Share

Bab. 2

Author: Bunga Peony
last update Last Updated: 2024-10-09 20:08:28

~ MANUSIA TEBAL MUKA ~

Leya menghubungi Abram dan mengabari kedatangannya setelah dua hari menenangkan dirinya di hotel. Dia pulang ke rumah setelah berjuang memantapkan hati untuk bisa bersikap seakan tak terjadi apa-apa

"Surprise!!"

Baru saja Leya membuka pintu, dia sudah disambut dengan dua sosok manusia yang ingin dia singkirkan dari muka bumi ini.

Wajah keduanya tampak begitu ceria. Bram memegang buket bunga Lily putih sementara Arsya memegang sebuah cake yang bertuliskan anniversary pernikahan ke 2 tahun.

"Selamat Anniversary pernikahan kita Sayang. Aku harap pernikahan kita langgeng hingga maut memisahkan," ucap Bram memanjatkan harapan.

Leya memandang Arsya sekilas kemudian beralih memandang hampa cake berwarna pink dengan gambar sepasang pengantin yang berdiri tegak sembari menari.

"Selamat ya, Say. Aku berharap semua doa terbaik untukmu." Arsya menyodorkan kue yang di pegang pada Abram dan berniat untuk merangkul tubuh Leya.

Rasa kecewa membuat Leya reflek menolak dengan mundur satu langkah. Senyum terpaksa Leya hadiahkan.

"Ada apa?" tanya Arsya bingung. Tak seperti biasanya Leya menolak rangkulan tangannya.

"Aku baru pulang dan bau keringat. Sebaiknya aku mandi dulu," dalih Leya cepat untuk menghilangkan kecurigaan.

Jangankan bersentuhan tubuh secara langsung dengan Arsya, melihat wajah wanita itu saja sudah membuat dada Leya meradang. Ingatannya kembali pada malam itu saat wanita yang menyebut dirinya sebagai seorang sahabat itu begitu menikmati pergumulan panas dengan suaminya.

"Ya sudah, kamu mandi dulu Sayang. Kita kumpul makan malam bersama. Hari ini Arsya menyempatkan diri memasak untuk kita."

"Baiklah, aku ke atas dulu," pamit Leya setelah memberi respon biasa pada apa yang diucapkan suaminya.

"Kenapa dengannya, Mas? Tak seperti biasanya istrimu itu terlihat dingin seperti itu?" tanya Arsya yang menaruh curiga.

"Mungkin benar dia sedang kecapean. Biarkan saja dulu! Sekarang ayo kita ke meja makan."

Abram mengajak Arsya untuk duduk di meja makan sembari menunggu kedatangan Leya.

Sesampainya di kamar kepala Leya serasa berputar dengan rasa mual yang mendera. Adegan demi adegan menjijikkan malam itu kembali berputar memberikan rasa sesak di dada.

Pembantu rumah tangga yang datang membawa koper Leya pun tersentak panik melihat majikannya yang kini terhuyung dan bersandar pada dinding sebagai tumpuan.

"Anda tidak apa-apa, Nyonya?"

"Tidak apa-apa, Bik. Aku hanya lelah."

"Kalau begitu Nyonya istirahat dulu dan biar Bibik yang kasih tahu Tuan kalau nyonya tak bisa ke bawah," ucap Bi Imah perhatian.

Baru saja pelayan wanita yang sudah berumur kepala empat itu hendak beranjak, Leya sudah lebih dulu menahan lengannya.

"Aku audah bilang aku tidak apa-apa, Bik. Tak perlu memanggil siapa pun. Oh ya, Bik. Selama beberapa hari aku pergi apa ada kurir yang mengantarkan paket ke sini?"

Leya sengaja membuat pertanyaan bohong untuk mencari tahu apa saja yang terjadi di rumahnya selama dia tak ada.

"Saya tidak tahu Nyonya. Kan selama nyonya pergi keluar kota, saya kan pulang kampung juga."

"Coba tanyakan sama satpam atau tukang kebun?" cecar Leya.

"Saya yakin mereka juga tak tahu Nyonya karena mereka juga libur seperti saya."

Aku tersentak kaget. "Semuanya libur? Kenapa?"

"Perintah Tuan seperti itu nyonya, karena katanya selama nyonya tak ada, semua karyawan harus libur," jawab Bi Imah. Senyum tipis terbit di bibir Leya. Dia mengancungi jempol keberanian Abram mengkhianatinya. Bahkan hingga di atas peraduan mereka.

"Panggil Mang Nanang dan yang lainnya, Bi! Suruh keluarkan ranjang ini!"

"Loh kenapa, Nya? Ranjangnya kan masih bagus dan enak dipakai?"

"Aku mau ganti suasana baru. Cepat panggilkan, Bik! Terserah kasur itu mau di bawa ke mana. Bakar sekalipun juga gak masalah," ucap Leya tak perduli.

Leya menghubungi seseorang di ponselnya. Dia memesan sebuah ranjang baru sebagai pengganti ranjangnya yang masih bagus itu. Semua itu dia lakukan karena dia jijik harus tidur di atas rajang yang sudah dipakai pasangan pez1n4 itu.

Bi Imah tetap menjalankan perintahnya walau dengan perasaan bingung atas sikap majikannya yang sedikit aneh menurutnya.

Abram dan Arsya kaget melihat ranjang keluar dari kamar atas. Mata Abram pun melebar melihat kamar mereka kini tampak kosong dan lapang.

"Kenapa dengan kasurnya?" tanya Abram menghampiri istrinya yang ada di kamar tamu tak jauh dari kamar utama milik mereka.

"Aku ganti dengan yang baru. Aku pengen suasana baru, Mas. Dan untuk sementara sampai kasur baru datang, kita akan tidur di kamar ini," jelas Leya yang baru saja habis mandi. Dia pun duduk di pinggir ranjang dengan handuk kecil mengeringkan rambutnya yang basah.

Senyum simpul terukur di bibirnya melihat kebingungan di wajah suaminya itu.

"Oh, ya Mas. Aku tadi mendapat kabar dari kantor, sepertinya lusa aku akan pergi ke luar kota lagi. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu tak apa-apa kan?"

Abram tersentak kaget. "Kamu pergi lagi, Sayang? Kamu kan baru saja pulang dan lusa akan pergi lagi?"

"Mau bagaimana lagi, Mas. Kan kamu tahu sendiri posisi aku di perusahaan sekarang mengharuskan aku menghendle semuanya. Aku sebenarnya capek seperti ini. Apa aku resign saja dari pekerjaan ya, Mas. Kan ada kamu yang gantiin aku untuk membiayai hidup kita. Aku ingin di rumah saja sambil ngurus anak kuta nanti," ucap Leya yang lagi-lagi membuat Abram tersentak.

Lelaki berambut ikal itu duduk di samping istrinya.

"Jangan resign dulu, Sayang. Kamu tahu kan usaha aku belum berkembang. Mana bisa untuk membiayai hidup kita nanti dan kebetulan sekarang aku mau pinjam uang dua ratus juta sama kamu untuk pengembangan usaha," ucap Abram yang kini membuat Leya tersentak.

Abram memiliki usaha konveksi yang mulai dia rintis saat mereka baru saja menikah dan semua modal usaha dia dapatkan dari Leya. Usahanya cukup besar dan maju setahun belakangan ini, tetapi tak pernah sekalipun Leya mencicipi uang dari hasil usahanya itu.

"Modal lagi? Memangnya kemana uang dari hasil usahamu selama ini?" Leya menatap wajah Abram, lelaki itu tampak mengelak dan mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Tak berani menatap mata istrinya membuat Leya yakin jika suaminya tengah berniat menipunya lagi.

"Oh, itu ... semua keuntungan konveksi Mas gunakan untuk ikut investasi bisnis baru. Dan memang Mas belum sempat bilang sama kamu, tapi kamu jangan khawatir sayang, kalau bisnis Mas yang satu ini juga berhasil, kamu bisa langsung berhenti dari perusahaan itu. Di rumah saja mengurus anak-anak kita nanti, tapi sebelum itu pinjamkan Mas modal terlebih dahulu," rayu Abram. Leya hapal di luar kepala dan paling ujung-ujungnya uang yang dia berikan akan lenyap begitu saja bagai angin yang mengurai.

"Maaf Mas, tapi untuk saat ini aku tak punya dana lebih untuk pengembangan usahamu itu."

"Aku tak sudi memberikan sepeserpun uangku padamu lagi dan kamu tunggu saja, Mas. Hidupmu dan gundikmu itu akan aku buat menderita!" lanjut Leya di dalam hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
sukses dalam karir tapi goblok. klu usahanya berkembang pesat berarti ada keuntungan yg pesat juga. sebagai istri koq diam aja g dinafkahi dan terkesan masa bodoh dg penghasilan suami. pantas saja suamimu menafkahi temanmu lahir dan batin.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tukar Ranjang   Bab. 118

    “Nadira atau Cataleya, apa pun nama yang kau gunakan untuk menipu dunia atau menipu dirimu sendiri, kau tetap ancaman bagiku.” Nadira menggeleng lemah, tali yang mengikat pergelangannya menekan semakin dalam. “Aku tidak mengerti … aku bukan siapa pun. Aku bukan Cataleya. Aku—” “Kau pikir aku bodoh?” potong Silvia tajam. Ia tertawa pendek—bukan tawa lucu, tapi tawa seseorang yang pikirannya sudah terpojok lama. “Kau bisa kehilangan ingatan, kau bisa membangun kehidupan baru … tapi wajahmu tidak bisa berbohong.” Nadira menahan napas. Ada gemuruh panik di dadanya, tapi juga kebingungan yang menghantam keras. Rasa sakit di kepala kini kembali hadir memaksa menarik kepingan memori yang terkubur dalam ingatan. Silvia melempar pisau dalam genggaman tangannya ke sembarang arah. Tangannya kini yang berperan, ia mencekik leher putih itu dengan sekuat tenaga. Nadira tercekik, ia berusaha untuk memberontak, namun ikatan di tangan membu

  • Tukar Ranjang   Bab. 117

    Hari berlalu begitu cepat. 24 jam telah terlewati begitu saja. Nadira melirik benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum kecil itu menunjukan pukul sepuluh malam dan sudah saatnya ia membereskan tumpukan kertas yang sedari tadi menghiasi pemandangannya. Hari ini pekerjaan terasa begitu berat. Perut yang mulai terasa keroncongan membuatnya semakin mempercepat gerakan tangan dan kakinya. Nadira keluar dari gedung tinggi itu menuju lantai bawah di mana ia memarkirkan mobilnya. Suasana parkiran tampak begitu hening padahal belum terlalu larut. Nadira menekan tombol kunci mobilnya, suara beep pelan terdengar memantul pada dinding beton parkiran. Ia mengusap tengkuknya yang pegal, berharap bisa segera pulang, mandi air hangat dan makan apa pun yang bisa mengisi perutnya yang sejak siang kosong. Langkahnya terhenti sepersekian detik ketika angin dingin menyusup dari arah lorong gelap di belakangnya. Lampu neon di parkiran sempat be

  • Tukar Ranjang   Bab. 116

    Sesampainya di rumah, Nadira langsung disambut rentetan pertanyaan dari Sartika yang tanpa sengaja melihatnya pulang diantar oleh Nirwan. Wajah wanita paruh baya itu tampak jelas dihiasi kecemasan. “Untuk apa kamu menemuinya?” tanya Sartika, suaranya mengeras karena khawatir. Nadira menghela napas panjang sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Kedua bahunya merosot, seolah seluruh energi yang ia miliki terkuras habis. “Tentu saja untuk mencari kebenaran,” jawabnya lirih. “Aku tidak akan bisa mengembalikan ingatanku jika tidak bertemu dengannya.” “Jauhi dia, Nadira!” seru Sartika spontan. “Nirwan itu bukan lelaki yang baik untukmu. Bukan cuma kamu wanita yang ada dalam hidupnya.” Tatapan Nadira mengeras, menusuk dalam ke arah Sartika. Ada kilatan kecurigaan yang tak bisa ia sembunyikan. “Mama mencaritahu latar belakang Nirwan?” ujarnya pelan namun penuh tekanan. “Tentu saja,” sahut Sartika. “Dan dari semua yang

  • Tukar Ranjang   Bab. 115

    Silvia panik. Begitu pintu rumah kontrakannya tertutup, ia langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Napasnya memburu, tidak teratur, seolah paru-parunya menolak bekerja dengan benar. Dadanya terasa sesak, kepalanya berputar. Pertemuan tadi dan tatapan Nadira, suara Nadira, cara perempuan itu menekan kata Cataleya—semua itu mengguncang stabilitas tipis yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. “Astaga … apa yang kulakukan tadi. Satu masalah belum selesai dan kini aku kembali di hadapkan dengan masalah baru." Silvia meremas rambutnya, tubuhnya gemetar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang sempit. Setiap langkah seperti menarik napasnya semakin dalam ke jurang kecemasan. Bayangan wajah Nadira muncul di benaknya lagi, tatapan penuh ketenangan yang menghancurkan pertahanannya. Bagaimana jika benar ia Cataleya dan ia ingat semuanya. Hidupku tak hanya akan hancur dan berakhir dalam penjar

  • Tukar Ranjang   Bab. 114

    Nirwan menelan ludah. Ruangan itu terasa menyempit, udara seolah menekan dadanya. “Silvia … dia—”“Aku ibu dari anaknya,” potong Silvia cepat, suaranya meninggi. “Atau setidaknya, aku pernah menjadi wanita yang dia janji akan dinikahi dan ditanggung seumur hidup.” Senyum tipisnya sarat kemarahan. “Apa itu juga salah paham?”Nadira bangkit dari duduknya. Gerakannya tenang, namun matanya menyimpan badai. Di tengah kebimbangannya tentang jati diri, Nadira baru saja mulai berusaha membuka dirinya untuk menerima Nirwan. “Aku tidak menyangka ternyata begitu banyak wanita di hidupmu,” ucapnya lirih pada Nirwan. “Dan kamu tidak bercerita padaku soal anak dan wanita ini.”Bintang mendekap Liliana semakin erat, tubuh kecilnya bergetar. Liliana membalas pelukan cucunya dan ikut menatap Silvia dengan amarah yang tak lagi ia sembunyikan. “Cukup, Silvia. Jangan buat keributan di rumahku. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, jadi pergilah dari sini.”Liliana dengan tegas

  • Tukar Ranjang   Bab. 113

    Silvia mundur-mandir sedari tadi. Ia tampak uring-uringan setelah mendapat informasi bahwa ada beberapa pria yang diduga adalah polisi tengah menggeledah rumah lamanya. “Bagaimana jika mereka menemukannya?” gumamnya panik. Telapak tangannya basah oleh keringat. Ingatannya melayang pada sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat—sesuatu yang seharusnya sudah lenyap, terkubur bersama masa lalu. Ia berhenti melangkah, menekan pelipisnya yang berdenyut. Napasnya memburu. “Tidak … tidak boleh. Aku gak mau masuk penjara. Jalan satu-satunya aku harus pergi jauh dari tempat ini, tapi nenek tua itu memberikan uang yang jauh dari kata cukup," bisiknya lirih. Otaknya terasa semakin sakit memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang besar. Silvia berencana kabur keluar negeri sebelum masalah pembunuhan yang telah ia lakukan terbongkar. Sementara itu dirinya tak memiliki uang yang cukup.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status