Share

Chapter 3

Author: Rik_Da
last update publish date: 2026-09-04 21:53:27

Sepekan berlalu saat Kaelan sekolah di Desa Ashvale. Ingatannya sama sekali belum kembali, bahkan kilasan pun tak terlihat. Dia hanya melanjutkan hidupnya dengan cemoohan tetangga, dan sekolah dengan tenang.

Saat bel masuk berbunyi, Miss Bella kembali masuk dalam kelas untuk melanjutkan satu jam mata pelajaran terakhir. Miss Bella mulai menjelaskan kembali materi pelajaran, kali ini tentang pecahan dan desimal yang sudah pasti Kael anggap sangat mudah.

“Baik, anak-anak,” ujar Miss Bella sambil menuliskan soal yang cukup rumit di papan tulis. “Siapa yang bisa menyelesaikan soal ini? Ini adalah soal yang paling sering muncul dalam ujian akhir.”

Soal itu melibatkan pembagian, perkalian, dan penambahan pecahan campuran. Sebagian besar siswa, termasuk Brad, terlihat masa bodo, bahkan memikirkan cara menjawab soal saja dia sudah tidak mampu.

Soal itu memang ditujukan untuk siswa-siswa terpintar di kelas.

Sementara itu, Kaelan menatap soal. Bagi mata orang normal, itu adalah urutan angka dan penyelesaian yang membingungkan. Tapi bagi Kaelan, itu adalah sebuah pola yang langsung terselesaikan dalam otaknya, hanya beberapa detik.

Tanpa berpikir panjang, Kaelan mengangkat tangannya.

"Kael? Kamu ... bisa?" tanya Miss Bella seakan tak percaya.

"Iya, Miss," jawab Kael, suaranya kembali normal, polos seperti anak kecil.

"Baik, silakan maju." Miss Bella menunjuk kapur di mejanya, di sekolah itu memang masih menggunakan kapur, bukan spidol seperti sekolah zaman sekarang.

Kaelan berjalan ke depan, mengambil kapur dan mulai menulis langkah-langkah penyelesaian dengan ringkas tapi sempurna, mengabaikan metode bertele-tele yang diajarkan Miss Bella sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari satu menit, ia sudah menuliskan jawaban akhirnya.

Seluruh kelas, termasuk Miss Bella, terdiam.

Langkah penyelesaian Kaelan, meskipun benar, terasa terlalu canggih dan cepat untuk anak seusianya di sekolah desa.

"B-benar," gumam Miss Bella, memeriksa kembali hitungan Kael di buku pegangannya. "Kamu jawabnya benar. Cara penyelesaiannya sangat cepat juga. Ini ... bagus sekali."

Saat Kaelan ingin kembali ke bangkunya, Miss Bella menyuruhnya untuk tetap di tempat.

“Kael, boleh Miss kasih kamu soal lagi?”

“Boleh,” jawab Kael tanpa ragu.

Begitu Miss Bella selesai menulis soal, Kaelan dengan gerakan cepat menyelesaikan soal dengan benar lagi, hingga lima soal.

“Waaaahhh… kamu benar-benar cerdas, Kael. Miss senang sekali kamu sekolah di sini. Kamu bisa dikirim ke sekolah kota jika ada perlombaan. Sekolah kita pasti bisa menang.”

Kaelan kembali ke bangkunya, merasa lega. Brad dan gengnya, merasa kesal melihat anak haram itu dipuji Miss Bella.

“Dasar … dia tidak punya uang, tapi otaknya tidak bisa diremehkan,” batin Brad, rasa takutnya dari insiden kotak bekal tadi masih melekat kuat.

Sore harinya, Evelyn sudah menunggu di gerbang sekolah karena khawatir terjadi sesuatu pada sang Pangeran. Ketika melihat Kaelan keluar, ia langsung berlari menghampiri.

"Nak! Bagaimana sekolahmu? Apakah menyenangkan?" tanya Evelyn sambil memeluk Kael erat.

Kaelan membalas pelukan Evelyn. "Lumayan, Ma. Pelajarannya ... mudah sekali."

Evelyn tersenyum bangga, Kaelan memang sejenius itu. Karena kecerdasannya pula, banyak anak-anak pejabat yang iri padanya.

"Mama senang mendengarnya. Tapi kenapa wajahmu sedikit muram, Nak? Apakah ... ada yang mengganggumu?"

Kaelan berjalan sambil menunduk. Ia tidak ingin Evelyn tahu tentang perundungan itu. “Tidak, Ma. Cuma, kepalaku tadi tiba-tiba sakit lagi. Lalu ada perasaan aneh. Rasanya aku mau marah, aku mau memukul, aku mau menghajar mereka. Mama tahu kenapa aku jadi begini?"

Evelyn tertegun seketika langkahnya terhenti. Dia tahu itu adalah luapan dari Kekuatan Ganas yang disegel. Raja Alaric sudah memperingatkan, segel itu hanya menahan, bukan menghilangkan. Dorongan kekuasaan dan kekuatan akan tetap muncul saat Kaelan merasa terancam atau marah besar.

"Itu ... mungkin karena kamu masih belum pulih dari kecelakaan, Nak," dusta Evelyn, memaksa dirinya tersenyum. "Mama akan buatkan kamu minuman herbal malam ini, ya. Tapi, Kael harus janji pada Mama, jangan pernah lagi membiarkan dirimu marah besar. Kamu harus menahan perasaan itu, demi dirimu sendiri. Jadi, kalau ada orang-orang yang mengganggumu, jangan hiraukan. Anggap seperti anjing yang menggonggong. Mengerti?"

"Iya, Ma. Aku janji. Aku tidak mau membuat Mama sedih."

Akhirnya mereka tiba di rumah kecil mereka. Malam itu, sambil menemani Evelyn memasak, Kael duduk di teras kayu, menatap kegelapan desa.

“Aneh, perasaan asing tadi masih bisa kurasakan. Walaupun aku tidak bisa mengingat apa pun, ekspresi Brad masih jelas sangat ketakutan. Aku harus mencari tahu sendiri keanehan itu.”

Namun, Kaelan mengerti, dia tidak boleh membiarkan ibunya cemas. Jadi dia harus menyusun strategi agar bisa aman di sekolah.

“Jika aku tidak bisa menggunakan tanganku untuk melawan, aku akan menggunakan otakku. Brad itu bodoh. Dia menggunakan kekuatan fisiknya karena tidak punya otak.”

Kaelan lalu teringat ucapan Brad yang menantangnya: ‘Kalau kamu mau di sini, kamu harus patuh pada kami.’

Sebuah rencana licik dan cerdas mulai terbentuk dalam benaknya.

Bukan rencana untuk membalas dendam dengan kekerasan, melainkan dengan membalikkan keadaan menggunakan kecerdasannya, menjadikan Brad yang kuat itu justru bergantung padanya.

Keesokan harinya, Kael kembali ke sekolah dengan senyum di wajahnya, senyum yang disembunyikan. Ia sudah menemukan cara untuk bertahan hidup di lingkungan baru yang kejam ini.

Ketika semua jam sekolah dimulai, semua murid sudah berada dalam kelas. Miss Bella menatap semua muridnya dengan senyuman ramah.

"Anak-anak, seperti yang kalian tahu, bulan depan adalah ujian kelulusan. Tetapi karena hasil ulangan harian, Miss khawatir. Brad, kamu harus meningkatkan nilaimu, terutama matematika. Jika kamu tidak lulus, kamu harus tinggal kelas."

Wajah Brad langsung pucat. Brad adalah anak tertua di kelas, dan sangat tidak ingin mengulang tahun ajaran.

Saat jam istirahat tiba, Brad, yang biasanya bergegas keluar untuk memalak, justru duduk murung di bangkunya, dia akan dimarahi ibunya jika tinggal kelas.

Kaelan berjalan menghampiri. Ia berdiri di depan Brad, menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.

"Kenapa, Anak Kota? Kamu mau balas dendam?" gertak Brad, berusaha kembali menunjukkan kekuasaannya.

"Tidak. Aku datang untuk menawarkan kesepakatan."

Brad tertawa sinis. “Heeh … Kesepakatan apa?” Walaupun masih ada sedikit ketakutan atas kejadian waktu itu, dia masih bersikap layaknya orang terkuat di kelas.

“Aku bisa membantumu lulus ujian. Aku bisa membuat nilaimu di atas rata-rata,” ucap Kaelan.

Brad menatap Kaelan tak percaya. “Hah? Kamu? Jangan bercanda! Kenapa kamu mau bantu aku?”

“Karena aku tahu kamu akan tinggal kelas,” jawab Kaelan, suaranya terdengar tegas.

Brad mengerutkan dahi.

“Apa urusanmu? Sok tahu!”

“Aku tidak sok tahu. Tiga hari ini, sejak aku di sini, aku melihatmu. Saat pelajaran matematika, matamu selalu melihat ke luar jendela atau sibuk mencoret-coret meja, bukan memperhatikan penjelasan Miss Bella. Tanganmu gemetar setiap Miss Bella menyebut kata pecahan, apalagi saat Miss Bella menyuruhmu menjawab soal. Dan saat Miss Bella mengumumkan kamu harus tingkatkan nilai, kamu langsung pucat, kamu juga langsung melirik ke tempat kamu simpan tasmu. Itu reaksi seorang anak yang takut dimarahi orang tuanya,” jelas Kaelan.

“Lalu, kalau kamu gagal, kamu pasti tidak akan bisa sembunyikan itu dari orang tuamu. Bukan itu saja sih, kamu anak yang paling besar dan tertua di kelas. Kamu pintar, tapi tidak dengan perhitungan. Kamu seperti bos yang punya bawahan, dan kamu menggunakan ototmu untuk menggertak dan memerintah. Itu artinya, kamu hanya mengandalkan kekuatanmu, tanpa itu, kamu tidak bisa apa-apa. Kalau kamu tinggal kelas, kamu terlihat cemen. Adik kelas di sekolah pasti menertawakanmu karena mereka akan menjadi teman sekelasmu tahun depan. Kamu akan kehilangan kekuasaanmu di sekolah ini. Kamu itu pengecut. Percuma mengandalkan otot kalau bodoh. Seorang pemimpin tahu kalau kekuasaan tidak hanya didapat dari otot. Kekuatan tanpa kecerdasan adalah target yang mudah. Dan saat ini, kamu adalah target yang mudah untuk tinggal kelas,” ungkap Kaelan.

Brad terdiam. Kata-kata Kaelan sangat menohok dan memang sangat masuk akal. Brad merasa dirinya ketahuan. Ketakutan dan strateginya terbongkar habis oleh bocah pendatang yang baru seminggu lalu dia buli.

‘Bocah ini memang cerdas!’ pikir Brad.

“Kalau kamu tinggal kelas, kamu akan menjadi olok-olokan di desa ini, dan kamu tidak akan bisa lagi memalak siapa pun lagi seperti yang selalu kamu lakukan," ucap Kaelan kembali tak ada habisnya menguliti karakter Brad.

Brad merasa sangat malu, tapi dia belum mengatakan apapun.

“Sebagai gantinya. Aku tidak butuh uang jajanmu. Aku hanya butuh kamu melakukan sesuatu. Kamu dan teman-temanmu harus menjadi pengawalku. Di sekolah ini, tidak boleh ada yang menyentuhku. Dan, kamu harus memastikan tidak ada satu pun warga desa yang menghina mamaku lagi.”

Brad menatap kedua mata Kaelan yang entah kenapa terlihat begitu tajam. Auranya sangat mengintimidasi.

“Kamu kan anak terkuat di sini. Aku adalah yang terpintar. Bergabung denganku. Aku akan menjamin kamu lulus. Dan kamu, akan menjamin keamananku.”

Brad menelan ludah. Ia memandang wajah Kaelan.

“Bagaimana? Kamu tidak perlu berpikir terlalu lama. Tidak akan ada yang tahu soal ini juga. Atau kamu bisa tinggal kelas selamanya. Semua terserah kamu.”

Kaelan menutup kalimatnya dengan seringai dingin. Seolah-olah semuanya sudah berada dalam kendalinya.

Brad terlihat bingung. Jika setuju, maka dia akan berteman dengan anak yang dia buli. Tapi jika menolak, hidupnya tidak akan mudah.

“Baik. Aku terima kesepakatanmu. Tapi, jika kamu bohong…”

“Aku tidak pernah bohong. Seorang lelaki tidak akan menarik kata-katanya kembali.”

“Hahaha, ok, aku setuju!” balas Brad, dia tidak meragukan kecerdasan Kaelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 10

    “Ma, Kael pulang.” “Eh, anak Mama sudah pulang,” Evelyn tersenyum lembut, menyambutnya di ambang pintu. “Gimana hari terakhir ujiannya? Lancar?” Kaelan seketika mengubah ekspresinya. Wajah dingin dan penuh perhitungan yang tadi ia tunjukkan pada Brad lenyap tak berbekas. Di depan wanita ini, dia hanyalah Kael, bocah yang manja. “Lancar dong, Ma. Soalnya gampang banget, kayak soal anak TK,” canda Kaelan sambil menyalami tangan ibunya. “Besok libur kan, Ma? Kael mau tidur seharian boleh ya?” Evelyn tertawa kecil sambil mengusap kepala Kael dengan lembut. “Boleh, sayang. Kamu pasti capek habis ujian. Ya sudah, ayo makan dulu. Mama masak sup sayur kesukaanmu.” “Wah, asyik! Kael laper banget, Ma.” Kaelan masuk ke rumah, namun tangan kirinya mendekap tas sekolah dengan erat dan hati-hati. Dia beralasan ingin langsung menaruh tas di kamar agar tidak berantakan. Evelyn yang melihat tingkah anaknya hanya tersenyum maklum, mengira Kaelan sudah semakin mandiri dan rapi. *** Malam pun tib

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 9

    Saat mereka melangkah masuk ke dalam aula utama gudang, udara terasa berubah drastis. Suhu turun mendadak. Bukan dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk tulang. Bau apek bercampur aroma aneh memenuhi hidung Kaelan. “Bos, kok berat banget ya napasnya?” bisik Brad. Kaelan tidak menjawab. Dia juga merasakannya. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu besar yang menimpa paru-parunya. Kepalanya mulai berdenyut sakit. ‘Reaksi ini lagi,’ batin Kaelan. ‘Kepalaku sakit.” Tekanan di ruangan itu semakin kuat. Bagi manusia biasa, ini adalah hawa murni ketakutan. Tapi bagi tubuh Kaelan yang menyimpan Tulang Dewa Kuno, meski pemiliknya tidak sadar, tekanan energi kotor ini adalah sebuah provokasi. Tiba-tiba, pandangan Kaelan mengabur. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak merapal mantra. Tapi tubuhnya bereaksi sendiri untuk menolak tekanan itu. Tulang belakangnya terasa panas membara. Detak jantungnya berpacu liar. DUG. Dunia di sekitar Kaelan berputar. Gudang yang gelap dan berdebu itu len

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 8

    Pagi itu, Desa Ashvale bukan cuma diselimuti kabut, tapi juga gosip yang panasnya ngalahin gorengan baru diangkat. Berita soal tiga penculik yang ditemukan terikat di pohon pinus nyebar lebih cepet daripada grup WhatsApp ibu-ibu PKK.Di warung sarapan Mrs. Martha, antrean bubar bukan karena habis, tapi karena orang-orang sibuk ngerumpi. Di pos ronda, bapak-bapak yang biasanya cuma ngomongin burung kicau, sekarang pasang muka serius.“Sumpah, Mr. Arthur! Saya lihat sendiri pas mau ke ladang,” seru salah satu warga sambil memperagakan gerakan tangan patah. “Itu tulang punggungnya kayak kerupuk diremes. Remuk di dalam, tapi kulit luarnya mulus! Nggak ada memar sama sekali! Aneh banget, kan?”“Ah, masa sih? Jangan-jangan dipukulin pakai benda tumpul yang dilapisi kain?” timpal warga lain yang penasaran.“Bukan, Tuan! Yang lebih gila tuh yang satu lagi,” suara warga itu memelan, tangannya refleks menutupi bagian bawah perutnya sendiri. “Itu… masa depan-nya pecah, Pak. Hancur! Katanya pas d

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 7

    Begitu wanita itu melihat sosok Kaelan mendekat dalam keadaan wajah tertutup, tubuhnya langsung menegang. Ketakutannya semakin menjadi. Walaupun dalam remang-remang ia melihat putranya berada di punggung Kaelan, wanita itu tetap mengira Kaelan adalah bagian dari penculik, atau orang yang akan menghabisinya. “Huuu… huuuuu…” suara wanita itu tidak jelas karena lakban hitam menutup mulutnya. Matanya berkedip cepat, air mata terus mengalir tanpa henti. Kaelan berhenti pada jarak aman, tidak terburu-buru. Ia menjaga nada suaranya tetap tenang, tidak meninggi, agar wanita itu bisa menangkap maksudnya. “Jangan takut, aku bukan orang jahat,” ucap Kaelan pelan. “Anak Nyonya baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Aku berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu menatapnya tak berkedip, seolah masih berusaha memahami, masih ragu mempercayai. Kaelan melanjutkan, menahan diri agar tidak membuat wanita itu semakin takut. “Tapi setelah Nyonya kembali, tolong lapor Mr. Arthur selaku kepala lingkungan. Ket

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 6

    Ketiga penculik itu berjalan menyusuri jalan setapak dengan langkah santai, tawa mereka pecah tanpa sedikit pun rasa waspada. “Hahaha, kita mendapatkan satu lagi. Jika dalam satu hari kita bisa mendapatkan lima atau enam anak, kita bisa cepat kaya,” ucap salah satu penculik dengan nada puas, bahunya terangkat ringan seolah beban di punggungnya bukanlah seorang anak kecil. “Benar, tapi sekarang kita harus bergegas. Jam enam pagi sudah banyak razia. Jangan sampai kita kesiangan menuju markas,” sambung yang lain, langkahnya sedikit dipercepat. Mereka terus bergerak hingga tiba di tepi sungai yang dangkal, penuh bebatuan licin dan aliran air yang dingin. Saat itulah, sebuah suara tegas memecah keheningan. “Berhenti!” Ketiganya sontak menoleh hampir bersamaan. Senter di tangan mereka terangkat, cahaya putih menyapu sekeliling hingga akhirnya berhenti di satu titik. Di sana berdiri seorang remaja, tubuhnya tegap, pandangannya lurus ke arah mereka. Namun begitu melihat siapa yang berte

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 5

    “Mr. Joe,” panggil Kaelan yang sudah berdiri sigap di depan bengkel. Mr. Joe menoleh, sedikit terkejut melihat anak yang biasanya jadi bahan gunjingan itu ada di bengkelnya. “Eh, bukannya kamu anak haram yang pindah dari kota itu kan?” Kaelan tidak peduli dengan image yang orang kenal, dia akan mengubah panggilan hina itu secepat mungkin. “Ada apa? Mau isi angin sepeda? Tapi kan kamu tidak punya sepeda. Kan kamu anak miskin yang sok kota.” Brad dan dua temannya hanya saling melirik. Sementara Kaelan, dia masih santai. Ejekan itu sama sekali tidak mengusiknya. “Saya memang tidak punya sepeda, Tuan. Makanya saya tidak bilang kalau isi angin,” balas Kaelan. “Saya lihat karburator bekas itu ada di sana. Boleh saya beli buat mainan? Kebetulan saya dan Brad lagi butuh besi-besian buat tugas kerajinan tangan.” Mr. Joe mulai heran, dan seperkian detik dia melirik tumpukan sampah itu lalu tertawa. “Oalah, kirain apa. Ambil saja, sekalian sedekah sama anak yang tidak punya bapak. La

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status