Share

127. Runtuhnya Raja Rawa

Author: Donat Mblondo
last update publish date: 2026-07-31 18:42:38

Setetes embun murni dari pusaka Teratai Lumpur Ireng melesat membelah udara yang pekat, melesak masuk dengan akurat ke dalam tenggorokan Siluman Lintah Kelabang yang tengah menganga lebar untuk menyemburkan getah korosif.

​Bagi manusia biasa, tetesan itu adalah penawar nyawa. Namun bagi monster yang tercipta dan berevolusi murni dari miasma pembusuk, kemurnian absolut adalah racun yang paling mematikan.

​Memasukkan penawar racun paling murni ke dalam tubuh siluman yang berbasis racun menciptaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   127. Runtuhnya Raja Rawa

    Setetes embun murni dari pusaka Teratai Lumpur Ireng melesat membelah udara yang pekat, melesak masuk dengan akurat ke dalam tenggorokan Siluman Lintah Kelabang yang tengah menganga lebar untuk menyemburkan getah korosif.​Bagi manusia biasa, tetesan itu adalah penawar nyawa. Namun bagi monster yang tercipta dan berevolusi murni dari miasma pembusuk, kemurnian absolut adalah racun yang paling mematikan.​Memasukkan penawar racun paling murni ke dalam tubuh siluman yang berbasis racun menciptakan reaksi berantai yang tak terbayangkan. Siluman rawa itu seketika menghentikan serangannya. Tubuh sebesar bukitnya menegang kaku, lalu ia menjerit histeris dengan lengkingan cacat yang menggetarkan seluruh permukaan telaga. ​Organ dalam siluman itu secara harfiah dimurnikan paksa oleh esensi teratai, menghancurkan fondasi kehidupannya dari dalam. Lendir hijau di sekujur tubuhnya mendidih dan menguap menjadi asap putih. Cangkang hitamnya retak-retak, memancarkan pendaran cahaya ungu mematikan

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   126. Hujan Getah Korosif

    Siluman Lintah Kelabang itu tidak memberi jeda perkenalan. Dari rahang lintahnya yang dipenuhi ribuan gigi melingkar, monster itu menyemburkan hujan getah korosif berwarna hijau pekat ke seluruh penjuru telaga.​Hujan mematikan itu menghantam lempengan es buatan Rara. Suara mendesis tajam terdengar memekakkan telinga saat getah beracun itu melelehkan es abadi tersebut dalam hitungan detik, mengubahnya kembali menjadi uap gas saraf yang tebal. Beberapa tetes cipratan getah menyambar ujung jubah Mahesa, langsung membakar tembus kain sutra tersebut dan menggores kulit baja sang Iblis.​Mata Mahesa menyipit, warna merah darah di pupilnya berkilat buas. Luka gores itu tidak seberapa, namun ego sang Gusti Penguasa tidak mentolerir satu pun makhluk yang berani melukainya di depan sang istri.​"Lintah menjijikkan. Aku akan mencabut tulang belakangmu!" geram Mahesa.​Mahesa menekuk lututnya dan melontarkan tubuhnya ke udara layaknya peluru meriam hitam. Ia sengaja mengabaikan pertahanan, memus

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   125. Sinergi Es dan Api

    Jumlah Hantu Lumpur Ireng yang merangkak naik dari dasar rawa semakin tidak masuk akal. Mereka muncul bagai gelombang pasang yang memuakkan, mengayunkan cakar busuk mereka untuk menenggelamkan rakit Kayu Mati yang mulai terombang-ambing di tengah gelora getah hitam.​Meskipun Mahesa membakar setiap mayat hidup yang mendekat dengan pukulan api hitamnya, letupan lumpur korosif di sekeliling mereka semakin ganas. Percikan gas beracun terus menguji batas perlindungan Pil Penawar Rongga yang mereka telan.​Rara Kinasih menyadari satu hal yang krusial: mengandalkan tenaga fisik dan Geni Asura suaminya terus-menerus sama saja dengan mempercepat hitungan mundur kematian pria itu. Sang Tabib Dewa menolak membiarkan suaminya menguras simpul nadi secara serampangan.​'Waktunya membalikkan keadaan,' batin Rara tajam.​Tangan Rara merogoh kantong medis di balik jubahnya, menarik keluar kristal Embun Getih Beku yang memancarkan pendaran biru kelabu. Udara di sekeliling tangan Rara seketika anjlok m

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   124. Rakit Kayu Mati dan Kabut Halusinasi

    Hamparan Telaga Getah Ireng terlalu luas untuk dilompati menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh tingkat puncak sekalipun, dan melempar koin logam ke dalam rawa itu membuktikan bahwa air hitam pekat tersebut mampu melelehkan besi dalam hitungan detik. ​Tanpa perlu disuruh dua kali, Mahesa melangkah menuju pepohonan hitam tak berdaun di tepian telaga. Itu adalah Kayu Mati, satu-satunya jenis flora yang berevolusi untuk kebal terhadap korosi rawa. Alih-alih mencabut pedangnya, sang Gusti Penguasa hanya memusatkan tenaga fisiknya. Dengan beberapa tendangan dan hantaman kepalan tangan yang meremukkan batang, Mahesa menumbangkan empat pohon Kayu Mati. ​Rara menggunakan sisa akar merambat yang kebal racun untuk mengikat gelondongan kayu tersebut menjadi sebuah rakit kecil yang kokoh. Keduanya melompat ke atas rakit, lalu Mahesa menggunakan sebatang dahan panjang sebagai dayung, mendorong mereka membelah permukaan rawa yang bergejolak. ​Semakin jauh mereka mendayung ke tengah telaga, udara

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   123. Meninggalkan Neraka Putih

    ​Di dalam gua es yang gelap, deru badai silet di luar terdengar seperti lolongan kematian yang tak berkesudahan. Namun, di dalam pelukan Mahesa Kurda, Rara Kinasih hanya merasakan kehangatan yang menyelamatkan nyawanya.​Lahar hitam Geni Asura yang biasanya membawa kehancuran dan rasa sakit tak tertahankan bagi sang Iblis, kini mengalir selembut sutra. Mahesa mengendalikan kutukannya dengan presisi yang mengerikan, menolak membiarkan setetes pun hawa dingin menyentuh kulit istrinya. Perlahan, rona merah kembali menghiasi pipi pucat Rara. Napasnya yang semula putus-putus kini beraturan, menandakan simpul nadi di sekujur tubuhnya telah terbebas dari ancaman pembekuan mutlak.​Merasakan denyut jantung Rara kembali kuat, Mahesa perlahan melonggarkan dekapannya. Pria bertubuh tegap itu meraih jubah hitamnya yang tergeletak di atas es, lalu memakaikannya ke tubuh Rara sebelum mengenakan pakaian tempurnya sendiri.​"Kau berutang nyawa padaku, Ratuku," bisik Mahesa, menyeringai dengan tatapan

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   122. Ekstrak Maut dan Panik Sang Iblis

    ​Tengkorak naga es purba itu hancur lebur menjadi hujan abu tulang yang berkilauan di udara. Hancurnya inti spiritual sang monster memutus ikatan pusaka tersebut dengan pilar es di bawahnya. Embun Getih Beku, kristal darah naga yang berdenyut memancarkan cahaya merah kebiruan, jatuh terlepas dari cengkeraman magisnya. ​Melihat pusaka itu melayang jatuh, Rara tidak membuang waktu. Ia menjejakkan kakinya di udara, melesat ringan dan berhasil menangkap Embun Getih Beku tersebut dengan telapak tangannya. ​Namun, kesombongan alkemis Rara kali ini menelan korban. Sang Tabib Dewa meremehkan kekuatan murni dari darah naga purba yang telah memadat jutaan tahun. ​Detik ketika kulit telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kristal tersebut, hawa dingin absolut menyengatnya bagai ribuan jarum berbisa. Rara tersentak hebat. Matanya membelalak saat melihat kristal es murni menjalar dengan kecepatan gila dari telapak tangannya. Lengan Rara membeku seketika, dan es itu mulai merambat naik

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   4. Pertemuan Kedua di Ambang Kewarasan

    Tiga hari berlalu sejak Rara dibuang ke Keputren Ujung Utara. Di mata penghuni kediaman, tempat itu tak ubahnya kuburan sepi yang hanya menunggu waktu membusukkan mayat.​Di pelataran keputren yang dirimbuni ilalang liar, Panglima Bayanaka berdiri tegap. Matanya menatap datar bangunan kayu usang di

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   3. Menundukan anjing penjaga

    ​Malam menyelimuti Keputren Ujung Utara, membawa hawa dingin penusuk tulang. Tanpa pelita maupun perapian, bangunan reyot itu lebih mirip pusara tua yang ditinggalkan.​Di sudut gelap, Rara Kinasih duduk bersila. Napasnya berembus pelan, seirama detak alam. Ia tak membuang waktu meratapi nasib. Keh

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   2. Sandiwara Pagi

    Cahaya fajar menyusup dari celah jendela berukir, mengusir sisa bayangan malam di kamar pengantin yang berantakan.​Di atas ranjang, Mahesa Kurda membuka mata. Insting petarungnya langsung meraba pusat tenaga dalam. Biasanya, pasca ledakan Geni Asura di malam purnama, ia akan terbangun dalam genang

  • Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa   1. Ranjang Pengantin

    ​BRAAAKKK!​Pintu kayu jati berukir di kamar pengantin itu hancur berkeping-keping. Patahan kayunya terlempar ganas, menyapu tirai ranjang yang beraroma semerbak melati.​Di ambang pintu, berdirilah sesosok pria tinggi besar dengan aura membunuh yang sangat pekat. Mahesa Kurda. Sang Gusti Penguasa f

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status