil posisi duduk di sofa rotan yang saling berhadapan. Tak lama kemudian, Gita datang dari arah dapur sambil membawa namp

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan dan Project Baru

    "Jadi begini, Yat. Biar diperjelas lagi detail pekerjaannya di depan Astrid. Tugas kamu nanti di perumahan Galaxy Permai seperti biasa. Instalasi listrik dari jaringan utama ke dalam tiap rumah, sekaligus memeriksa fungsi mesin air di semua unit. Terakhir, kamu harus memastikan finishing pengerjaan instalasi itu rapi dan beres semua tanpa ada cacat," jelas Clara dengan nada suara yang lugas dan terarah. Dayat mengangguk-angguk paham, matanya ikut memperhatikan baris kalimat pada dokumen di atas meja. "Untuk unit yang sudah dipesan oleh pembeli, apa ada permintaan atau spesifikasi khusus untuk penempatan jalurnya, Tan?" tanya Dayat dengan sopan. Clara menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke sofa empuk. "Untuk sementara ini, belum ada request tambahan dari beberapa orang yang sudah booking unit di sana. Jadi kamu bisa pasang semuanya pakai standar baku yang biasa kamu pakai saja. Biar pengerjaannya juga bisa berjalan lebih cepat." Astrid yang sejak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status