Home / Sci-Fi / Tunangan Nakal Sang Kapten / Bab 9: Variabel diatas Ranjang

Share

Bab 9: Variabel diatas Ranjang

Author: Narnia
last update publish date: 2026-10-23 08:10:27

Dua puluh menit berlalu, Gabriel sudah selesai membersihkan tubuhnya. Uap hangat nampak menyembul keluar dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Rambut hitam Gabriel masih setengah basah, berantakan namun memberikan kesan kasual yang jauh berbeda dari penampilannya saat berseragam. Dia kini sudah mengenakan baju rumahnya, sebuah kaus putih polos dan celana tidur panjang.

Namun, langkah kaki Gabriel mendadak terhenti di ambang pintu kamar mandi. Dia sempat terperanjat kaget saat melihat Sasha ternyata sudah duduk santai di atas kasur besarnya.

"Kenapa?" tanya Sasha, menaikkan sebelah alisnya melihat respons kaget Gabriel yang mematung di pintu.

Gabriel menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia melangkah lebar ke arah lemari pakaian, meraih jaket militer ringannya yang tergantung di sana. Niatnya untuk melarikan diri ke unit asrama militer, ternyata masih belum surut. Dia butuh ruang aman.

Namun, sebelum jemari Gabriel sempat mengenakan jaket tersebut, Sasha sudah bergerak. Gabriel secara refleks merasakan getaran pergerakan kecil dari sosok Sasha yang mendekat dengan cepat. Detik berikutnya, gadis itu sudah berdiri tepat di belakang punggungnya. Posisinya begitu rapat hingga Gabriel bisa mencium aroma wangi rambut Sasha yang lembut, dan segar.

"Kau mau pergi ke mana malam-malam begini, Gabriel?" tanya Sasha dengan nada rendah yang berbisik tepat di balik pundak pria itu.

Gabriel menelan ludah, tubuhnya mendadak kaku. "Aku... Aku akan pergi ke unit asrama militer."

"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau kau harus tetap berada di sini?" ucap Sasha. Napasnya dengan lembut menerpa punggung kaus Gabriel, memberikan sensasi hangat yang membuat seluruh fokus sang kapten buyar seketika.

Gabriel merapatkan tubuhnya ke pintu lemari, merasakan kembali kegugupan yang tadi sempat hilang saat mereka makan bersama. "Aku merasa sangat lelah, Sasha. Hari ini terlalu banyak kejadian. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang."

Sasha terkekeh pelan di belakang tubuh tegap itu. Sifat keras kepalanya sedikit melunak saat menyadari bahwa perjalanan ekspedisi yang panjang dan pertempuran sengit melawan para bandit tadi memang telah menguras habis sisa energi dan fokus mental sang kapten. Dia tahu pria ini benar-benar berada di batas lelahnya.

"Baiklah, Kapten," ucap Sasha lembut. Namun, bukannya memberikan jalan atau mengizinkan Gabriel untuk pergi, tangan Sasha justru bergerak maju. Dia mencengkeram bahunya dengan tekanan, Gabriel hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Dengan tubuh yang sudah kehabisan daya untuk bertarung, Gadis itu lalu mendorong tubuh tegap Gabriel hingga jatuh telentang di atas kasur yang empuk.

Gabriel mendongak, menatap Sasha dengan sisa-sisa kewaspadaan yang mulai runtuh karena rasa kantuknya.

Sasha memberikan senyuman tulus, lalu berbisik lembut, "Kalau begitu, beristirahatlah di sini. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu malam ini."

Sasha kemudian merangkak naik ke atas kasur, mengambil posisi berbaring di sisi kanan ranjang, tepat di samping tubuh Gabriel yang masih mematung kaku. Gabriel hendak memejamkan mata dan mulai rileks, namun beberapa detik kemudian ia merasakan tangan dingin gadis itu merayap masuk ke balik kaos putihnya, menyentuh kulit perutnya yang berotot.

Dengan gerakan refleks yang cepat, Gabriel segera menangkap pergelangan tangan Sasha, menahannya agar tidak bergerak. "Aku sudah bilang tadi, aku lelah, Sasha. Hentikan!" tegas Gabriel dengan suara serak, matanya bahkan sudah terpejam rapat karena tidak kuat menahan kantuk.

Kepala Sasha mendongak, menatap wajah Gabriel yang sudah menutup mata dengan sisa-sisa ketegasan yang memohon. Sasha mendengus pelan, merasa sedikit kecewa karena mainannya malam ini benar-benar sudah kehabisan daya. Dia akhirnya menarik tangannya dari balik baju Gabriel dengan hentakan kecil, lalu berbalik memunggunginya dengan jengkel.

"Kaku sekali," gerutu Sasha pendek ke arah dinding.

Gabriel tidak membalas gerutuan itu. Dia membiarkan tubuhnya terlelap akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Malam ini, dia memutuskan pasrah mengikuti perintah mutlak dari Sasha untuk tetap berada di satu ranjang yang sama, selama gadis itu menepati sisa janjinya, tidak melakukan kontak fisik yang lebih dari sekadar pelukan atau sentuhan kecil sampai pagi tiba.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 10: Temani Aku Tidur Lagi

    Gabriel masih tenggelam dalam tidur lelapnya yang sangat dalam ketika kesadarannya perlahan terusik. Kasur empuk di bawah tubuhnya mendadak terasa bergerak samar. Detik berikutnya, dia merasakan ada sesuatu yang merayap pelan di bawah perutnya, menyelinap di antara sela-sela kain celana tidurnya.Dengan gerakan refleks yang lambat dan setengah sadar, tangan kanan Gabriel terangkat, menepis pelan objek asing tersebut. Pikirannya yang masih berkabut spontan melempar ingatannya jauh ke masa lalu, menganggap bahwa gangguan itu adalah ulah sosok kakaknya yang selalu membangunkannya dengan cara menyebalkan saat mereka masih kecil dan berada di asrama yang sama."Kakak... aku masih mengantuk. Jangan menggangguku," gumam Gabriel pelan dengan suara serak yang parau, lalu membalikkan badannya ke sisi lain untuk mencari posisi yang lebih nyaman.Namun, pergerakan itu ternyata sama sekali tidak berhenti. Malahan, gangguan itu terasa semakin intens. Sebuah benda yang terasa dingin dan lembut kini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 9: Variabel diatas Ranjang

    Dua puluh menit berlalu, Gabriel sudah selesai membersihkan tubuhnya. Uap hangat nampak menyembul keluar dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Rambut hitam Gabriel masih setengah basah, berantakan namun memberikan kesan kasual yang jauh berbeda dari penampilannya saat berseragam. Dia kini sudah mengenakan baju rumahnya, sebuah kaus putih polos dan celana tidur panjang.Namun, langkah kaki Gabriel mendadak terhenti di ambang pintu kamar mandi. Dia sempat terperanjat kaget saat melihat Sasha ternyata sudah duduk santai di atas kasur besarnya."Kenapa?" tanya Sasha, menaikkan sebelah alisnya melihat respons kaget Gabriel yang mematung di pintu.Gabriel menggelengkan kepalanya cepat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia melangkah lebar ke arah lemari pakaian, meraih jaket militer ringannya yang tergantung di sana. Niatnya untuk melarikan diri ke unit asrama militer, ternyata masih belum surut. Dia butuh ruang aman.Namun, sebelum jemari Gabriel sempat mengenakan jaket tersebut, S

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 8: Obrolan di Meja makan

    Gabriel baru saja menyelesaikan aktivitas memasaknya dan membersihkan peralatan dapur, lalu mengeringkan kedua tangannya menggunakan handuk kering, sebelum pandangannya teralih sepenuhnya pada sosok yang melangkah santai ke arahnya.Sasha nampak sudah menggunakan pakaian rumahan, sebuah kaus longgar dan celana training pendek yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya. Gabriel mengernyitkan dahi selama beberapa detik. Setelah memperhatikan potongan kain di bahu dan logo hitam di dada kaos tersebut, dia baru menyadari satu hal."Kau memakai bajuku?" tanya Gabriel, menghentikan gerakan melipat handuknya.Sasha menunduk sekilas, memandangi ujung kaus yang menjuntai longgar hingga setengah pahanya, lalu mendongak dengan wajah tanpa dosa. "Aku memakai apa yang ada di dalam lemari utama."Gabriel menegakkan badannya, meletakkan handuk ke gantungan di dekat wastafel dapur. "Harusnya pakaian khusus untukmu sudah disiapkan di lemari. Ukurannya pasti lebih pas.""Tapi aku nyaman memakai yang ini

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 7: Ayo Kita Makan Malam Dulu

    Pintu hidrolik unit milik Gabriel terbuka dengan desis halus, lalu mengunci otomatis. Sasha melangkah masuk lebih dulu, memindai sekeliling dengan jeli. Ruangan luas itu didominasi perpaduan warna hijau zaitun khas militer dan hitam arang yang tegas. Alih-alih mirip barak tentara yang kaku, tempat ini menyerupai apartemen modern yang cukup nyaman untuk satu keluarga kecil.Di bagian tengah, terdapat ruang santai dengan sofa besar hitam. Di sudut lain, sebuah dapur kecil tampak rapi dan simpel. Dua ruangan tambahan di sisi kiri tampaknya bisa dialihfungsikan sebagai kamar tidur sekunder atau gudang senjata pribadi.Gabriel berdiri di area depan, membungkuk untuk melepaskan lars militernya yang berdebu. Setelah menaruh sepatunya dengan rapi, dia mengambil sepatu Sasha lalu menatanya di rak yang sama. Gabriel kemudian melangkah menuju ruang tengah sambil melepas sarung tangan taktis dengan gerakan lambat. Ada kecanggungan nyata dari gestur tubuhnya."Selamat datang... di rumah," ucap Gab

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   Bab 6: Reaksi Kakak Ipar

    Atmosfer di dalam ruangan mendadak menegang akibat adu argumen dua saudara Alistair itu. Sebelum Gabriel sempat membalas hantaman mental berikutnya dari sang kakak, Sasha melangkah maju. Dia berdiri di garis depan, menatap Hugo dengan senyuman tipis yang sarat penilaian. "Kakak ipar, harusnya kau tahu bahwa Kak Sera senang saat bisa kembali melihat kondisi kampung halamannya di luar sana, meskipun tempat itu sudah banyak berubah. Bukankah hal emosional seperti itu yang perlu kau perhatikan sebagai orang terdekatnya?" tanya Sasha telak, memotong kalimat Hugo tanpa permisi. "Apakah kau sudah menanyakan bagaimana perasaannya setelah pulang hari ini? Atau kau hanya peduli pada angka keselamatan yang kau temukan di rincian laporanmu?" Hugo seketika terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Kerutan tipis muncul di dahinya, pertanda bahwa dia tidak siap dengan serangan balik yang menggunakan sudut pandang emosional dari adik iparnya. "Aku yakin kau bahkan belum sempat bertanya soal itu padanya,

  • Tunangan Nakal Sang Kapten   BAB 5: Reuni Keluarga

    "Oh, ternyata kalian ada di situ," ucap Lilia santai saat memasuki ruang rapat, seolah pemandangan dua orang yang saling tindih di lantai remang adalah hal lumrah. Dia melangkah mantap menuju meja oval di tengah ruangan, mengabaikan atmosfer canggung yang mendadak pekat.Sementara itu, Hugo berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya terkunci pada sang adik yang sedang berusaha bangkit. Meskipun gerakannya agak limbung akibat panik, Gabriel dengan cepat merapikan seragam militernya."Kau sedang menyerangnya, Gabriel?" tanya Hugo datar tanpa ekspresi, melangkah masuk dengan ritme konstan.Gabriel mendengus, menekan rasa gugup yang menjalar saat menaikkan ritsleting seragam dan rompi taktisnya. "Tidak! Aku tidak sepertimu, Kak! Jangan mengatakan hal aneh.""Lalu apa yang kalian lakukan di lantai?" Pertanyaan Hugo meluncur tanpa sensor. "Apa kau sedang melakukan pendekatan emosional dengan menindih tubuh pasanganmu di ruang rapat militer?""Kak,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status