LOGIN"Halo, Git. Kenapa?" tanya Dayat, suaranya diusahakan selembut dan sesopan mungkin. Dari seberang telepon, suara Gita terdengar sedikit manja, kontras dengan gemuruh yang sedang tertahan di ruang tengah rumah Clara. "Mas... aku tiba-tiba pengen banget makan sate padang yang di dekat simpang itu lho. Boleh tolong belikan nggak sebelum Mas pulang?" "Oh... iya, Git. Yaudah, nanti aku belikan pas jalan pulang ke rumah," jawab Dayat, menahan getaran di suaranya agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Iyaa... makasih banyak ya, Mas! Jangan malam-malam pulangnya," ucap Gita dengan nada riang. "Iyaa... yaudah ya, Git. Ini aku lagi agak sibuk periksa berkas sama Bos. Nanti aku kabari lagi kalau sudah jalan," tutur Dayat, mencoba mengakhiri percakapan secepat mungkin sebelum pertahanannya runtuh. "Siapa sih, Yat? Mengganggu momen kita saja," tanya Clara, suaranya serak dan manja sembari mengerucutkan bibirnya yang basah. "Biasa, Tan... urusan rumah," jawab Dayat pendek. Tanpa
"Duduk dulu, Yat. Aku sebentar lagi selesai kok," ucap Clara dengan nada yang sedikit genit, sambil memberikan kedipan mata yang sarat akan maksud terselubung. Ia memutar tubuhnya kembali ke arah konter dapur, sengaja memperlihatkan bagaimana daster satin marunnya bergoyang mengikuti setiap gerakan pinggulnya. Dayat menelan ludah, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang mendadak tidak beraturan. "Iya, Tan. Santai saja, jangan buru-buru," jawab Dayat, berusaha menjaga suaranya tetap terdengar sopan dan luwes. Ia melangkah menuju sofa empuk yang berada di ruang tengah yang cukup luas itu. Tak lama kemudian, aroma wangi kopi hitam yang pekat mulai tercium mendekat. Clara berjalan dengan langkah anggun yang sengaja diperlambat, membawa nampan berisi dua cangkir kopi cup hangat dan sepiring kecil camilan kue kering. Ia membungkuk perlahan untuk meletakkan hidangan itu di atas meja, membuat potongan daster rendahnya semakin terbuka di depan mata Dayat. "Nih, diminum dulu ko
"Kamu buka pintunya, aku ke kamar ya sekarang," bisik Dayat dengan suara ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke luar. Tangannya memberikan isyarat agar Gita segera berdiri dan merapikan penampilannya. Gita mengangguk cepat, ia segera berdiri dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan, memastikan tidak ada sisa-sisa aktivitas mereka yang tertinggal di wajahnya. "Iya, Mas. Cepat sana masuk," balas Gita dengan bisikan yang sama kencangnya. Dayat sudah setengah berlari menuju arah kamar, namun ia sempat berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh kembali. "Kalau mbakmu nanyain kenapa pintunya dikunci rapat begitu, bilang saja aku sedang tidur di kamar terus kamu juga lagi tidur lelap di sofa, jadi nggak dengar awalnya. Mengerti?" Gita sempat-sempatnya terkekeh pelan di tengah situasi yang menegangkan itu, ia merapikan blusnya yang sedikit kusut. "Iya Mas, iya. Ih, pakai ngajarin aku segala lagi soal akting begini," ucap Gita sambil mendorong pelan bahu Daya
"Geblek! Katanya room 11, nggak tahunya salah room. Sialan si Anggun, ngerjain gue apa gimana ini?" gumam Dayat dalam batin sambil mengusap wajahnya yang mendadak terasa panas karena malu. Ia bersyukur lampu koridor tidak terlalu terang sehingga wajah kikuknya tidak terlihat oleh pelayan yang lewat. Dayat segera memutar badan, berjalan cepat kembali menuju lobi tempat ia bertemu Anggun tadi. Pikirannya masih kacau, membayangkan betapa malunya ia jika orang-orang di dalam ruangan tadi mengejarnya karena dianggap sebagai pengintip. Begitu melihat sosok Anggun yang masih berdiri di posisi semula, Dayat langsung menyambar perhatian wanita itu. "Nggun! Mana si Gita?! Nggak ada di room 11!" seru Dayat dengan nada yang sedikit meninggi karena kesal. Anggun yang sedang asyik membetulkan letak tas bahunya mendongak kaget. Matanya membulat menatap Dayat. "Hah? Masa sih? Tadi dia bilang masuk ke sana kok sebelum gue keluar bentar." "Iya, nggak ada! Malah ada orang lagi mesum di sa
“Yat, katanya kamu lagi di rumah Natasya ya?” begitu isi pesan singkat yang muncul di layar. Dayat mengernyitkan dahi sejenak, jarinya bergerak lincah di atas papan ketik virtual. “Eh, iya nih Tan, kok tahu sih?” balasnya singkat. Tidak butuh waktu lama bagi status pesan tersebut untuk berubah menjadi centang biru. “Iya, tadi si Luki yang kasih tahu...” Clara membalas hampir seketika. “Oh gitu, iya Tan,” jawab Dayat lagi. Ia sudah bisa menebak kalau Luki memang tipe teman yang tidak bisa memegang rahasia lokasi, terutama jika yang bertanya adalah sang atasan. Pesan berikutnya dari Clara masuk dengan nada yang lebih serius. “Yat, saya minta tolong boleh?” “Apa tuh Tan? Boleh saja kok,” balas Dayat tanpa ragu. Ia memang terbiasa membantu wanita itu untuk berbagai urusan, dari yang teknis hingga urusan rumah tangga lainnya. “Tolong kamu bawa berkas yang ada di Natasya ya, nanti antar ke rumahku. Biar aku WA Natasya sekarang supaya disiapkan sama dia.” “Oke siap Tan,” pung
"Cepat masuk, Mas. Ibu sudah bolak-balik nanya kamu dari tadi," bisik Ning dengan nada cemas yang tertahan. Suaranya terdengar seperti peringatan darurat bagi Dayat. "Iya, Ning. Aman, tenang saja," jawab Dayat pendek sambil menepuk pundak Ning sekilas untuk menenangkan diri mereka berdua. Langkah kaki Dayat menggema di lorong rumah yang dingin dan berlantai marmer itu. Di ruang tengah, Natasya sudah berdiri dengan tangan bersedekap, menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Begitu melihat Dayat datang, ia langsung memberi isyarat dengan kepalanya untuk mengikuti ke arah halaman belakang. "Lihat itu, Yat," ucap Natasya sesampainya mereka di area taman belakang. Ia menunjuk ke arah sudut plafon teras tempat sebuah kamera kecil menempel kaku. "Posisinya sudah menghadap ke tembok sejak kemarin sore. Saya jadi tidak bisa lihat apa-apa dari aplikasi. Kamu pasangnya kurang kencang atau bagaimana?" Dayat mendongak, matanya bertemu dengan kamera yang memang dengan sukses merekam