Share

Bab 3

last update publish date: 2026-10-22 17:15:53

BAB 3

Perayaan yang Tidak Sesederhana Itu

“Eloise! Cepat turun! Aku tidak mau menghabiskan masa mudaku hanya untuk menunggu di depan rumahmu!”

Suara Laras terdengar dari ruang tamu, cukup keras hingga membuat salah satu pelayan yang lewat tersenyum geli.

Eloise yang masih berada di lantai atas segera meraih tas kecil berwarna putihnya. Ia memeriksa penampilannya sekali lagi di depan cermin, merapikan rambut panjangnya, lalu bergegas menuju tangga.

Hari ini, ia mengenakan blus berwarna krem dengan rok putih sederhana. Tidak berlebihan, tetapi cukup membuatnya merasa cantik.

“Laras, jangan berteriak! Aku dengar!” serunya dari tangga.

“Kalau kamu dengar, kenapa lama sekali?”

“Karena aku sedang bersiap!”

“Bersiap atau sedang mengikuti pemotretan majalah?”

Eloise tertawa kecil. “Kamu cerewet sekali.”

“Aku sahabatmu. Sudah tugasku memastikan kamu tidak berubah menjadi putri kerajaan yang hanya bisa duduk manis di dalam istana.”

Eloise akhirnya sampai di ruang tamu. Laras langsung berdiri, kemudian mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Bagus. Cantik. Cocok untuk merayakan kelulusan.” Laras mengangguk puas. “Sekarang, ayo pergi sebelum—”

“Non Eloise, mobil sudah siap.”

Keduanya menoleh bersamaan.

Seorang pengawal berdiri tidak jauh dari pintu utama. Di belakangnya, satu pengawal lain telah menunggu dengan sikap tegap.

Laras memejamkan mata.

“Ya Tuhan, mereka benar-benar ikut.”

Eloise menggigit bibir untuk menahan tawa. “Aku sudah bilang, kan?”

“Kamu bilang ada pengawal. Aku kira cuma satu!”

“Papa menganggap dua lebih aman.”

“Dua?” Laras menatap kedua pria itu, kemudian kembali memandang Eloise. “Kalau kita pergi ke kafe, apa mereka juga akan duduk di meja sebelah?”

Eloise berbisik, “Mungkin.”

“Kalau begitu, kita pesan empat minuman. Dua untuk kita, dua untuk mereka.”

“Laras!”

“Apa? Aku hanya ingin mereka tidak kehausan saat mengawasi kita.”

Eloise akhirnya tertawa. Bahkan salah satu pengawal tampak kesulitan mempertahankan ekspresi datarnya.

“Non, Tuan Gabriel berpesan agar kami selalu berada dalam jangkauan,” ujar pengawal yang lebih tua.

Laras mengangkat kedua tangannya. “Baik, Pak. Kami akan menjadi warga negara yang sangat patuh hari ini.”

Eloise mencubit pelan lengan sahabatnya sebelum mereka berjalan menuju mobil.

---

Perjalanan menuju pusat kota Aurelia berlangsung sekitar dua puluh menit.

Sepanjang perjalanan, Laras terus bercerita tentang rencananya setelah kelulusan. Ia ingin mengikuti kursus desain, mencari pekerjaan paruh waktu, dan sesekali melakukan perjalanan singkat bersama Eloise.

Sementara itu, Eloise mendengarkan dengan antusias.

“Aku ingin mencoba banyak hal,” katanya ketika Laras berhenti untuk mengambil napas. “Mungkin belajar memasak, ikut kelas melukis, atau pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi.”

“Bagus! Akhirnya kamu punya keinginan selain membaca buku dan mengikuti jadwal yang dibuat orang lain.”

“Aku tidak separah itu.”

“Eloise, minggu lalu kamu menolak pergi ke toko buku karena jadwalmu sudah penuh.”

“Itu karena aku ada janji dengan dokter.”

“Dan dua hari sebelumnya?”

“Ada pemeriksaan rutin.”

“Lalu bulan lalu?”

Eloise terdiam.

Laras menunjuknya dengan penuh kemenangan. “Nah! Kamu bahkan tidak ingat berapa banyak alasan yang diberikan keluargamu untuk membuatmu tetap di rumah.”

Eloise menatap keluar jendela.

Ia tahu Laras tidak bermaksud menyakitinya. Sahabatnya hanya menginginkan agar ia memiliki kehidupan yang lebih bebas.

“Aku juga ingin tahu rasanya melakukan sesuatu tanpa harus meminta izin berkali-kali,” gumamnya.

Laras yang semula bercanda menjadi sedikit lebih serius.

“Kamu bisa mulai dari hal kecil. Kamu tidak harus memberontak terhadap keluargamu. Cukup tunjukkan bahwa kamu bisa dipercaya.”

Eloise menoleh kepadanya.

“Kamu benar.”

“Tentu saja. Aku selalu benar.”

“Jangan merusak momen bijakmu sendiri.”

Mereka kembali tertawa.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafe bernama Maison de Lune, tempat yang terkenal dengan interior hangat, jendela besar, dan taman kecil di bagian belakang.

Eloise turun lebih dahulu. Ia menghirup udara segar, lalu tersenyum melihat deretan toko di sepanjang jalan.

Sesederhana ini, tetapi baginya terasa istimewa.

Ia bisa berjalan di luar rumah, memilih tempat yang disukainya, dan menghabiskan waktu bersama sahabatnya.

Sayangnya, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Kedua pengawalnya turun dan mengambil posisi tidak jauh darinya.

Laras memandang mereka, lalu mendesah panjang.

“Baiklah. Kita akan menikmati hari ini bersama dua bayangan.”

“Jangan terlalu keras. Mereka bisa mendengarmu.”

“Bagus. Biar mereka tahu pendapatku.”

---

Kafe itu cukup ramai, tetapi mereka berhasil mendapatkan meja dekat jendela.

Laras langsung memesan dua minuman dingin dan beberapa makanan penutup. Eloise memilih kue stroberi, sementara Laras memesan cokelat hangat meskipun cuaca sedang cerah.

“Kamu yakin tidak ingin memesan sesuatu yang lebih sehat?” tanya Eloise.

Laras menatapnya tajam. “Kita baru lulus. Hari ini aku tidak menerima nasihat tentang kesehatan, kalori, atau masa depan.”

“Baik, Nona.”

“Bagus.”

Mereka menghabiskan waktu dengan membicarakan masa sekolah, guru-guru yang paling mereka sukai, serta rencana yang belum sempat diwujudkan. Laras bahkan memaksa Eloise mengambil beberapa foto bersama.

Namun, setiap kali mereka mencoba mengambil foto yang bagus, salah satu pengawal terlihat di latar belakang.

“Tidak bisa begini,” keluh Laras sambil melihat layar ponselnya. “Di foto kelulusan kita nanti, jangan-jangan pengawalmu ikut berdiri di tengah.”

Eloise tertawa sampai hampir tersedak minumannya.

“Jangan membuatku membayangkannya!”

“Kalau itu terjadi, aku akan mengedit mereka menjadi patung.”

“Laras!”

Tawa mereka mengundang beberapa tatapan dari pengunjung lain. Eloise tidak peduli. Untuk sesaat, ia merasa seperti gadis biasa yang tidak perlu memikirkan urusan keluarga atau aturan yang membatasi geraknya.

Sampai ponselnya bergetar.

Pesan dari mamanya muncul di layar.

Mama: Sayang, kamu sudah sampai? Jangan lupa makan. Kalau ingin pergi ke tempat lain, beri tahu pengawalmu, ya.

Eloise tersenyum kecil sebelum membalas.

Eloise: Sudah, Ma. Aku sedang bersama Laras. Kami baik-baik saja.

Belum sempat ia meletakkan ponsel, sebuah pesan lain masuk. Kali ini dari nomor yang tidak disimpannya.

Selamat atas kelulusanmu, Eloise Felicia Ilona.

Eloise mengernyit.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Nomor tersebut tidak dikenalnya. Tidak ada nama, tidak ada penjelasan, hanya ucapan singkat yang terasa aneh karena pengirimnya mengetahui nama lengkapnya.

“Kenapa?” tanya Laras, menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

“Tidak tahu. Ada orang yang mengirim pesan ucapan selamat.”

“Siapa?”

“Nomornya tidak kusimpan.”

“Teman sekolah?”

“Mungkin. Tapi kalau teman sekolah, seharusnya aku mengenali nomornya.”

Laras mengulurkan tangan. “Boleh kulihat?”

Eloise menyerahkan ponselnya.

Laras membaca pesan itu, lalu mengangkat bahu. “Bisa jadi teman lama yang mengganti nomor. Balas saja terima kasih, atau abaikan kalau kamu tidak nyaman.”

Eloise mengambil kembali ponselnya.

Ia mengetik singkat.

Eloise: Terima kasih. Maaf, ini dengan siapa?

Pesan terkirim.

Mereka kembali berbincang, tetapi perhatian Eloise sesekali beralih pada layar ponselnya.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Tidak ada balasan.

“Sudahlah,” ujar Laras ketika menyadari sahabatnya terus memeriksa ponsel. “Hari ini milik kita. Jangan biarkan pesan misterius merusak perayaan kelulusanmu.”

Eloise mengangguk, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia bertanya-tanya bagaimana orang asing itu mengetahui nama lengkapnya.

---

Setelah menghabiskan makanan penutup, Eloise dan Laras memutuskan berjalan-jalan di beberapa toko di sekitar kafe.

Kedua pengawal tetap mengikuti mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

Di sebuah toko buku, Eloise berhenti cukup lama di depan rak novel. Laras sudah mengetahui kebiasaan sahabatnya itu. Begitu melihat buku dengan sampul menarik, Eloise bisa melupakan waktu.

“Kamu ingin membeli semuanya?” tanya Laras.

“Tidak semuanya.”

“Berapa?”

Eloise menghitung dalam hati. “Mungkin tiga.”

“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”

Eloise tertawa dan mengambil satu novel dari rak. Saat hendak menuju kasir, ia melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di dekat pintu toko. Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana, tetapi tatapannya tertuju kepada Eloise seolah sedang memastikan sesuatu.

Ketika mata mereka bertemu, perempuan itu segera memalingkan wajah.

Eloise mengerutkan kening.

“Kenapa?” Laras mengikuti arah pandangnya.

“Perempuan itu. Sepertinya dia memperhatikanku.”

Laras melihat ke arah pintu, tetapi perempuan tersebut sudah pergi.

“Mungkin dia hanya melihat-lihat.”

“Mungkin.”

Eloise berusaha tidak memikirkannya lagi.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Ia tidak ingin mencurigai setiap orang yang kebetulan memandangnya.

Setelah membeli buku, mereka kembali menuju mobil. Matahari mulai turun, mewarnai langit Aurelia dengan semburat jingga.

Laras memeluk Eloise sebelum berpisah.

“Terima kasih sudah mengajakku. Aku senang akhirnya kamu bisa keluar tanpa harus mengurung diri di rumah.”

“Aku juga senang. Kita harus melakukannya lagi.”

“Pasti. Dan lain kali, aku akan bernegosiasi agar pengawalmu berdiri minimal sepuluh meter dari kita.”

“Semoga berhasil.”

Laras menjulurkan lidah, lalu melambaikan tangan ketika mobil Eloise mulai bergerak.

Di dalam mobil, Eloise bersandar pada kursi sambil memeluk tas berisi buku-buku barunya.

Hari itu memang tidak sepenuhnya bebas dari pengawasan, tetapi ia bahagia.

Ia tidak menyadari bahwa ketika mobilnya melewati persimpangan di pusat kota, sebuah sedan hitam mengikuti dari kejauhan selama beberapa menit sebelum berbelok ke arah yang berbeda.

Di dalam sedan itu, seorang pria memandang layar ponselnya.

Pada layar tersebut terdapat foto Eloise yang diambil dari kejauhan.

Pria itu memperbesar foto tersebut, lalu tersenyum tipis.

“Jadi, inilah putri keluarga Ilona.”

Ia menyimpan ponselnya.

“Menarik.”

Sementara itu, Eloise tiba di rumah tanpa mengetahui bahwa hari kelulusannya telah menarik perhatian seseorang yang seharusnya tidak pernah mengetahui keberadaannya.

Dan di sebuah ruangan yang jauh dari sana, nama keluarga Ilona kembali muncul dalam sebuah berkas lama berkas yang selama bertahun-tahun dianggap telah terkubur bersama rahasia pertunangan yang dibatalkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   bab 10

    Harga Sebuah KepercayaanPagi itu, Eloise sedang duduk di dekat jendela kamarnya ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan dari Laras muncul di layar.**Laras:***Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Kamu bisa bertemu dengan pihak keluarga yang membutuhkan pekerja itu besok.*Eloise segera meraih ponselnya dengan penuh antusias.**Eloise:***Benarkah? Akhirnya! Di mana kita akan bertemu?*Ia menunggu balasan sambil sesekali melirik jam di dinding. Tidak lama kemudian, pesan baru masuk.**Laras:***Aku akan menjemputmu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan sebelum kamu bertemu mereka.*Eloise tersenyum lebar. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya ia mendapatkan kepastian.Ia membayangkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi langkah pertamanya menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bertanggung ja

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   bab 9

    Langkah Menuju Kehidupan BaruPagi itu, Eloise terbangun lebih awal dari biasanya.Sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamarnya, menerangi ruangan yang tertata rapi. Namun, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, pikirannya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan tentang kesempatan yang ditawarkan Laras.Ia meraih ponsel di atas nakas, berharap ada kabar baru dari sahabatnya.Benar saja, sebuah pesan telah masuk beberapa menit lalu.Laras:Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Orang yang kuceritakan kemarin bersedia bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu siang ini?Eloise langsung bangkit dari tempat tidur.Ia membaca pesan tersebut dua kali sebelum mengetik balasan.Eloise:Benarkah? Tentu saja aku mau! Di mana kita akan bertemu?Balasan Laras datang tidak lama kemudian.Laras:Kita bertemu di kafe yang biasa kita datangi. Nanti aku akan menjelaskan semuanya d

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   Bab 8

    Kepercayaan yang DisalahgunakanMalam mulai menyelimuti Aurelia ketika Eloise kembali ke kediaman keluarganya. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Laras di kafe tadi siang.Ia terus bertanya-tanya tentang kesempatan yang dimaksud sahabatnya. Laras memang belum menjelaskan secara terperinci, tetapi perkataannya berhasil menumbuhkan harapan baru di hati Eloise.Mungkin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri.Sesampainya di rumah, Eloise mendapati ibunya sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah. Perempuan itu mengangkat wajah ketika mendengar langkah putrinya.“Sudah pulang, Sayang?”Eloise menghampiri ibunya dan mengecup pipinya sekilas.“Sudah, Ma.”“Bagaimana pertemuanmu dengan Laras? Menyenangkan?”“Menyenangkan sekali.” Eloise menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya. “Kami mengobrol banyak

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   Bab 7

    Awal dari Sebuah KesalahanHari-hari setelah percakapannya dengan Laras berlalu seperti biasa. Eloise masih tinggal di rumah keluarganya, menjalani rutinitas yang selama ini terasa begitu mengekang. Meski telah menyelesaikan pendidikannya, ia tetap belum benar-benar mendapatkan kebebasan yang selama ini diinginkannya.Setiap kali hendak keluar rumah, dua pengawal yang ditugaskan ayahnya selalu bersiap mengikutinya. Bahkan, untuk sekadar pergi ke toko buku atau berjalan-jalan bersama Laras, Eloise harus menghadapi berbagai pertanyaan mengenai tujuan dan waktu kepulangannya.Bagi orang lain, kehidupan Eloise mungkin tampak sempurna. Ia memiliki keluarga terpandang, rumah yang nyaman, serta segala sesuatu yang dibutuhkan. Namun, bagi Eloise, semua kemudahan itu terkadang terasa seperti dinding tinggi yang membatasi langkahnya.Pagi itu, Eloise sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Laras, membaca kem

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   Bab 6

    Rencana di Balik Senyuman“Eloise, kamu kenapa? Dari tadi melamun terus. Jangan bilang kamu masih memikirkan kedua pengawalmu itu.”Suara Laras membuyarkan lamunan Eloise. Gadis itu melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajah sahabatnya, berusaha menarik perhatian Eloise yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah jendela.Eloise tersentak kecil. Ia mengerjapkan mata, lalu menoleh kepada Laras yang kini sedang menatapnya dengan ekspresi heran.“Eh? Kamu bicara apa tadi?” tanyanya sambil tersenyum canggung.Laras mengembuskan napas panjang, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.“Ya ampun, Eloise! Kamu benar-benar tidak mendengarkanku, ya? Dari tadi aku bicara panjang lebar, tetapi kamu malah melamun sendiri. Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?”Eloise terkekeh pelan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit jatuh ke wajah, kemudian menggeleng ringan.“Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya sed

  • Tunangan Yang Tak Pernah Ku Temui   Bab 5

    Pagi itu, Eloise bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena ia memiliki jadwal pemeriksaan, bukan pula karena mamanya memintanya bersiap untuk menghadiri acara keluarga. Ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam.Evander Group.Nama itu berkali-kali muncul di benaknya, disusul ekspresi aneh yang ditunjukkan kedua orang tuanya ketika ia menanyakannya.Eloise bukan anak kecil lagi. Ia tahu bahwa orang dewasa terkadang menyimpan rahasia dengan alasan ingin melindungi seseorang. Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua rahasia membuat seseorang merasa lebih aman.Ia duduk di tepi tempat tidur, meraih laptop, kemudian membuka mesin pencari.Jarinya mengetik sebuah nama.**Evander Group.**Dalam hitungan detik, berbagai informasi muncul di layar. Berita bisnis, laporan keuangan, foto gedung perkantoran, hingga artikel tentang keluarga yang mengendalikan salah satu perusahaan terbesar di Aurelia.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status