LOGINRuang rapat lantai 43 penuh lebih cepat dari undangan resmi. Luki berdiri di depan layar, presentasi dengan template bersih, judul: “Pelanggaran Prosedur oleh Tim PR”. Di baris pertama kursi, Adela duduk sebagai peninjau—undangan yang Naya kirim kemarin dan yang kini terasa seperti pisau bermata dua.
“Terima kasih sudah hadir,” buka Luki, suara menenangkan. “Kita semua lelah oleh drama publik. Hari ini saya membawa bukti yang… menyedihkan. Akses ilegal ke sistem keuangan menggunakan kredensial PR, jejak ke perangkat milik—” ia menoleh, menahan jeda yang diatur seperti aktor “—Naya Aghnia.”
Beberapa kepala menoleh kepada Naya. Ia menegakkan punggung. Di sampingnya, Arga duduk tidak bersuara—badai yang memilih waktunya.
Luki melanjutkan, menayangkan log yang, di tangan orang awam, tampak meyakinkan. “Kami juga menemukan aktivitas printer mencurigakan di lantai 21 semalam. Dokumen yang diambil tanpa persetujuan.”
“Dokumen yang diambil dari printer yang mengeluarkannya sendiri,” sela Karina datar. “Dan dokumen itu memperlihatkan penyalahgunaan vendor kecil-kecilan selama 18 bulan.”
Luki tersenyum tipis. “Kita tidak di sini untuk saling menuduh tanpa proses.”
“Setuju,” kata Arga, bangkit. Suaranya merata, namun ruangan merasakan perubahan tekanan udara. “Karena itu, izinkan saya memutar rekaman dari pemeriksaan forensic tadi malam.”
Operator menayangkan video pendek: log tripwire yang memetakan aliran token dari perangkat FIN-RAFI-07B ke relay Kenara Solutions, ke endpoint vendor marketing yang dikontrak departemen keuangan. Overlay tanda tangan digital muncul: “Kenan A.” dan di bawahnya, persetujuan akses sementara dengan inisial “LM”.
“Bisa siapa pun menggunakan inisial itu?” tanya salah satu direktur skeptis.
“Bisa,” jawab Arga. “Karena itu kami tidak menyimpulkan hanya dari inisial. Kami gabungkan dengan bukti fisik dan saksi.” Ia memberi isyarat. Pintu terbuka. Rafi masuk, ditemani Laila HR. Wajahnya masih pucat, tapi matanya mantap.
Rafi bercerita—singkat, jelas—bagaimana “Mas Ken” menemuinya, menjanjikan rekomendasi, menyuruhnya menancapkan flash disk. Ia menunjukkan pesan chat di ponselnya, log guest pass lantai 5, dan—kartu akses temporary yang diberi Kenan dengan tanda tangan penanggung jawab: Kenan dan initial verifikasi “LM”.
“Ini bisa dipalsukan,” ucap Luki, tetap tenang. “Kartu temporary mudah dibuat.”
“Karena itu kami lakukan sting operation,” kata Karina, menahan senyum yang tidak sampai ke mata. “Semalam kami menaruh umpan: dummy account ‘CSR-Grant’ dengan kredensial unik. Dan pagi ini—tepat pukul 06.12—ada yang mencoba mengakses akun itu dari ruang kerja contractor lantai 22. Kamera?”
Layar berganti. Sudut pandang kamera tersembunyi menampilkan sosok yang masuk ke ruang kerja kosong, membuka laptop pribadi, menyambungkan dongle jaringan. Zoom in. Wajah Kenan muncul jelas. Tiga menit kemudian, Luki masuk, menaruh map di meja, berbicara singkat, lalu pergi. Waktu di sudut layar—terbaca tajam.
Bisik-bisik menari. Luki tetap tegak. “Aku sering memeriksa vendor. Itu bukan kejahatan.”
“Yang jadi masalah,” Arga melangkah ke depan, “adalah jalur uang.” Layar menampilkan faktur Kenara Solutions—nilai kecil berulang, tujuan rekening yang sama dengan vendor marketing resepsi ulang tahun kantor tahun lalu. “Vendor ini kita bayar lewat skema petty cash yang dipecah. Dan otorisasi akhir—” Arga menatap satu per satu anggota dewan, “—ditandatangani oleh CFO.”
Ruang rapat memadat.
“Ini belum vonis,” ujar Arga, tetap adil. “Tapi cukup untuk menyerahkan pada audit independen dan—jika perlu—penyidik.”
Adela mengangkat tangan, suaranya terkendali. “Sebagai peninjau investor, saya minta dua hal: (1) Luki dinonaktifkan sementara; (2) Akses semua vendor di-freeze, terutama Kenara Solutions.”
Ketua dewan mengetuk meja. “Disetujui untuk sementara, sampai audit selesai.” Ia menoleh ke Luki. “Anda hormati proses?”
Luki menghela napas—sangat halus, tapi terdengar bagi yang menunggu. “Saya menghormati proses.” Tatapannya singgah pada Naya, kali ini tanpa senyum. “Permainanmu bagus.”
“Ini bukan permainan,” jawab Naya. “Ini pekerjaan.”
Rapat beralih ke poin lain, tetapi kerangka cerita telah berubah. Setelah selesai, lorong kembali menjadi sungai orang. Luki mendekati Arga dan Naya. “Hati-hati dengan Dimas,” katanya tiba-tiba, nada berbeda. “Dia bukan penolong. Dia ingin merger gagal, supaya bisa membeli aset kalian dengan diskon.”
“Terima kasih atas tip-nya,” balas Arga dingin. “Kami akan memeriksa segalanya—termasuk motifmu memberi nasihat.”
Luki pergi, langkahnya tidak tergesa. Naya menatap punggung itu sampai hilang. “Kalau dia benar?”
“Dimas selalu benar untuk dirinya sendiri,” jawab Arga. “Bukan berarti benar untuk kita.”
Siang, press conference kecil digelar—format doorstop. Naya membuka dengan tiga kalimat yang dirancang: mengakui audit internal, menjamin perlindungan saksi, mengulang komitmen pada karyawan. Seorang reporter—bukan APEX—bertanya, “Apakah pertunangan ini akan bertahan melewati badai?”
Naya tersenyum, tidak memberi apa yang diminta. “Badai menguji struktur. Kita akan lihat struktur siapa yang berdiri lebih baik: drama atau data.”
Setelah presser, di ruang kecil yang akhirnya terasa punya oksigen, Karina meletakkan map di meja Naya. “Ini garis besar 10 bab pertama serial hidupmu,” gurau Karina tipis, lalu serius. “Dan ini—” ia menyelipkan amplop putih “—undangan gala amal klien kita, dua malam lagi. Semua nama besar akan ada. Termasuk Adela. Termasuk—”
“Dimas,” sambung Naya.
“Pastinya.” Karina menarik napas. “Di undangan tertulis: dress code: black & silver.”
Arga masuk, menangkap kalimat terakhir. “Kita akan datang. Dan kita akan menutup arc pertama ini dengan baik.” Ia menatap Naya sejenak. “Kau siap?”
Naya mengangguk. “Selalu.”
Ponsel Naya berbunyi. Pesan anonim, kali ini hanya dua kata: “Meet balcony.” Di bawahnya, waktu: Gala, 23:17.
Naya mengangkat wajah. “Seseorang sudah menulis bab berikutnya.”
“Kalau begitu,” ujar Arga, bayangan senyum di sudut bibir, “kita ganti pena.”
Pagi hari, IR menyalakan panel consent seperti membuka tirai jendela pada pukul tujuh: cahaya tidak meledak, tetapi masuk. Di layar, conversion ritel menanjak setelah Museum Dokumen menjadi ruang tamu banyak orang. Pertanyaan yang masuk ke Proxy Rescue Desk semakin presisi: “Apakah opt-out saya tercatat?”; “Bagaimana saya menyimpan receipt checksum?”; “Apa kaitan recusal dengan suara saya?” Rendra mencatat: lebih sedikit kebingungan, lebih banyak kehendak. Menjelang siang, kabar kecil yang berat jatuh ke meja: dua micro-fund—keduanya selama ini menghindari sorot—bergeser mendukung paket governance by calendar kalian. Mereka mengirim pernyataan pendek: “Kami tidak berinvestasi pada poster. Kami berinvestasi pada pagar.” Acting CFO tersenyum untuk pertama kali hari itu. “Kalimat yang bisa dicetak pada faktur,” katanya. Di Museum Dokumen, Sinta memperbarui etalase “Arti Akronim”, menambahkan ilustrasi kecil alur persetujuan preset berdasarkan minutes rapat
Pagi dimulai dengan pekerjaan yang tidak menghasilkan cuplikan dramatis, tetapi menentukan jalur: surat spoliation hold. Laila duduk di meja panjang, lampu neon di atas kepala memantulkan putih yang jujur pada kertas. Ia menulis dua surat utama—satu kepada Aurelia, satu kepada Seraphine—dengan tembusan ke counsel eksternal mereka. Isi inti: segera hentikan penghapusan/pengubahan data terkait proyek dan materi yang relevan; amankan arsip digital/fisik; beku akses admin kecuali untuk tim forensik yang terdaftar; catat setiap interaksi file dalam log; kirim laporan chain-of-custody 24 jam sekali. “Kita tidak menuduh di sini,” katanya pada tim. “Kita mencegah kehilangan jejak. Hilang = mahal.” Bagas menempelkan lampiran: daftar hash berkas yang sudah kalian miliki, agar pihak penerima tahu batas pagar kalian, bukan untuk gertak, melainkan agar tak ada yang berpura-pura lupa. Inez menambah diagram jalur VPS—relay ke relay—dengan tanggal yang terikat pada minutes komite A.D
Studio independen itu kecil, temboknya dilapisi busa akustik yang mulai menguning, dan lampu softbox menebar cahaya yang tidak berambisi memutihkan siapa pun. Laila memilih tempat ini sengaja—bukan karena murah, melainkan karena netral. “Kita tidak perlu panggung yang mengundang tepuk tangan,” katanya pada kru. “Kita perlu ruangan yang membuat orang mau mendengar.” Saksi tua—mantan editor 1999 yang kemarin membuka kunci cadangan lemari besi—duduk rapi dengan jas abu-abu yang kebesaran setengah nomor. Tangannya bergetar kecil ketika teknisi memasang lav mic, tapi tatapannya jernih. Sinta menyiapkan lower-third sederhana: Saksi Tua (Editor, 1999)—tanpa nama lengkap demi keselamatan.Siaran dibuka tanpa musik. Pembawa acara, yang sengaja dipilih karena gaya bertanyanya datar, memberi salam singkat lalu mundur setengah langkah. “Pak, kami tidak mencari drama,” ujarnya. “Kami mencari urutan.” Saksi mengangguk. Nafasnya pelan, seperti orang yang akan menyebutkan tiga hal penting
Pagi berikutnya, Sinta meluncurkan Museum Dokumen—bukan gedung virtual yang berkilau, melainkan etalase read-only dengan checksum publik di setiap sudut. Tampilan beranda seperti halaman catatan seorang akuntan: kolom tanggal, jenis dokumen, hash, dan tautan verifikasi. Di atas semuanya, sebuah kalimat yang menolak menjadi slogan: “Silakan bosan. Bosan adalah tanda Anda membaca.” Tim tertawa kecil; kemudian sibuk mengirimkan tautan.Koleksi perdana dipilih seperti kurasi pameran fotografi yang menolak warna: tech brief Inez (versi ringkas), recusal log yang disunting untuk kerahasiaan, potongan status page historis, dan appendix saksi yang tidak menampilkan wajah. Di pojok kanan, Sinta menambahkan “Tur Pendek”: tiga langkah untuk warga ritel—membuka dokumen, memindai QR verifikasi, menyimpan receipt digital. “Kalau orang punya receipt,” katanya, “gosip kehilangan gigi.”Respons awal tidak heboh—dan itu bagus. Time on page panjang, bounce rate rendah, komentar sedik
Pagi itu, notifikasi yang ditunggu-tunggu turun seperti hujan rintik yang memadamkan debu: stay sementara atas hasil RUPS. Bahasa pengadilan tidak pernah teatrikal; kalimatnya lurus dan dingin, justru karena itu menenangkan. Poin-poinnya jelas: keputusan yang bersandar pada materi manipulatif tidak boleh dieksekusi, operasi perusahaan tetap berjalan sesuai status page, dan fungsi-fungsi setara CEO bisa dijalankan kolektif oleh tim eksekutif hingga pemeriksaan tuntas. Tidak ada mahkota yang kembali terpasang; yang ada adalah runbook yang menjadi raja sementara.Arga membaca dua kali, lalu menutup berkas. “Kursi tunggal tetap kosong di panggung,” katanya, “tapi kursi kerja tidak boleh ada yang kosong.” Ia mengumpulkan para kepala fungsi ke war room. Di papan, ia menggambar tiga lingkaran saling bertumpu: Operasi, Hukum, Suara. “Untuk operasi,” ia menunjuk Acting CFO, “kamu first among equals di signatory matrix—dual sign tetap. Publik hanya melihat jam dinding; kita yang mema
Keheningan di ruang sidang terasa seperti kain tebal. Hakim ketua membuka kertas tipis tanpa efek dramatis. “Atas bahan yang diajukan, Pengadilan Banding menyimpulkan bahwa terdapat fakta teknis yang cukup colorable untuk mempertimbangkan interim relief. Kami tidak memutus pokok perkara hari ini, namun kami menetapkan pagar sementara: (1) keputusan yang bergantung pada manipulasi media tidak boleh dieksekusi hingga verifikasi selesai; (2) pelaksanaan operasional perusahaan tetap lanjut sesuai status page; (3) komunikasi kepada pemegang saham harus menyertakan recusal log dan tautan read-only bukti teknis.”Kata-kata itu tidak memukul genderang; kata-kata itu menurunkan suhu. Laila mengangguk kecil. Acting CFO menuliskan tiga butir tersebut ke dalam runbook transisi—distribusi internal siap pukul 16.00. Inez menutup laptop, merasakan lega yang tidak riuh; tiga panel yang ia bawa—splice, LUT & gate, timecode drift—telah cukup untuk menata ulang meja. Sinta mengetik pesan satu







