Share

Bab. 3

Author: Bunga Peony
last update publish date: 2024-10-09 20:09:24

~ PERMAINAN CANTIK ~

Arsya mendekati Leya yang baru saja duduk di ruang tamu dengan toples keripik di tangannya.

"Ley, sepertinya kamu melupakan sesuatu," ucap Arsya membuat Leya mengernyitkan dahinya.

"Mana oleh-oleh untukku? Aku kan sudah menitipkannya padamu," ucap Arsya mengingatkan seraya membentangkan telapak tangan kanannya di hadapan Leya.

"Aku sibuk, jadi mana sempat berbelanja." Tepis Leya pada telapak tangan wanita berambut panjang itu.

Arsya merengut. "Tak biasanya dia mengabaikan aku. Ada apa dengannya?" batin Arsya pun bertanya-tanya.

Sebagai seorang sahabat yang begitu dekat sejak SMA, Leya selalu mengabulkan keinginan Arsya termasuk membelikan barang-barang yang wanita itu pinta. Walaupun sebenarnya Arsya bisa membelinya sendiri dari uang yang diberikan suaminya, tetapi menikmati uang Leya ada kepuasan tersendiri bagi Arsya.

"Kamu sengaja tak membawakannya untukku kan? Padahal aku sudah menantikan tas itu," ucap Arsya merajuk.

Leya memutar bola matanya muak, jika dulu dia akan membujuk sahabatnya itu setiap wanita itu menunjukkan tanda-tanda merajuk padanya. Namun kali ini berbeda, Leya bahkan ingin sekali membenamkan kepala Arsya ke kolam belakang rumahnya.

"Minta saja sama suamimu! Jangan manja. Aku capek." Leya memandang Arsya sinis. "Kapan kamu pulang? Lihat jam sudah menunjukkan pukul berapa. Pulang gih, suami di rumah urusin!" lanjut Leya mengusir.

Arsya tersentak kaget dengan perkataan Leya yang kasar.

"Hari ini aku menginap di sini, ya. Boleh kan."

"Ckkk, sebagai teman kamu tak ada pengertiannya ya. Aku baru pulang dan ingin menghabiskan waktu dengan suamiku, akan tidak nyaman jika ada orang lain di sini."

Lagi-lagi Arsya tersentak kaget. Dia menggigit bibir bawahnya memaksa untuk tersenyum. Sementara amarah di hatinya berkobar.

"Baiklah, selamat malam dan selamat bersenang-senang," pamit Arsya seraya berlalu. Leya kembali tersenyum sinis menatap kepergian wanita itu.

"Rasanya aku ingin menampar dan memakimu saat ini juga. Tapi itu tindakan bodoh, kali ini aku akan membuatmu jatuh sejatuhnya hingga kau tak lagi bisa menegakkan kepalamu dengan penuh kesombongan," gumam Leya penuh dendam.

Tatapan mata Leya beralih ke arah tangga yang melingkar menuju lantai atas pada sosok laki-laki yang kini tengah duduk santai di balkon kamar. Menggerutu seorang diri karena keinginannya tak terpenuhi.

~ ~ ~

"Ngapain kamu ngajak aku ke sini, Sayang?" tanya Abram heran dengan sikap istrinya yang tak biasa.

Pagi-pagi sekali Leya mengajak Abram pergi ke perkebunan teh yang jaraknya hanya tiga jam perjalanan, bertiga sama supir dengan alasan Leya ingin santai bersama suaminya. Sementara Bi Imah dan Pak Nanang dia suruh membantu Asna di rumahnya.

Leya berniat memasang Cctv di setiap sudut rumahnya untuk mendapatkan bukti. Dia tidak percaya siapa pun setelah kejadian perselingkuhan pada malam itu.

"Aku ingin liburan denganmu, Mas. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk jadi tak punya waktu untuk berdua. Makanya aku ingin banget resign akhir tahun ini."

"Masalah resign sudah kita bicarakan semalam, aku malas membahasnya lagi," tandas Abram menghentikan perbincangan mereka tentang niat Leya untuk berhenti bekerja. Lelaki itu terlihat selalu menentang, menghadirkan senyum kecut di bibir Leya.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka berdua singgah ke sebuah cafe yang ada di dekat perkebunan teh itu. Cafe kekinian yang disuguhi view gunung menjulang tinggi serta kabut putih yang memberi kesan estetik.

Leya tak melepaskan kesempatan, dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil selfi berdua dengan Abram sebanyak mungkin. Leya tersenyum puas melihat beberapa gambar yang menujukkan hubungan mereka yang begitu romantis.

"Makan dulu, jangan hanya main ponsel saja. Kamu belum makan dari tadi dan sayang juga makanan itu dingin karena dianggurin," tegur Abram pada istrinya.

"Nanti, Mas. Lihat Mas, foto ini bagus deh. Bagaimana kalau foto ini kamu jadikan profil di semua sosial media kamu ya!" Leya menunjukkan sebuah foto dirinya yang tersenyum manis berhadapan dengan suaminya. Seakan mereka tengah mengobrol santai.

"Apa harus?" tanya Abram terlihat enggan. Leya memasang wajah kecewa dengan sikap suaminya yang akan menolak permintaannya itu.

"Kenapa Mas? Kamu malu menujukkan pada semua orang kalau aku ini istrimu?"

"Bukan, bukan begitu. Hanya saja apa gak terlihat lebay Sayang," ucap Abram cepat. Dia tampak gelagapan menepis tuduhan istrinya.

"Lebay? Memasang poto profil dengan wajah istri sendiri kamu bilang lebay Mas?" Leya memicingkan matanya memandang suaminya. Seperti pisau tajam yang hendak menguliti tubuh lekaki itu perlahan.

"Kalau kamu pajang foto istri orang baru lebay, apalagi sampai selingkuh dengannya."

Degh!

Abram sedikit tersentak kaget. Namun dirinua begitu pintar untuk menutupinya agar Leya tak mengetahuinya.

"Aku pernah dengar dari temanku lo Mas. Katanya jika suami tak mau memajang foto istrinya sebagai foto profil sosial medianya, itu harus diwaspadai takutnya dia sedang menjaga perasaan wanita lain. Emang kamu juga begitu, Mas?" tukas Leya yang semakin membuat Abram tersentak kaget.

"Kamu ngomong apa sih, Sayang. Itu hanya mitos dan gak ada yang begituan dalam pikiranku. Bagiku kamu itu wanita yang paling cantik dan aku beruntung memiliki kamu," jawab Abram penuh rayuan. Leya tersenyum senang walau dalam hati dirinya ingin sekali muntah setelah mengetahui fakta yang ada.

Dulu mungkin Leya akan tersenyum malu dengan pipi yang memerah. Tapi kini alih-alih tersenyum malu, Leya justru tersenyum mual membodohi diri sendiri.

"Gak usah gombal kalau nyatanya omong kosong!" balas Leya menepis ucapan Abram.

Abram menghela napas pendek. Tangannya meraih ponsel Leya, mengirimkan gambar yang Leya tunjukkan ke nomornya sendiri di applikasi whatsap. Kemudian beralih pada ponselnya dan langsung melakukan yang diinginkan istrinya untuk menghentikan perdebatan.

"Nah lihat! Sekarang aku sudah lakuin apa yang kamu mau, sekarang kamu puas?"

Leya tersenyum penuh kemenangan melihat gambar mereka berdua sudah terpampang di semua sosial media suaminya dengan caption "wanita syurgaku" yang cukup membuat hatinya berbunga-bunga walau hanya sesaat.

"Terima kasih Sayang. I love you."

"I love you to honey, apa pun itu asalkan kamu senang," rayu Abram kembali.

Leya meraih cangkir kopinya, menyerap aroma cafein itu dengan santai.

"Aku yakin di suatu tempat ada yang tengah merasakan kebakaran. Pasti hatinya panas menggelegak, jiwanya meradang dengan gemuruh yang perlahan tapi pasti kian membakar hatinya. Dan tenang saja, semua ini baru permulaan."

Leya kembali menatap suaminya, tapi tatapan wanita itu kian dalam dan dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tukar Ranjang   Bab. 177

    Sudah dua hari Liliana menunggu hasil tes DNA yang akhirnya keluar juga. Kini, wanita paruh baya itu duduk di hadapan dokter dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah sedang berlomba dengan waktu. Ada harapan besar yang diam-diam ia simpan, tetapi bersamaan dengan itu, terselip pula ketakutan akan kemungkinan bahwa kenyataan yang akan dihadapinya tidak sesuai dengan dugaan."Apa Anda sudah siap melihat hasilnya?" tanya dokter dengan tenang.Liliana menganggukkan kepala pelan. Ia berusaha menguasai dirinya meskipun jemarinya terus meremas ujung tas yang berada di pangkuannya."Silakan, Dok. Saya sudah menunggu hasil ini selama dua hari. Saya ingin tahu kebenarannya."Dokter mengambil sebuah amplop putih dari atas meja, kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berisi hasil pemeriksaan. Ia membacanya sekilas sebelum menyerahkan dokumen tersebut kepada Liliana.Dengan napas tertahan, Liliana menerima kertas itu. Matanya

  • Tukar Ranjang   Bab. 176

    “Apa yang aku dengar tadi itu benar, Ma?” tanya Devan dengan suara serak.“Memangnya kamu dengar tentang apa, Nak?” Sartika pura-pura tidak mengerti. Ia mendekati Devan, lalu dengan lembut memapah lelaki itu agar kembali ke ranjang.Namun, Devan memilih duduk di pinggir ranjang daripada harus kembali berbaring. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat kehilangan banyak darah, ia tetap ingin mendapatkan jawaban atas percakapan yang tanpa sengaja didengarnya tadi.“Jangan bohong padaku. Aku sudah dengar semuanya.”Tatapan Devan menajam ke arah Sartika, seolah menuntut perempuan itu untuk berhenti mengelak.Sartika terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka putranya sudah terbangun dan mendengar percakapannya dengan Liliana. Padahal, ia berusaha keras menyembunyikan rahasia itu agar tidak pernah terungkap, terutama di hadapan Devan sendiri.“Apa yang kamu dengar, Devan?” tanyanya lagi, berusaha mempertahankan ketenangannya. “Kamu baru saja melewati masa kritis.

  • Tukar Ranjang   Bab. 175

    "Omong kosong apa yang kamu katakan?"Sartika berusaha menghindari tatapan Liliana yang terus mengintimidasinya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai terpancar jelas di wajahnya."Tentu saja Devan putra Astrid!" tegasnya, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan asal bicara, apalagi memfitnah orang yang sudah tiada. Apa kamu tidak takut terkena karma?"Liliana terkekeh pelan. Bukannya tersinggung, ia justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan Sartika darinya."Memfitnah?" ulangnya dengan senyum sinis. "Aku bahkan belum menuduhmu melakukan apa pun, Sartika. Aku hanya mengajukan pertanyaan sederhana. Namun, lihatlah bagaimana reaksimu."Liliana melangkah mendekat, memaksa Sartika kembali berhadapan dengannya."Kalau memang kamu begitu yakin Devan adalah putra Astrid, mengapa kamu harus ketakutan seperti ini?"Sartika terdiam. Wajahnya semakin tegang, sementara jemarinya meremas ujung pakaian

  • Tukar Ranjang   Bab. 174

    Liliana bukanlah wanita yang mudah menyerah begitu saja. Semakin Sartika berusaha menjauhkan dirinya dari Devan, semakin kuat pula keinginan wanita paruh baya itu untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.Malam itu, setelah memastikan Sartika tidak berada di sekitar ruang rawat inap, Liliana kembali melangkahkan kaki menuju kamar Devan. Ia sengaja datang sembunyi-sembunyi tanpa memberi tahu siapa pun.Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak. Setelah menarik napas panjang, wanita itu mengetuk pintu perlahan.Tok! Tok!Tidak terdengar jawaban dari dalam. Liliana pun membuka pintu sedikit, lalu mengintip ke dalam.Matanya langsung tertuju pada sosok pemuda yang terbaring di atas ranjang. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Devan sudah tidak lagi memejamkan mata. Pemuda itu sedang menatap langit-langit kamar dengan wajah pucat, sementara tangan kirinya masih terpasang selang infus.Liliana menghela napas lega."Devan

  • Tukar Ranjang   Bab. 173

    Malam itu, suasana kamar Nirwan dan Nadira terasa begitu tenang. Cahaya lampu tidur yang temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat di antara dua insan yang kini kembali merajut rumah tangga mereka setelah melewati begitu banyak kesalahpahaman, luka dan air mata.Nadira berbaring menyamping dengan tubuh menghadap Nirwan. Sementara itu, pria tersebut telentang dengan satu tangan terlipat di bawah kepala dan tangan lainnya berada di atas pinggang sang istri.Sejak tadi, Nadira tampak lebih banyak diam. Sesekali wanita itu menghela napas pelan, kemudian kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan, ketika Nirwan mengajaknya berbicara beberapa kali, jawabannya hanya berupa gumaman singkat.Nirwan yang menyadari perubahan sikap istrinya akhirnya memiringkan tubuh. Ia menopang kepala dengan satu tangan, lalu menatap wajah Nadira lekat-lekat.“Sayang,” panggilnya lembut.Nadira mengalihkan pandangan. “Hm?”“Kamu sedang memikirkan apa?”Pertanyaa

  • Tukar Ranjang   Bab. 172

    Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sartika melirik ke arah Devan yang masih terbaring seakan lelaki itu sedang tertidur nyenyak. Setelah Nadira pulang, Devan sempat sadar beberapa waktu hingga dokter menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya, barulah pemuda itu kembali tertidur karena rasa kantung yang mendera. Wanita paruh baya itu mulai merasakan perih di perutnya, ia baru ingat kalau seharian ini ia baru makan satu kali. Itu pun makanan yang diberikan Nadira saat berkunjung siang tadi. "Mama keluar sebentar ya. Kamu tunggu di sini dan jangan berulah," ujar Sartika lembut pada Devan yang pastinya tidak merespon karena belum bangun. Sartika meraih tas dan kunci mobilnya. Barulah ia beranjak perlahan. Baru saja keluar dari pintu kamar rawat inap, ia dikejutkan dengan sosok Liliana yang tengah duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan tersebut. Tatapan mata mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Atmosfer seketika berubah menjadi canggung d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status