Share

Tukar Pasangan (Jodoh)?
Tukar Pasangan (Jodoh)?
Penulis: Fiska Aimma

Bab 1. Dua Pernikahan

"Zel, Kakakmu hamil."
"Hamil?"
"Iya, sama Yoga."
Nggak mungkin!
Aku mematung sejenak. Otakku mendadak tak berfungsi. Bukankah, Yoga memintaku pulang untuk lamaran kami? Lalu, sekarang?
Mungkinkan aku sedang bermimpi? Siapa pun tolong bangunkan aku!
"Mamah, bercanda, kan?" tanyaku getir. Tak ada yang bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini, aku masih berharap kalau aku tengah bermimpi.
Kemarin, Yoga masih meneleponku. Dia bilang mencintaiku, dia bilang ingin memiliki anak denganku.
"Mamah gak bercanda Sayang, maafin Mbak Resa, ya?" Suara Mamah terdengar menjauh seperti udara yang mulai berkurang.
Aku sesak.
"Kok, bisa, Mah? Kenapa? Zela kan hanya enam bulan penelitian, Mah! Kenapa?" rintihku.
Aku mengatupkan kelopak mata yang terasa perih. Menangis.
Mamah langsung memelukku, dia pun sama terlukanya, itu bisa kulihat dari matanya yang sudah sembab.
"Mereka sama-sama mabuk Zela, Mamah juga gak tahu kenapa mereka bisa berbuat demikian. Mamah, kecewa juga Zela!" erangan Mamah, mengoyakkan hatiku.
Benakku masih tak percaya ini terjadi, padahal sebulan lagi pernikahan Mbak Resa dan aku pun punya rencana dengan Yoga.
Bukankah ini gila?
Bagaimana bisa Yoga mengkhianatiku sedalam ini? Dia yang selama ini mendengar keluh kesahku, kadang kami pun berpelukan untuk mengusir kerinduan.
Bagaimana bisa dia menghamili Kakakku? Bagaimana bisa? Kurang apa, aku?
"Zela! Maafin Resa, ya? Alfa juga sudah Mamah kasih tahu, walau berat dia pun menerima musibah ini," ujar Mamah di sela tangisnya.
Aku tak menjawab. Pikiranku benar-benar blank. Sekali pun Mamah terus berbicara menguatkan, aku hanya bergeming kaku dengan air mata yang terus-terusan mengalir. Kubiarkan Mamah terisak di bahuku walau dadaku sudah sangat sesak, sampai kurasakan semua menggelap.
"Zeelaa!"
(***)
Tukar pasangan, mungkin itulah yang terjadi pada kami. Setelah, beribu kali dikuatkan akhirnya kami berakhir pada satu kondisi memuakkan.
Dua pernikahan, dua pasangan dan entah berapa hati yang terluka.
Begitulah akhirnya, hari ini setelah sebulan kepulanganku, akad dan resepsi dadakan pun terjadi sebelum perut Mbak Resa membuncit.
Atas saran para keluarga, kami bertukar pasangan, demi menyelamatkan harga diri karena undangan Mbak Resa dan Mas Alfa pun sudah disebar jadi tak ada pilihan selain aku harus menggantikan Mbak Resa, sementara Mbak Resa menggantikanku.
Hancur.
Bagiku, kursi pelaminan seakan menjadi kursi terburuk yang pernah ada setelah mantan kekasihku dan Mbak Resa melempar bom ke mukaku.
Meski kursi pelaminan kami berjarak, masih bisa kulihat Yoga tampak salah tingkah. Si bajingan itu beberapa kali mencuri pandang ke arahku, tanpa perduli Mbak Resa yang sejak tadi menundukkan kepala.
Aku tahu Kakakku itu merasa malu dan aku pun sudah muak mendengar alasannya. Karena semalam pun, Yoga masih berusaha menggagalkan pernikahan ini tapi aku dan Mas Alfa sepakat berkorban diri untuk mereka sekali pun kami-lah di sini yang paling tersakiti.
"Apa kamu baik-baik saja?" tegur Mas Alfa. Si lelaki pendiam itu akhirnya bersuara.
Sudah empat jam kami menjadi pajangan, tersenyum di balik luka yang menganga.
"Menurutmu, Mas? Apakah aku bisa baik-baik saja setelah semua ini?" sinisku pada lelaki berprofesi Dokter itu.
Aku tak mengerti jalan pikiran Mas Alfa, dia terlalu tenang bagi seorang lelaki yang tengah patah hati. Bahkan, pandangannya terlalu dingin saat melihat Mbak Resa meraung dan mengemis cintanya. Paling tidak itu yang aku lihat.
"Senyumlah! Paling tidak berpura-puralah, bahagia. Resepsi ini sebentar lagi," ujar Mas Alfa tanpa memandangku.
Aku mendengkus kesal. Ada amarah yang menyeruak dan rasanya jika bisa aku ingin mencabik kedua manusia yang kini kerjaannya hanya melihat kami dengan tatapan minta dikasihani.
Cuih! Aku benci mereka.
Kurasakan mataku mulai memanas lagi. Tatapanku pun kembali beralih ke arah tamu, tanpa perduli Mbak Resa dan Yoga yang terus melihat kami.
Dasar penyebar aib! Brengsek!
"Zela!" panggil Mas Alfa pelan. Mungkin dia tahu saat ini aku hampir saja menangis.
"Iya, Mas?" tanyaku hampa.
"Kamu mau pergi?"
Mas Alfa menatapku dengan mata teduhnya, baru kusadari betapa lelaki itu memiliki aura jantan yang bisa kuandalkan.
"Ke mana?"
Aku balas menatapnya.
"Ke mana saja. Di mana kamu bisa menangis sepuasnya."
"Lalu, resepsi ini?"
"Saya rasa ini tak masalah."
"Tapi, Mas, kalau Ibu nyari. Gimana?"
"Saya yang tanggung jawab. Karena ...."
Mas Alfa menarik napas panjang. "Saya imammu sekarang!" ujarnya lirih tapi cukup membenturkanku pada kenyataan.
Jika suamiku bukanlah Yoga, tapi Alfa.
Perih.
Mungkinkah aku bisa menerima Mas Alfa? Di saat hatiku masih pada Yoga. Lalu, apakah Mas Alfa bisa menerimaku sementara aku tahu dia mencintai Mbak Resa?
Agh, gila!

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Yuliza Armeli AZam
kaya gorengan aja,main tuker"ada2 aja simamah...
goodnovel comment avatar
Diahagustina Hariati
seru juga ceritanya
goodnovel comment avatar
Aimma Lim
Serruuu ceritanya aku suka
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status