LOGINNirwan dan Leya pulang ke rumahnya masing-masing meninggalkan pasangan m3sum itu karena tak kuat menahan batin.
Tak hanya Leya yang sesampainya di rumah keesokan harinya langsung membereskan pakaian Abram, tapi Nirwan juga melakukan hal yang sama. Dia menyuruh semua pelayan memasukkan pakaian wanita itu yang tak lagi ingin dia debgar namanya ke dalam koper tanpa ada satu pun yang tertinggal. "Ada apa sih Mbok? Kenapa tuan besar pulang-pulang dalam keadaan marah. Dan mau diapakan semua pakaian Nyonya ini, Mbok?" tanya Silvia penuh minat. Dia pelayan paling muda di dalam keluarga Anggara. Dia juga merupakan anak dari Mbok Darmi. Pelayan yang mengabdi puluhan tahun pada kekuarga tersebut. Setelah Nirwan berumah tangga, Nirwan memboyong Mbok Darmi untuk melayaninya dan juga istrinya. "Mbok juga gak tahu, Nduk. Sebaiknya kita tak usah ikut campur!" ucap wanita tua bersanggul itu pada anaknya. Mbok Darmi tahu jikaa putrinya ada rasa pada majikannya itu. Impian menjadi orang kaya yang dilayani banyak pelayan membuat Silvia selalu berangan-angan dipersunting oleh majikannya seperti novel romansa yang sering dia baca. "Sepertinya mereka bertengkar hebat deh, Mbok. Tak biasanya Tuan muda pulang dengan wajah penuh murka. Dan aku yakin Tuan muda juga mengusir wanita itu dari rumah ini." "Hust! Hati-hati bicaramu Nduk. Jangan panggil hanya dengan kalimat 'wanita itu' nanti ada yang dengar bisa bahaya. Nyonya muda!" tegur Mbok Darmi khawatir. Tangannya masih bergerak menyusun pakaian itu dengan rapi. Semua koper yang ada di kamar tersebut sudah diturunkan, ada sekitar dua koper besar dan satu koper tanggung. Tapi masih tak cukup untuk menjadi wadah pakaian Arsya. "Berapa banyak uang yang dihabiskan perempuan itu untuk membeli semua barang-barang ini? Aku yakin ada masalah dan dia diusir oleh Tuan. Bagaimana kalau aku mengambil sebagian barang-barangnya untuk aku jual," otak Silvia berpikir. Mata gadis manis dengan lesung pipi itu berbinar menatap lemari pakaian yang terbuka di hadapannya. Silvia berbalik mendatangi Mboknya yang sedang berusaha menutup koper yang penuh itu dengan susah payah. "Mbok, biar aku saja yang membereskan semuanya. Mbok istirahat saja ya!" "Kamu yakin bisa membereskan semuanya sendirian, Via? Ini banyak sekali loh, nanti kamu membuat kesalahan dan membuat Tuan murka," jawab Mbok Darmi khawatir. "Memangnya aku buat masalah apa Mbok? Mbok ini suuzhon saja sama anak sendiri. Aku tu kasihan sama Mbok yang pasti capek," ucap Silvia manis. Dia mengurut-urut kedua bahu wanita yang telah melahirkannya itu agar terasa rileks dan juga tenang. "Baiklah, putri kecil Mbok sekarang sudah besar dan bisa di andalkan. Mbok akan kembali ke dapur untuk buat makan siang Tuan. Kamu kerjakan yang benar dan jangan bikin masalah," ucap Mbok Darmi menasehati gadis satu-satunya itu. Silvia terlonjat girang di dalam hatinya setelah ibunya pergi dari tempat tersebut. Dia kembali menatap lemari yang terbuka itu untuk memilah dan memilih duit yang akan masuk ke dalam rekeningnya nanti. "Dia tidak begitu cantik tapi kenapa bisa membuat Tuan muda begitu cinta padanya. Aku yakin wanita j4l4n9 itu menggunakan tubuhnya untuk menjerat Tuan muda dulu," gumam Silvia. Dia terus menghina wanita yang sebentar lagi akan membuatnya tertawa karena nasibnya yang tragism ~ ~ ~ "Tuhan memang sangat baik pada hambanya yang terzolimi. Kamu lihat kan Leya, tanpa kamu harus bersusah-susah mencari peluang untuk mendapatkan bukti kejahatan mereka, justru mereka sendiri yang membuka jalan," ucap Asna puas. Matanya memandang hasil dari rekaman yang telah dirinya ambil kemarin. "Apa kamu lihat bagaimana ekpresi wanita murahan itu. Sangat menyedihkan. Aku yakin saat ini dia pasti mengutuk dirinya sendiri," sambung Asna. Tak mendapat respon dari saudaranya, Asna pun menoleh. Didapatinya Leya yang tengah menyandarkan kepalanya dengan malas pada sandaran sofa. Leya tampak tak tak memiliki semangat hidup. "Apa-apaan ini? Seharusnya kamu merayakannya dengan pesta meriah atau makan-makan. Kenapa malah seperti ayam yang tengah menunggu ajal dis3mb3lih. Aku tak suka kamu yang seperti ini!" gerutu Asna. "Kamu tampak begitu bahagia dengan kehancuran rumah tanggaku, ya?" Asna menghela napas panjang. "Bukan kehancuran rumah tanggamu, tapi kehancuran mereka yang sudah berhianat padamu." Leya menegakkan kepalanya. Tak munafik, dia masih merasa sedih dengan apa yang telah terjadi. Serta status janda yang akan disandangnya tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Leya sama seperti wanita di luaran sana. Menginginkan pernikahan sekaali seumur hidup, hidup bahagia bersama suami dan anak-anak mereka nanti. "Tapi hati ini juga ikut sakit Asna. Ini tak seperti yang aku harapkan." Asna meletakkan handycam ke atas meja kemudian menggeser pinggulnya mendekat pada Leya. Tangannya memegang bahu adik sepupunya itu. "Tapi nyatanya inilah yang terjadi. Untuk apa kamu bersedih hati meratapi hubungan yang palsu itu. Aku yakin sejak awal Abram tak mencintaimu, dia hanya memanfaakanmu untuk kepentingan dirinya saja." "Mungkin kamu benar, tapi tetap saja rasanya tak semudah itu untuk melupakan. Bukan berarti aku masih cinta tetapi lebih keperasaan kecewa saja. Apa kamu tahu Asna, beberapa tahun kami bersama dan aku telah terbiasa dengan kahadirannya di rumah ini. Kini aku harus menyesuaikan diri kembali dengan kepergiannya," jelas Leya. Asna menganggukkan kepala mengerti kemudian menghela napas panjang. "Sedih, kecewa, kesal dan rindu itu sebenarnya hal yang wajar sih. Tapi sampai kapan kamu akan larut dengan perasaan itu. Waktu terus berjalan dan tak dapat diputar lagi, Leya." Asna mengeluarkan kotak persegi kecil berwarna putih dari saku celananya. Mengeluarkan gulungan tembakau setinggi kelingking, kemudian menyulutkan ke bibirnya. Gulungan asap putih mulai terbang ke udara dengam aroma nukotin yang membuat rileks dan berakhir dengan kecanduan. "Sejak kapan kamu merokok Asna?" "Sejak hidupku berantakan," jawab Asna singkat. Diusianya yang sudah lewat dari kepala tiga, wanita itu masih betah menyendiri. Menikmati kesedihannya sendiri. Leya tertawa getir. "Kita saudara kenapa nasibnya sama ya? Sama-sama menyedihkan." Leya ikut menarik sebatang dari dalam kotak putih yang sudah terbuka. Dia ambil dan menelisik lebih teliti sebelum menggunakannya. Satu hisapan tak membuatnya nyaman. Dia berharap bisa menjadi tenang tapi sakit tenggorokan yang dia rasakan. Leya meletakkan benda itu ke dalam asbak. Begitu banyak cara untuk mencintai seseorang tapi tak tahu bagaimana cara untuk melupakan seseorang itu dengan mudah.Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Liliana duduk bersandar di sofa empuk sembari memeluk sebuah bantal kecil. Tatapannya mengarah ke televisi yang menayangkan acara hiburan malam, tetapi sorot matanya kosong. Sejak beberapa menit lalu, gambar di layar berganti berkali-kali tanpa benar-benar ia perhatikan. Pikirannya melayang entah ke mana.Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.Sejak saat itu, putra semata wayangnya itu memang memastikan ia tidak pernah kekurangan apa pun. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi tanpa cela. Gaji para asisten rumah tangga dibayar tepat waktu, biaya dapur selalu tersedia, tagihan rumah dibereskan, bahkan kebutuhan sehari-harinya pun tak pernah terlupakan. Namun, ada satu hal yang membuat Liliana merasa hidupnya kehilangan warna.Dulu, hampir setiap minggu ia menghabiskan waktu berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat etalase butik-butik mewah, mencoba tas keluaran terbaru, membeli sepatu,
Malam menyelimuti kota dengan langit yang dipenuhi taburan bintang. Dari balkon lantai dua, Nadira berdiri memeluk kedua lengannya sendiri. Angin malam mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya, sementara pandangannya lurus mengarah ke jalan raya di depan rumah.Lampu-lampu kendaraan membentuk garis cahaya yang terus bergerak tanpa henti. Sesekali suara klakson dan deru mesin memecah keheningan, tetapi tak satu pun mampu mengusir perasaan ganjil yang sejak beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya.Entah mengapa, setiap kali ia berdiri di balkon itu, selalu muncul perasaan seolah ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.Tatapannya kembali menyapu seberang jalan.Deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang trotoar bergoyang pelan diterpa angin. Bayangan batang-batang pohon memanjang di bawah cahaya lampu jalan, menciptakan siluet yang membuat suasana terasa semakin sunyi.Nadira mengembuskan napas panjang."Mungkin aku hanya
Tekanan dan ancaman dari Sartika sama sekali tidak membuat Nirwan gentar. Ia justru menjadikannya sebagai pemicu untuk bergerak lebih cepat.Siang dan malam ia habiskan di kantor, menyusun strategi, menata ulang keuangan perusahaan, serta mengambil keputusan-keputusan besar yang penuh risiko.Hanya dalam hitungan beberapa hari, berkat kecerdasan, ketegasan, dan kepiawaiannya dalam memimpin, Nirwan berhasil membawa perusahaannya keluar dari ambang kebangkrutan. Operasional yang sempat lumpuh kini kembali berjalan normal. Kepercayaan para mitra perlahan pulih, sementara para karyawan akhirnya bisa bernapas lega.Meski demikian, badai yang sempat menerpa tetap meninggalkan luka. Kerugian finansial dalam jumlah besar tak mungkin dihindari. Namun, bagi Nirwan, kehilangan uang jauh lebih mudah dipulihkan daripada kehilangan orang yang ia cintai.Kini, setelah urusan perusahaan kembali stabil, tak ada lagi yang mampu menghalanginya untuk menuntaskan perhitungan dengan
Pagi itu, Liliana keluar dari rumah seorang diri dengan membawa tas belanja kain yang sudah cukup lama ia gunakan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai perhitungan. Biasanya urusan berbelanja selalu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Namun, sejak ia tak lagi bisa leluasa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang disukainya, ia memilih mengambil alih tugas berbelanja kebutuhan dapur. Setidaknya, berjalan menyusuri lorong-lorong supermarket dan memilih sendiri sayur-mayur mampu sedikit mengobati hobinya berbelanja.Di dalam dompetnya hanya tersimpan sejumlah uang yang telah ia sisihkan khusus untuk memenuhi kebutuhan rumah selama satu minggu.Sesampainya di supermarket, Liliana mendorong troli perlahan menyusuri setiap lorong. Tatapannya tak lagi tertuju pada merek-merek premium yang dahulu selalu menjadi pilihannya. Kini, ia justru sibuk membandingkan label harga satu per satu dengan cermat."Yang ini masih cukup sampai minggu depan," gu
Sinar mentari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menghangatkan kamar yang masih diselimuti suasana tenang. Nadira menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, menikmati pagi yang damai.Saat memiringkan tubuhnya, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.Di sisi tempat tidur, Nirwan masih terlelap. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya, tetapi gurat kelelahan di bawah matanya begitu jelas terlihat. Jas kerjanya sudah berganti dengan pakaian tidur, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, seolah semalam ia pulang dalam keadaan benar-benar kehabisan tenaga.Nadira mengamatinya dalam diam. Ia sama sekali tidak tahu Nirwan pulang pukul berapa. Semalam ia tertidur lebih dulu setelah menunggunya cukup lama. Rupanya, pria itu baru kembali ketika dirinya telah terlelap.Dengan hati-hati Nadira mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahi sua
Nirwan sedikit terkejut ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Brak!Refleks ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen di hadapannya. Alisnya berkerut saat mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah Liliana."Mama?" ucapnya dengan nada heran.Frederic yang sejak tadi berdiri di sisi meja kerja juga tampak terkejut. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi salam hormat."Selamat malam, Nyonya."Namun, Liliana sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Napasnya masih memburu, sementara sorot matanya langsung tertuju kepada Nirwan. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk meminta penjelasan.Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi kemarahan, Nirwan perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah lebih tajam, seolah sudah bisa menebak alasan kedatangan Liliana malam itu.Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi ketegangan yang begitu pekat.Nirw







