LOGINArsya berdebat dengan satpam yang ada di depan rumahnya. Tiga koper besar sudah berjejer cantik di luar pagar. Dirinya tak diizinkan masuk, pintu pagar pun tertutup rapat tanpa dapat dia terobos.
"Pokoknya aku gak mau tahu, cepat buka pintunya. Kamu pikun atau amnesia, hah! Aku Nyonya di rumah ini!" hardik Arsya jengkel. Udara panas terasa begitu menyengat kepalanya. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali ke rumah, itu sebabnya setelah kejadian itu Arsya memilih untuk tinggal sementara di hotel untuk beberapa hari. "Maafkan saya Nyonya. Saya melakukan ini juga atas dasar perintah dari Tuan muda. Dan maaf, tentu kami lebih mendengarkan kata-katanya karena selama ini beliau yang memberikan gaji pada kami." Arsya mengerang kesal dengan kedua tangan yang terkepal. "Aku harus bertemu dengan Mas Nirwan sekarang juga." Arsya menerobos masuk lewat pintu kecil yang sedikit terbuka, tapi langkah kaki pak Satpam lebih dulu untuk menghadangnya. "Lepaskan aku! Aku masih istrinya yang sah dan kamu tak punya hak mengusirku!" sergah Arsya semakin naik pitam. Bagaimana mungkin dia di larang masuk ke rumahnya sendiri. Satpam bertubuh tinggi besar itu tetap kekeuh menahan tubuh Arsya hingga wanita itu terdorong beberapa langkah ke belakang. "Maafkan saya Nyonya. Tapi ini perintah dari Tuan!" Satpam itu kembali masuk melalui pintu samping dan langsung mengunci pintu itu rapat-rapat. Arsya semakin mengamuk. Dia menggedor-gedor pintu besi itu kuat, mulutnya berteriak memaki satpam tersebut dan memerintahkan untuk membukanya walau tak digubris. Untuk beberapa saat dirinya menjadi tontonan warga sekitaran perumahan elit itu. Nafas Arsya tersengal-sengal dengan keringat yang mulai muncul di pelipisnya, dia pun terdiam untuk menetralkan nafasnya. Nyeri di tangan akibat memukul pintu besi itupun mulai terasa. Tak ingin terus menjadi tontonan, wanita berambut panjang itu pun memutuskan untuk pergi. Tanpa bantuan siapa pun, dia terpaksa memasukkan koper-koper miliknya ke dalam mobil. Arsya tak tahu harus pergi kemana. Dia mengendarai mobilnya dengan pikiran yang menerawang. "Kenapa bisa ketahuan? Padahal selama ini Mas Nirwan tak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan, tapi kenapa waktu itu dia bisa ada di penginapan?" Arsya berpikir keras tentang apa yang sudah terjadi sambil tetap fokus mengendarai mobil putuh miliknya. Mobil yang menjadi hadiah ulang tahun dari suaminya. "Leya. Aku yakin ini pasti ulah Leya. Ternyata dia tak sebodoh yang aku kira. Dasar wanita licik, lihat saja nanti ... aku akan membuatmu menangis darah dan bersujud di bawah kakiku," ujar Arsya penuh dendam. Puas berkeliling tanpa tujuan, perutnya pun mulai keroncongan. Arsya pun memutuskan pergi ke suatu tempat untuk mengisi lambungnya yang kosong. ~ ~ ~ "Maaf, Pak. Mesin obrasnya rusak," lapor seorang pria muda pada Abram. Abram yang tengah mencatat pembukuan pun menoleh dengan wajah datarnya. "Rusak? Kok bisa, bukannya mesin-mesin itu baru saja di ganti dengan mesin yang baru 4 bulan yang lalu." "Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya di perintahkan oleh bagian produksi untuk menyampaikan itu saja. Soalnya tanpa mesin obras itu kita tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Kaos olahraga SD XX minta seragam itu selesai dua minggu lagi," jawab pemuda itu segan. "Dimana Malvin?" "Pak Malvin sudah satu bulan ini jarang datang ke sini, Pak. Dan hampir satu minggu ini tak datang sama sekali." Abram tersentak kaget mendengarnya. Malvin adalah asistennya yang dia tugasi khusus untuk mengelola konveksi tersebut. Semua hal dari bahan hingga pemasaran Malvinlah yang pegang, semetara dirinya hanya mengontrol lewat ponsel saja. "Apa? Apa dia tak bilang kemana dan ada urusan apa?" tanya Abram panik. Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Abram terdiam sesaat dengan jantung yang kembali memompa dengan cepat. Perasaannya tiba-tiba tak enak. "Keluarlah!" usirnya. Abram mengusap wajahnya yang kusut. Sudah dua hari dia tak bisa pulang ke rumah dan menginap di ruko. Tak hanya panas tetapi juga banyak nyamuk akibat tumpukan kain di mana-mana membuatnya tak bisa tidur dengan nyaman. Abram bergegas menelpon Malvin yang sudah tak dapat dia hubungi selama dua hari. Dirinya sempat merasa aneh tetapi mencoba berpikir positif. Namun setelah mendengar penjelasan karyawannya tadi, timbul rasa was-was di hatinya. "Tidak aktif lagi. Breng~sek! Hampir semua modal dan keuangan konveksi ini aku pasrahkan padanya untuk mengatur. Jika dia lari lalu bagaimana dengan usahaku?" Abram panik. Dia terus menghubungi nomor itu sambung menyambung tapi tak ada satupun panggilannya yang terhubung. Di tempat yang berbeda ada sosok yang sedang mengalami nasib sama dengan Abram. Arsya yang baru saja selesai makan dan hendak membayar di kagetkan dengan beberapa kartunya yang ditolak. "Sama, tidak bisa juga Nyonya. Apa ada kartu yang lain?" tanya pelayan itu pada Arsya. Pelayan itu tampak mulai jengah dengan sikap Arsya yang begitu cerewet sedari tadi, namun saat pembayaran wajah judes itu berubah pasi seketika. "Gak mungkin! Itu sudah kartu yang ke tiga, masa ditolak semua. Pasti mesinnya yang rusak. Aku yakin!" sergah Arsya ngotot. Beberapa pasang mata mulai meemperhatikannya membuatnya malu. "Sebaiknya anda hubungi saja pihak Bank langsung Nyonya. Mungkin ada kesalahan di kartu Anda. Tagihan ini Anda bayarkan saja dengan cash," ucap pelayan itu tegas. Senyum tipis yang terbit di sudut bibirnya terlihat seperti mengejek dan Arsya tahu itu. Rasanya ingin sekali dia menampar wajah pelayan yang sudah memandang remeh dirinya. Namun keadaan yang terjadi membuatnya panik hingga tak mampu pikirannya terbagi. Arsya membuka dompetnya, hanya selembar uang dua puluh ribu serta tiga lembar uang dua ribuan saja yang dia miliki sebagai penunggu dompetnya. Semenjak menjadi Nyonya muda keluarga Adhitama Mahendra, Arsya terbiasa menggunakan kartu dalam setiap transaksi. Dia tak pernah memiliki banyak uang cash di tangannya kecuali untuk bayar parkir saja. "Apa Anda bisa membayarnya Nyonya. Kalau tidak-" "Kamu pikir aku ini wanita yang tak mampu, hah! Jangankan untuk membayar makanan di sini, membeli restoran ini pun aku sanggup!" sahut Arsya cepat dengan mata yang melebar penuh emosi. Harga dirinya tersentil saat pelayan itu menyinggung dirinya tentang pembayaran. "Tinggalkan aku dulu! Nanti aku panggil kembali.!" "Tapi Nyonya-" "Aku bilang pergi ya pergi!" sergah Arsya kembali. Walau tampak ragu, pelayan itu pun pergi meninggalkan Arsya seorang diri. "Sekarang bagaimana aku harus membayar semua makanan ini? Ini pasti ulah Mas Nirwan yang membekukan semua kartu kreditku. Sekarang aku harus bagaimana?" gumam Arsya histeris. Makanan yang sudah masuk dalam tenggorokan terasa ingin keluar kembali. Rasa cemas dan bingung bercampur menjadi satu membuat pikirannya kusut.Sudah dua hari Liliana menunggu hasil tes DNA yang akhirnya keluar juga. Kini, wanita paruh baya itu duduk di hadapan dokter dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah sedang berlomba dengan waktu. Ada harapan besar yang diam-diam ia simpan, tetapi bersamaan dengan itu, terselip pula ketakutan akan kemungkinan bahwa kenyataan yang akan dihadapinya tidak sesuai dengan dugaan."Apa Anda sudah siap melihat hasilnya?" tanya dokter dengan tenang.Liliana menganggukkan kepala pelan. Ia berusaha menguasai dirinya meskipun jemarinya terus meremas ujung tas yang berada di pangkuannya."Silakan, Dok. Saya sudah menunggu hasil ini selama dua hari. Saya ingin tahu kebenarannya."Dokter mengambil sebuah amplop putih dari atas meja, kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berisi hasil pemeriksaan. Ia membacanya sekilas sebelum menyerahkan dokumen tersebut kepada Liliana.Dengan napas tertahan, Liliana menerima kertas itu. Matanya
“Apa yang aku dengar tadi itu benar, Ma?” tanya Devan dengan suara serak.“Memangnya kamu dengar tentang apa, Nak?” Sartika pura-pura tidak mengerti. Ia mendekati Devan, lalu dengan lembut memapah lelaki itu agar kembali ke ranjang.Namun, Devan memilih duduk di pinggir ranjang daripada harus kembali berbaring. Meskipun tubuhnya masih lemah akibat kehilangan banyak darah, ia tetap ingin mendapatkan jawaban atas percakapan yang tanpa sengaja didengarnya tadi.“Jangan bohong padaku. Aku sudah dengar semuanya.”Tatapan Devan menajam ke arah Sartika, seolah menuntut perempuan itu untuk berhenti mengelak.Sartika terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka putranya sudah terbangun dan mendengar percakapannya dengan Liliana. Padahal, ia berusaha keras menyembunyikan rahasia itu agar tidak pernah terungkap, terutama di hadapan Devan sendiri.“Apa yang kamu dengar, Devan?” tanyanya lagi, berusaha mempertahankan ketenangannya. “Kamu baru saja melewati masa kritis.
"Omong kosong apa yang kamu katakan?"Sartika berusaha menghindari tatapan Liliana yang terus mengintimidasinya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai terpancar jelas di wajahnya."Tentu saja Devan putra Astrid!" tegasnya, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan asal bicara, apalagi memfitnah orang yang sudah tiada. Apa kamu tidak takut terkena karma?"Liliana terkekeh pelan. Bukannya tersinggung, ia justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan Sartika darinya."Memfitnah?" ulangnya dengan senyum sinis. "Aku bahkan belum menuduhmu melakukan apa pun, Sartika. Aku hanya mengajukan pertanyaan sederhana. Namun, lihatlah bagaimana reaksimu."Liliana melangkah mendekat, memaksa Sartika kembali berhadapan dengannya."Kalau memang kamu begitu yakin Devan adalah putra Astrid, mengapa kamu harus ketakutan seperti ini?"Sartika terdiam. Wajahnya semakin tegang, sementara jemarinya meremas ujung pakaian
Liliana bukanlah wanita yang mudah menyerah begitu saja. Semakin Sartika berusaha menjauhkan dirinya dari Devan, semakin kuat pula keinginan wanita paruh baya itu untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.Malam itu, setelah memastikan Sartika tidak berada di sekitar ruang rawat inap, Liliana kembali melangkahkan kaki menuju kamar Devan. Ia sengaja datang sembunyi-sembunyi tanpa memberi tahu siapa pun.Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak. Setelah menarik napas panjang, wanita itu mengetuk pintu perlahan.Tok! Tok!Tidak terdengar jawaban dari dalam. Liliana pun membuka pintu sedikit, lalu mengintip ke dalam.Matanya langsung tertuju pada sosok pemuda yang terbaring di atas ranjang. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Devan sudah tidak lagi memejamkan mata. Pemuda itu sedang menatap langit-langit kamar dengan wajah pucat, sementara tangan kirinya masih terpasang selang infus.Liliana menghela napas lega."Devan
Malam itu, suasana kamar Nirwan dan Nadira terasa begitu tenang. Cahaya lampu tidur yang temaram menerangi ruangan, menciptakan suasana hangat di antara dua insan yang kini kembali merajut rumah tangga mereka setelah melewati begitu banyak kesalahpahaman, luka dan air mata.Nadira berbaring menyamping dengan tubuh menghadap Nirwan. Sementara itu, pria tersebut telentang dengan satu tangan terlipat di bawah kepala dan tangan lainnya berada di atas pinggang sang istri.Sejak tadi, Nadira tampak lebih banyak diam. Sesekali wanita itu menghela napas pelan, kemudian kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan, ketika Nirwan mengajaknya berbicara beberapa kali, jawabannya hanya berupa gumaman singkat.Nirwan yang menyadari perubahan sikap istrinya akhirnya memiringkan tubuh. Ia menopang kepala dengan satu tangan, lalu menatap wajah Nadira lekat-lekat.“Sayang,” panggilnya lembut.Nadira mengalihkan pandangan. “Hm?”“Kamu sedang memikirkan apa?”Pertanyaa
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sartika melirik ke arah Devan yang masih terbaring seakan lelaki itu sedang tertidur nyenyak. Setelah Nadira pulang, Devan sempat sadar beberapa waktu hingga dokter menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya, barulah pemuda itu kembali tertidur karena rasa kantung yang mendera. Wanita paruh baya itu mulai merasakan perih di perutnya, ia baru ingat kalau seharian ini ia baru makan satu kali. Itu pun makanan yang diberikan Nadira saat berkunjung siang tadi. "Mama keluar sebentar ya. Kamu tunggu di sini dan jangan berulah," ujar Sartika lembut pada Devan yang pastinya tidak merespon karena belum bangun. Sartika meraih tas dan kunci mobilnya. Barulah ia beranjak perlahan. Baru saja keluar dari pintu kamar rawat inap, ia dikejutkan dengan sosok Liliana yang tengah duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan tersebut. Tatapan mata mereka kembali bertemu untuk kesekian kalinya. Atmosfer seketika berubah menjadi canggung d







