Share

Bab. 4

Author: Bunga Peony
last update publish date: 2024-10-09 20:10:13

~ KEBERANIAN BERMAIN API ~

"Sialan! Brengsek! Katanya tidak cinta tapi kenapa memasang foto profil istrinya itu di seluruh sosial media miliknya. Maksudnya apa? Mau mempermainkan aku?" gerutu Arsya di depan meja hiasnya. Kedua tanganny terkepal di atas meja.

Dia baru saja berselancar di sosial media dan melihat postingan Leya dan juga Abram yang lewat di beranda sosial medianya. Dadanya bergemuruh melihat Abram mengganti foto profilnya dengan foto istri sahnya yang tengah duduk serta tertawa mesra bersama.

Tak lupa terdapat caption manis yang Abram sematkan semakin membakar hatinya.

"Sepertinya kamu menikmati waktu liburan bersama istrimu itu, Mas. Kalimat manis laki-laki tak ada yang dapat di percaya."

Brak! Prang!

Arsya mendorong semua peralatan kosmetik yang ada di atas meja riasnya itu hingga jatuh berhamburan ke lantai. Di merasa iri dengan kemesraan orang lain yang baru saja dia lihat.

Arsya dan Leya adalah teman baik jaman smp dulu. Leya yang berasal dari keluarga berada termasuk gadis yang baik, dia kerap membagi apa pun yang dia miliki pada Arsya yang berasal dari keluarga pas-pasan.

Arsya juga kerap meminjam pakaian Leya ataupun tas dan sepatu agar dinilai mampu oleh teman-temannya. Orang tuanya hanyalah pegawai golongan rendah di mana gaji yang dimiliki selalu habis setiap akhir bulan untuk makan.

Berkat pakaian dan perlengkapan yang sering dia pinjam dari Leya menjadikan dirinya terlihat modis dan cantik hingga mampu memikat Nirwan—suaminya saat ini yang merupakan seorang pengusaha tambang batu bara.

Kehidupan Arsya berubah drastis. Dia bisa memiliki apa pun yang dia mau tanpa harus susah-susah bekerja seperti sahabatnya itu. Namun kebahagiaan itu hanya sementara. Karena sifat Nirwan yang terlalu fokus pada pekerjaannya dan tak memiliki waktu untuk dirinya.

Tangannya dengan cepat membuka layar ponsel. Menekan panggilan pada sebuah nomor. Hatinya kembali geram saat panggilan telpon itu tak kunjung tersambung. Setelah panggilan ke tiga barulah panggilannya terangkat.

"Kemana saja kamu, Mas? Kenapa telponku baru diangkat?" tanya Arsya dengan suara manja yang menjadi ciri khasnya.

"Kerja, memangnya ada apa? Tumben?" sahut suara bass dari dalam ponsel. Suara itu terdengar acuh.

"Mas, aku ingin liburan berdua. Selama menikah kamu jarang ngajak aku liburan, besok kita liburan ke luar kota ya!" pintanya langsung tanpa berbasa-basi.

"Kamu bisa pergi dengan teman-temanmu. Aku akan mentransfer uang yang kamu butuhkan."

Arsya berdecak kesal. Dia memiliki semuanya tetapi entah kenapa itu tak cukup untuk mengisi kekosongan hatinya.

"Aku gak butuh uang, aku mau pergi bersama kamu. Apaa gak bisa meluangkan waktu untukku sehari saja?" rengek Arsya semakin menjadi.  Dia tak terima penolakan yang suaminya itu berikan.

"Mana bisa! Aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Pergi sama teman-temanmu saja. Oh ya sayang aku harus pergi meeting sekarang juga. Bay bay!"

Sambungan telpon terputus seketika tanpa menunggu satu patah atau dua kalimat balasan darinya.

"Lagi-lagi alasan kerja. Kerja! Kerja! Dan kerja! Apa dia tak sadar jika aku juga butuh perhatian dan kehadirannya di sisiku saat ini!" sungut Leya begitu kesal.

Lelaki tinggi hitam manis itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan hanya memanjakan Arsya dengan uangnya saja, membuat Arsya akhirnya tergoda dengan Bram yang begitu baik serta pengertian menurutnya.

Arsha kembali menatap ponselnya. Tangannya dengan cepat mengetik sesuatu yang langsung dia kirimkan pada seseorang yang entah ada di mana.

"Aku tak mau tahu, kamu harus datang ke sini, Mas! Enak saja kamu liburan dengannya di sana sedangkan aku di rumah seorang diri!"

          ~ ~ ~

Leya menatap curiga pada suaminya yang tampak fokus memainkan ponsel yang ada di tangannya itu. Wajah suaminya tampak pucat dan juga gelisah.

"Ada apa, Mas? Kamu sakit?" tanya Leya berbasa-basi. Dia bahkan bisa menebak siapa gerangan yang tengah berbalas pesan dengan suaminya saat ini.

Sontak Abram memijik pelipisnya dengan pelan. Seakan Tuhan sedang merestuinya hari ini. Dia yang bingung mencari-cari alasan justru alasan itu sendiri yang datang padanya.

"Iya, Sayang. Tiba-tiba kepalaku pusing. Sebaiknya kita pulang sekarang saja ya. Jalan-jaalannya kita sambung besok saja, kan masih banyak waktu untuk kita jalan-jalan berdua."

"Tapi kita baru saja sampai dan duduk di kafe ini. Masih ada tempat yang mau aku kunjungi," protes Leya mencoba untuk egois. Toh dia yakin suaminya itu tak benar-benar sedang sakit.

"Tolonglah! Apa kamu tega melihat Mas menahan sakit sedangkan kamu bersenang-senang sendiri!" balas Abram penekanan dan menggiring makna jika Leya egois. Leya pun akhirnya mengalah.

Mereka berdua pulang cepat di luar dari rencana. Sesampainya di rumah, dengan wajah asam Leya memasuki kamar mereka berdua.

Baru setengah jam mereka berdua di rumah. Ponsel di saku celana Abram berbunyi tepat saat Leya keluar dari kamar mandi.

"Apa! Kok bisa kalian selalai itu? Kalau sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab!" hardik Abram penuh emosi.

Leya yang tersentak kaget, dia memicingkan matanya menatap ke arah sang suami yang tengah duduk pada sofa sudut kamar.

"Ada apa, Mas?" tanya Leya langsung setelah suaminya selesai menelpon tentunya. Dia yang sudah mengenakan pakaian lengkap menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

"Mas harus ke ruko sekarang, Sayang. Ada masalah dengan bahan yang dipesan."

"Tapi bukannya kamu lagi sakit, Mas?"

"Kalau Mas gak pergi akan semakin sakit lagi, Dek. Kerugian yang akan Mas dapatkan sangat besar. Jadi Mas pergi dulu, ya! Kamu gak usah menunggu Mas pulang!" Abram bergegas mengambil kunci mobil miliknya di atas nakas.

Hati Leya berdetak tak karuan. Leya pun juga bergegas meraih kunci mobil miliknya dan melempar handuk kecil yang menutupi kepalanya itu sembarang arah.

Dia membuntuti mobil suaminya dari belakang. Mengatur jarak aman agar tak mudah ketahuan.

"Ini bukan jalan menuju ruko. Mau kemana dia?" gumam Leya yang heran dengan rute yang dituju Abram.

Mobil itu kini berjalan menuju pinggiran kota, melewati pinggiran pantai yang membentang panjang.

Sepanjang jalan sudah beberapa banyak hotel dan wisma yang Leya temui semakin membuat hatinya yakin jika suaminya tengah membohonginya saat ini.

Akhirnya mobil Abram memasuki sebuah penginapan. Leya masih terus mengikuti diam-diam hingga dia melihat Abram memasuki sebuah kamar yang setiap kamarnya dibuat dengan konsep homestay, rumah panggung dari kayu yang berjarak cukup jauh dari satu kamar ke kamar yang lain.

"Oh jadi di sini kamu mengurus pekerjaanmu, Mas. Dasar pembohong!" ucap Leya geram dengan kedua tangan mengepal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tukar Ranjang   Bab. 146

    Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Liliana duduk bersandar di sofa empuk sembari memeluk sebuah bantal kecil. Tatapannya mengarah ke televisi yang menayangkan acara hiburan malam, tetapi sorot matanya kosong. Sejak beberapa menit lalu, gambar di layar berganti berkali-kali tanpa benar-benar ia perhatikan. Pikirannya melayang entah ke mana.Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.Sejak saat itu, putra semata wayangnya itu memang memastikan ia tidak pernah kekurangan apa pun. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi tanpa cela. Gaji para asisten rumah tangga dibayar tepat waktu, biaya dapur selalu tersedia, tagihan rumah dibereskan, bahkan kebutuhan sehari-harinya pun tak pernah terlupakan. Namun, ada satu hal yang membuat Liliana merasa hidupnya kehilangan warna.Dulu, hampir setiap minggu ia menghabiskan waktu berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat etalase butik-butik mewah, mencoba tas keluaran terbaru, membeli sepatu,

  • Tukar Ranjang   Bab. 145

    Malam menyelimuti kota dengan langit yang dipenuhi taburan bintang. Dari balkon lantai dua, Nadira berdiri memeluk kedua lengannya sendiri. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya, sementara pandangannya lurus mengarah ke jalan raya di depan rumah.Lampu-lampu kendaraan membentuk garis cahaya yang terus bergerak tanpa henti. Sesekali suara klakson dan deru mesin memecah keheningan, tetapi tak satu pun mampu mengusir perasaan ganjil yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya.Entah mengapa, setiap kali ia berdiri di balkon itu, selalu muncul perasaan seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.Tatapannya kembali menyapu seberang jalan.Deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang trotoar bergoyang pelan diterpa angin. Bayangan batang-batang pohon memanjang di bawah cahaya lampu jalan, menciptakan siluet yang membuat suasana terasa semakin sunyi.Nadira mengembuskan napas panjang."Mungkin aku hanya

  • Tukar Ranjang   Bab. 144

    Tekanan dan ancaman dari Sartika sama sekali tidak membuat Nirwan gentar. Ia justru menjadikannya sebagai pemicu untuk bergerak lebih cepat.Siang dan malam ia habiskan di kantor, menyusun strategi, menata ulang keuangan perusahaan, serta mengambil keputusan-keputusan besar yang penuh risiko.Hanya dalam hitungan beberapa hari, berkat kecerdasan, ketegasan, dan kepiawaiannya dalam memimpin, Nirwan berhasil membawa perusahaannya keluar dari ambang kebangkrutan. Operasional yang sempat lumpuh kini kembali berjalan normal. Kepercayaan para mitra perlahan pulih, sementara para karyawan akhirnya bisa bernapas lega.Meski demikian, badai yang sempat menerpa tetap meninggalkan luka. Kerugian finansial dalam jumlah besar tak mungkin dihindari. Namun, bagi Nirwan, kehilangan uang jauh lebih mudah dipulihkan daripada kehilangan orang yang ia cintai.Kini, setelah urusan perusahaan kembali stabil, tak ada lagi yang mampu menghalanginya untuk menuntaskan perhitungan dengan

  • Tukar Ranjang   Bab. 143

    Pagi itu, Liliana keluar dari rumah seorang diri dengan membawa tas belanja kain yang sudah cukup lama ia gunakan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai perhitungan. Biasanya urusan berbelanja selalu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Namun, sejak ia tak lagi bisa leluasa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang disukainya, ia memilih mengambil alih tugas berbelanja kebutuhan dapur. Setidaknya, berjalan menyusuri lorong-lorong supermarket dan memilih sendiri sayur-mayur mampu sedikit mengobati hobinya berbelanja.Di dalam dompetnya hanya tersimpan sejumlah uang yang telah ia sisihkan khusus untuk memenuhi kebutuhan rumah selama satu minggu.Sesampainya di supermarket, Liliana mendorong troli perlahan menyusuri setiap lorong. Tatapannya tak lagi tertuju pada merek-merek premium yang dahulu selalu menjadi pilihannya. Kini, ia justru sibuk membandingkan label harga satu per satu dengan cermat."Yang ini masih cukup sampai minggu depan," gu

  • Tukar Ranjang   Bab. 142

    Sinar mentari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menghangatkan kamar yang masih diselimuti suasana tenang. Nadira menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, menikmati pagi yang damai.Saat memiringkan tubuhnya, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.Di sisi tempat tidur, Nirwan masih terlelap. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya, tetapi gurat kelelahan di bawah matanya begitu jelas terlihat. Jas kerjanya sudah berganti dengan pakaian tidur, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, seolah semalam ia pulang dalam keadaan benar-benar kehabisan tenaga.Nadira mengamatinya dalam diam. Ia sama sekali tidak tahu Nirwan pulang pukul berapa. Semalam ia tertidur lebih dulu setelah menunggunya cukup lama. Rupanya, pria itu baru kembali ketika dirinya telah terlelap.Dengan hati-hati Nadira mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahi sua

  • Tukar Ranjang   Bab. 141

    Nirwan sedikit terkejut ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Brak!Refleks ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen di hadapannya. Alisnya berkerut saat mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah Liliana."Mama?" ucapnya dengan nada heran.Frederic yang sejak tadi berdiri di sisi meja kerja juga tampak terkejut. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi salam hormat."Selamat malam, Nyonya."Namun, Liliana sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Napasnya masih memburu, sementara sorot matanya langsung tertuju kepada Nirwan. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk meminta penjelasan.Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi kemarahan, Nirwan perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah lebih tajam, seolah sudah bisa menebak alasan kedatangan Liliana malam itu.Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi ketegangan yang begitu pekat.Nirw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status