Share

Chapter 2

Author: Rik_Da
last update publish date: 2026-09-04 21:53:25

Saat fajar sebentar lagi terlihat sempurna, Evelyn yang ditugaskan menjadi ibu angkat Kaelan tengah berada di sebuah desa bernama Desa Ashvale. Wanita itu terlihat sedang membopong Kaelan yang sedang pingsan di punggungnya. Langkahnya gemetar karena kelelahan berjalan kaki, tubuhnya kurus, pipinya cekung, wajahnya pucat.

Meski masih sangat pagi, desa itu sudah tampak ramai karena para penduduknya sebagian besar adalah petani dan saat ini mereka akan berangkat ke sawah dan ladang.

Para warga yang berada di luar rumah langsung menatap curiga pada Evelyn.

“Itu Evelyn anaknya Nyonya Martha kan? Dia pulang?”

“Benar. Tiba-tiba bawa anak begitu?”

“Mana suaminya?”

“Pasti anak haram…”

“Tidak sangka dia ke kota hanya untuk menjadi pelacur, makanya tiba-tiba bawa anak!”

Bisikan itu bertebaran seperti debu yang menyesakkan hati.

Evelyn menunduk dan tetap berjalan. Dia menatap seorang wanita yang sejak tadi menatapnya sinis. “Maaf, dia bukan anak haram …”

“Sudahlah!” bentak Mr. Arthur selaku kepala lingkungan yang ada di sana juga. “Kalau mau tinggal di sini, jangan bikin masalah!”

“Tapi di tempat ini saya punya rumah, Mr. Arthur. Saya bebas datang dan tinggal di sini kapan saja saya mau,” balas Evelyn tak gentar sedikit pun.

“Dasar tidak tau malu! Sudah salah malah nyolot! Mau tinggal di sini, jangan harap anak haram kamu itu bisa bermain dengan anak-anak kami.”

Ocehan-ocehan yang menyakitkan terus menghantam Evelyn. Mereka bukan iba, justru mencemooh sesukanya.

Padahal jika mereka tahu siapa anak itu, jangankan bicara, bahkan bernafas akan mereka tahan. Dia adalah Kaelan, putra mahkota Kerajaan Aetherion. Kerajaan terbesar di era modern, bahkan presiden dari berbagai negara harus hormat padanya.

Beberapa jam kemudian, setelah Evelyn tetap berjalan dengan dagu terangkat ke rumahnya. Kaelan, kini perlahan terbangun.

Ketika dia bangun, dia merasa asing. Suara ayam, kicauan burung, dan suara lainnya yang bersahutan.

“Ah … Sakit…” Ketika bangun, Kaelan langsung memegangi kepalanya yang kesakitan.

“Nak, kamu baik-baik saja?” Evelyn langsung menghampiri Kaelan sambil memeluknya. Walaupun Evelyn hanya ditugaskan menjadi Ibu sambung, tapi dia yang merawat Kaelan sejak kecil. Jadi kasih sayangnya sama seperti ibu kandung.

Setelah rasa sakitnya mereda, Kaelan menatap Evelyn dengan bingung, karena dia tidak bisa mengenali orang yang ada di hadapannya itu.

“Nak, kenapa? Kenapa kamu menatap Mama seperti itu?”

“Mama?”

“Iya, ini Mama. Kael, kamu kenapa?” Evelyn langsung memegang pipi Kaelan. Rasanya sangat sakit menyaksikan pangeran yang harusnya hidup tenang di istana, tapi sekarang dia harus berada di rumah yang serba kekurangan akan fasilitas itu.

Sesuai perintah Raja dan Ratu, agar tak ada yang tahu keberadaan Kaelan, Evelyn mengubah nama Kaelan menjadi Kael. Dia sengaja menggantinya dengan Kael, karena nama Kaelan, terlalu dikenal oleh banyak orang walaupun orang-orang belum pernah melihat wajah sang Pangeran.

“Mama, kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun? Bahkan namaku sendiri aku tidak ingat,” ucap Kaelan dengan wajah yang bingung. Sesekali dia memegang kepalanya.

“Nak, beberapa hari lalu kamu kecelakaan. Kata dokter, kamu hilang ingatan. Apa kamu benar-benar tidak ingat namamu sampai-sampai tidak ingat Mama juga?” tanya Evelyn seraya menghapus air matanya.

Kaelan menggelengkan kepalanya. Namun, dia tiba-tiba tersenyum. “Ma, Mama jangan menangis ya. Tidak peduli apa yang terjadi pada Kael, Kael akan selalu sayang Mama. Kepala Kael memang masih sakit, bahkan masih lupa. Tapi Kael yakin, Kael akan ingat nanti. Maaf ya, Ma. Kalau Kael bikin mama cemas.”

Evelyn langsung memeluknya. Hatinya terasa diiris-iris, walaupun ia mengetahui segalanya. Melihat orang yang biasa ia layani setiap hari tidak mengenalnya, itu benar-benar sangat menyakitkan.

“Nak, sekarang Mama siapkan kamu sarapan dulu, setelah itu kita akan pergi ke sekolah. Mama sudah daftarkan kamu sekolah di Ashvale Elementary School.”

“Ma, memang sebelumnya aku sekolah di mana?” tanya Kaelan mencoba menggali ingatannya.

“Dulu kamu sekolah di kota, tempat Mama bekerja. Karena kamu sakit, kita kembali ke kampung. Dan sekarang kita di kampung. Jadi maaf ya, Kael harus pindah sekolah ke kampung.”

“Tidak apa-apa, Ma … yang penting Kael selalu sama Mama,” ucapnya sambil tersenyum, walaupun bingung.

Evelyn menatap wajah Kaelan yang tersenyum. “Tuan Muda harus sabar, ya. Kehidupan sekarang yang akan Tuan Muda jalani sangat sulit. Aku harap Tuan Muda bisa melewati semuanya,” batin Evelyn. Wanita itu sudah membayangkan kehidupan yang akan menimpa pangeran berubah seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelumnya.

***

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Perkenalkan dirimu."

Kaelan berdiri di depan kelas, tampak kaku ketika tatapannya menyapu teman sekelasnya.

“Nama saya … Kael.” Karakter Kaelan yang dingin dan cuek masih sangat jelas, tak ada senyum, tak ada basa-basi. Semua mengalir seperti biasa.

“Songong sekali, mungkin dia sedikit bisu, sampai tidak becus cara memperkenalkan diri,” bisik para murid di kelas itu.

“Tapi dia tampan,” ucap salah satu murid perempuan.

“Cuuuiiih, tampan sih tampan, aku denger dia anak haram tanpa bapak,” sambung murid pria lainnya.

Guru di kelas itu langsung menghentikan bisikan para muridnya. Dia menatap Kaelan. "Baik, Kael. Kamu bisa duduk di kursi kosong itu, di belakang Brad," tunjuk Miss Bella pada barisan bangku di tengah.

Kaelan mulai berjalan menuju bangkunya, ia harus melewati barisan bangku yang terasa sempit.

Tiba-tiba…

DUK!

Kaelan tersandung dan jatuh berlutut di lantai. Buku-buku yang ia bawa jatuh berserakan.

Tawa kecil dan bisikan segera memenuhi ruangan.

Di kelas itu, ada anak bernama Brad, anak laki-laki bertubuh paling besar di kelas, yang menjulurkan kakinya dan tawanya jugalah yang paling terdengar keras.

Di kelas itu tidak ada yang berani kepadanya, bahkan guru akan bersikap sangat hati-hati. Bukan karena dia anak orang kaya, atau anak penguasa, apalagi murid paling jenius. Dia adalah putra preman pasar, dan anak itu selalu dilindungi banyak preman yang berani berbuat brutal di manapun.

"Kael, kamu tidak apa-apa?" tanya Miss Bella terkejut dan segera menghampiri.

Kael buru-buru berdiri. Wajahnya memerah karena malu. "Tidak apa-apa, Miss," jawabnya singkat sambil memperbaiki bukunya yang ikut jatuh karena resleting tas yang tidak bagus.

"Anak kampung itu memang ceroboh," bisik Brad.

Tiba-tiba Kaelan merasa ada gejolak aneh di dalam dirinya. Seperti dorongan untuk melampiaskan kemarahan yang tiba-tiba muncul. Namun, dia menahannya.

“Aneh, perasaan apa tadi? Mengapa tubuhku terasa terbakar? Padahal itu hanya terjatuh,” batin Kaelan.

Kaelan merasa seluruh organ tubuhnya memanas, seolah-olah tak menerima kenyataan dipermalukan seperti itu. Tetapi dia berusaha menahannya, bukan karena menerima begitu saja perlakuan Brad, tapi karena dia ingat ibunya. Ini pertama kali ia sekolah, tidak boleh ia memberikan masalah untuk ibunya.

Kaelan akhirnya berhasil duduk. Pelajaran dimulai, tetapi Kaelan merasa sulit berkonsentrasi. Bukan karena materi pelajarannya yang sulit, justru sebaliknya materi tentang perhitungan dasar itu sangat, sangat mudah, seolah hal itu sudah ia pahami sejak lama.

“Aneh, aku tidak bisa mengingat apa pun. Tapi kenapa semuanya terasa tidak asing,” ujarnya dalam hati.

Saat jam istirahat, semua anak berhamburan keluar. Kaelan tetap duduk di bangkunya, berharap ada yang mengajaknya bermain, bagaimanapun Kaelan hanyalah seorang anak-anak yang butuh teman.

Tiba-tiba, Brad dan dua temannya datang dan berdiri di samping mejanya.

"Hei, Anak Kota!" seru Brad sambil meninju meja Kaelan. Sontak Kaelan mengangkat wajah dari tasnya karena kaget.

Brad memelototi Kaelan dengan pandangan buas. "Kamu pikir kamu siapa di sini?"

Kaelan tak menjawab, rasanya malas meladeni anak gendut itu.

"Kamu pikir kami mau temenan sama kamu? Anak pelacur? Cih!" Brad meludah. “Kalau kamu mau di sini, kamu harus patuh pada kami. Sekarang, serahkan uang jajanmu!"

Kaelan menatap Brad, entah kenapa kejadian seperti itu pernah terjadi, tapi dia tidak ingat. "Aku tidak punya uang."

Brad langsung mencengkeram kerah kemeja Kaelan. "Jangan bohong! Anak dari kota pasti punya uang!"

Saat Brad menarik Kaelan hingga berdiri, Kaelan secara refleks dan tanpa sadar meraih pergelangan tangan Brad yang mencengkeramnya, persis seperti yang ia lakukan pada preman di pasar tempo hari.

Saat jari-jari Kaelan menyentuh kulit Brad, sesuatu yang aneh menjalar. Bukan rasa sakit, tetapi seperti sebuah dorongan yang ganas muncul.

Kaelan sangat heran, walaupun dia sudah mencoba menahan amarahnya diperlakukan seperti itu, dia merasakan dengan jelas, ada sesuatu dalam tubuhnya yang tidak bisa menerima ia diperlakukan hina.

“Lepaskan aku, dasar bodoh!” Brad langsung meringis.

Kaelan segera melepaskan genggamannya. “Maaf,” balasnya singkat.

"Dasar payah!" maki Brad, ia mendorong Kaelan ke belakang. "Kalian cari di tasnya!"

Dua teman Brad segera merampas tas usang Kaelan. Mereka membongkar isinya. Hanya ada dua buku, pensil, dan kotak bekal berisi sandwich dan sosis goreng. Tidak ada uang sama sekali.

"Sial! Ternyata dia miskin beneran!" Brad mendengus kecewa, lalu melempar tas Kaelan begitu saja.

Ketika kotak makannya akan diinjak oleh Brad, mata Kaelan terasa gelap. “Injak saja jika kamu memiliki keberanian. Tapi jangan salahkan aku jika kamu tidak bisa menggunakan kakimu lagi di masa depan,” ucap Kaelan. Suaranya jauh berbeda, dingin, tajam, menusuk.

Brad dan temannya langsung menggigil. Bukan dia terancam oleh ucapan Kaelan, tapi naluri ketakutan itu muncul secara alami.

“Apa yang kamu katakan?!” tanya Brad, pura-pura lebih marah.

“Injak makananku, dan terima konsekuensinya!” ucap Kaelan. Ucapan itu seperti tidak datang dari anak seusianya. Tetapi seperti seorang Kaisar yang sedang murka.

Suhu di ruangan itu tiba-tiba menurun, bahkan minus beberapa derajat. Selain itu, bangku-bangku dan lantai tiba-tiba lembab. Brad dan temannya merasa tercekik dan kesulitan bernapas.

Saat Kaelan hampir hilang kendali, terdengar suara wanita paruh baya yang bertanya dari luar kelas.

“Kalian tidak istirahat ke kantin?”

BUZZ!!!

Aura yang begitu menekan di ruang itu langsung hilang. Kaelan melihat Brad dan temannya sudah pergi, tidak menoleh ke arahnya lagi.

“Uhuk.” Namun, setelah Brad pergi, Kaelan tiba-tiba kesakitan. “Apa yang terjadi padaku?”

Kaelan tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Dia merasa kepalanya berat, dan matanya gelap, tidak tahu apa-apa.

Kaelan langsung mengambil tasnya, dan merasa lega ketika bekalnya masih baik-baik saja. Namun, dia tidak tahu, dalam tubuhnya, ada kekuatan besar yang mencoba meluap tapi sulit menembus segel. Kekuatan itu tidak membiarkan pemiliknya direndahkan oleh siapapun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 10

    “Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 9

    Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 8

    Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 7

    Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 6

    Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 5

    “Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status