Share

Inspeksi Resort

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 11:33:19

Keesokan harinya, perjalanan panjang mereka akhirnya sampai pada tujuan. Mobil yang dikendarai Dayat memasuki area proyek pembangunan resort yang tampak megah sekaligus asri. Dayat memarkirkan mobilnya di area parkir yang agak teduh, lalu turun untuk meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam menyetir.

Dayat bersandar di depan kap mobil sambil menyalakan sebatang rokok. Dari posisinya, ia memperhatikan sekitar area proyek yang masih setengah jadi, sembari menunggu Astrid yang sedang perg
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Servis Spesialis   Inspeksi Resort

    Keesokan harinya, perjalanan panjang mereka akhirnya sampai pada tujuan. Mobil yang dikendarai Dayat memasuki area proyek pembangunan resort yang tampak megah sekaligus asri. Dayat memarkirkan mobilnya di area parkir yang agak teduh, lalu turun untuk meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam menyetir.Dayat bersandar di depan kap mobil sambil menyalakan sebatang rokok. Dari posisinya, ia memperhatikan sekitar area proyek yang masih setengah jadi, sembari menunggu Astrid yang sedang pergi ke kantor pengelola untuk mengambil kunci akses.Tidak lama kemudian, langkah kaki Astrid terdengar mendekat. Dayat menoleh dan langsung mendapati Astrid berjalan ke arahnya dengan senyuman cerah, sambil menggoyangkan gantungan di tangannya. Dayat memperhatikan jemari Astrid yang ternyata memegang dua buah kunci dengan gantungan yang berbeda."Gimana, Mbak? Udah beres urusan kuncinya?" tanya Dayat sambil mengembuskan asap rokoknya."Udah dong," jawab Astrid riang. Ia menunjukkan kedua kunci it

  • Tukang Servis Spesialis   Obrolan Ringan Menggoda

    Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Astrid, Dayat sempat menahan napas sesaat. Namun, instingnya sebagai laki-laki langsung mengambil alih. Ia tidak mau kalah lagi. Dayat menoleh, menatap langsung ke dalam mata Astrid dengan senyuman yang sengaja dibuat semanis dan senakal mungkin."Khusus buat Mbak Astrid mah... free," bisik Dayat, sengaja menekankan kata terakhirnya tepat di depan wajah cewek itu. "Gak perlu bayar pakai uang, Mbak."Astrid seketika melebarkan senyumnya, tampak sangat puas karena berhasil memancing reaksi yang ia inginkan dari Dayat.Namun, sedetik kemudian Dayat langsung memundurkan kepalanya, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat sambil tertawa renyah. Sisi canggungnya kembali muncul karena tidak terbiasa membahas urusan "ranjang" seserius ini dengan rekan kerjanya sendiri."Aduh... tapi lagian kenapa jadi malah ngomongin gituan sih, Mbak?" keluh Dayat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Aku jadi canggung banget ini, Mbaaakk... hahahaha!"Ast

  • Tukang Servis Spesialis   Pesona dan Penawaran

    Setelah menutup telepon dan mematikan layarnya, Dayat mengembuskan napas panjang. Baru saja ia menjauhkan ponsel dari telinganya, terdengar suara derit pintu kamar mandi terbuka dari arah dalam rumah, disusul panggilan dari suara yang sudah sangat familier."Mas Dayat!" panggil Astrid.Dayat berbalik badan dan melongok ke dalam. Saat itulah matanya seketika membesar, dan gerakannya terhenti.Untuk pertama kalinya, ia melihat Astrid dalam keadaan yang jauh lebih terbuka dari sekadar daster tanpa bra. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang disatukan ke atas, dan tubuhnya hanya berbalut sehelai handuk putih tebal. Handuk itu melilit pas di atas dadanya hingga sebatas pertengahan paha, mengekspos bahu, leher jenjang, serta kulit kakinya yang mulus dan masih menyisakan butiran-butiran air.Dayat tanpa sadar menelan ludah. Janjinya pada Gita beberapa detik yang lalu untuk 'tidak macam-macam' mendadak terasa seperti ujian yang sangat berat untuk dipertahankan.

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran dan Godaan

    Fokus mereka berdua pada layar laptop dan berkas denah proyek akhirnya membuahkan hasil. Tak terasa, matahari di luar sudah mulai bergeser ke barat, menandakan waktu sudah semakin sore. Semua persiapan, pembagian tugas, hingga taktik eksekusi untuk di resort besok sudah rampung dan tercatat rapi.Dayat meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu mulai merapikan barang-barang pribadinya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kain. Namun, gerakan Dayat terhenti ketika mendengar suara Astrid."Kenapa gak menginap di sini aja, Mas?" tanya Astrid santai. "Toh kan besok kita berangkatnya bareng, biar kamu gak bolak-balik lagi."Dayat langsung terdiam dan berpikir sejenak. Nginap di sini?Melihat Dayat yang tampak menimbang-nimbang, Astrid mengangguk meyakinkan. Dayat yang dasarnya suka bercanda langsung menyunggingkan senyuman jail. Dengan nada menggoda, Dayat menyahut, "Hmm... kenapa gak tunggu besok aja sih, Mbak? Udah gak sabar banget apa?"Mendengar godaan telak itu, Astrid seketika

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan dan Kesabaran

    Dayat langsung mengembuskan asap rokoknya ke samping, mencoba menetralisir rasa salah tingkahnya. Sadar kalau dia sedang dipojokkan, Dayat memutuskan untuk meladeni candaan Astrid agar suasananya tidak terlalu kaku. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gestur yang lebih santai, lalu menatap Astrid sambil tersenyum penuh arti."Mbak, mending jangan usil godain saya deh," kata Dayat dengan nada memperingatkan, tapi ada nada bercanda di dalamnya. "Nanti kalau saya beneran kegoda, bisa bahaya ini urusannya."Bukannya takut atau mundur, Astrid justru menaikkan sebelah alisnya. Ia malah memajukan posisi duduknya, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis hingga Dayat bisa merasakan kehangatan tubuhnya."Oh ya?" pancing Astrid dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, matanya menatap langsung ke manik mata Dayat. "Seberbahaya apa sih emangnya, Mas? Aku kok jadi penasaran..."Dayat terkekeh kecil, matanya melirik sekilas ke arah daster tipis Astrid sebelum kembali menatap wajah

  • Tukang Servis Spesialis   Kunjungan Pertama

    "Sekarang?" tanya Dayat sedikit memastikan, memastikan ia tidak salah dengar. Astrid mengangguk mantap sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kerjanya. "Ya sekarang, Mas. Toh habis ini kita kan gak ke mana-mana lagi. Mumpung lagi kosong, mending diberesin sekalian biar pas hari-H kita udah matang banget eksekusinya. Daripada nunggu besok-besok lagi." Dayat terdiam sejenak. Mengingat Gita yang malam ini akan menginap di tempat Mbak Niken, ia merasa tidak akan ada beban untuk mampir sebentar ke rumah Astrid. "Oke deh kalau gitu. Ayo." Tanpa membuang waktu, mereka berdua berjalan menuju mobil Dayat. Astrid menunjukkan arah jalannya sambil sesekali membuka *maps* di ponsel untuk memastikan rute tercepat ke rumahnya. Begitu mesin mobil menyala, suasana di dalam kabin terasa sedikit berbeda; lebih tertutup dan intim dibanding suasana kantor tadi. "Rumah kamu masih jauh dari sini, Dit?" tanya Dayat saat mobil mulai membelah kemacetan siang. "Enggak kok, Mas. Paling cuma dua puluh menit k

  • Tukang Servis Spesialis   Kehangatan Tanpa Hasrat

    Dayat menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, mencoba meredakan sisa-sisa denyut nikmat yang masih terasa. "Ya sudah, kalau gitu nanti Mas temenin sampai kamu tidur deh," ucap Dayat sambil mengusap kepala Gita. ​Gita langsung mendongak, matanya berkilat nakal mendengar jawaban itu. "Nemenin doang

  • Tukang Servis Spesialis   Gadis Yang Haus Dan Kesepian

    Motor Dayat terparkir rapi di halaman rumah Niken yang sudah sepi. Begitu ia mengetuk pintu, Gita langsung menyambutnya dengan senyum lebar, seolah rasa takutnya tadi hilang seketika saat melihat sosok Dayat. ​"Masuk, Mas," ajak Gita. ​Di dalam, suasana rumah terasa sangat lengang. "Mas mau ngopi

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Dan Pertanyaan

    Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun

  • Tukang Servis Spesialis   Lolos Dan Di Nanti

    Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status